If

If
Apartemen Vea



Dave turun dari dalam mobil setelah memarkirkan kendaraannya. Mengitari mobil untuk membukakan pintu pintu untuk pujaan hatinya. Vea tersenyum mendapati perhatian kecil yang tak pernah pria itu lupakan. Dave meraih pinggang ramping kekasihnya. Melangkah bersama di lobby apartemen yang sudah sepi. Rengkuhan di pinggang Vea tak lepas sampai mereka masuk lift.


Dave mengantar Vea sampai di unitnya. Tak ada obrolan yang keluar dari bibir keduanya. Mereka melangkah dalam diam. Hanya suara sepatu mereka yang menapak di lantai terdengar nyaring.


'' Sudah sampai, kamu masuk dulu'' ucap Dave seraya menatap wajah wanitanya,keduanya saling tatap dengan pancaran teduh dari sorot mata mereka.


'' Makasih ya " ucap Vea yang hanya diangguki Dave dengan senyum tipis di bibirnya. Tangannya membelai rambut Vea yang dan menyelipkannya di belakang daun telinga.


" Ya sudah, kamu masuk. Sudah malam " lembut suara Dave.


" Kamu gak mau masuk dulu ?" tanya Vea yang entah kenapa malam ini ia masih ingin bersama lelakinya.


" Boleh aku masuk ?" tanya Dave yang langsung diangguki Vea. Segera Vea membuka pintu apartemennya. Baru kali ini Dave masuk apartemen Vea. Meski sudah beberapa kali mengantar wanita itu pulang.


Mata Dave langsung tertuju pada ruangan yang begitu rapi. Saat kakinya melangkah masuk langsung di suguhi sebuah sofa dan meja kecil,ranjang sedang,serta pantry tanpa sekat. Satu-satunya pintu dalam ruangan itu pastilah pintu kamar mandi, karena apartemen Vea nenang tipe studio.


" Duduk dulu aku bikinin minum" ujar Vea seraya melangkah ke arah pantry. Dave yang mengikutinya Vea,tak menyahut namun menuruti titah sang kekasih.


" Kamu udah lama tinggal di sini ?" tanya Dave seraya memperhatikan Vea yang sedang membuka bungkus coklat sachet .


" Lumayan, udah beberapa bulan " sahut Vea dengan tangan yang masih sibuk menyiapkan secangkir coklat panas untuk Dave.


Dave berdiri dari duduknya melangkah mendekati Vea yang sedang memanaskan air dengan panci di atas kompor.


" Kenapa memilih tinggal di apartemen ?, setahuku orang tua kamu cuma punya dua anak ? " lanjut Dave yang sudah berdiri tepat di belakang Vea dengan tubuh yang hampir saking menempel.


" Aku kabur dari rumah" jawab Vea santai seraya menuangkan air yang telah mendidih ke dalam cangkir yang telah berisi serbuk coklat. Dave cukup kaget mendengar pengakuan wanita cantiknya.


" Kok bisa , kenapa ?" tanya Dave heran. Vea membalikkan tubuhnya. Menatap sang kekasih yang kini berjarak hanya beberapa senti dari dirinya.


" Yakin gak tau ceritanya ?, perasaan setelah aku kabur beritanya cukup santer".


" Ya tau sedikit dulu,tapi gak terlalu menyimak " sahut Dave yang kini fokusnya bukan pada cerita kehidupan Vea,tapi bibir seksi yang menarik minatnya untuk di lumaat. Dave menarik pinggang wanita di hadapannya hingga bagian tubuh mereka saling bersentuhan. Vea sedikit terperanjat. Namun segera menguasai diri. Tatapan mereka saling beradu, perlahan Dave menundukkan kepalanya. Mendaratkan sebuah kecupan di bibir Vea. Hanya kecupan singkat, kemudian mereka kembali saling pandang dalam diam.


Dave membelai rambut panjang Vea,dan lagi bibirnya mendarat di atas bibir Vea. Kali ini bukan lagi sebuah kecupan. Luumatan kecil dari Dave dan ternyata di sambut oleh Vea. Keduanya memejamkan mata menikmati ciuman pertama mereka sebagai sepasang kekasih.


