If

If
Bukti Cinta



''Lepas !'' sentak Vea sembari berusaha melepaskan pelukan Dave.


" Gak mau, dengerin dulu penjelasan aku " sahut Dave yang masih memeluk Vea dengan erat . Tak perduli beberapa orang yang melintas menoleh kearah mereka. Jangan lupakan para karyawan Dave yang diam-diam menonton drama sang atasan .


" Aku benci sama kamu, lepas ! " ,Vea memberontak, namun dekapan Dave semakin kencang.


'' Gak apa-apa benci,asal kamu jangan pergi''. ucap Dave. Kemudian ia membalik tubuh Vea perlahan. Di lihatnya linangan air mata yang mengalir di pipi putih itu. Membuat sesak dada Dave, menyadari kekasihnya menangis karena dirinya.


Dave mengusap air mata dengan kedua ibu jarinya. Menangkup pipi Vea,dengan tatapan dalam pada Vea yang masih berurai air mata.


" Dengerin dulu penjelasan aku,aku gak ngapa-ngapain sama Disya ".


" Gak ngapa-ngapain ?, itu tadi lagi ngapain ?" sentak Vea, amarahnya masih menggelegak.


'' Pulpen Disya jatuh, dia cuma lagi ngambil aja '' Dave berusaha menjelaskan.


'' Bulshit !!'' sungut Vea.


" Ke dalam dulu yuk !, aku jelasin " ucap Dave lembut seraya merapikan rambut Vea, meski Vea berkali-kali menepis tangannya.


" Gak mau, aku tuh lagi marah sama kamu "


" Iya gak apa-apa marah,tapi jangan kemana-mana. Aku jelasin dulu " lembut Dave meraih tangan Vea dan menggenggamnya.


'' Masuk dulu aku jelasin ''. Meski dengan wajah cemberut Vea mengikuti langkah Dave masuk ke kantor.


Sadar baru saja membuat drama Vea berjalan tertunduk. Sedang Dave berjalan tegak,acuh tak acuh terhadap karyawan yang kini sedang berpura-pura sibuk. Di dalam lift pun Dave tak melepas tangan Vea. Tak perduli kekasihnya yang berkali-kali mengibaskan tangannya.


Entah kenapa melihat wajah cemberut sang kekasih membuatnya justru merasa gemas. Dan hatinya justru mengembang, karena merasa di cemburui . Itu artinya Vea benar-benar telah mencintai dirinya. Tugas Dave selanjutnya hanya meyakinkan wanitanya jika yang di lihat bukan seperti yang di pikirkan okeh Vea.


" Dis,bisa kamu jelaskan apa yang tadi kamu lakukan saat kekasih saya ini masuk ruangan saya ?'' tanya Dave tiba-tiba saat melewati meja kerja Disya.


'' Mengambil pulpen pak '' jawab Disya cepat.


'' Denger kan sayang, aku tuh gak bohong.'' ujar Dave,Vea melengos berjalan cepat kearah ruangan Dave.


'' Bisa aja di suruh gitu jawabannya '' gerutu Vea yang masih terdengar oleh Dave. Sikap kesal dan marah Vea membuat Dave menghela nafas sekaligus lucu di buatnya.


Dave mengikuti langkah Vea yang masuk ke dalam ruangannya. Melihat Vea yang tampak meletakkan paper bag yang sedari tadi di bawanya di atas meja sofa.


''Kamu bawa apa Yang ?'' tanya Dave seraya memeluk Vea dari belakang dan mengecup tengkuk sang kekasih.


'' Iya gak apa-apa marah aja,yang penting jangan tinggalin aku '' sahut Dave yang mulai mengecup daun telinga Vea. Nafas Vea mulai sedikit memburu menerima cumbuan dari Dave. Dave tersenyum senang,tubuh sang kekasih tak bisa menolak sentuhannya.


'' I love you '' bisik Dave di telinga Vea dengan menghembuskan nafas lembut di telinga Vea. Hingga kuduk wanita itu meremang. Mencoba memejamkan mata menetralkan gelegak rasa yang mulai membara.


