
Setelah bel pulang sekolah berbunyi, Lilian di tarik paksa oleh ketiga temannya untuk mengunjungi sebuah cafe yang letaknya tidak jauh dari tempat sekolah mereka berada. Sudah sejak lama mereka merencanakan untuk mengunjungi cafe tersebut namun ada saja kesibukan dari salah satu dari mereka hingga menyebabkan rencana mereka harus tertunda sementara.
Niat hati setelah bel pulang sekolah berbunyi Lilian langsung ingin pulang. Namun niatnya harus ia tunda terlebih dahulu melihat tatapan mematikan yang di arahkan oleh Gladis, Laura dan Meira kepadanya. Lilian di bawa kesebuah cafe yang bernama butterfly, pengunjung di sana rata-rata masih seorang pelajar sama seperti Lilian dan ketiga temannya.
Cafe Butterfly menjadi pilihan para remaja setelah mereka menghabiskan waktunya di sekolah masing-masing. Cafe itu terlihat seperti tempat berkumpulnya semua remaja dari berbagai sekolah sehingga membuat cafe itu menjadi tempat favorit yang wajib di kunjungi.
Nuansa cafe-nya juga sangat nyaman, desain-nya juga di sesuaikan dengan selera remaja yang sekarang lagi ngehits. Bagi yang sangat suka selfie, cafe Butterfly adalah pilihan yang tepat dan cocok.
Kembali kepada Lilian dan ketiga temannya, setelah memarkirkan motornya masing-masing, Gladis langsung menarik tangan Lilian untuk memasuki cafe Butterfly dan mendudukkan-nya pada salah satu kursi yang berada dekat dengan jendela cafe.
Selain dapat mengamati seluruh pengungjung yang berada di dalam cafe, tempat yang Gladis pilih juga sangat cocok untuk Lilian yang lebih memilih memperhatikan kendaraan yang berlalu lalang.
"Jelasin ke kita kenapa lo ribut dengan Kak Audry?" Tanya Gladis yang tidak mau berbasa-basi lagi.
Tujuan teman-teman Lilian mengajaknya kesini bukan hanya sekedar ingin membuang rasa lelah karena sudah belajar terlalu lama di sekolah. Tujuan utama mengajak Lilian adalah rasa penasaran ketiganya atas kejadian yang Lilian alami saat di dalam kantin sekolah.
Ssbenarnya ketiga teman Lilian sangat ingin menayakan kejadian itu pada Lilian saat gadis itu kembali ke kelasnya, namun ketiga teman Lilian harus kembali menahan rasa ingin tahu mereka lantaran bel masuk kembali berbunyi.
"Kenapa nggak mesan makanan aja dulu ... Kita kesini mau makan, masa iya baru saja sampai langsung di tanyain hal itu." Kata Lilian dengan nada lesu.
"Ya sudah sekarang kita pesan makanan aja dulu." Ucap Meira setuju dengan ucapan Lilian.
Keempatnya langsung mememasan makanan masing-masing. Sambil menunggu makanannya datang, Laura kembali menayakan hal yang sebelumnya di pertanyakan oleh Gladis.
"Sekarang jelasin ke kita. Apa yang sebenarnya terjadi di kantin sekolah tadi?" Tanya Laura dengan waja seriusnya.
Lilian menghela napas pelan melihat raut wajah penasaran dari ketiga temannya. "Yaaa seperti yang kalian lihat tadi." Ucapnya lesu.
"Yaaa ceritain dengan jelas dong. Mengapa Kak Audry tiba-tiba nyari masalah dengan lo? Apa semuanya gara-gara si Mak Lampir yang ngomporin lagi?" Tanya Laura beruntun.
Lilian kembali menghela napas, namun kali ini sedikit berat dari sebelumnya. "Mungkin saja ... Awalnya memang gue sempat adu mulut gitu sama Kak Sheril namun Kak Audry juga ikut nimbrung setelah sejak tadi hanya diam saja." Jelas Lilian.
"Sebelumnya lo udah kenal sama Kak Audry belum?" Tanya Gladis.
Lilian menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. "Gue sama sekali nggak kenal. Kalian juga udah tahu kalau gue baru aja pindah ... Belum lagi selama ini gue hanya lihat Kak Sheril hanya barengan dengan dua temannya doang."
