
"Awwww ..." Pekik Lilian sambil mengusap pelan keningnya.
Arion hanya menatap malas ke arah Lilian yang memekik kesakitan akibat sentilan dari Arion. Niat Lilian ingin mengerjai Arion dengan pura-pura mendekatkan wajahnya ke arah Arion, namun malah ia sendiri yang mendapatkan sentilan dari lelaki itu.
"Sakit tahu!" Kata Lilian sambil mengerucutkan mulutnya.
"Itu hukuman buat lo karena mencoba mencari kesempatan!" Ketus Arion dengan aura permusuhan yang kentara.
"Enak aja ... Siapa juga yang cari kesempatan dengan papan datar kek lo!" Ketus Lilian karena tidak terima dengan ucapan Arion
"Lo." Tunjuk Arion ke arah Lilian dengan mata melotot. "Bawa pergi semua ini." Tunjuknya lagi ke arah minuman atau makanan yang Lilian bawa.
Lilian mendengus kesal kemudian kembali mendekatkan wajahnya ke arah Arion. Gadis itu menarik lengan Arion dengan kencang kemudian menggigit tangannya dengan sangat keras.
"Aww ... Aww ... aww ... lepasin tangan gue!!" Kali ini Arion yang memekik kesakitan.
Arion mendorong bahu Lilian sedikit keras agar gadis itu melepaskan gigitan pada tangannya. Setelah Lilian sedikit terdorong ke belakang, Arion langsung memeriksa bekas gigitan Lilian yang terlihat membiru ditangan putihnya.
"Rabies ... Jauh-jauh lo dari gue!!" Ucap Arion sambil mendesis kesakitan.
"Lo mau lagi?" Tanya Lilian kemudian mendekatkan lagi wajahnya ke arah Arion.
Arion dengan sangat cepat mendorong kening Lilian dan mencubit kedua pipi tembem dari gadis itu.
"Aww ... Sakit ... Sakit ... Sakit ... Lepasin tangan lo papan datar!!" Pekik Lilian keras sambil memukul kedua tangan Arion yang mencubit kedua pipinya.
"Rasain ini mochi ... Lo pikir tangan gue nggak kesakitan? Sekarang rasakan pembalasan gue!!" Senyum di bibir Arion terbit begitu saja membuat semua orang yang berada di sekitar keduanya melongo tidak percaya.
Lelaki dingin dan tanpa ekspresi yang selama ini mereka kenal kini berubah hanya karena seorang gadis mungil yang tidak lama pindah ke sekolah mereka. Biasanya Arion hanya menampakkan raut wajah cuek serta dingin setiap kali berdekatan atau bertemu orang lain. Namun kali ini semua murid yang berada di kantin kelas X Florenzo School dapat melihat berbagai ekspresi darinya. Yang tidak pernah mereka nyangka adalah Arion tersenyum hanya karena membalas perbuatan Lilian padanya.
Rein, Mario dan Farrel bahkan mengucek matanya berkali-kali karena merasa apa yang sedang mereka lihat adalah salah. Namun sebanyak apapun mereka mengucek kedua matanya, pemandangan yang di depannya tidak pernah berubah.
Ketiga teman Lilian pun memekik dalam hati melihat adegan keduanya, bagi siapa pun yang berada ditempat itu, Lilian dan Arion terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang bermesaraan sehingga membuat orang-orang di sekitarnya merasa iri.
Sedangkan dipintu masuk kantin, terlihat Sheril sedang mengepalkan tangannya dengan sangat erat, dada gadis itupun naik turun karena menahan marah melihat adegan antara Lilian dan Arion yang membuatnya panas.
Sheril melangkah dengan cepat menuju tempat Lilian dan Arion berada. Kemarahan Sheril semakin menjadi karena Lilian dan Arion tidak menyadari jikalau ia telah berdiri disamping keduanya yang masih saja sibuk dengan aksi dari keduanya.
Sheril tidak bisa lagi menahan kemarahannya, tangannya meraih salah satu gelas yang terletak diatas meja kemudian membantingnya dengan sangat keras.
TRINNNNNGGGGGGG ....
Bunyi pecahan gelas menggema diseluruh isi kantin dan berhasil mengalihkan pandangan Arion dan Lilian ke arah Sheril yang wajahnya sudah semerah tomat.
"LO." Tunjuknya ke arah Lilian dengan raut wajah marah. "BERANI NGEGODAIN ARION TEPAT DI DEPAN MATA GUE?"
Lilian menatap Sheril dengan raut wajah bingung. "Kapan? Kak Sheril salah lihat ... Mana ada gue ngegodain dia." Tunjuk Lilian ke arah Arion. "Yang ada dia sedang nyiksa gue." Kata Lilian sambil melototkan matanya ke arah Arion.
