
Seperti kesepakatan mereka sebelumnya, kini ke empat anggota dari Geng Andromeda telah menunggu kedatangan Lilian dengan menaiki motor mereka masing-masing.
Jika tadi pagi tempat parkir tampak sepi, sekarang malah kebalikan-nya. Setelah bel pulang berbunyi, ke empat anggota Geng Andromeda langsung bergegas ke tempat parkir namun mereka tidak langsung pulang.
Mereka malah duduk anteng di atas motor masing-masing dan sesekali melirik ke arah tempat masuk parkir. Murid-murid yang sebelumnya langsung ingin pulang akhirnya mengurungkan niat setelah melihat kehadiran dari ke empat pemuda tersebut.
Terdengar seruan-seruan dari murid perempuan yang memanggil nama idola mereka masing-masing, namun bukannya menanggapi murid-murid itu Arion dan ketiga temannya malah sibuk sendiri dengan ponsel masing-masing.
Lilian yang memasuki tempat parkir tampak heran melihat ada banyak sekali murid yang masih berkumpul meski bel pulang telah berbunyi sejak tadi.
"Ini kenapa rame banget? Tumben." Ujar Lilian sambil mengerutkan kening.
"Biasanya kalo anak-anak dari Florenzo School lagi kumpul gini, artinya pasti ada sesuatu yang sedang terjadi." Kata Meira sambil menjijitkan kakinya untuk melihat sesuatu yang lebih jelas di depannya.
"Kejadian apa yang akan terjadi sore-sore gini?" Tanya Lilian heran.
"Entahlah." Jawab Meira sambil mengedikkan kesua bahunya.
"Kita langsung lihat aja di depan. Dari pada penasaran kek gini." Usul Gladis tidak sabaran.
"Ide bagus tuh." Setuju Laura.
"Ya udah, ayo!. Kita lihat aja." Kata Meira yang juga ikut setuju dengan usulan Gladis.
Ke empat gadis itu kemudian berjalan mendekati kerumunan. Telinga Lilian dapat menangkap dengan sangat jelas bahwa para murid-murid yang sedang berkumpul itu tengah menyerukan nama beberapa orang yang Lilian kenal.
Sebelum Lilian dapat mencerna situasi yang terjadi di sekitarnya, tangannya tiba-tiba di tarik oleh Gladis dan membawanya pergi menuju barisan depan.
Belum sempat Lilian protes pada Gladis yang langsung menarik tangannya. Ekor mata Lilian keburu melihat penampakan dari empat anggota dari Geng Andromeda yang sedang duduk diatas motornya masing-masing.
"Ohhh pantesan rame, empat cowok Mos Wanted lagi tebar pesona rupanya." Ujar Gladis sambil manggut-manggut.
"Nggak heran sih bisa serame ini, kapan lagi coba bisa lihat yang kek gini." Kata Laura sambil tersenyum.
"Apaan ... Orang kalian lihat mereka tiap hari, masih aja ngomong kapan bisa lihat yang begituan." Sanggah Lilian tidak setuju.
"Aissss ..." Desah Laura pelan. "Lilian, sahabat gue yang tersayong ... Kita emang tiap hari lihat mereka. Hanya saja lihat menampilan mereka saat ini." Tunjuk Laura ke arah empat lelaki itu.
Lilian refleks mengikuti arah tunjuk Laura. "Mereka udah melepaskan baju seragam dan sedang mengenakan baju yang berdosa" Lanjut Laura.
Lilian mengerutkan kening bingung. "Baju berdosa?" Tanya Lilian belum paham.
"Iya, Lilian. Baju berdosa yang membuat semua pandangan kaum wanita sejuta umat tidak bisa mengalihkan pandangannya dari mereka." Jelas Meira.
Lilian akhirnya mengerti dengan baju berdosa yang diucapkan oleh ketiga temannya. Memang tampilan ke empat lelaki itu sangat jauh berbeda saat mereka masih mengenakan seragam sekolah. Ketampanan dari ke empatnya seakan meningkat beberapa kali lipat ketika mereka mengenakan baju biasa. Sehingga tidak heran jika kaum wanita langsung terpesona melihat ketampanan ke empat lelaki itu.
"Kira-kira di mana mereka mengganti seragamnya?" Tanya Lilian heran.
"Aduuhh Lilian ... Please deh. Otak lo sangat encer saat belajar namun napa kerjanya menurun saat momen kek gini? Tentu saja mereka menggantinya di ruang ganti atau toilet. Secara fasilitas sekolah kita lebih mirip kek hotel." Jelas Gladis heboh.
