Lilian

Lilian
Sisi Lain Lilian



Lilian mengepalkan tangan dengan sangat kuat karena menahan marah. Habis sudah kesabaran yang Lilian miliki. Kakinya berjalan mendekat ke arah ke empat lelaki yang berusaha menahan pergerakannya.


Seorang murid laki-laki memegang tangan Lilian dengan erat dan berusaha menarik Lilian ke dalam kungkungannya namun sebelah tangan Lilian yang bebas menarik tangan murid laki-laki tersebut dan memintir ke belakang punggungya.


Lilian juga menendang bagian belakang lutut murid tersebut dengan sangat keras sehingga posisinya seperti seseorang yang sedang berlutut lalu memukul lehernya dengan sangat kuat. Seorang murid lainnya kembali maju melihat temannya sudah Lilian kalahkan dengan sangat mudah.


Sebelum murid tersebut dapat menggapai posisi dimana Lilian berdiri, Kaki kiri Lilian terlebih dahulu sudah melayang dan mengenai wajahnya dengan sangat keras.


Kedua temannya yang lain kembali maju menyerang Lilian secara bersamaan. Lilian sendiri menaiki salah satu meja yang berada di dekatnya kemudian kembali melayangkan tendangan ke salah satunya dan memberikan tinju ke temannya yang lain.


Tenaga yang Lilian keluarkan untuk mengalahkan ke empat murid tersebut sangat besar sehingga ke empatnya tidak mampu lagi berdiri dengan benar. Lilian bahkan sempat memukul ke empatnya beberapa kali lagi agar ke empat murid tersebut tidak lagi memiliki tenaga untuk melawan Lilian.


Napas Lilian terdengar ngos-ngosan setelah melumpuhkan empat murid laki-laki tanpa perlawan sedikitpun dari mereka. Namun belum sempat Lilian mengambil napas, Naomi teman dari Sheril maju dan menyiramkan isi dari embar yang ia bawa tadi ke arah Lilian.


Lilian berhasil menghindari cairan bau tersebut namun cairan tersebut berhasil mengenai sebelah sepatu yang Lilian kenakan. Naomi harus menahan napas untuk beberapa saat melihat tatapan tajam dari Lilian, gadis itu bahkan menggigil di tempat saat Lilian berjalan mendekatinya dan mendorongnya dengan sangat keras. Alhasil Naomi harus bermandikan cairan bau yang tadi ia lemparkan ke arah Lilian.


Karin tidak tinggal diam melihat temannya Naomi jatuh tersungkur dan mencium lantai kantin. Dengan langkah cepat, Karin kembali berniat menyiram cairan bau tersebut ke arah Lilian namun Lilian sendiri sangat ahli dalam hal menghindar.


Karin sempat kelelahan menyeimbangi pergerakan dari Lilian hingga akhirnya ia memutuskan untuk menyiram Lilian dengan cairan bau tersebut namun naasnya cairan itu bukan mengenai Lilian, melainkan orang yang berada tepat dibelakang Lilian.


Sejak tadi semua orang yang berada di dalam kantin tidak dapat menutup mata dan mulutnya melihat aksi cantik dari Lilian. Bukan hanya kecantikanya yang dapat membius semua mata, Lilian bahkan sangat mahir dalam ilmu bela diri. Mereka dapat melihatnya langsung dengan mata kepala sendiri saat Lilian mengalahkan ke empat murid laki-laki tersebut tanpa memberikan pihak lawan untuk membalas.


Lilian bahkan seperti memiliki tanaga lebih yang ia gunakan pada kedua kaki kecilnya, sehingga gadis itu dengan sangat mudah dapat menghindar dari kejaran Naomi dan Karin.


Sedangkan seseorang yang terkena cairan bau tadi mengepalkan tangan kuat serta tidak dapat menahan amarahnya lagi. Ia mencoba mendekati Lilian namun sayang ia harus terjatuh ke lantai dikarenakan lantai yang licin bekas air yang dilemparkan oleh Karin.


"Sialan!! Kenapa lo malah menyiram cairan bau itu ke gue?!" Marah Sheril, posisinya sekarang sedang terduduk di bawah lantai dengan keadaan yang sangat mengenaskan.


"Maafkan gue Sheril ... Tadinya gue berniat nyiram si ja**ng. Nggak tahunya dia malah menghindar dan cairannya malah mengenai lo." Jelas Karin dengan raut wajah takutnya.


