
Audry adalah sepupu Arion dari pihak ibu. Sejak lama Audry memang terkenal sangat suka menindas murid lain dan sama sekali tidak pernah memikirkan perasaan orang yang ia tindas.
Setiap hari ada saja kelakuan Audry yang membuat semua guru Florenzo School harus menggelengkan kepala lantaran ulahnya. Bersama rekannya Sheril, Naomi, dan Karin ke empatnya menjadi geng perempuan yang di takuti dan disegani oleh murid lain.
Beberapa bulan yang lalu, Audry di hukum skors selama sebulan penuh lantaran aksi bully-nya terhadap teman seangkatannya di ketahui oleh pihak sekolah. Karena masalah itu, murid yang ia bull**y mendapat trauma yang besar sehingga ia takut bertemu dengan banyak orang dan memilih untuk menjauhkan diri dari banyak orang.
Audry selalu saja bertingkah semaunya lantaran tantenya Elisa adalah Istri dari salah satu pengusaha sukses bernama Aditia Ganendra (Kedua orang tua Arion). Ketenaran serta status sosial yang di miliki oleh keluarga Tantenya membuat Audry diatas angin. Siapapun yang berani mengusik atau mencari masalah dengannya maka senjata yang paling ampuh Audry gunakan adalah nama Tantenya.
Ulah Audry semakin menjadi tat kala Arion yang bersikap tidak peduli dan acuh saat mengetahui Audry menggunakan nama keluarganya sebagai perisai. Meski Arion juga bersikap acuh tak acuh kepadanya namun dengan diamnya Arion bagi Audry itu adalah bentuk kasih sayang dari sepupu-nya itu.
Hingga suatu hari Audry dipertemukan dengan Rein saat di depan gerbang sekolah secara tidak sengaja. Saat awal masuk sekolah, Audry dan Rein sama-sama terlambat datang ke sekolah. Karena tidak ingin di hukum, Rein mencari cara agar ia bisa memasuki sekolahnya tanpa diketahui oleh guru piket atau BP.
Rein memiliki cara agar ia bisa memasuki sekolahnya tanpa diketahui oleh gurunya yaitu dengan cara memanjat gerbang belakang sekolah yang tingginya hanya dua meter saja. Karena merasa kasihan dengan Audry yang juga terlambat, Rein akhirnya memilih membantu gadis itu untuk memasuki sekolah bersamanya. Merasa kalau Rein sangat perhatian kepadanya, Audry langsung menjatuhkan hatinya pada Rein saat itu juga.
Sudah banyak cara dan usaha yang Audry lakukan demi mendapatkan simpati atau perhatian dari Rein, misalnya mengancam dan membully murid yang berusaha mendekati pujaan hatinya itu. Bukannya suka, Rein malah terlihat tidak senang dan bahkan bersikap dingin terhadap Audry. Namun hal itu tidak membuat semangat Audry untuk mendapatkan Rein padam begitu saja. Bagi Audry selama Rein masih sendiri dan tidak memilih siapa pun untuk ia jadikan pasangan maka masih ada peluang bagi Audry untuk mendapatkan pujaan hatinya itu.
Menurut Audry usaha yang selama ini ia lakukan untuk mendapatkan Rein menjadi sia-sia lantaran kehadiran seorang gadis bernama Lilian. Pancaran kasih sayang serta rasa khawatir dari mata Rein terhadap Lilian membuat Audry merasakan sakit hati dan panas dalam waktu bersamaan.
Audry merasa ketidak hadirannya selama ini memberikan celah bagi Lilian untuk mendekati orang yang ia sukai. Sungguh Audry tidak rela jika Rein memilih dan menjalin hubungan dengan gadis lain selain dirinya.
"Sialan!! Brengsek!! Ja**ng!! Akhhhh!!" Audry melampiaskan semua kemarahan-nya dengan membuang pot-pot bunga disekitar taman sekolah.
Audry sekarang tidak lagi peduli jika ia harus kembali di hukum. Baginya yang terpenting saat ini adalah meluapkan segala rasa kesal dan amarahnya yang sejak tadi ia pendam.
