If

If
Pulang



Berdiri terpaku menatap rumah mewah yang berdiri kokoh di hadapannya. Mata itu mulai berkaca-kaca saat rasa rindu yang terpendam selama ini tumpah ruah saat melihat rumah yang menyimpan sejuta cerita tentang dirinya.


Dave yang menyadari sang kekasih sedang menikmati buncahan rasa dihatinya, setia berdiri di sampingnya dengan tangan yang saling bertaut.


" Rasanya sudah lama banget gak lihat rumah ini " lirih Vea dengan setetes cairan bening mengalir di pipi.


Dave tak bersuara,ia hanya menggenggam erat jemari kekasihnya. Memberi tanda bahwa ia di sisinya.


" Non Vea " suara wanita yang berjalan dari pintu samping. Membuat Vea yang masih terpaku mengalihkan tatapan pada wanita sepuh yang masih tampak sehat.


" Mbah " lirih Vea seraya melepas genggaman tangan Dave dan berjalan cepat menghampiri wanita yang sudah ia anggap seperti neneknya sendiri. Mbah Warni,wanita sepuh yang keseluruhan rambutnya hampir semua memutih. Wanita yang menjadi saksi perjalanan hidup seorang Alivea Dwilangga. Ia adalah asisten rumah tangga tertua di rumah itu. Beliau sudah bekerja di sana saat orang tua Vea baru berumah tangga. Ia ikut mengasuh Aksara dan Vea memperlakukan dua anak majikannya dengan penuh kasih sayang. Hingga jalinan batin mereka begitu erat. Sampai setia ini Mbah Warni tak di ijinkan untuk pensiun,meski sekarang wanita itu tak lagi memiliki tugas di rumah megah itu.


Ia hanya bertugas mengawasi para pekerja lain. Dan memberi pengarahan bagi mereka. Saat dulu Mbah Warni hendak keluar Aksa dan Vea yang langsung menangis tak mau di tinggal wanita yang justru terasa lebih dekat dengan mereka ketimbang dengan Mama mereka sendiri. Mama yang dulu saat muda masih sibuk dengan karirnya tak terlalu dekat dengan sang anak. Bertemu hanya saat mereka menjelang tidur dan pagi saat sarapan. Selebihnya waktu kedua anaknya di habiskan bersama sang asisten rumah tangga.


" Mbah,Vea kangen. Simbah sehat kan ?" tanya Vea yang sudah memeluk tubuh renta itu. Dua wanita berbeda usia itu saling memeluk dengan tangis yang membanjir di pipi keduanya.


" Sehat non Mbah sehat. Mbah juga kangen sama non Vea. Non Vea kemana saja ?" ucap Simbah di sela tangis rindunya pada sang anak majikan.


" Vea gak kemana-mana Mbah,Vea cuma butuh waktu untuk pulang " sahut Vea yang kini telah melepaskan pelukannya.


" Simbah seneng,non baik-baik saja. Non sudah mau pulang Mbah seneng ketemu non Vea lagi" ujar Mbah Warni dengan senyum namun air mata juga masih menetes di pipi keriput nya. Vea menghapus lelehan air mata itu dengan telapak tangannya.


" Vea juga seneng banget ketemu Simbah. Maafin Vea ya Mbah,sudah bikin Mbah khawatir ". Simbah hanya mengangguk,air mata masih mengalir di pipi keduanya namun senyum juga mengembang di bibir mereka. Pertemuan haru itu tak luput dari penglihatan Dave dan Aksara yang ternyata sudah berdiri di teras rumah.


" Vea mau masuk dulu Mbah,nanti Vea mau ngobrol lagi sama Mbah. Banyak yang ingin Vea ceritain ke Mbah " ucap Vea yang terbiasa berkeluh kesah pada wanita itu. Mbah Warni mengangguk seraya menyahut. " Iya non ". Wanita tua itu mengusap air matanya yang terus saja mengalir. Rasa bahagia begitu nyata saat melihat kembali nona mudanya yang sangat ia sayangi.


Vea menghampiri Dave yang masih terpaku di tempat. Menyaksikan sebuah kehangatan. Jelas ada ketulusan di sana meski bukan dari ibu dan anak.


" Kok masih nangis aja ?" ucap Dave seraya menghapus air mata di pipi sang kekasih.


" Seneng,bisa ketemu Mbah lagi" jawab Vea dengan senyum tipis. Dave ikut tersenyum melihat wajah penuh haru di hadapannya.