"Gue pikir karena lo suka dengan Kak Arion maka lo berani nanggung semua resiko yang akan lo hadapi untuk ke depannya. Ternyata lo nggak kenal dengan Kak Audry?" Tanya Laura sedikit memelankan suaranya agar tidak terdengar oleh pengunjung lain.
Lilian kembali menggelengkan kepalanya tanda ia benar-benar tidak kenal. "Nggak. Memangnya ada apa dengan Kak Audry?"
Ketiga teman Lilian membulatkan mata sempurna melihat ketidak tahuan Lilian. "Astagaaa Lilian ... Seharusnya kita bertiga menjelaskan tentang Kak Audry dari awal kepada lo." Ucap Laura cemas.
"Lo tahu? Kak Audry lebih cocok di panggil pshycopat karena sifat jahatnya." Kata Meira dengan nada sepelan mungkin.
"Pshycopat?" Tanya Lilian bingung.
Gladis langsung mengangguk cepat. "Iya ... Selama ini Kak Audry selalu membully siapa saja yang dia anggap adalah mainan. Korbannya sudah sangat banyak ... Sebagian memilih keluar dari pada haruz terus di ganggu olehnya." Jelasnya.
"Terakhir kali korban Kak Audry mengalami gangguan psikis dan sekarang masih di rawat, maka dari itu keluarga dari pihak korban melaporkannya ke pihak sekolah dan dia di beri hukuman skors selama sebulan penuh. Kayaknya kemarin adalah hari pertama dia kembali bersekolah." Jelas Meira panjang.
"Kenapa dia suka membully orang lain? Dan kenapa pihak sekolah malah memberinya hukuman skors selama sebulan? Kenapa nggak langsung mengeluarkannya saja?" Tanya Lilian penasaran.
"Karena dia adalah sepupu dari Kak Arion. Papa Kak Audry itu saudaraan dengan Mama-nya Kak Arion ... Alasan dia hanya mendapat hukuman skors selama satu bulan tentu saja karena di bantu oleh Ganendra Grup." Jelas Gladis.
"Gue heran mengapa sekolah kita sangat tunduk dengan orang-orang itu. Tidak bisakah pihak sekolah langsung mengambil keputusan berdasarkan kesalahan yang murid itu lakukan ... Bagi gue hukuman skors selama sebulan terlalu ringan untuknya. Dia telah merusak masa depan seorang anak dan mana bisa hanya di berikan hukuman ringan." Kesal Lilian.
"Ehhh Lilian lo kalau ngomong pelanin dikit suara lo napa? Lo bisa terlibat dalam masalah jika ada orang lain yang mendengarnya. Meski gue memang nggak setuju dengan keputusan sekolah namun tetap saja kita tidak bisa melawan orang-orang itu." Kata Laura memperingati.
"Siapa juga yang mau melawan Ganendra Grup? Kak Audry memanfaatkan nama Tantenya untuk melakukan hal-hal yang ia sukai ... Termasuk membully anak-anak di sekolah. Sekarang ini yang gue khawatirin adalah lo Lilian." Kata Gladis dengan sorot mata khawatir.
"Benar tuh ... Di kantin tadi lo udah ribut ama dia. Tentu saja Kak Audry tidak akan melepas lo untuk kedepannya. Maka dari itu kita bertiga bawa lo kesini agar kita sama-sama membahas hal-hal yang akan mungkin terjadi kepada lo." Kata Laura dengan raut serius.
"Maksud lo?" Tanya Lilian bingung. "Memangnya hal apa yang akan terjadi pada gue?" Lanjutnya.
"Lilian ..." Panggil Gladis gemas. "Kita udah jelasin secara umum tentang Kak Audry pada lo ... Dia itu pshycopath. Tentu saja tidak akan melepaskan lo setelah kejadian tadi di kantin ... Ia akan terus mencari masalah dengan lo sampai lo sendiri yang memilih menyerah dan pergi meninggalkan Florrnzo School seperti murid-murid yang sebelumnya ia bully." Jelasnya.
Lilian membuang napas pelan mendengar penjelasan dari ketiga temannya. Lilian merasa beruntung memiliki teman seperti mereka yang selalu ada untuknya seperti sekarang ini hanya saja Lilian tidak ingin di tindas oleh orang lain terlebih lagi di tindas karena masalah yang ia tidak ia lakukan.