"Berani sekali lo mengambil posisi gue di hatinya Rein!! Dasar ja**ng! Lo pikir setelah lo lakuin hal ini terhadap gue. Gue bakalan diem aja?? Ohhhh tidaaak ..." Kata Audry dengan senyum sinisnya.
"Lo bakalan rasain hal yang saat ini gue rasain! Bahkan lebih dari yang gue rasain!" Pekik Audry marah.
"Audry. Lo tenang aja dulu ... Tahan emosi lo dan jangan sampai lo terkena hukuman lagi." Ucap Naomi mencoba menenangkan Audry agar tidak melakukan hal-hal yang tidak di inginkan lagi.
"Bagaimana gue bisa tenang di saat-saat seperti ini?! Cewek mu**han itu mencoba mengambil posisi yang harusnya menjadi milil gue!" Audry benar-benar melampiaskan semua emosinya.
"Lo sendiri yang bilang agar kita tetap harus berpikir dengan kepala dingin. Dengan cara lo yang seperti ini hanya akan menambah hukuman lo lagi ... Apa lo mau hukuman lo ditambah lagi? Jika lo di skors lagi maka akan ada banyak celah bagi Lilian untuk mendekati Rein dan anggota dari Geng Andromeda lainnya." Kata Karin mencoba menjelaskan.
Audry sedikit tenang mendengar ucapan dari Karin, benar yang ia butuhkan saat ini adalah ketenangan. Jika ia tidak dapat berpikir tenang maka Audry tidak bisa merencanakan hal yang akan membuat Lilian merasa takut kepadanya.
"Lilian itu adalah gadis ular. Beberapa kali gue udah mencoba membuatnya untuk bertekuk lutut di hadapan gue namun sayangnya gadis itu juga licik. Menghadapi Lilian harus menggunakan cara yang paling jitu. Untuk sekarang kita hanya bisa bermain aman ... Rein dan Arion serta dua anggota lainnya ada di pihaknya sekarang ... Jika rencana menyingkirkan dia salah sedikit saja maka taruhannya adalah kita sendiri." Kata Sheril serius sambil bersedekap dada.
"Lo benar ... Sejak awal gue udah salah karena telah meremehkan si ja**ng itu. Gue bahkan beneran curiga kalau tuh ja**ng menggunakan ilmu pelet untuk mendekati Geng Andromeda." Kata Audry yang sudah mulai tenang.
"Bener banget tuh ... Tapi ada hal yang jauh lebih aneh lagi." Ucap Naomi kemudian lebih mendekatkan diri lagi kepada ketiga temannya.
"Sebanyak dan sebesar apapun usaha gue untuk mencari informasi tuh anak, namun tetap saja gue nggak bisa nemuin asal usulnya. Bahkan dalam catatan sekolah saja tidak terlalu jelas menjelaskan tentang identitas tuh cewek." Lanjut Naomi.
"Lo benar ... Sejak awal berurusan dengan tuh cewek, gue udah minta tolong bokap untuk mendepak-nya keluar ... Namun lo semua tahu apa jawaban yang bokap gue berikan?" Tanya Sheril dengan wajah yang sangat serius.
"Apa?" Tanya Audry penasaran.
"Bokap gue bilang jikalau gadis itu mendapatkan beasiswa agar masuk kesini namun anehnya Bokap gue nggak bisa nyentuh tuh cewek dengan mudah. Menurut gue tuh cewek memiliki orang dalam di sekolah kita ... Sehingga apapun rencana yang kita buat hanya akan berujung sia-sia." Jelas Sheril dengan nada hampir berbisik.
"Makin kesini gue semakin penasaran." Ucap Audry sambil memandang jauh kedepan.
Audry sudah memantapkan hatinya untuk membalaskan rasa sakit yang ia alami oleh karena Lilian. Selama ini sudah banyak hal yang ia lakukan untuk mendapatkan ketenaran yang sekarang ini pegang, jika tidak bisa membalaskan rasa sakitnya maka akan lebih baik ia menghilangkan Lilian dari kehidupan Rein dan Arion.
