
Setelah memastikan dua serigala terjatuh di atas tanah. Lilian berlari dengan cepat mengambil salah satu obor yang anggota Osis gunakan sebagai penerangan.
Dengan tenaga yang sudah mulai berkurang, Lilian harap serigala itu segera mundur dan berlari pergi. Namun bukannya pergi setelah di pukul keras oleh Lilian, serigala-serigala itu semakin ingin menyerang Lilian karena merasa ia adalah ancaman untuk ketiganya.
Bukan Lilian namanya jika gadis itu harus takut. Gadis itu malah kembali melawan tiga serigala itu menggunakan obor di tangannya. Pertama Lilian menyerang serigala yang sebelumnya ia lempari dengan batu. Lemparannya tadi, mengenai sedikit ujung dari mata serigala. Sehingga Lilian memutuskan untuk melawan serigala yang mudah ia kalahkan terlebih dahulu agar membuat dua serigala lainnya merasa ketakutan.
Berbeda dengan Lilian yang tidak merasa ketakutan, Arion malah hampir terkena cakaran salah satu serigala karena selalu fokus menatap kearah Lilian. Ario begitu terkejut dengan keterampilan bertarung yang Lilian miliki. Terlebih lagi Lilian sedang tidak bertarung dengan sesama manusia, gadis itu melawan tiga ekor serigala yang memiliki badan besar dan termasuk hewan yang di takuti oleh manusia.
Tanpa sedikit pun ketakutan yang di perlihatkan oleh gadis itu saat melawan tiga ekor serigala langsung. Itu sebabnya Arion harus sesegera mungkin mengalahkan serigala yang sekarang ia lawan agar dapat melindungin Lilian.
Bukan hanya Arion yang terkejut dengan aksi yang Lilian lakukan. Semua murid dan para Guru lainnya hampir tidak mempercayai penglihatan mereka saat ini. Lilian bagai gadis yang terlatih saat melawan tiga ekor serigala itu. Gerakannya selalu tepat dan gadis itu bahkan sampai hapal gerakan apa yang akan di lakukan oleh serigala selanjutnya.
Semua orang tidak menyangka, Lilian yang memiliki tubuh kecil mampu memukul mundur tiga serigala dengan tangan kecilnya.
Kembali kepada Lilian yang masih melawan serigala itu sendirian. Tidak ada yang berani mendekat untuk membantu Lilian lantaran tiga ekor serigala itu sedang dalam kemarahan tertinggi karena Lilian beberapa kali memukul mundur ketiganya.
Dengan gerakan mantap dan sudah Lilian perhitungkan, gadis itu berlari maju dan menyerang salah satu serigala dengan obor yang ia pegang.
Aaaauuuuuu .....
Suara lolongan kesakitan dari serigala memecah suasana malam. Tidak ingin memberikan ampun untul serigala itu, Lilian mengangkat bambu bekas obor tadi tinggi-tinggi dan menusukkan salah satu ujung runcingnya ke salah satu kaki kanan belakang serigala.
Crasshhhh ...
Darah yang mencuat keluar dari kaki serigala bahkan mengenai wajah putih dari Lilian. Segaris noda darang panjang tercetak jelas di wajah Lilian. Serigala itu sudah tidak dapat lagi berdiri dan melawan Lilian lagi lantaran luka pada kaki yang Lilian berikan lumayan parah.
Lilian kembali menarik bambu runcing yang ada pada kaki serigala dan kembali menganyunkannya kearah serigala lain. Lilian sengaha melipat kedua kakinya, terlihat seperti orang berlutut saat seekor serigala menyerang dengan cara melompatinya. Setelah melihat kesempatan yang ada, Lilian langsung menusuk perut serigala itu dari bawah menggunakan bambu yang sama.
Bammm ....
Satu serigala lagi berhasil Lilian kalahkan dengan bambu di tangannya. Napas Lilian terdengar ngos-ngosan, tubuhnya sebentar lagi akan ambruk namun sebisa mungkin ia harus tetap mengalahkan satu serigala yang tersisa. Tangan Lilian yang sebelumnya terluka akibat menahan Audry kembali mengeluarkan darah. Pergerakan Lilian kembali membuat luka itu kembali terbuka.