"Guyysss ... Gue beruntung punya teman kek kalian yang selalu ada buat gue. Meski kalian tahu masalah yang gue hadapi saat ini nggak gampang namun gue masih tetap bersyukur karena kalian masih memilih tetap berada di samping gue. Namun gue nggak akan diam saja saat gue merasa tertindas, sebisa mungkin gue akan melawan orang yang berusaha menindas gue meski orang itu memiliki dukungan besar di belakangnya." Kata Lilian tegas.
"Lilian ... Gue tahu lo adalah orang yang nggak gampang di tindas, cuman masalahnya Ganendra Grup bukan lawan lo saat ini. Kak Arion memang terlihat memihak kepada lo untuk sekarang namun siapa yang akan sangka jika kedepannya ia akan memihak saudaranya sendiri? Seburuk apapun kelakuan yang di lakukan oleh Kak Audry namun tetap saja mereka berdua adalah saudara." Jelas Meira panjang.
"Lalu kalian ingin gue harus mengalah dan menerima semua yang akan di lakukan Kak Audry pada gue? Gue memang nggak bisa melawan Ganendra Grup, namun selama hal yang gue lakuin adalah benar maka gue nggak akan mau mengalah dan di tindas." Lilian masih dalam pendiriannya.
Begitulah Lilian, selama ia merasa masih di jalan yang benar maka tidak akan mau mengalah terlebih lagi harus mengalah dan di tindas oleh orang macam Audry.
Tidak ada yang mau berbicara satupun setelah pelayan cafe menyajikan makanan dan pergi. Ke empat gadis itu lebih memilih manyantap makanan masing-masing dengan diam namun di dalam kepala mereka masing-masing masih memikirkan masalah yang sebelumnya mereka bahas.
Sudah cukup lama ke empatnya terdiam hingga tangan seseorang tiba-tiba menarik kerah baju milik Lilian dan membuyarkan lamunan dari ke empat gadis tersebut.
"Ohhh di sini lo rupanya." Kata Audry dengan senyum jahatnya. "Hampir seluruh area sekolah yang gue kunjungi ternyata lo malah bersantai di cafe ini." Lanjutnya.
"Kak ... Kak lepasin Lilian. Kita bisa bicarakan hal ini baik-baik." Usul Gladis saat melihat kerah baju Lilian di tarik paksa.
"Diem deh lo! Jangan ikut campur urusan kita ... Jika tidak mau berurusan sama kami maka sebaiknya kalian pergi saja!!" Usir Sheril dan menatap tajam kepada ketiga teman Lilian bergantian.
"Kami akan tetap di sini meski harus berurusan dengan kalian! Lilian adalah teman kami, jika ia dalam masalah maka kami sebagai temannya siap membantunya kapan pun ... Termasuk harus melawan kalian semua!!" Tunjuk Meira.
"Ohhh kalau begitu kami tidak akan memaksa. Semakin banyak mainan maka akan semakin menarik pula permainan ini." Kata Audry sambil mengencangkan tarikkannya ke arah kerah baju Lilian.
"Lepasin tangan kotor lo." Ucap Lilian masih dengan nada santainya.
Audry menarik kerah baju Lilian lebih dekat lagi dengan wajahnya. "Di saat seperti ini lo masih tetap tenang? Tidak tahu aja kalau daerah ini adalah milik gue ... Di sini guelah yang berkuasa." Kata Audry menekan setiap kata-katanya.
Lilian menengok ke arah kiri dan kanan melihat situasi di sekitarnya. Semua pengunjung bahkan pekerja cafe kompak menatap ke arah mereka. Dapat Lilian simpulkan tatapan dari semua orang yang berada di dalam cafe jika Audry sedang mencari mainan baru, terlihat ada banyak sekali tatapan kasihan yang di arahkan kepada Lilian oleh pengunjung cafe.
"Lo udah ngerasa takut?" Ucapnya dengan senyum meremehkan.
Lilian terkekeh kecil mendengar ucapan Audry. "Gue takut sama lo?" Tanya Lilian dengan ketenangannya. "Gue dan lo sama-sama memiliki dua tangan ... Namun sayangnya lo nggak bisa gunain tangan lo untuk hal-hal yang berguna." Lanjutnya.