_____________
Arion menarik tangan Lilian dan mendorongnya masuk ke salah satu kamar mandi di Florenzo School. Mata Arion sejak tadi tidak bisa fokus lantaran kuah soto yang membasahi seragam Lilian tepat mengenai bagian dada dari Lilian sehingga mengekspose warna dari dalaman Lilian dengan sangat jelas.
"Ganti baju lo sekarang." Ucap Arion sambil memberikan seragam warna putih miliknya tanpa melirik ke arah Lilian berada.
"Biasa aja dong. Ngomong kok pakek buang muka ke arah lain ... Lo sedang ngomong sama gue ini." Kesal Lilian.
Mendengar ucapan dari Lilian, Arion merasa tertantang dan sedikit menarik sudut bibirnya ke atas. "Ohh lo sedang berusaha menggota gue?"
"Enak aja! Apanya yang menggoda? Gue hanya mengingatkan lo saja ... Jika sedang berbicara dengan orang lain itu harus liat matanya, jika cara ngomong seperti yang lo lakuin tadi ... Itu namanya nggak sopan." Ketus Lilian.
"Ohhh gitu rupanya." Ucap Arion sambil mangut-manggut.
"Tentu saja! Sebesar ini masa tidak tahu! Makanya lain kali banyak-banyakkin berinteraksi dengan orang lain biar nggak kaku." Omel Lilian yang tidak henti-hentinya.
"Gue nggak bisa fokus bicara natap lo." Kata Arion masih dengan senyum jailnya.
"Nggak usah gombal ya! Udah nggak laku lagi yang begitu sekarang." Ucap Lilian dengan wajah angkuhnya.
"Siapa yang gombal? Gue hanya nggak bisa fokus lihat lo karena bawahan lo terlihat jelas di mata gue." Kata Arion santai.
Dengan polos Lilian mengikuti arah pandang Arion dan seketika mata Lilian membulat sempurna melihat baju seragam putih yang Lilian kenakan di dalam jas-nya ternyata mengekspose warna dalamanyan secara jelas. Dengan gerakan cepat Lilian langsung menyilangkan tangannya di depan dada untuk berusaha menutupinya dari pandangan Arion.
Arion tertawa pelan melihat raut wajah lucu dari Lilian. "Sejak tadi gue udah berusaha menghindar dengan cara menatap ke arah lain namun lo sendiri yang menginginkan gue untuk berhadapan langsung ke arah lo. Maka hal itu tidak terhitung sebagai salahnya gue dong." Katanya dengan senyum manis.
Dengan kesal Lilian menutup pintunya dengan keras agar Arion tidak dapat lagi melihatnya. "Dasar mesum! Sejak awal lo seharusnya ngasih tau ... Tapi lo malah menikmatinya." Teriak Lilian dari dalam kamar mandi.
Arion hanya tersenyum mendengar teriakan serta kemarahan Lilian dari dalam kamar mandi. Untuk sesaat tidak ada suara dari dalam kamar mandi lantaran Lilian sedang membersikan diri dari tumpahan kuah soto pada bajunya. Untung saja seragam Florenzo School memiliki rompi atau jas yang memiliki bahan yang tebal sehingga Lilian tidak merasakan panasnya kuah soto di tubuhnya. Kuah itu hanya membasahi sedikit seragam dalam milik Lilian.
"Bagaimana keadaan Lilian sekarang?" Tanya Rein yang baru saja tiba dengan napas ngos-ngosan mengejar Lilian dan Arion.
"Baik-baik saja." Jawab Ario. singkat.
"Benarkah? Kulitnya bagaimana? Apakah perlu di bawa ke rumah sakit saja?" Tanya Rein beruntun.
"Nggak perlu. Kuahnya hanya mengenai sedikit seragam dalamnya. Kain seragam untuk hasnya terlalu tebal sehingga kuahnya lebih bayak yang tumpa di luar dari pada yang diserap." Jelas Arion panjang.
Terdengar suara tepukan tangan dari arah lain yang membuat Arion dan Rein langsung menoleh ke sumber suara.
"Gilaaa ... Baru kali ini gue dengar Arion ngomong-nya sepanjang itu." Kata Farrel yang juga tiba-tiba muncul..
