If

If
Berkunjung



Waktu terus bergulir bersama setiap detik hidup yang terlewati. Hubungan Dave dan Vea berjalan lancar. Meski terkadang ada saja liku yang harus mereka lewati. Karena hidup tak mungkin selalu berjalan lurus. Namun setiap kelokan yang mereka lalui mampu terlewati dengan baik.


Beberapa kali mereka bertemu dengan Mama Vina untuk mengurai kecanggungan diantara mereka. Dave ingin sebelum ia melangkah bersama sang kekasih ke jenjang yang lebih serius semua urusan di masa lalunya telah usai. Tak ada lagi ganjalan kebencian ataupun dendam.


Satu yang masih menjadi ganjalan dirinya, tentang keberadaan sang ayah yang belum di ketahui keberadaannya. Tampak Dave termenung dalam ruang kerjanya, mengetuk-ngetukkan pulpen di meja. Pikirannya menerawang, berbagai kemungkinan muncul di benaknya. Tentang keberadaan sang Ayah.


Suara pintu di buka bahkan tak terdengar oleh lelaki itu. Suara high heels yang beradu dengan lantai terdengar semakin mendekat ke arah Dave. Namun lelaki yang memejamkan mata dengan kepala menengadah yang ia sandarkan di kursi,masih bergeming seperti tak mendengar kedatangan seseorang yang kini berdiri di hadapannya.


Vea,sang kekasih hati yang siang itu datang ke perusahaan Dave dengan makanan yang nampak di tenteng di tangan kanannya. Kini berdiri memperhatikan wajah lelaki di hadapannya yang tampak gusar.


Perlahan Vea meletakkan tas dan makanan yang di bawanya di meja dekat sofa. Kemudian dengan langkah pelan ia menghampiri sang kekasih yang masih belum menyadari kedatangannya.


Dengan seulas senyum tipis,Vea mendekati Dave. Merangkul pundak sang kekasih dari belakang.


" Lagi mikirin apa Yang ?" bisik Vea di telinga Dave, membuat laki-laki itu berjengit kaget. Dan reflek langsung menegakkan tubuh seraya mencengkeram tangan Vea sedikit kencang dan menariknya hingga Vea mengaduh.


'' Jangan macem-macem ya !'' bentak Dave seraya bangkit dari duduk dan berbalik. Dan di dapatinnya wajah meringis sang kekasih karena cengkeraman tangannya.


'' Astaga honey,ya ampun . Maaf ,aku pikir siapa " Dave begitu terkejut. Ia menarik sang wanita dalam pelukannya. Membelai lembut punggung sang kekasih.


" Sakit tau Yang " sungut Vea dengan nada manja.


" Maaf Yang " ucap Dave seraya menyematkan sebuah kecupan di puncak kepala Vea.


" Lagi mikirin siapa sih ?, sampai segitunya. " kesal Vea,namun masih nyaman berada di dalam pelukan dada bidang itu .


" Gak mikirin siapa-siapa Yang. Cuma lagi capek aja. Kerjaan numpuk banget ". sahut Dave . Yah selain sedang memikirkan keberadaan sang Ayah. Pekerjaan Dave pun memang sangat banyak.


Kesibukan inilah yang membuat keduanya jarang bertemu. Semenjak Daren tak lagi merusuhi Dave semua berjalan sesuai jalur yang seharusnya. Semua proyek berjalan lancar, bahkan klien bertambah setiap harinya. Untuk seorang pembisnis muda kemampuan Dave cukup di perhitungkan.


Dave melepaskan pelukannya, menatap wajah cantik sang kekasih. Mengecup sekilas bibir yang tampak mengundang hasratnya.


" Kok kesini gak bilang-bilang ?" tanya Dave dengan sebelah tangannya menyelipkan rambut Vea kebelakang daun telinga.


" Kejutan aja,dan bener-bener bikin terkejut " ucap Vea yang di sambut tawa Dave.


" Aku kok sampai gak denger kamu masuk lho Yang " ungkap Dave seraya merangkul pinggang Vea dan membawanya menuju sofa.


" Tauk, curiga aku . Ngelamunin cewek pasti." tuduh Vea sambil menoleh ke arah Dave dengan menyipitkan mata. Dave yang gemas dengan kekasihnya mencubit hidung Vea membuat wanita itu mencebik kesal.