Semakin dalam ciuman keduanya hingga membangkitkan hasrat yang tertidur. Sesekali lenguhan terdengar dari keduanya di sela ciuman mereka yang semakin panas. Nafas keduanya tersengal hingga akhirnya mereka melepas tautan lidah dan bibir mereka. Saling memandang dalam diam dengan wajah yang merona.


" I love you too Dave " mendengar sahutan Vea membuat hati lelaki dewasa itu berbunga-bunga. Ia menarik tubuh Vea dan memeluknya erat.


" Makasih,aku bahagia banget kamu balas cinta aku". Senyum terkembang di bibir keduanya. Beberapa saat mereka larut dalam hangatnya pelukan. Menikmati detak jantung mereka yang berdegup lebih kencang.


" Aku mau mandi dulu " ucap Vea membuyarkan keromantisan yang sedang tercipta diantara mereka. Dave melonggarkan dekapannya. Menurunkan kepala dan mengecup dahi sang kekasih.


" Ya sudah,kamu mandi dulu,jangan lama-lama udah malem nanti takutnya masuk angin" ucap Dave yang masih meletakkan tangan di pinggang Vea.


" Iya,itu coklatnya kamu minum dulu " sambung Vea ,Dave menoleh kearah pandang Vea yang menunjukkan secangkir coklat lewat tatapan mata.


" Kok cuma bikin satu,kamu gak bikin ?" tanya Dave .


" Gaklah,nanti aja kalo pingin " sahut Vea sambil menyingkirkan tangan Dave dengan pelan. Kemudian meninggalkan Dave yang kini kembali duduk di sofa dengan secangkir coklat di tangan. Vea mengambil pakaian ganti dalam lemari kecil yang terletak di samping tempat tidurnya. Membawanya masuk ke kamar mandi. Dave terus mengawasi setiap gerak- gerik sang pacar, hingga wanita itu menghilang di balik pintu kamar mandi.


Tak terlalu lama Vea keluar dengan piyama pendek membalut tubuh sintalnya. Sejenak Dave tertegun melihat penampakan Vea dengan baju tidur yang sebenarnya tak menerawang namun bahannya yang jatuh membentuk lekuk tubuh Vea dengan sempurna.


" Hey,gitu banget deh ngeliat nya " sentak Vea membuat Dave yang sedang berkelana pikiran nya langsung salah tingkah.


" Habis kamu cantik banget" sahut Dave yang di balas cebikkan di bibir Vea. Vea menuju meja rias memakai krim malam di wajahnya yang tak lagi ber-make up.


Dave masih memperhatikan Vea yang tampak acuh meski tahu kekasihnya sedang menatapnya. Selesai memakai krim malamnya,Vea duduk di samping Dave yang telah menghabiskan secangkir coklatnya.


Dave meraih pundak Vea membawa tubuh itu untuk bersandar di dadanya. Menyalurkan sebuah rasa nyaman yang membuat Vea melupakan rasa letihnya. Vea memejamkan mata, menikmati belaian lembut di kepalanya.


" Nyaman " gumam Vea dengan kepala semakin mendusel di dada bidang kekasihnya.


" Aku nginep ya ?" tanya Dave, setelahnya mencium puncak kepala Vea.


" Hah ?" kaget Vea saat mendengar keinginan lelakinya. Vea menegakkan badannya yang bersandar mesra di dada sang kekasih. Menatap mata lelaki itu,membuat keduanya terpaut tatapan yang dalam. Dave membelai lembut pipi Vea dengan punggung tangannya.


" Tidur aja,gak ngapa-ngapain boleh ya ?. Udah malem banget ini " ucap Dave yang akhirnya mendapat anggukan dari Vea.


Seperti mendapat durian runtuh rasanya. Bahagia bukan main saat keinginannya mendekap erat sang kekasih sepanjang malam akan terwujud. Dave berjanji dalam hatinya,ia tak akan melampaui batas sampai mereka berdua sama-sama suka dan dengan rela melakukannya atas dasar rasa bukan tentang hasrat semata.


Meski malam ini ia pasti akan tersiksa saat hasratnya membuncah dan dia tak bisa menuntaskannya. Namun ia hanya ingin terlelap dalam dekapan wanita yang telah berhasil mengobrak-abrik hatinya.