" Kamu ngapain ?" tanya Vea menahan desahaan yang hampir saja lolos dari bibirnya. Dengan lihai Dave mencumbu leher jenjang sang kekasih. Tangannya membelai lembut perut Vea .


" Mau buktiin ke kamu, kalau aku tadi gak ngapa-ngapain. Kalau tadi aku udah gituan gak mungkin secepat ini dia bangun lagi " lirih Dave di telinga Vea sambil menggigit kecil daun telinga Vea.


Bagian tubuh bawah Dave sudah menempel erat di bagian belakang Vea, hingga dia merasakan kelelakian Dave yang sudah menegang dan bergerak-gerak di bawah sana.


Gejolak hasratnya tak mampu lagi terbendung. Akhirnya ia pasrah akan belaian dan cumbuan dari sang kekasih. Tak bisa di pungkiri bahwa ia juga merindukan sentuhan lelaki itu. Dan akhirnya segala amarah melebur dalam gejolak rasa yang melambungkannya hingga ke angkasa. Bersatu dalam peluh dan lenguh.


Menambah panas siang hari itu . Rindu yang menggunung di tambah amarah yang baru saja membara membawa percintaan mereka siang itu semakin terasa luar biasa. Vea tak lagi hanya sebagai penikmat ia seakan membuktikan pada sang kekasih bahwa ia juga bisa membuat Dave puas sampai lemas.


Kecemburuan Vea menguntungkan Dave yang kini menikmati keliaran sang kekasih. Sofa ruang kerja Dave menjadi saksi saat tubuh sepasang kekasih itu menggelinjang,menghempaskan rasa dan lunglai bersama.


Vea ambruk di atas tubuh Dave. Nafasnya masih memburu, begitupun Dave yang terpejam menikmati pelepasannya.


Beberapa saat keduanya terdiam,dengan Vea masih berada di atas tubuh sang kekasih. Dave membelai lembut rambut Vea yang berantakan. Keduanya menikmati ritme jantung yang berdetak seirama. Teratur dan menenangkan.


" Ternyata aku udah bucin banget ya sama kamu. Rasanya nyesek liat kamu kayak tadi. Ih kenapa aku mesti jatuh cinta sama kamu sih ?, mantan player." ungkap Vea dengan tangannya memukul manja dada Dave. Dave tersenyum lalu meraih tangan Vea dan mengecupnya dengan mesra.


" Kamu memang harus jatuh cinta sama aku. Karena kamu udah bikin aku cinta mati sama kamu. Jangan mencemburui masa lalu aku,semua itu tidak berarti buat aku. Aku hanya butuh kamu di sisi aku, sekarang, besok dan selamanya,aku cuma mau kamu ". ucap Dave,dengan menyematkan sebuah kecupan di kepala Vea. Vea tersenyum mendengar ungkapan manis dari bibir kekasihnya.


Vea mengangkat wajahnya, dua pasang mata itu saling beradu. Menatap dalam, menyelami perasaan cinta yang merekat erat di dasar kalbu .


" I love you " ucap Vea tersenyum dan mengecup bibir Dave dengan lembut.


Setelah cukup lama menikmati keintiman berdua. Mereka membersihkan diri di kamar mandi yang tersedia di ruangan Dave.


" Sayang baju aku kusut gini " protes Vea saat keluar dari kamar mandi dengan baju yang sudah kusut akibat ulah Dave. Dave yang hanya memakai celana tampak menengadah menatap sang kekasih, mengalihkan pandangan dari ponsel yang ia pegang.


" Kamu masih mau ke kantor lagi ?" tanya Dave.


" Iya,jam tiga aku masih ada rapat " jawab Vea yang tampak mengusap pakaiannya agar terlihat tidak begitu kusut .


" Ya udah nanti mampir beli baju dulu. Aku mandi dulu terus kita makan siang bareng ". Dave beranjak dari duduknya, menghampiri Vea dan mengecup singkat dahi Vea.


Vea menatap tubuh Dave yang menghilang di balik pintu kamar mandi. Ia tersenyum tipis, menyadari hatinya benar-benar telah tertawan lelaki gagah yang bahkan tak pernah menjanjikan apapun padanya.