"Iya juga ya." Batin Lilian sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Lilian!" Panggil Rein tiba-tiba kemudian melambaikan tangannya ke arah Lilian.
Semua murid yang sejak tadi menyorakan nama ke empat lelaki itu kini terdiam menatap ke arah Lilian yang berdiri tidak jauh dari mereka.
"Nah lo, nama lo di panggil." Kata Meira yang lansung menatap Lilian heboh.
"Ho oh ... Apa mungkin gue salah denger ya?" Tanya Laura yang ikut bingung.
"Lilian! Sini!" Panggil Rein lagi sambil menggerakkan tangannya untuk memanggil Lilian untuk mendekat.
"Beneran ... Lo dipanggil." Kata Gladis heboh.
Lilian kembali memandang ke arah Rein dan yang lainnya berada kemudian langsung menepuk keningnya pelan karena baru menyadari sesuatu.
"Astagaa ... Gue lupa kalo punya janji ama Kak Rein sepulang sekolah." Ujar Lilian yang baru ingat dengan janjinya.
"Janji apaan lo?" Tanya Ketiga temannya dengan kompak.
"Mau pergi bareng beli kandang buat Citto." Jawab Lilian.
"Citto siapa?" Tanya ketiga teman Lilian kompak.
"Ahh sudahlah, kapan-kapan gue ceritain. Lebih baik gue pergi dulu, ntar keburu malem pulangnya." Kata Lilian dan langsung berlari menuju tempat Geng Andromeda setelah melambaikan tanganya kepada ketiga temannya.
"Sorry ya, gue lupa kalo kita bakal pergi bareng buat beli kandangnya Citto." Ucap Lilian merasa bersalah.
"Nggak apa-apa ... Yang penting lo dah datang. Sekarang ayo naik, gue bonceng." Ucap Rein dan menupuk joj belakang motornya.
"Lilian ikut gue." Ucap Arion tiba-tiba setelah terdiam sejak tadi.
"Nggak bisa! Dia adek gue ... Jadi harus bareng dengan abangnya." Jelas Rein.
Arion menatap kesal ke arah Rein yang selalu mengungkit statusnya dengan Lilian. "Gue nggak peduli, lo abangnya atau bukan. Hari ini Lilian bareng gue." Tegasnya.
"Nggak bisa! Adek gue bakalan tetap aman kalau bareng Abangnya." Ucap Rein tidak mau mengalah.
"Lo pikir dia nggak bakalan aman bareng gue?" Tanya Arion dengan tatapan tajamnya.
"Ya gue hanya berjaga-jaga aja." Kata Rein yang masih tidak mau mengalah.
Mario dan Farrel kembali harus menghela napas melihat perdebatan antara keduanya. Keduanya sejak tadi mendebatkan tentang Lilian yang akan do bonceng oleh siapa.
"Berheti deh lo berdua! Sejak tadi hanya mendebatkan hal itu ... Lebih baik Lilian bareng gue aja." Kata Mario sedikit meninggikan suaranya agar di dengar oleh Arion dan Rein yang sexang berdebat.
"Nggak bisa!!" Ketus Arion dan Rein samaan dengan tatapan yang sama-sama menatap Mario tajam.
"Mampus lo! Gue nggak ikutan ya." Kata Farrel sambil menyilangkan kedua tanggannya di depan dada.
"Sa ... Santai dong lo berdua. Tatapan kalian kek mau makan gue idup-idup aja." Ucap Mario sedikit gugup dengan tatapan kedua temannya itu.
"Nggak usah berdebat. Gue bawa motor sendiri kok. Tuh dia." Tunjuk Lilian ke arah motornya berada.
"Tapi Lilian, lo masih belum hafal betul jalanan di Jakarta." Kata Rein dengan nada lembut.
"Betul itu." Kata Arion yang setuju dengan ucapan Rein.
"Kak Rein bisa jadi penunjuk arah saat kita jalan nanti. Bawa motornya juga jangan terlalu cepat supaya gue nggak kehilangan arah nanti." Usul Lilian.
"Gue setuju! Males gue dari tadi dengar mereka ribut." Ujar Farrel setuju.
"Baiklah kalau gitu." Kata Rein pasrah.
"Trus lo gimana?" Tanya Mario ke arah Arion. "Kalau nggak mau lebih baik nggak usah ikut." Lanjut.