" Satu-satunya cewek yang boleh masuk ke dalam lamunan aku tuh ya cuma kamu Yang ". ucap Dave di balas cibiran Vea.


" Halah " sangkal Vea sembari melepas tangan Dave di pinggang. Kemudian mencari piring di lemari kecil yang berada di sudut ruangan Dave. Karena di ruangan itu tersedia pantry ukuran kecil.


" Iyalah,emang di pikir siapa ?" ketus Vea yang sudah menemukan piring beserta sendok. Kemudian melangkah mendekati Dave yang sudah duduk di sofa. Dave tak menyahuti ucapan sang kekasih ia hanya tersenyum tipis saja.


Vea ikut bergabung duduk di sebelah sang kekasih. Menuangkan makanan dalam piring. Dan memberikan satu piring pada Dave dan satu lagi untuk dirinya.


" Thank you honey " ucap Dave seraya membelai rambut Vea dengan tatapan penuh cinta.


" Sama-sama,udah ayok di makan. Eh belum ambil minum " ucap Vea yang sadar belum menyiapkan minuman untuk dirinya dan juga Dave . Dave meraih tangan Vea saat wanita itu hendak berdiri .


" Biar aku aja yang ambil. Aku tahu kamu juga capek. Tapi masih sempetin kesini, makasih banget ya" ujar Dave lembut dengan tatapan yang membius.


Kemudian setelah mendudukkan kembali wanitanya,Dave beranjak mengambil sebotol minuman mineral dari dalam kulkas mini yang tersedia di ruangannya. Tak lupa dua gelas untuk mereka .


Keduanya menghabiskan makan siang di selingi obrolan ringan. Meluapkan rindu yang membuncah, karena intensitas pertemuan yang sedikit terkendala kesibukan masing-masing.


" Yang, rencananya Minggu depan aku pengen ngundang keluarga kamu buat makan malam . Ketemu sama Mama,aku pengen bahas acara lamaran kita ". ucap Dave setelah menghabiskan makan siangnya.


" Kan aku udah kamu lamar Yang ". sambung Vea yang sedang membereskan bekas makan siang keduanya.


" Lamaran resmi Yang,aku juga belum sempat minta ijin ke Papa kamu. Lembur terus soalnya,udah gitu hampir tiap weekend ada aja acara " keluh Dave,dengan tatapan mengikuti langkah Vea yang hendak meletakkan piring di wastafel.


" Ya nanti aku bilang ke Mama " sahut Vea yang kini melangkah kembali menghampiri kekasihnya.


" Gak ,nanti aku sendiri yang bilang langsung ke Mama Papa kamu. Aku cuma konfirmasi aja ke kamu ." sambung Dave seraya mengulurkan tangan pada Vea.


Vea menyambut uluran tangan Dave,yang langsung menarik wanita itu duduk ke pangkuannya.


" Kangen banget " ucap Dave saat Vea telah duduk di pangkuannya. Mengecup bibir merona milik wanitanya.


" Aku juga kangen,susah banget buat ketemu kamu " ujar Vea dengan jari membelai pipi Dave. Dave menautkan bibir mereka. Mengecup,menyesaap dan melumaat dengan lembut. Menyampaikan rindu lewat ciuman yang perlahan. Begitu manis,dan penuh cinta. Bukan sekedar hasrat yang menguar dalam diri. Namun penyampaian cinta lewat sentuhan lembut yang membuai rasa.


" Tapi maaf Yang,aku belum bisa ketemuin kamu sama Papa,aku belum tahu keberadaannya di mana ?" ujar Dave saat tautan bibir mereka terlepas. Dave mengusap lembut bibir Vea dengan ibu jarinya.


" Gak apa-apa, gak usah kamu pikirin . Aku terima kamu sebagai Dave,bukan apa dan siapa ". jawab Vea lembut. Menenangkan hati yang sedang gusar.


Keduanya saling tatap dengan senyum yang terkembang.


" I love you " ucap Dave


" I love you more " bakas Vea,dan kembali keduanya hanyut dalam ciuman yang tak lagi lembut namun semakin dalam dan panas.