
Dave menahan tangan Renata, menepiskan tangan yang lancang memegang kelelakiannya. Renata tersenyum kecut, mendapat penolakan dari lelaki yang ia puja.
" Seberapa hebat wanita itu ?, sampai kamu gak mau di sentuh wanita lain ?. Dimana Dave yang selalu bilang tak butuh cinta ?" tanya Renata dengan nada sinisnya.
Renata tahu Dave memiliki hubungan dengan Vea. Tak hanya sekali ia melihat Dave bersama dengan Vea. Membuat hati Renata terasa tertusuk, dia yang lebih dulu mengenal Dave hanya di jadikan penghangat saja.
" Bukan urusan kamu saya sama siapa, kalo kamu tidak ada kepentingan , silahkan keluar !" titah Dave dengan nada dingin dan tatapan mata tajam.
Renata tersenyum sinis, hatinya nyeri. Lelaki yang selama ini tak pernah hilang dari hatinya,menolak dia mentah-mentah. Bahkan di saat gairah menguasai lelaki itu masih mampu menahan nya.
''Kenapa bukan aku Dave ?,kurang ku apa ?'' suara itu terdengar serak. Tatapan nya tampak sendu dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Dave menggeleng menatap prihatin wanita di hadapannya.
'' Kamu gak kurang Re, kamu cantik,baik,wanita berkarir cemerlang. Kamu cerdas,tapi hati aku yang gak memilih kamu Re '' Dave memberanikan diri mendekati wanita itu. Memegang kedua bahu Renata, menatap wajah cantik yang sudah di hiasi air mata.
" Seperti yang sering aku bilang dulu ke kamu,no heart feeling with me,i can't falling in love. Tapi ternyata Tuhan sedang mengutukku untuk merasakan yang namanya jatuh cinta. Dan maaf kalo rasa itu bukan untuk kamu. Aku gak bisa menyetir hati aku untuk tertuju pada siapa. Maaf,tapi aku yakin kamu akan menemukan seseorang yang layak kamu perjuangkan. Tapi bukan aku, karena aku gak pantas untuk kamu perjuangkan Re". tutur Dave lembut. Ia berusaha menekan ego agar tak mengeluarkan kata kasar. Ia tahu akan semakin dalam luka wanita itu jika ia meluapkan segala emosi.
Renata menghapus linangan air matanya. Ia sadar tak mungkin lagi meraih hati lelaki di hadapannya. Renata menggenggam tangan Dave yang masih memegang bahu Renata. Membawa telapak tangan itu untuk di kecupnya. Ia memejamkan mata seolah sedang menyimpan dalam memori tentang lelaki itu.
" Thanks udah pernah hadir di hidupku Dave " ucap Renata setelah melepas kecupan di tangan Dave. Wanita itu menyentuh pipi Dave, membelai rahang koko itu penuh perasaan.
" Terima kasih pernah memberi warna yang indah di sebagian lembar hidupku." ucap Renata, jarinya kini berada di bibir Dave,mengusap lembut dengan tatapan mata yang mendamba.
Renata berjinjit mendekat kearah Dave, hendak mencium bibirnya. Namun Dave menutup bibir Renata dengan telapak tangannya.
" Sorry Ren, jangan " ucap Dave. Renata tersenyum kecut.
" Seistimewa itu dia buat kamu Dave ?, i just want last kiss for you " ucap Renata dengan nada getir.
" I'm so sorry,tapi gak bisa Re" .
Renata mundur perlahan dengan senyum getir. Segetir hatinya yang menyadari tak ada lagi sisa di hati Dave untuk sekedar dirinya singgah. Renata mengambil tas yang tergeletak di sofa.
" Dave, sorry kalo aku udah bikin kamu gak nyaman. Aku pamit " ucap Renata seraya menatap Dave dan berusaha tersenyum. Dave hanya bisa mengangguk. Dan menatap Renata melangkah keluar ruangannya.
Dave menarik nafas panjang, kemudian menghempaskan dirinya. Duduk di kursi kerja seraya memijit pelipis . Kepalanya berdenyut, hasratnya membumbung tinggi dan belum bisa ia tuntaskan. " Shiitt " umpat Dave sembari melempar dokumen di atas meja.