"LO BARUSAN SEDANG NGERAYU DIA!!" Tuduh Sheril dengan napas tidak beraturan.
"Mana ada ... Nggak lihat ini ... ini." Lilian memperlihatkan kedua pipinya yang memerah karenah ulah Arion. "Gue dicubit dan sekarang sedang menjadi korban! Gimana sih, datang ... datang malah marah-marah." Kesal Lilian.
"Lo sengajakan nyari perhatian Arion agar lo bisa dekatin dia! Gue kasih tahu lo sekarang jangan mimpi!!" Kesal Sheril dan berusaha mengambil gelas lain di atas meja yang masih berisi air didalamnya untuk menyiram Lilian.
Mario yang sejak tadi hanya diam kini mulai angkat bicara melihat Sheril yang mulai bertingkah berlebihan. "Ehhh Mak Lampir ... Jujur yang ganggu disini malah lo. Kantin tadi dalam keadaan damai sentosa ... Setelah lo datang, kantin berasa rumah lo yaitu kuburan!" Kata Mario yang berhasil membuat Sheril tidak melanjutkan aksinya.
Sheril kembali menyimpan gelas itu dengan keras dan menatap tajam ke arah Mario. "Seharusnya kalian bertiga nggak cuma diem aja melihat cewek ga**l ini menggoda Arion. Atau mungkin nih cewek mur***n udah nyogok kalian bertiga? Kalau begitu kalian tinggal sebut saja berapa? Gue bayar bahkan ntar gue kasih lebih."
Farrel menggebrak meja dengan sangat keras membuat suasana dalam kantin menjadi sangat menegang. "Lo pikir keluarga Bantara kekurangan uang sehingga harus menerima uang dari lo?" Tatapan mata Farrel terlihat menajam ke arah Sheril, membuat gadis itu harus menelan ludah susah payah. "Kalau lo lupa gue bakal ngingetin soal status sosial lo ... Jangan pikir selama ini kita diem karena takut dengan lo." Senyum sinis terbit dari bibirnya. "Selama ini kita diem karena Arion tidak ingin pengganggu seperti lo ini selalu ngerusak kedamaian kami." Ketusnya.
"Kesabaran kami ada batasnya ... Sebelum kesabaran itu habis, sebaiknya lo pergi atau ..." Ucap Rein sambil menatap dingin ke arah Sheril. "Lo akan lihat masa-masa buruk yang akan lo dan keluarga lo rasakan karena telah menyinggung empat keluarga besar." Kata Rein dengan nada tajam.
Sheril mengepalkan tangan kuat karena merasa sangat kesal. "Apa mata lo semua udah pada buta? Gue adalah Sheril Putri dari Triadi Grup mana bisa kalian acuhkan hanya karena seorang cewek mur***n yang kalian sendiri tidak tahu asal usulnya." Pekik Sheril marah.
"Arion lo juga ..." Kata Sheril dengan raut wajah kecewanya.
"Pergi!!" Ketus Arion.
Suasana kantin yang sejak tadi menegang kini semakin menegang karena kali ini Arion sendiri lah yang ikut angkat bicara.
Mata Sheril memerah serta hatinya ikut memanas mendengar ucapan dari Arion. Selama ini Arion tidak pernah mengusirnya langsung. Selama ini Arion hanya bersikap dingin dan mengacuhkan keberadaannya namun bagi Sheril hal itu lebih baik dibandingkan dengan hari ini, dimana Arion mengusirnya demi seorang gadis yang baru saja pindah, hatinya merasakan sakit.
Sheril menatap Lilian dengan raut wajah permusuhan. "Lo tunggu saja pembalasan dari gue ... Rasa sakit gue hari ini harus lo juga rasakan." Setelah mengucapkan kata-kata itu Sheril berjalan keluar kantin di ikuti oleh kedua temannya yang sejak tadi hanya melihat adegan kemarahan Sheril tanpa berani mendekat.
Lilian sendiri menggaruk kepalanya pelan karena merasa bingung sendiri. Sejak tadi dia hanya diam karena tidak tahu harus ngomong apa setelah orang-orang yang duduk didekatnya mengeluarkan suara untuk mengusir Sheril. "Si Kak Sheril itu sepertinya salah paham karena terlalu cemburu. Bukannya bertanya tentang kebenaran, dia malah marah-marah nggak jelas ... Udah gitu pakek acara ngamcem segala lagi! Haissss kehidupan gue kayaknya nggak bakalan tenang untuk ke depannya." Batin Lilian.
Setelah kepergian Sheril dan kedua temannya, suasana kantin masih sepi seperti keadaan sebelumnya, meski ada banyak sekali penghuni didalamnya namun tidak ada satupun dari mereka yang berani mengelurkan sepatah katapun.