"Gue bahkan sampai takjub. Bisa di ulang tidak? Biar gue abadikan untuk di jadikan kenangan." Kata Mario dengan mata berbinar.
Arion hanya menatap kedua temannya yang baru saja muncul dengan raut wajah malas. Entah mengapa kerjaan kedua teman Arion adalah memperhatikan jumlah kata yang Arion ucapkan dalam sehari. Dari oada meladeni kesua teman gesreknya lebih baik Arion membuang wajah ke arah lain asal tidak bertatapan dengan kedua temannya itu.
"Yahhh ... di abaikan kita." Kata Mario yang pura-pura memasang wajah sedih.
"Idup lo nggak terlalu penting buat Arion. Sudah syukur masih mau di lihat." Ujar Farrel meledek Mario.
"Mulut lo tuh Rel ..." Kata Mario kesal.
"Kenapa? Seksi ya?" Tanya Farrel dengan pedenya.
"Nggak. Mau gue cabein ... Kurang pedes soalnya." Kata Mario kesal.
Farrel dan Mario masih saja sama seperti tiap kali bersama yaitu merebutkan hal-hal kecil. Keduanya sangat pintar beradu mulut, mulai hal yang nggak penting ke hal yang jauh lebih nggak penting lagi. Sedangkan Arion dan Rein hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua temannya itu.
Tidak lama setelahnya pintu kamar mandi akhirnya di buka dan muncullah Lilian dengan baju seragam yang memiliki ukuran besar di badannya. Baju itu adalah baju ganti milik Arion yang tadi ia ambil di dalam loketnya.
Meskipun ukuran baju itu sangat besar di badan kecil milik Lilian namun baju itu terlihat sangat menggemaskan saat Lilian mengenakannya.
"Nikmat tuhan manakah yang sekarang kita dustakan? Gileeee lo tetap terlihat cantik aja meski memakai baju longgar begitu." Tunjuk Farrel takjub ke arah Lilian.
"Lo bisa bagi rahasia kecantikan lo nggak?" Tanya Mario.
"Buat apa?" Tanya Farrel bingung.
"Gue tanya Lilian, kenapa jadi lo yang kepo?" Tanya Mario kesal.
"Lo berdua mau ngerasain jurus tapak lima nggak?" Tanya Rein yang sudah tidak tahan dengan kelakuan kedua temannya.
"Ampun Rein ... Lo cepat amat marahnya." Bujuk Farrel agar Rein semakin tidak jengkel kepadanya dan Mario.
Mengabaikan tentang hal aneh yang akan teman-temannya lakukan, Arion hanya fokus mentap kearah gadis yang masih saja terlihat cantik walau hanya mengenakan baju kebesaran di tubuhnya.
"Lo nyaman? Gue hanya punya baju ganti yang memiliki ukuran yang sama." Kata Arion santai.
Lilian menatap Arion dengan tatapan sengit, ia masih saja merasa kesal lantaran karena kejadian tadi. "Apa? Lo masih saja berpikaran mesum?" Lilian menatap tajam ke arah Arion.
"Jangan berpikir-pikir yang aneh-aneh. Tadi itu hanya ketidak sengajaan." Kata Arion sambil mengelus kepala Lilian pelan.
"Tapi lo terlihat menikmati." Tuduh Lilian.
"Jangan berpikir yang aneh-aneh. Jelas-jelas lo sendiri yang menyuruh gue agar berbicara saling menatap satu sama lain." Kata Arion.
"Memang ... Namun kenapa jadi mata lo yang jelatatan kemana-mana?" Tanya Lilian kesal.
"Udahlah ... Sebaiknya lo ke kelas aja karena bentar lagi bunyi bel. Ayok gue antar." Arion langsung saja menarik tangan Lilian pergi meniggalkan ketiga temannya.
"Nasib banget jadi jomblo." Ujar Farrel sambil menggelengkan kepala ke kiri dan kanan.
"Woeeee pacaran aja lo berdua!!" Teriak Mario.
Lilian dan Arion hanya berjalan lurus tanpa mau mendengarkan sorakan dari Rein, Farrel dan Mario.
______________