
Beberapa hari berlalu tanpa drama,Vea akhirnya keluar dari tempat Zee. Dan mulai masuk di perusahaan cabang yang memang di persiapkan untuk dirinya. Dave masih menjadi kekasih yang selaku posesif namun romantis.
Pagi itu saat pertama masuk kantor barunya sebagai direktur baru di kantor cabang. Sebuah buket bunga cantik menyambutnya. Dikirim oleh Dave yang pagi itu tak sempat mengantar nya karena ada meeting pagi. Segala perlakuan manis dan romantis dari Dave , tentu saja membuat Vea merasakan cinta yang semakin besar.
Sebuah ketukan di pintu ruangan Vea membuat Vea mengalihkan pandangannya dari dokumen ya g sedang ia baca.
" Ya masuk " titah Vea,pintu terbuka dan wajah Dias muncul dari balik pintu.
" Permisi Bu " ucap Dias sang asisten,yang membantu menghandle pekerjaan Vea di tempat itu.
" Masuk Mas,ada apa ?" sambut Vea pada lelaki berusia tiga puluh tahunan itu . Dias melangkah masuk mendekati meja Vea dengan sebuah paper bag di tangan.
" Ini bu,ada kiriman " ucap Dias,Vea menerima paper bag yang di berikan oleh Dias.
'' Makasih ya mas,oh ya habis makan siang saya ada acara gak ?'' tanya Vea sembari mengintip isi paper bag yang ternyata berisi makanan.
'' Jam dua nanti ada ketemu klien di ruang meeting,terus habis itu jam tujuh malam ada dinner juga dengan klien di restoran''. Vea tampak mangut-mangut. Kemudian melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan jam 12.05. Waktunya istirahat makan siang.
'' Oke, mas istirahat dan makan siang dulu,atau mau makan bareng saya ?'' tawar Vea seraya mengangkat paper bag berisi kiriman yang sudah bisa di pastikan dari Dave.
'' Terima kasih Bu,saya permisi. Makan di kantin saja'' ucap Dias undur diri.
'' Mas !, '' panggil Vea membuat Dias kembali menoleh ke belakang.
'' Ya bu''
'' Thank you '' ucap Vea seraya mengangkat paper bag dengan senyum terkembang di bibir Vea. Senyum yang sejenak menghipnotis Dias. Pria berkacamata itu sejenak tertegun menatap wajah ayu sang atasan.
'' Ehm.... Sama-sama bu '' ucap Dias mengontrol dirinya yang terpesona dengan atasan barunya itu. Kemudian ia berjalan keluar ruangan Vea. Berdiri sejenak , menetralkan degub jantung yang tak biasa. Lelaki berparas tampan dengan tubuh jangkung memiliki senyum yang menawan itu sudah cukup lama bekerja di kantor cabang itu. Dulu ia orang kepercayaan Aksara,dan kini di tugaskan mendampingi Vea.
Sementara di dalam ruangan Vea membuka kiriman makanan dari sang kekasih. Tersenyum mendapati semua makanan yang di kirim Dave adalah makanan favoritnya. Vea merogoh kantong blazernya, mengambil ponsel dan mengetikkan pesan untuk sang kekasih.
Bukan balasan yang di dapat tapi video call dari Dave. Vea yang sedang mengeluarkan dari paper bag berhenti sejenak. Mengangkat video call dari Dave.
" Hay Sayang !'' sapa Dave yang tersenyum sumringah menatap layar ponsel yang menampilkan wajah Vea.
" Hay, thanks ya babe makan siang nya, tau aja kamu aku hampir lupa makan siang saking banyaknya dokumen yang mesti aku cek. Kamu sendiri udah makan siang belum ?" tanya Vea dengan mata tertuju pada lelaki yang menatapnya penuh puja.
" Udah,tadi ketemu klien di restoran, jadi langsung makan siang. Ya udah kamu makan, aku temenin." ucap Dave.
" Ya udah,aku sambil makan ya " tutur Vea seraya mencari tempat untuk menyandarkan ponselnya. Diambilnya satu botol air mineral dalam kulkas mini yang terletak di pojok ruangan. Di letakkan di atas meja dimana ia meletakkan makanan.
Sembari menikmati makan siang kiriman Dave ,Vea sesekali berbicara pada Dave yabg masih setia menemaninya lewat video call. Sampai jam istirahat selesai sepasang kekasih itu menghabiskan waktu bertukar cerita. Sampai suara wanita mengingat kan Dave tentang rapat setelah sebelumnya terdengar suara ketukan pintu.
" Maaf pak sepuluh menit lagi rapat di mulai " ucap sekertaris Dave. Sekilas gambar wanita berpakaian seksi itu terekam dalam video.
" Ya,saya segera menyusul " ucap Dave.
" Baik pak " sahut sang sekertaris seraya keluar ruangan dsn menutup pintu.
" Betah ya di kantor ?" sebuah pertanyaan bernada di sindiran terucap dari bibir Vea. Ia merasa tak suka dengan penampilan seksi sekertaris Dave yang pasti menjadi santapan segar mata sang kekasih.
" Hah, maksudnya ?" tanya Dave tak mengerti.
" Seksi banget " gerutu Vea tak begitu jelas tapi bisa di tangkap pendengaran Dave. Lelaki itu tampak terbahak mendapati wajah kecut kekasihnya.
" I love you baby,aku mau meeting dulu,emmmuuuah " ucap Dave yang langsung memutuskan sambungan telepon.
Vea tampak bersungut-sungut kesal. Hatinya dongkol mengingat sekelebat gambar wanita dengan rok span mini 15 senti di atas lutut . Belum lagi atasan yang memperlihatkan belahan dada. Ah ,ia bisa gila membayangkan,bisa saja wanita itu salah satu wanita yang pernah berbagi peluh bersama sang kekasih. Ternyata cemburu itu tidak enak. Terlalu banyak pikiran negatif bersarang di otaknya.
Vea menghela nafas panjang,berusaha mentransfer pikiran positif dalam otaknya. Kecemburuan nya terlalu tak beralasan. Seandainya wanita itu pernah menjadi dayang seorang Dave, berarti itu hanyalah serpihan kisah masa lalu. Dan dia sudah bertekad mencintai Dave dengan semua masa lalunya. Meski tak muda ia lakukan, karena terkadang rasa cemburubitu datang menyerang.