"Lo secepatnya harus gue kalahin atau gue yang akan mati karena lo." Gumam Lilian pelan.
Mata Lilian sama tajamnya seperti mata serigala yang menatapnya saat ini. Lilian dengan tenang mengamati pergerakan yang di lakukan oleh serigala di depannya itu. Sedikit saja salah langkah maka nyawa Lilian sebagai taruhannya. Kedua kawanan serigala itu sudah berhasil Lilian kalahkan, bukan tidak mungkin kalau serigala di depannya saat ini akan membalas rasa sakit temannya itu.
Instingn seekor serigala sangatlah kuat, mereka akan cenderung akan menolong kawanannya yang terlukan dan akan membalas rasa sakit yang di alami kawanannya.
Serigala itu kembali melompat dan menyerang Lilian dengan membabi buta. Beruntung meski kondisi Lilian semakin lemah, namun gadis itu masih tetap bisa menghindari serangan dari serigala itu.
Pandangan Lilian mulai mengabur, rasa sakit di tangannya semakin terasa sakit. "Tidak Lilian ... Bertahanlah sedikit lagi." Lilian menyemangati dirinya sendiri.
Serigala itu mampu menangkap kegelisahan dari wajah Lilian. Dengan cepat, serigala itu kembali menyerang Lilian dengan sangat agresif. Kondisi Lilian semakin lama semakin menurun, kali ini Lilian harus memutar otaknya agar bisa mengalahkan serigala yang tersisa. Jika tenaganya habis, maka saat ini Lilian hanya bisa mengandalkan otaknya untuk mengalahkan serigala itu.
Dengan sisa tenaga yang ada, Lilian memancing serigala itu untuk mengikutinya berlari kearah api unggun berada. Lilian sudah memperkirakan jika jaraknya dari api unggun itu berjarak sekitar empat puluh meter, dalam kondisinya sekarang Lilian membutuhkan waktu setidaknya lima menit untuk sampai di sana. Kecepatan serigala itu jauh lebih cepat berkali-kali lipat jika di bandingkan dengan kecepatan yang Lilian punya saat ini. Maka untuk mengecoh serigala itu, Lilian harus mengalihkan serigala itu untuk membuat kecepatan berlarinya berkuarang.
Lilian sengaja bergerak mundur jika serigala itu menyerang. Sesekali ia memungut batu dan melemparnya ke arah serigala. Saat jarak Lilian dengan api unggun berjarak sekitar lima belas meter, Lilian akhirnya membalikkan badan dan mengerahkan semua tenaganya untuk berlari kearah sana. Otomatis serigala itu akan berlari mengejar Lilian dengan kecepatan yang tidak berkurang sedikitpun.
Setelah Lilian berlari mendekati api, tiba-tiba ia menjatuhkan tubuhnya ke samping dengan sangat keras. Serigala yang masih mempertahankan kecepatannya tidak menyadari kalau Lilian akan menjatuhkan diri. Saat serigala ingin berhenti, namun usahanya sudah terlambat. Serigala itu jatuh dan berakhir ke dalan api unggun yang masih menyala.
Meski sudah berusaha keluar dari api, namun serigala itu tetap mendapat luka bakar yang sangat parah. Suara lolongan kesakitan kembali terdengar dari serigala terakhir yang Lilian lawan.
Kondisi Lilian sendiri sudah tidak mampu lagi untuk berdiri. Tenaganya sudah terkuras habis dan kepalanya kembali berkunang. Perlahan kedua mata Lilian menutup hingga akhirnya gadis itu sudah tidak sadarkan diri lagi.
____________________
Arion memegang erat tangan Lilian sejak semalam. Setelah berhasil mengalahkan kawanan serigala, Arion langsung berlari kearah keruman murid perempuan yang mengelilingi gadis itu.
Masih teringat jelas di ingat Arion jika semalam gadis itu melawan tiga ekor seriga berbadan besar sendirian. Lilian dengan berani maju dan melawan serigala-serigala itu untuk melindungi teman-temanya.
FLASHBACK ON
Arion masih di sibukkan oleh kawanan serigala di depannya. Sudah sejak tadi ia dan teman-temannya berusaha mengalahkan sembilan serigala berbadan besar. Namun semakin mereka melawan, serigala-serigala itu semakin agresif dan aktif menyerang.