Arion berdehem pelan untuk kembali mengembalikan suasana canggung, tangannya meraih botol minuman jeruk yang Lilian bawa kemudian meneguk isinya beberapa kali. Mata Lilian hanya fokus kearah leher Arion yang memperlihatkan jakunnya yang naik dan turun.
"Nikmat mana coba yang gue dustain." Ucap Lilian tidak sadar.
Arion sengaja menyimpan kembali botol itu ke atas meja dengan sangat keras untuk menyadarkan Lilian dari lamunannya.
"Tadinya jual mahal ... Sekarang diminum juga tuh minumannya." Kata Lilian sambil menatap kesal ke arah Arion. "Untuk saja Kak Sheril punya kemampuan yang membuat orang lain cepat merasa kesal ... Kalau tidak tuh minuman mungkin nggak akan diminum." Lilian mencibir Arion tepat dihadap orangnya.
Arion masih terlihat cuek mendengar ucapan Lilian, iapun memutuskan untuk berdiri dari duduknya. "Karena lo udah buat gue terkena rabies ... Maka gue kasih lo hukuman dengan cara membayar makanan kami selama seminggu." Katanya santai.
Ketiga teman Arion sama-sama menahan bibirnya untuk tidak tertawa melihat kelakuan temannya itu. Sejak lama mereka mengenal Arion hari ini mereka dapat melihat raut wajah lain yang Arion tampilkan kepada muka umum. Terlebih lagi kepada Lilian yang notabene gadis yang baru saja hadir tidak lama dikehidupan mereka.
Sedangkan Lilian sendiri melototkan matanya tidak percaya dengan ucapan Arion. "Enak aja ... Nggak bisa! Kalian semua udah punya banyak uang buat bayar sendiri." Kesal Lilian.
"Ahhh Lilian ... Sepertinya untuk seminggu ke depan kita mau nabung buat beli sepatu baru." Kata Farrel dengan nada sumringah.
"Lo tenang aja kok ... Kita nggak makan banyak. Hanya beberapa mangkok bakso, mie ayam, pecel, somay ..." Kata Mario yang mengingat menu-menu yang tersedia dikantin.
"Anak aja ... Enak dikalian nggak enak di gue dong!" Ketus Lilian.
"Kita udah nolongin lo tadi dari serangan Mak Lampir ... Sebagai ucapan terima kasih, seharusnya bayar makanan kami selama seminggu itu udah cukup kok." Kali ink Rein yang ikut nimbrung.
"Nggak bisa! Rugi besar gue!" Kesal Lilian.
"Sayangnya gue nggak nerima bantahan." Kata Arion kemudian mulai melangkahkan kakinya. "Selamat menjalankan hukuman." Ucapnya dengan membawa kantong kresek yang berisi cemilan yang dibawa Lilian tadi.
"Dasar maruk ... Bilangnya aja nggak mau! Bukan hanya ngambil makanan dari gue aja, kalian malah berkomplot untuk menjebak gue!!" Pekik Lilian tidak terima dengan keputusan Arion padanya.
Arion hanya berjalan lurus bersama teman-temannya tanpa berbalik sedikitpun ke arah Lilian yang masih saja memakinya.
Setelah kepergian Geng Andromeda, semua orang yang masih berada didalam kantin akhirnya bisa bernapas dengan lega setelah menerima ketegangan yang terjadi. Ketiga teman Lilian yang sejak tadi menonton dari jauh, terburu-buru berlari untuk mendekat ke arah Lilian.
"Sumpah Lilian lo keren banget ... Es batu yang keras dan tak tersentuh ... Sedikit demi sedikit mulai mencair." Heboh Gladis dan menggoyangkan tubuh Lilian.
"Nggak nyangka gue punya teman yang bisa buat Kak Arion tersenyum. Benar-benar langka banget ..." Kata Laura yang tak kalah hebohnya.
"Moga aja keberuntungan lo bisa nular ke kita juga ..." Kata Meira sambil tersenyum cerah.
Lilian memijit kening karena pusing mendengar ocehan dari ketiga temannya. "Gue nggak ngerti apa yang buat kalian merasa gue beruntung ... Yang gue rasaian sekarang adalah gue yang sedang apes di kibulin oleh mereka." Kesal Lilian sambil berjalan menghentakkan kakinya meninggalkan ketiga temannya.
"Lilian tunggu!!" Panggil ketiga temannya samaan dan bergegas menyusul Lilian yang sudah berjalan menjauh.
Kejadian hari ini akan selalu dikenang oleh para murid, untuk pertama kalinya Arion tersenyum di depan banyak orang dan itu berkat Lilian
_______________________