Lilian berjalan mendekat ke arah Karin dan menendang sedikit keras ke belakang lututnya. Kondisi lantai yang licin membuat Karin berdiri tidak stabil dan akhirnya ia jatuh menimpa Sheril di bawahnya.


Sheril lagi-lagi tidak dapat menahan kekesalnya dan berusaha berdiri dari posisinya namun ia kembali terjatuh dan pantatnya harus kembali mencium lantai kantin.


"Dasar gadis bre**sek!! Berani-beraninya lo lakuin ini terhadap gue!!" Mulut Sheril penuh dengan umpatan-umpatan yang ia tujukan ke arah Lilian.


"Lo lakuin ini terhadap gue artinya lo mengangkat bendera perang terhadap gue!!" Sheril memaki Lilian pada posisi yang masih terduduk di lantai.


Lilian mengorek kupingnya pelan karena risih mendengar umpatan dari mulut Sheril. "Ini aneh ... Lo sendiri yang datang dan mencari masalah dengan gue. Tadi gue udah bilang kalau suasana hati gue hari ini sedang tidak baik tapi kalian masih saja ingin mengganggu." Kata Lilian dengan raut wajah tenangnya.


"Tunggu saja apa yang bisa gue lakuin terhadap lo! Hari ini lo udah mempermalukan gue di hadapan umum. Bukan saja akan membalas mu dengan penghinaan namun bersiap-siaplah untuk segera meninggalkan sekolah ini sepatnya!!" Sheril meluapkan semua amarahnya di hadapan Lilian. Selama ini belum ada yang memperlakukannya seperti saat ini hingga akhirnya Lilian datang.


Lilian menatap tajam ke arah Sheril, syarat akan kemarahannya. "Benarkah? Apa yang akan lo lakuin untuk mendepak gue dari sekolah ini?" Tanya Lilian dengan raut wajah dinginnya.


"Lo tanya apa yang bisa gue lakukan? Sepertinya lo belum tahu informasi tentang kedudukan Bokap gue di sini!! Gue tegaskan kepada lo, Bokap gue adalah salah satu donatur di sekolah ini dan memiliki posisi berpengaruh dalam sosial ... Untuk mendepak lo keluar dari sekolah bukanlah hal yang sulit dilakukan jika gue ingin!!" Ucap Sheril dengan nada bangga di setiap kata yang keluar dari mulutnya.


Lilian tertawa keras mendengar ucapan dari Sheril. Lilian memiliki senyum yang sangat menawan hingga membuat orang di sekitarnya berharap agar terus dapat melihat senyuman itu. Namun kali ini Lilian tertawa yang membuat semua orang merinding mendengarnya.


Tawa itu penuh dengan aura dingin, ketiga teman Lilian bahkan tidak menyangka bahwa Lilian yang mereka kenal memiliki sisi menakutkan dalam dirinya.


Tawa Lilian terhenti kemudian ia berjalan ke salah satu kursi kosong dan duduk dengan menyilangkan kakinya. "Lo bangga dengan memamerkan posisi Bokap lo? Lo ingin menunjukan bahwa peraturan di sekolah ini berada di bawah kaki Bokap lo? Begitukah maksud mu Kak Sheril?" Tanya Lilian yang membuat Sheril harus meneguk ludah susah payah.


"Lo ... lo Ma ... Mau Co.. Coba?" Tanya Sheril gugup melihat tatapan mematikan dari Lilian.


Lilian kembali tertawa, seisi kantin tidak berani mengeluarkan suara mendengar tawa menakutkan dari Lilian. "Itu artinya Kak Sheril mengakui kata-kata gue barusan? Lalu apa yang akan lo lakukan setelah ini? Menangis dan merengek meminta agar gue di berikan hukuman yang bahkan sama sekali nggak gue lakukan? Mengatakan bahwa gue telah menganiayaya lo dengan kedua sahabat lo ... eeehhh jangan lupakan ke empat cucunguk lo itu." Tatapan mata Lilian beralih dan menatap ke empat laki-laki yang tadi ia beri pelajaran.


Ke empat laki-laki itu menundukkan wajah dan tidak berani menatap langsung ke arah mata Lilian.