Sesekali Arion terlihat tidak fokus dan hampir terkena cakaran jika Rein tidak cepat datang menghalau serangan serigala. Mata dan pikiran Arion selalu tertuju kepada seorang gadis yang tanpa rasa takut harus melawan tiga ekor serigala sendirian. Meski gerakan gadis itu sangat lincah, namun kondisi Lilian yang lemah sebelumnya akan mempengaruhi kondisi gadis itu kedepannya. Sehingga Arion sering kehilangan fokus saat menghadapi serigala.
Semakin lama Arion semakin tidak tahan dan segera ingin mengalahkan serigala-serigala itu. Dengan sedikit gerakan mengecoh, Arion berhasil mengalahkan dua serigala dalam selang waktu yang tidak terlalu jauh.
Di bantu oleh teman dan para Gurunya, kesembilan serigala itu berhasil mereka kalahkan meski harus mengeluarkan tenaga yang banyak. Tidak ada yang terluka serius selama pertarungan melawan serigala terjadi, hanya ada beberapa luka gores akibat menghindar dari serangan serigala.
Setelah serigala terakhir berhasil mereka kalahkan bersama, Arion langsung mengalihkan pandangannya kearah Lilian yang berlari menuju api unggun. Entah apa yang ingin di lakukan oleh gadis itu namun sesaat kemudian Lilian malah menjatuhkan diri dengan sengaja sehingga serigala yang mengejarnya harus terjatuh ke dalam api unggun.
Tanpa berpikir panjang, Arion berlari kearah Lilian terjatuh. Sudah ada banyak sekali murid yang menyerubungi Lilian hanya ingin memastikan kondisi gadis itu baik-baik saja.
"Lilian bangun!!" Pekik Gladis sambil menggoyangkan tubuh Lilian dengan sedikit keras.
"Kenapa harus lo? Kenapa harus melawannya sendiri!" Tangis Laura pecah. Ia sebisa mungkin menutup luka yang berada di tangan Lilian agar tidak mengeluarkan banyak darah.
"Lilian!" Panggil Meira. Gadis itu juga tidak kalah sedihnya melihat kondisi Lilian.
"Lilian ... Hei, Sayang." Panggil Arion lembut dan menepuk pelan kedua pipi Lilian.
Jika dalam suasana normal, semua orang pasti akan berteriak histeris mendengar panggilan Arion pada Lilian. Namun kondisi Lilian sekarang jauh lebih penting di bandingkan harus terpana dengan panggilan Arion.
Tidak mendapatkan respon dari Lilian, Arion langsung mengangkat tubuh gadis itu dan membawanya masuk ke dalam tenda untuk segera di obati.
Para tenaga kesahatan secepat mungkin datang memberi pertolongan kepada Lilian. Semua guru bahkan harus menunggu dengan perasaan was-was tentang kondisi gadis itu.
Terlalu khawatir dengan kondisi Lilian, Arion bahkan tidak selangkah pun meninggalkan gadis itu. Cukup sekali ia merasa bodoh karena telah membiarkan gadis itu melawan tiga serigala itu sendirian. Arion tidak ingin melakukan kesalahan yang sama jika ia harus meninggalkan gadis itu lagi.
FLASHBACK OFF
Untuk kesekian kalinya Arion harus membuang napas berat lantaran gadis yang tengah berbaring di hadapannya ini masih belum membuka mata sejak semalam.
Meski kondisi Lilian telah membaik dan sudah di nyatakan tidak ada masalah pada gadis itu, namun Arion masih saja khawatir karena Lilian masih belum membuka matanya.
"Gimana? Sudah sadar belum?" Tanya Rein dengan membawa beberapa makanan di tangannya.
Untuk kesekian kalinya Arion harus menggelengkan kepalanya karena pertanyaan yang sama. "Belum." Jawabnya dengan nada berat.
Rein menatap sendu kearah Lilian yang masih setia menutup mata. "Sadar dong, Lilian! Gue mau bilang apa ke Tante Efina ntar? Gue kan dah janji bakalan jagain lo selama acara kemah. Ini malah lo yang jagain semua orang."
Masih tidak ada pergerakan sama sekali pada Lilian. Gadis itu seperti patung dan tidak bergerak sedikit pun. Hanya terdengar suara napas teratur dari gadis itu.