"Hmmm." Gumam Arion dengan nada malas.
"Ya udah, sudah diputuskan. Lilian bakal jalan duluan dan kita-kita akan jagain dari belakang." Putus Farrel.
"Lahh ... Kalian juga mau ikut?" Tanya Rein heran.
"Betul itu, masa iya lo berdua aja yang jalan. Kita berdua juga pengen ikut." Kata Farrel.
"Nggak ada yang ijinin lo berdua ikut." Ketus Arion dengan tatapan dinginnya.
"Bodo amat! Kita nggak perlu persetujuan lo." Ucap Mario.
"Kita boleh ikutkan Lilian?" Tanya Farrel ke arah Lilian.
Rein dan Arion kompak menatap ke arah Liloan dan memberi kode kepada gadis itu agar tidak mengijinkan kedua orang itu untuk ikut. Liloan sampai bingung mau menjawab apa, setelah sejak tadi hanya mendengarkan perdebatan ke empat lelaki itu
"Boleh. Makin rame makin bagus." Ucap Lilian.
"Tuh kan ... Lilian setuju. " Ucap Mario heboh.
Arion dan Rein sama-sama menghela napas pelan mendengar ucapan Lilian. Jika Lilian saja setuju maka mereka berdua hanya bisa pasrah.
"Ya udah gue ambil motor dulu." Ujar Lilian dan langsung berjalan menuju motornya.
Sementara murid-murid yang masih berkumpul semakin penasaran dengan pembahasan kelima orang yang sepertinya sedang merundingkan sesuatu. Namun mereka hanya bisa menatap kelima orang itu dari jauj tanpa berani mendekat.
Arion dan ketiga teman lainnya langsung memacu motornya ke arah Lilian setelah melihat gadis itu yang sudah mulai menghidupkan motornya.
"Ayo jalan!" Ajak Lilian kemudian mulai melajukan motornya.
Arion dan ketiga temannya mengikuti Liloan dari belakang. Posisi mereka saat ini mirip seperti Lilian yang adalah bosnya dan ke empat lelaki di belakangnya adalah bodyguard-nya.
_________________
Lilian, Arion, Rein, Mario dan Farrel, memilih salah satu mall terbesar di Jakarta. Di dalam mall ada beberapa toko yang menyediakan beberapa kebutuhan untuk hewan peliharaan. Salah satunya seperti toko yang sekarang ini Lilian dan yang lainnya kunjungi.
Toko yang mereka datangi ini menyediakan berbagai macam jenis keperluan yang di butuhkan untuk kucing peliharaan. Toko itu menyediakan berbagai macam kandang, makanan, mainan, baju dan keperluan lain yang berhubungan dengan kucing. Jenis barang-barangnya lebih dari satu sehingga membuat Lilian sedikit bingung mau memilih yang mana.
"Jadi mau memilih yang mana, Dek?" Tanya salah satu penjaga toko dengan malu-malu.
Bukan hanya murid dari Florenzo School yang terpana dengan ke empat lelaki tampan itu. Hampir sebagian besar pengunjung mall tidak dapat mengalihkan pandangan mereka saat kelima anak yang masih menempuh pendidikan di sekolah menengah itu berjalan bersama.
Tidak terkecuali dengan penjaga toko yang sekarang ini mereka datangi. Bukan hanya penjaga toko yang merasa terpesona, pengunjung mall lainnya bahkan rela berdiri di dekat kaca toko untuk sekedar mengintip mereka yang sedang memilih barang di dalam toko.
"Ntar dulu ya mbak. Saya masih bingung mau milih yang mana." Kata Lilian sambil memilih sabun cair yang akan ia beli untuk memandikan Citto.
"Menurut kalian ... Gue harus milih yang mana?" Tanya Lilian sambil menunjukkan dua botol sabun cair kearah empat lelaki yang juga sibuk memilih barang lainnya.
"Kiri." Tunjuk Arion.
"Kanan." Tunjuk Rein.
Lilian mengerjapkan kedua matanya mendengar jawaban dari keduanya. "Jadi gue harus milih yang mana?" Tanya Lilian ragu.
"Ambil dua-duannya aja. Pusing gue denger mereka ribut." Ujar Mario memberi saran.
Lilian mengangguk setuju dengan usulan Mario. "Saya ambil dua-duanya mbak." Kata Lilian sambil menyerahkan dua botol sabun cair ke arah penjaga toko.
"Lo kok malah setuju dengan usulan Mario?" Tanya Arion tidak terima.
