If

If
Kembali Bersama



" Mbak, kangen " ucap Vea mendapati kakak iparnya yang sudah berdiri di samping Aksara.


"Mbak juga kangen sama kamu" sambut Claudia menyebut pelukan adik iparnya. Mata Claudia masih berkaca-kaca karena masih terharu melihat pertemuan mertua dan adik iparnya.


Setelah acara pertemuan yang mengharu biru,saling melepas rindu. Vea pergi ke kamarnya,menatap seisi kamar yang masih sama persis seperti saat ia terakhir bksli tidur di sana. Dengan senyum mengembang ia menjatuhkan tubuhnya. Merentangkan kedua tangan di atas ranjang. Menikmati nyamannya ranjang empuk yang beberapa bulan ini tak lagi menjadi tempat peraduannya.


Sedang di ruang tamu,Dave tampak berbincang dengan kedua orang tua Vea serta Aksa bersama sang istri. Di temani secangkir kopi yang telah di siapkan asisten rumah tangga,dengan cake yang tersaji diatas piring.


"Jadi sudah berapa lama nak Dave ini kenal anak saya Vea ?" tanya Papa Hermawan setelah tadi berkenalan dengan Dave.


" Belum lama sih om,baru beberapa bulan. Malah saya lebih dulu kenal dengan Aksara." sahut Dave santai.


" Oh jadi kenal Vea lewat Aksa ?"


" Gak juga om, awalnya malah saya tidak tau kalau Vea adiknya Aksara" Papa tampak manggut-manggut menanggapi cerita Dave.


" Dave itu pemilik perusahaan yang sering kerjasama bareng perusahaan kita Pa, perusahaan dia bergerak di bidang interior. Malah dia juga yang desain interior buat rumah aku nanti ". jelas Aksara. Membuat Papa tampak antusias menatap lelaki muda yang duduk di hadapannya.


" Wah hebat,masih muda sudah punya perusahaan."


" Baru merintis om,belum sesukses dan sebesar perusahaan om"tutur Dave merendah.


" Semua memang berawal dari kecil,yang penting gigih dan pantang menyerah. Akan ada saatnya apa yang kita usahakan membuahkan hasil yang maksimal. Dulu perusahaan om juga kecil,saat masih di bawah kepemimpinan om juga belum sebesar sekarang. Berkat ide-ide segar dari Aksa sekarang semakin berkembang. Memang sudah saatnya yang muda yang berkarya" ucap Papa bijaksana.


Dua lelaki muda yang duduk di sana tampak tersenyum kecil. Merasa bangga karena usahanya di apresiasi senior sekelas Hermawan Dwilangga.


Usai berbincang yang lebih banyak tentang bisnis yang tak di mengerti dua wanita yang setia di samping suaminya. Akhirnya waktu makan malam tiba. Vea yang dari tadi tak menampakkan batang hidungnya di panggil oleh Mbah untuk ikut makan malam bersama.


" Non, non Vea. Bangun non !" yah ternyata sang penghuni kamar yang merindukan ranjangnya terlelap.


" Eeuugghh" lenguh Vea sembari menggerakkan badan dan mengerjakan mata.


" Eh Mbah,ada apa ?" tanya Vea saat menyadari siapa yang membangunkan tidurnya.


" Makan dulu non,itu sudah di tungguin sama Bapak,Ibu,den Aksa,non Claudia sama pacarnya non Vea juga" tutur Mbah.


Vea membelalakkan mata,menyadari ia datang ke rumah tak sendiri dan meninggalkan kekasihnya begitu saja. Ia malah asyik terlelap,saat rasa nyaman datang dan mengantarkannya ke alam mimpi .


" Ya ampun Mbah,aku lupa. Ya udah Mbah turun dulu aku mau cuci muka " ucap Vea seraya melompat turun dari tempat tidur dan masuk ke dalam kamar mandi. Mbah hanya tersenyum sambil menggeleng pelan.


Vea turun setelah mencuci muka dan mengganti bajunya dengan kaos oblong di padu celana pendek di atas lutut.


" Hehehe.... lama ya nunggunya sorry " ucap Vea cengengesan saat ia menghampiri meja makan yang sudah diisi dengan formasi lengkap keluarganya ditambah satu tamu yang ia bawa.