"Tenaga medis keknya salah ngasih obat." Kata Arion namun tatapan masih kearah Lilian.
"Bener. Mana ada orang yang nggak bangun-bangun kalau kondisinya dah baik-baik aja! Biar perlu gue tuntut tuh orang-orang yang salah ngasih obat ke Adek gue." Kesal Rein membenarkan ucapan Arion.
"Jangan ngadi-ngadi ya lo berdua! Lagian ngapain lo berdua terus ada di sini? Sana pergi cuci muka! Lilian ntar bangun lihat muka jelek lo berdua kembali pingsan lagi!" Usir Farrel. Ia mulai jengah dengan obrolan antara Arion dan Rein yang sejak semalam berbicara seperti orang bodoh.
"Diem deh lo!" Rein malah membentak Farrel.
"Dahlah ... Biarkan mereka jadi orang bodoh dulu. Jarang-jarang mereka kek gitu." Kata Mario sedikit mengejek.
Arion menatap tajam kearah Mario dan Farrel yang selalu saja datang dan mengganggu obrolannya dengan Rein.
"Apa lo lihat gue?" Pancing Mario dengan wajah songong. "Jangan lihat gue kek gitu! Kabulin hal yang paling Lilian inginkan. Gue denger orang yang nggak bangung-bangun bakalan sadar kalau permintaannya di kabulin." Usulnya.
Arion menatap remeh kearah Mario. "Lo pikir gue bodoh?" Tanya Arion dengan tatapan datar.
"Memang sejak semalam lo terlihat bodoh! Apa susahnya ngabulin permintaan Lilian. Toh juga imbalannya dia sadar." Kata Mario lagi.
Arion menatap Mario dan Farrel dengan malas. "Kalau Lilian sadar sekarang juga ... gue bakalan beli semua album dan pernak-pernik idol korea yang selalu ia bicarakan itu." Ucapnya dengan lantang.
"Gue akan beli tiket konser dan pesawat bolak baliknya." Tambah Rein dengan wajah songongnya.
"Jika kalau Lilian sadar sekarang juga!" Pekik Arion dan Rein samaan.
"Beneran ya? Kalian berdua dah ngomong gitu. Saksinya Kak Farrel dan Kak Mario." Tiba-tiba Lilian bersuara dari belakang keduanya dengan suara serak bangun tidur.
Spontan Arion dan Rein menoleh kearah Lilian yang sudah membuka matanya dengan sangat lebar. Sebenarnya saat Rein membentak Farrel, Lilian sudah sadar. Hanya saja Lilian masih malas membuka matanya dan memilih kembali tidur.
Namun saran dari Mario membuat perasaan Lilian seperti melompat kegirangan. Hingga akhirnya kata-kata yang Lilian tunggu dari Arion dan Rein selesai di ucapkan.
"Tuhkan ... Apa gue bilang! Lilian bakan sadar kalau kalian mau ngabulin permintaannya." Kata Mario dengan heboh.
Arion dan Rein mengabaikan ucapan Mario dan malah fokus menatap kearah Lilian.
"Sejak kapan lo sadar?" Tanya Arion dan Rein samaan.
"Sejak kalian bilang mau beli semua album BTS dan tiket konser beserta dengan tiket pesawatnya." Jawab Lilian gilang.
"Tuh bener gue bilang ... Kalau seandainya lo berdua ngabulin permintaan Lilian sejak semalam, maka kalian tidak akan terlihat bodoh seperti sekarang ini!" Ejek Mario.
Arion memutar mata malas dan melepaskan tangan Lilian dengan sedikit kasar.
"Awww ..." Ringis Lilian kesakitan.
"Lo nggak apa-apa?" Tanya Arion panik.
"Di mananya yang sakit?" Tanya Rein yang juga ikut panik.
"Kalau kalian nggak ikhlas ngabulin permintaan yang tadi ... maka jangan di ucapkan dulu dari awal!" Marah Lilian. "Sana keluar! Gue mau istirahat." Lilian kembali menarik selimutnya dan menutupnya sampai kepala.
Farrel dan Mario sudah tidak dapat lagi menahan tawa melihat muka cengo dari Arion dan Rein.
_______________________