" Ekkhhmmm" dehenan dari arah teras membuat keduanya menoleh secara bersamaan. Aksa berdiri dengan dua tangan tersembunyi di balik saku celananya. Vea tersenyum lebar dan berlari kearah sang kakak.


" Kak Aksa kangen '' ucap Vea sambil memeluk tubuh Aksara. Dave yang melihat kemanjaan kekasihnya pada Aksara hanya bisa tersenyum simpul.


" Kalau kangen , kenapa baru sekarang pulang ?,sudah dari kemarin- kemarin Kakak nyuruh kamu pulang. Nanti-nanti saja jawabnya" sungut Aksa sembari melepas pelukan sang adik.


" Sibuk Kak,semalem juga aku pulang tengah malam,mana mobil mogok lagi".


" Nantilah aku pikir-pikir" pungkas Vea .


Aksa tak lagi menyahut,ia mendekati Dave yang berdiri menatap kakak adik itu.


" Selamat datang di kediaman kami Dave " ucap Aksa sembari mengulurkan tangan,Dave menyambut uluran tangan Aksa dengan cepat.


" Terima kasih pak Aksa,suatu kehormatan bisa datang di kediaman anda " sanjung Dave di balas gelak tawa Aksa yang merasa Dave berlebihan.


" Santai Dave ini di rumah, panggil Aksa saja. Sepertinya kita juga seumuran" lanjut Aksa seraya mengalungkan tangan di bahu tamunya.


" Mari masuk " ajak Aksa, dan Vea terabaikan melangkah di belakang dua lelaki tampan itu.


" Ma !, ini Vea sudah pulang " ucap Aksa dengan suara sedikit lebih keras,setelah mempersilahkan Dave duduk di sofa ruang tamu. Vea berdiri terpaku dengan debar jantung yang berpacu. Ia masih saja takut jika kedua orang tuanya akan marah. Apapun alasannya dulu ia pergi di hari pernikahan nya, tetap saja nama baik keluarga telah ia coreng. Juga kerugian perusahaan dengan terputusnya kerjasama antara perusahaan orang tuanya dengan perusahaan orang tua Daren.


Muncul dua orang dengan tatapan yang langsung mengarah pada Vea yang masih tertegun di tempat. Vea berjalan cepat menghampiri wanita yang telah melahirkan nya. Memeluk wanita yang ia sebut Mama, dalam isak tangis yang tak lagi terbendung. Begitu juga dengan sang Mama yang merindukan putrinya.


" Maafin Vea ma " lirih Vea di sela Isak tangisnya,Mama mengangguk- anggukan kepala. Suaranya terasa tercekat di tenggorokan.


" Vea salah ma,Vea minta maaf" ulang Vea semakin mengeratkan pelukan pada sang Mama.


" Iya sayang,Mama juga salah . Mama minta maaf Ve, Gimana keadaan kamu sayang ?" tanya Mama Vea yang membelai rambut panjang anaknya dengan sayang,di seka tangis yang masih membanjir.


" Vea baik- baik saja ma"


Pertemuan ibu anak setelah terpisah beberapa bulan tanpa kabar langsung. Meski kedua orang tua Vea terus memantau lewat orang suruhannya namun tetap saja rindu yang menggunung terasa menyesakkan dada. Kimi dua wanita itu saling melepas pelukan.


Vea beralih menata sang ayah yang menampakkan wajah tegas dalam diam. Tak bisa terbaca mimik wajah lelaki itu, tatapan mata itu terlalu dalam hingga tak mudah di selami arti rasa yang tergambar lewat tatapan matanya.


" Pa, Vea....." ucap Vea terputus, ketika tubuhnya di tarik masuk dalam pelukan sang ayah.


" Maafkan semua keegoisan Papa nak,Papa salah. seharusnya Papa selidiki dulu siapa Daren. Maafkan Papa". ucap lelaki berkharisma itu dengan suara serak.


Vea mengangguk seraya berucap.


" Vea juga minta maaf Pa,sudah mengambil keputusan sendiri ".


Dan segala rasa yang membelenggu hati lebur oleh kata maaf yang terucap tulus dari hati. Kini Vea merasa benar-benar pulang. Pulang ke rumah dalam pelukan hangat bernama keluarga. Dave hanya bisa tersenyum dalam getir. Dengan kata seandainya yang membingkis hati yang selalu sepi. Tak pernah ada dekap hangat dari keluarga.