"Udah lah ... Yang penting pilihan lo juga ikut di pilih. Masih banyak barang yang harus kita cari. Jadi jangan buang-buang waktu." Ujar Farrel tiba-tiba menengahi.
Arion dan Rein tampak membuang muka tidak suka dengan pilihan yang di ambil oleh Lilian.
"Sebaiknya kita milih buat kandangnya saja." Usul Lilian yang membuat Arion dan Rein kembali bersemangat.
Pelayan toko kemudian mengarahkan Lilian dan yang lainnya ke tempat kandang kucing berada. Di sana ada banyak sekali kandang kucing yang tersedia, mulai yang bentuknya biasa sampai yang bentuknya seperti rumah boneka pun banyak tersedia.
"Astagaaa lucu banget." Gumam Lilian ceria saat melihat banyak bentuk kandang kucing yang lucu.
"Ambil yang ini aja." Tunjuk Farrel ke arah kandang kucing yang berbentuk seperti rumah untuk di daerah dingin dan berwarna hitam.
Lilian memanyungkan bibir tidak senang. "Ihhh Kak Farrel ngasih usulan yang bener dong ... Maamsa rumah Citto kek gitu." Kata Lilian.
"Lah, yang penting bisa untuk tiduran si Citto kan." Kata Farrel lagi. "Jenis kelamin si Citto cewek atau cowok?" Tanyanya lagi.
"Cowok." Jawab Lilian.
"Nah pas itu." Kata Farrel meyankinkan Lilian.
Lilian kembali mendengus tidak suka. "Gue nggak suka warna itam ... Bentuknya juga jelek. Nggak suka pokoknya." Ucapnya tidak terima.
"Diem deh lo!" Ketus Mario ke arah Farrel. "Lagian aneh banget lo ngasih saran kandang kek gitu. Lilian itu cewek *bra*y ... Mau Citto itu laki atau perempuan, namanya juga Tuannya perempuan yang pasti sukanya sama yang di sukai perempuan." Jelas Mario dan menatap kesal kearah Farrel.
"Sorry ... Gue kan nggak tau." Kata Farrel sambil menggaruk kepalanya.
"Nggak heran sih sampai sekarang lo masih jomblo." Sondir Mario.
"Asem lo ... Kayak lo aja punya pacar." Kesal Farrel.
"Diem deh lo berdua!" Kesal Rein. "Lo sukanya warna apa?" Tanya Rein setelah mengalihkan mengalihkan pandangannya kearah Lilian.
"Semua warna gue suka ... Asal jangan yang gelap aja." Ucap Lilian.
Keempat lelaki di depannya mengangguk pelan sambil memilih kandang mana yang akan mereka usulkan kepada Lilian.
"Kalau yang ini?" Tunjuk Arion dan Rein samaan pada sebuah kandang yang berbentuk rumah yang memiliki ukuran yang lumayan besar dan berwarna peach campur dengan warna biru muda dan abu-abu.
"Ngapain lo nunjuk kandang yang sama denga gue?" Tanya Rein kesal.
"Lo yang ikutan." Kesal Arion.
"Udah ahhh ... Nggak usah ribut lagi." Ucap Lilian sambil memijit kening karena pusing melihat mereka yang sejak tadi ribut.
"Mbak saya pilih itu." Tunjuk Lilian ke arah kandang yang Arion dan Rein pilih.
"Baik. mbak." Jawab penjaga toko.
"Oh iya ... barang-barang yang saya pilih tafi nggak mungkin saya bawa sendirikan mbak?" Tanya Lilian memastikan.
"Adek tenang saja ... Jika sudah di bayar, kami akan mengantarnya langsung ke rumahnya. Tinggal adek ngasih alamat rumahnya aja." Kata penjaga toko dengan senyum cerah.
"Baiklah. Kalau begitu saya bayar sekarang." Kata Lilian sambil berjalan menuju kasir.
Keempat lelaki yang sejak tadi membuat Lilian pusing itu kini kembali membuat Lilian pusing lantaran keempatnya sama-sama menyerahkan kartu debitnya ke penjaga kasir toko tersebut. Sehingga membuat penjaga kasir menjadi kebingungan mau mengambil kartu debit milik siapa.
"Ngapain kalian?" Tanya Arion kesal.
"Bayar." Jawab ketiga temannya samaan.
Lilian kembali menghela napas kemudian memijit kening lagi karena pusing dengan kelakuan empat lelaki itu.
________________