Audry kembali menguatkan cengkramannya pada kerah baju milik Lilian. "Pada posisi sulit begini lo masih terlihat sombong?"
Lilian mulai merasakan jikalau kerah baju yang ia kenakan sebentar lagi akan robek jika ia tetap diam dan tidak melawan. Saat Audry berusaha merobek baju Lilian dari atas, tangan Lilian mencengkram kedua tangan Audry dengan kuat.
Audry bahkan membulatakan kedua matanya karena kaget dengan tenaga yang Lilian miliki. Tangan Lilian berhasil melepaskan tangan Audry dari kerah bajunya kemudian Lilian mendorong Audry dengan sangat keras sehingga gadis itu jatuh tersungkur ke lantai.
Sheril yang berdiri tak jauh dari Audry tidak ingin berdiam diri. Bersama Naomi dan Karin, Sheril melangkah maju untuk menghadapi Lilian bersamaan, namun langkah ketiganya terhenti saat ketiga teman Lilian juga ikut menghadang ketiganya.
"Kalau berani jangan main keroyokan. Lawan kita satu-satu." Ujar Gladis lantang.
Sheril dan kedua temannya langsung menyerang ketiga teman Lilian. Audry bahkan kembali berdiri kemudian mengambil salah satu vas bunga yang berada di salah satu meja kemudian melangkah menyerang Lilian.
Lilian menangkap vas bunga yang Audry jadikan sebagai senjata untuk memukulnya kemudian melemparnya dengan asal. Tidak ingin mengalah dari Lilian, Audry kembali maju dan berniat menampar wajah Lilian namun Lilian berhasil menangkap tangan Audry dan memintirnya ke belakang punggungnya.
Menggunakan sebelah tangannya yang bebas, Audry meraih rambut Lilian dan menariknya dengan kuat. Habis sudah kesabaran yang Lilian miliki, sejak tadi ia hanya berusaha menghindar namun Audry malah menjadi.
Lilian semakin menarik tangan Audry ke belakang dengan sangat kuat sehingga membuat Audry tidak bisa untuk tidak memekik kesakitan.
"Awww ..." Spontan ia melepaskan tangannya dari rambut Lilian karena merasa kesakitan.
"Tangan ini yang selalu lo gunakan untuk membully banyak orang akan gue kasih pelajaran." Bisik Lilian pelan kemudian manarik rambut Audry ke belakang dengan kencang sehingga wajahnya harus mendongak ke atas
"Awww ... Sakit! Lepasin gue an**ng!" Pekik Audry kesakitan.
"Lo masih bisa merasakan sakit namun tetap membully orang yang tidak bersalah." Ucap Lilian.
Sheril yang melihat posisi Audry yang terpojok berusaha untuk membantu temannya itu namun Lilian menggeser sedikit tubuhnya dan Audry kemudian menendang Sheril dengan sangat keras. Melihat Sheril yang sudah terjatuh, Gladis langsung mengambil kesempatan untuk membalaskan rasa sakit orang-orang yang pernah Sheril bully.
Lilian sendiri kemudian melepaskan tangannya dari rambut Audry kemudian menarik gadis itu menghadap ke arahnya.
PLAAAKKK ...
Lilian menampar sebelah kanan wajah Audry. "Itu tamparan buat orang-orang yang pernah lo sakitin." Kata Lilian dengan tatapan tajamnya.
PLAAAKKK ....
Lilian kembali menampar Audry ke sebelah kiri wajahnya. "Itu tamparan buat baju yang tadi pagi lo rusak."
"SIALAN!!" Marah Audry karena merasa telah di rendahkan oleh Lilian
Audry mengeluarkan sebuah pisau lipat dari dalam kantong jas-nya yang sebelumnya sudah ia siapkan untuk menyakiti Lilian. Audry melangkah maju dengan cepat kemudian mulai menyerang Lilian dengan membabi buta.
______________
Bukan maksud Author buat ngegantung ya ... Cuman jumlah katanya sudah mencapai dua ribu kata ... Untuk itu Author harus stop dan lanjut ke bab yang selanjutnya.
Jangan neror Author buat UP bab selanjutnya malam ini ya ... Kalau bisa akan Author usahain kalau nggak, selamat menunggu besok ðŸ¤
Author sayang kalian .... Tetap dukung Author ya.