"Lo ... lo ..." Sheril mulai kehilangan kata-katanya saat menatap mata Lilian.


"Kenapa? Kenapa nada suara Kak Sheril terdengar gugup? Sudah merasa kehilangan kepercayaan diri? Jangan dulu ... Gue ingin lihat bagaimana Kak Sheril mengadukan hal ini kepada Bokap lo, bagaimana sekolah ini akan memberikan hukuman terhadap gue." Lilian terbangun dari duduknya dan berjalan menuju tempat Sheril.


Lilian menundukan tubuhnya dan menatap langsung ke arah mata Sheril. "Gue ingin menyaksikan bagaiman Kak Sheril menjelaskan kepada petinggi sekolah dan Bokap lo, bagaimana tangan kecil gue ini dapat menjinakkan ke empat laki-laki dan ke dua teman lo itu ... Ehhh jangan lupakan dengan kejadian yang lo alami sekarang." Kata-kata Lilian berhasil membungkam semua orang yang berada di kantin termasuk Sheril.


Lilian kembali meneggakkan tubuhnya dan matanya beralih menatap satu persatu orang yang juga menatapnya dengan tatapan yang berbeda. "Semua orang yang berada di kantin ini akan menjadi saksi, mengapa dan bagaimana semua hal ini terjadi. Gue akan menunggu hari dimana lo akan menjelaskan hal ini. Sampai hari itu mari kita lihat siapa yang akan di hukum dan di keluarkan. Apakah hari itu kekuasaan Bokap lo akan tetap berlaku atau malah sebaliknya?" Lilian kembali membalikkan badannya dan menatap Sheril.


"Kekuasaan itu dibangun dengan susah payah ... Ada banyak cara agar orang dapat meraihnya. Entah itu dengan cara sehat atau kotor, yang perlu Kak Sheril tahu adalah seseorang bisa menggunakan satu skandal agar dapat mengikis kekuasaan itu." Lilian akhirnya dapat tersenyum manis setelah ketegangan yang ia ciptakan. "Gue rasa Kak Sheril tidak terlalu bodoh sehingga tidak dapat memahami apa yang gue maksud." Lanjutnya masih dengan senyuman di wajahnya.


"Jadikan hari ini sebagai pelajaran untuk kalian ke depannya ... Jangan memancing seseorang yang tertidur karena kelelahan, karena jika orang tersebut marah maka apapun yang ia lihat pertama kali akan menjadi sasaran empuknya." Suara Lilian terdengar sangat lantang dan mengisi seluruh isi kantin.


Lilian kemudian membersihkan semua baju dan roknya dengan pelan, kemudian matanya menatap ke arah sepatunya yang tadi sedikit terkena cairan bau itu. "Aishhh selera makan ku hari ini menjadi hilang." Kemudian ia berjalan melewati semua orang yang masih menatapnya takjub.


Sheril dan kedua temannya hanya menatap punggung Lilian yang berjalan menjauh. Ketiganya sangat meresa kesal, niat hati ingin mempermalukan Lilian di depan umum namun yang terjadi malah mereka yang di permalukan.


Sedangkan orang-orang yang hadir di dalam kantin tidak dapat melupakan kejadian yang baru saja mereka saksikan. Lilian murid baru, memiliki tubuh mungil, mata cantik, serta memiliki kelebihan lain yang tidak di miliki gadis lain ternyata menyimpan sisi kejam dari dalam dirinya.


Sedangkan Lilian sendiri hanya berjalan lurus hingga matanya tidak sengaja melihat seseorang yang juga menatapnya tanpa ekspresi. Dia adalah Arion dan di sebelahnya berdiri Rein dan juga Farrel. Entah sejak kapan ketiga Geng Andromeda berdiri di sana dan menyaksikan semua yang Lilian lakukan.


Lilian sendiri mengabaikan tatapan Arion dan memilih berjalan menjauh. Ia tidak ingin amarah yang belum semuanya ia keluarkan menjadi sasaran orang yang tidak bersalah terutama pada Arion yang sebelumnya membuatnya kesal.


____________


Author akhirnya bisa UP .... Pekerjaan dunia nyata terlalu menyita banyak waktu Author sehingga mungkin untuk sementara waktu Author belum bisa UP maksimal.


Author akan usahain agar UP rutin. Tapi Author belum janji ya ... HANYA USAHAIN 🤭