
Suara ketukan pintu di apartemen Dave membuat lelaki yang sedang rebahan malas di sofa bangkit untuk membuka pintu.
" Mama !" ucap Dave kaget dengan kehadiran wanita yang melahirkan dirinya, tiba-tiba datang ke apartemen miliknya. Wanita yang selalu tampil cantik dan anggun itu tersenyum mendapati raut kaget sang putra.
" Boleh Mama masuk ?'' tanya Mama Vivi yang masih di biarkan berdiri di depan pintu. Dave terperanjat, menyadari dirinya yang belum mempersilahkan masuk, justru dirinya masih mematung di ambang pintu.
'' Eh iya Ma, silahkan masuk !" titah Dave yang kemudian berbalik dan melangkah masuk diikuti Mama di belakangnya. Tampak wanita itu menatap sekeliling ruang tamu apartemen anaknya.
Wanita itu baru pertama kaki menginjakkan kaki di apartemen sang putra. Semua tampak rapi dan perabotannya terlihat berkelas. Wanita itu tersenyum getir, menyadari betapa sang anak telah berjuang keras untuk menjadi layak. Dan kini ia hadir membawa bayang masa lalu yang membuat sang anak tersandung dengan kelamnya kisah yang ia buat.
'' Duduk Ma !" pinta Dave yang diangguki oleh Mama Vina.
'' Mau kesini kok gak ngabarin Ma ?'' tanya Dave setelah wanita itu duduk di single sofa di ruang tamu Dave .
'' Tiba-tiba pengen ketemu kamu saja,tadi kebetulan lewat jalan searah jadi pengen mampir " ucap Mama Vina yang jelas hanya sebuah alasan.
'' Bukannya apa sih Ma, takut pas Dave gak di rumah aja '' ujar Dave seraya masuk area pantry. Sang ibu hanya tersenyum. Tak lama Dave kembali dengan minuman dingin untuk Mama.
'' Minum Ma " ucap Dave seraya meletakkan gelas berisi minuman berwarna oranye itu.
'' Makasih Dave '' sahut Mama,Dave tersenyum menanggapi kemudian duduk berhadapan dengan sang Mama.
'' Mama udah makan siang ?'' tanya Dave seraya mengambil ponsel dari saku celana.
'' Udah,kamu belum ?'' Mama balik bertanya seraya menatap Dave yang menggeleng sambil mengetik sesuatu di ponselnya.
Sepertinya lelaki itu sedang meng order makan siang terlambatnya. Karena hari sudah lebih dari jam dua. Namun lelaki yang sedang galau itu belum mengisi perutnya dengan benar. Sepulang dari rumah Gerald ia hanya berbalas pesan dengan sang kekasih.
Mama menghela nafas,ia prihatin menatap sang anak. Ia tahu anak lelakinya itu sedang tidak baik-baik saja.
'' Dave Mama mau minta maaf sama kamu '' ucapan Mama membuat Dave mengangkat wajah, menatap wanita di hadapannya dengan dahi berkerut.
" Penolakan Pak Hermawan, Mama pikir ada hubungannya dengan Mama " wanita itu terdiam sesaat, menatap nanar pada anak lelakinya yang bisa di pastikan akan kecewa dengan kenyataan yang hendak di ungkapkan.
" Maksud Mama ? , Mama gak pernah ada affair sama Om Hermawan kan ?" tanya Dave menyelidik. Mama Vina menggeleng pelan, namun jelas terlihat sorot kecemasan di matanya.
" Mama memang tidak pernah terlibat affair dengan Hermawan tapi dengan temannya dan dia tahu " jelasnya dengan nada tercekat. Matanya tak lagi berani menatap sang anak. Dave tampak menghela nafas kasar. Wajahnya tampak kecut,lelaki itu menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. Kepalanya terasa berdenyut. Kenapa hidupnya tak bisa berjalan mulus ?. Teriak batinnya yang merasa kecewa mendapati kenyataan yang menjeratnya.
Belum puas kah jeratan masa lalu mengikat dirinya ?. Ia hanya ingin memulai menata hidupnya,tapi ternyata tak semudah yang ia impikan. Teror masa lalu sepertinya masih menjadi hal yang terus menghantui dirinya.
" Mama sadar,mama tidak bisa merubah semuanya. Semua sudah terjadi,dan Mama hanya bisa minta maaf. Mama akan menemui Hermawan agar tak memutuskan hubungan kamu dengan Vea karena Mama. Sudah terlalu banyak kesalahan yang mama buat di hidup kamu. Mama hanya ingin kamu bahagia, meski tanpa Mama " ucap Mama tercekat. Sekeras hati ia mencoba bertahan agar air mata tak mengalir dari pelupuk matanya.
" Meski tanpa Mama ?, apa Mama berencana pergi lagi ?" tanya Dave dengan tatapan tajam. Air mata tak mampu di tahan oleh wanita itu. Dengan wajah tertunduk akhirnya tumpah juga air matanya.
" Kalau itu bisa buat kamu di terima mereka, Mama akan pergi " sahutnya lirih, tampak rahang Dave mengeras, tatapan matanya bak elang yang siap menerkam mangsa.
" Apa saat Mama pergi,akan merubah kenyataan kalau aku ini anak Mama ?" tanya Dave, wanita di hadapannya tak menyahut, tenggorokannya tercekat. Dadanya terasa semakin sesak.
" Gak akan ada yang berubah Ma,Dave tetep anak Mama. Dave sedang berusaha berdamai dengan masa lalu Dave. Tolong Mama cukup dukung Dave,doain Dave . Mama gak perlu ketemu on Hermawan,biar Dave selesaikan sendiri masalah ini. Jangan pernah berfikir untuk pergi lagi. Kita sedang sama-sama mencoba memperbaiki keadaan ini." ucap Dave pelan namun terdengar begitu tegas.
Tangis Mama pecah, hanya ada sesal yang menggelayut di hatinya. Betapa dia telah begitu bodoh melewatkan waktunya dan meninggalkan sang putra. Melihat Mama menangis tersedu,Dave menghampiri dan memeluk wanita yang telah menjadi perantara dirinya melihat dunia.
Wanita itu terisak di dada sang anak. Dave memberi ketenangan dengan usapan lembut di punggung Mama. Sampai wanita itu tenang dalam dekapan putranya.
" Maaf " lirih Mama masih dengan sisa tangisnya.
" Dave sudah maafin Mama,asal Mama jangan pernah berpikir untuk pergi lagi " ucap Dave yang diangguki sang Mama.
Ibu dan anak itu saling berpelukan menyampaikan rasa cinta tanpa kata. Dave tak bisa berdusta bahwa ia bahagia ketika mendapat perhatian sang Mama. Meski mungkin terlalu terlambat kehadirannya, namun Dave bisa menerima. Sebagai garis takdir yang di tetapkan dalam hidupnya. Ia sudah berdamai dengan segala kisah pilu masa lalu. Saatnya ia menjemput bahagia dengan kekasih hati, Alivea Dwilangga. Tunggu, tunggu dirinya akan datang bak kstaria yang memperjuangkan cintanya.