" Ya maaf Ma,ngantuk " sahut Vea yang sudah duduk di samping Dave. Tanpa menyadari tatapan lelaki di sampingnya yang menikmati pemandangan yang menurutnya indah. Balutan kaos oblong yang longgar dengan celana pendek,justru membuat Vea tampak seksi di nata lelaki yang begitu memuja lewat tatapan matanya.


" Untung Dave udah kenal sama kakak ada yang di obrolin. Coba kalo gak,kayak kambing congek kan dia di tinggal kamu. Bawa pacar malah di tinggal tidur" ujar Aksa,membuat Vea menatap lelaki yang duduk diam di sampingnya.


" Sorry ya " lirih Vea seraya tersenyum canggung menatap sang kekasih yang sedang menatapnya dengan tatapan memuja.


" It's oke, gak apa-apa" jawab Dave di sisipi sebuah senyum tipis yang begitu manis. Dan interaksi pasangan itu tak luput dari perhatian seluruh anggota keluarga. Ada senyum samar di bibir mereka. Ada harapan,lelaki itu menjadi lelaki terbaik yang mampu memberikan kebahagiaan untuk Vea.


Usai makan malam,Vea duduk berdua dengan Dave di taman belakang. Papa dan Mama duduk santai di ruang keluarga sedang Aksa dan istri sudah masuk kamar.


" Aku nginep di sini ya,aku gak pulang ke apartemen. Aku kangen tidur di kamarku " ucap Vea yang sedang bersandar manja di bahu Dave.


" Iya gak apa-apa,besok kamu masuk kerja ?"


" Iya,aku masih pengen kerja di tempat Zee, masih males balik ke perusahaan" jawab Vea yang merasa nyaman di belai rambutnya oleh Dave.


" Besok aku jemput,mobil kamu nanti kalau udah jadi biar dianter ke apartemen aku dulu" tutur Dave, kemudian menyematkan sebuah kecupan di puncak kepala kekasihnya. Vea hanya mengangguk,ia sedang menikmati rasa tenang dalam dekapan tangan sang kekasih.


Beberapa saat keduanya duduk dalam diam,menikmati semilir angin malam dalam hangatnya pelukan. Kecupan-kecupan kecil terus berkali-kali di berikan Dave pada Vea. Ada hasrat yang sebenarnya bergejolak,ia harus bisa menahan rasa yang sungguh membuatnya tersiksa. Ia tak mau menjadi lelaki yang hanya mengedepankan naffsu pada Vea. Ia mencintai wanita itu,dan hanya melakukan hubungan intim atas dasar cinta bukan sekedar hasrat semata.


" Sayang,aku pulang dulu udah malam" ucap Dave sambil melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Vea menegakkan duduknya, menatap wajah sang kekasih yang tampak enggan berpisah dengannya. Keduanya saling bertatapan,Dave menangkup pipi Vea, mendekatkan wajahnya hingga bibir mereka saling menempel dan lumaatan mesra Dave menghanyutkan Vea. Beberapa saat mereka tenggelam dalam kecapan ludah yang saling bertaut.


Hingga mereka merasa tersengal dan melepas ciuman mereka. Saling beradu kening,menetralkan dada yang bergemuruh karena gejolak hasrat yang membara.


'' I love you'' bidik Dave masih dengan dahi yang menempel di kening Vea. Matanya menatap sendu sang kekasih.


" I love you too'' balas Vea. Dave mengecup bibir Vea sekilas sebelum akhirnya duduk tegak dan menghela nafas. Mengontrol kelelakiannya yang menantang di bawah sana.


" Aku pulang" pamit Dave saat berdiri di samping mobilnya. Setelah sebelumnya berpamitan kepada kedua orang tua Vea dan Aksara.


" Hati-hati,jangan ngebut" ucap Vea. Dave menarik tubuh Vea dan mengecup kening wanitanya.


" Iya,tidur nyenyak ya. Mimpiin aku " ucap Dave.


" Kamu juga"


" Pasti" sahut Dave kemudian melepas pinggang Vea dan masuk kedalam mobil. Menurunkan kaca mobil sesaat setelah ia masuk dan duduk di belakang kemudi.


" Daaah " Dave melambaikan tangan sebelum melaju pelan meninggalkan Vea yang masih setia berdiri menatap kepergian sang kekasih.