Mungkin hatinya benar sudah terjerat pada satu wanita Alivea Dwilangga, namun ternyata hasrat liarnya masih belum punah . Biar bagaimanapun Renata pernah mengisi malam-malam liarnya. Di otaknya masih tersimpan memori tentang betapa indahnya tubuh sintal itu.
🧸🧸🧸
Renata meninggalkan kantor Dave dengan air nata yang tak berhenti mengalir di pipinya. Bertahun- tahun ia memiliki rasa pada lelaki itu, bertahun-tahun ia berharap bisa meluluhkan hati lelaki yang tak mempercayai cinta dengan cintanya. Namun akhirnya hanya luka dan air mata yang di dapat.
Mau menyalahkan siapa ?, toh memang dari awal lelaki itu tak pernah menawarkan hati padanya. Dia saja yang terlalu percaya diri mampu menaklukkan hati seorang Dave Mahendra. Dan kini sekeping hati itu telah retak, bahkan mungkin telah pecah.
Renata terus melajukan mobilnya. Menahan sesak di dadanya, dunianya seakan runtuh bersama hatinya yang rapuh. Pagi ini ia bertekad , mendatangi Dave, menjatuhkan segala harga dirinya. Berharap masih ada sedikit ruang yang tersisa di hati lelaki itu,namun nyatanya hati Dave telah terisi penuh oleh cinta untuk wanita yang baru saja hadir di hidup Dave.
Ia telah kalah dan harus mengakuinya suka atau tidak suka. Pada akhirnya cinta memang tak bisa di paksa. Percuma ia hadir diantara Dave dan kekasihnya. Tak akan ada cinta yang ia dapat. Justru mungkin hanya luka yang semakin menganga jika ia memaksa jadi orang ke tiga.
Dering ponsel milik Renata, membuat ia menghapus linangan air matanya. Bana asisten nya tertera di layar ponsel. Dengan menggunakan handsfree Renata mengangkat panggilan dari sang asisten.
" Ya, kenapa Ver ?'' tanya Renata pada Vero.
" Bu Rena dimana ?, setengah jam lagi ibu ada jadwal bertemu dengan klien di luar''.
'' Oh ya Ver,kamu langsung ke lokasi. Bawa bahannya. Kamu share loc di mana tempat bertemunya " titah Renata. Tanggung jawab pekerjaan tak mungkin ia limpahkan begitu saja pada Vero. Meski hatinya sedang tidak baik-baik saja, dia harus bekerja hati ini.
Renata mengarahkan mobilnya ke sebuah restoran. Sesuai alamat yang di kirimkan Vero untuknya. Sampai di tempat parkir, Renata mengambil blazer dari jok belakang mobilnya. Menutupi atasan seksi yang dikenakannya.
Mengambil alat make up, dari dalam tas. Mentouch up kembali wajahnya yang berantakan karena air mata. Menutupi bekas lelehan air mata di pipinya. Setelah wajahnya kembali fresh meski dengan mata yang sedikit merah. Namun tersamarkan saat ia mengenakan kacamata.
Turun dari mobil, melangkah penuh percaya diri memasuki restoran yang telah di reservasi oleh sang asisten. Wanita cantik tak kalah seksi dengannya menyambut kehadiran Renata. Dialah Vero yang telah datang lebih dulu.
" Pagi bu Rena , klien kita sudah menunggu di dalam " ucap Vero seraya menundukkan kepala sejenak.
" Apa mereka mempermasalahkan keterlambatan Saya ?" tanya Renata yang terus melangkah menuju ruang VIP yang telah di reservasi.
" Tidak bu, mereka maklum . Silahkan bu !'' ucap Veri membukakan pintu untuk sang atasan.
" Selamat pagi,maaf atas keterlambatan saya " ucap Vero membuat dua orang yang duduk membelakangi dirinya berdiri dan menoleh. Menyambut Renata dengan senyum mereka.
Renata membeku di tempat menyadari siapa yang kini di hadapannya. Sesaat wanita itu tertegun. Bagaimana bisa dia yang jadi kliennya. Lelucon apa ini ?.