
Tangan Dave menggenggam erat tangan Vea yang duduk di sampingnya. Tak banyak kata yang terucap dari bibir mereka. Alunan musik terdengar merdu menemani sepasang kekasih itu.
" Mau makan dimana ?" tanya Dave, menoleh sejenak kearah sang kekasih yang duduk bersandar manja di bahunya.
" Terserah kamu aja,aku ikut " jawab Vea yang hanya di sambut senyum manis Dave. Belum sampai di restoran,Dave menghentikan laju mobilnya di depan sebuah bangunan bertingkat tiga.
" Kok berhenti ?" tanya Vea yang langsung menegakkan badannya,sadar bukan di restoran kekasihnya itu menghentikan mobilnya.
" Cari baju buat kamu dulu " singkat Dave yang mematikan mesin mobil. Kemudian membuka seat belt miliknya dan turun memutari mobil untuk membukakan pintu sang kekasih.
" Makasih sayang" ucap Vea dengan senyum tergambar di bibirnya saat Dave membukakan pintu untuknya.
" Sama-sama honey" balas Dave seraya meraih pinggang Vea dan membawa wanitanya masuk ke dalam butik.
" Selamat datang Mas,Mbak " sambut pelayan dengan senyum ramah. Vea mengangguk dengan senyum mengembang di bibir.
" Ada yang bisa kami bantu ?" lanjut sang pelayan.
" Mau cari baju..."ucap Vea terputus okeh sahutan lelaki yang tak melepas rengkuhan di pinggangnya.
" Tolong carikan gaun malam untuk kekasih saya ini " potong Dave , membuat Vea mengernyit,menatap bingung pada sang kekasih.
" Kok jadi gaun sih Yang ?" tanya Vea dengan dahi berkerut.
" Buat dinner besok malam, sudah lama kita gak punya waktu berdua " terang Dave,membuat Vea menatap Dave dengan sorot mata berbinar.
" Mari ikut saya Mbak " ujar pelayan butik tersebut. Dave masih setia merangkul pinggang Vea saat mereka sampai di deretan gaun-gaun cantik yang tergantung rapi.
"Yang mana ya Yang ?, bingung bagus semua " ucap Vea seraya menatap kagum pada deretan gaun yang semuanya terlihat indah.
" Hmmm, apalagi aku Yang, lebih bingung lagi. Kamu pilih aja beberapa, kamu pakai gaun yang mana aja juga tetep bakal cantik.'' ujar Dave membuat Vea mencebik. " Gombal '' balas Vea, melepaskan tangan Dave yang melingkar di pinggangnya.
Pegawai yang melayani sepasang kekasih itu tampak tersenyum sendiri mendapati kemesraan pembelinya. Vea menunjuk salah satu gaun yang diinginkan. Sang pelayan mengambilkannya,fan di serahkan pada Vea untuk di cobanya di ruang pas.
Dave duduk di sofa yabg tersedia di ruangan itu. Menjadi juri untuk beberapa gaun yang di coba oleh Vea. Akhirnya dengan kesepakatan berdua,tiga gaun cantik di bungkus. Tak lupa Vea membeli baju kerja untuk mengganti pakaiannya yang tampak sedikit lusuh.
Dave membayar belanjaan sang kekasih. Sedang Vea duduk menunggu tak jauh dari tempat kasir. Suara pintu terbuka, masuk seorang wanita paruh baya yang tampak anggun dengan dandanannya yang terlihat mahal.
Vea mengalihkan pandangan dari layar ponsel yang sedang di mainkan.
'' Ya ampun Vea,cantiiikk.....'' ucap wanita paruh baya yang baru saja masuk saat melihat wanita cantik yang di kenalnya.
'' Tante Rindi,ya ampun tante udah lama banget gak ketemu.'' sambut Vea yang langsung berdiri dan menyambut wanita yang di panggil Tante tersebut. Keduanya saling bersalaman kemudian mencium pipi kanan kiri.
'' Gimana kabarnya Tante ?'' tanya Vea setelah melepas pelukan wanita itu .
'' Baik,kamu sendiri gimana ?, gak pernah kelihatan. Gak pernah lagi mau ke rumah Tante'' cecar sang Tante dengan tatapan tertuju pada wanita muda di hadapannya.
'' Vea baik Tante, maaf Tant Vea sibuk. Fardan juga gak pernah lama kalau pulang''. jawab Vea pada wanita yang ternyata adalah ibunda sang sahabat.
" Kamu masih sering ketemu Fardan ?" lanjut Tante dengan nada antusias.
" Duh tuh anak ya, bukannya diajak ke rumah. Tante kan kangen sama kamu " . Tante Rindi menangkup pipi Vea dengan gemas. Vea hanya bisa tersenyum mendapati perlakuan dari wanita itu.
" Berarti masih ada harapan dong buat jadi mantu tante " lanjut Tante Rindi membuat Vea membelalakkan mata dan menelan ludah.
" Gak gitu Tant,aku sama Fardan cuma temenan ". jelas Vea.
" Temen juga bisa jadi demen " ujar Tante sambil melepas tangan dari pipi Vea.
" Ehmm " suara berat lelaki dari belakang Vea mengalihkan perhatian Tante Rindi.
" Siang Tante !" sapa Dave , dengan tatapan kurang bersahabat pada wanita paruh baya itu.
" Siang ini.... ?" tanya Tante seraya menunjuk Dave dengan pandangan terarah pada Vea. Dave langsung mengulurkan tangan. Tante Rindi menerima uluran tangan Dave.
" Saya Dave tante, kekasih Vea " lantang Dave membuat Vea tersenyum kecut.
" Pacar kamu Ve ?" tanya Tante tanpa melepaskan jabat tangan dengan Dave.
" Iya Tant " sahut Vea dengan senyum kecut.
" Yah patah hati dong anak Tante " keluh Tante Rindi membuat Vea meringis.
Tante Rindi yang belum melepas tangan Dave,kini memperhatikan lelaki di hadapannya.
" Hmm,tampan sih. Tapi anak tante juga gak kalah tampan lho Ve " Tante Rindi masih sempat mempromosikan anaknya. Vea hanya bisa menggigit bibir, melihat wajah dingin Dave .
" Baru kekasih kan ?" tanya Tante dengan tatapan tajam.
" Iya Tante " sahut Dave singkat, Tante Rindi melepas tangan Dave, kemudian tersenyum lebar.
" Baru kekasih, masih bisa di tunggu di tikungan " ucap Tante Rindi tanpa beban. Membuat Vea tercengang dengan istilah Tante Rindi. Darimana pula wanita paruh baya itu mempunyai istilah nyeleneh seperti itu ?.
Wajah Dave makin kusut, wanita di depannya benar-benar menyebalkan. Dan kini Tante Rindi,seperti tak memperdulikan Dave. Memeluk Vea dan mencium pipi wanita muda itu.
" Ya sudah Tante mau belanja dulu,kamu mainlah ke rumah !"
" Oya Tante,besok kapan-kapan kalau Vea gak sibuk " jawab Vea ramah. Dan setelah sedikit basa-basi mereka berpisah. Vea keluar butik dengan Dave mengekor di belakangnya dengan beberapa paper bag berisi pakaian Vea.
Tak ada kata yang terucap dari bibir Dave,ia membukakan pintu untuk Vea dalam diam. Sampai masuk ke dalam mobil pun masih membisu. Saat Vea dengan sengaja tak memakai sabuk pengaman pun ia hanya memasangnya tanpa kata.
Vea meraih tangan Dave yang hendak menyalakan mesin mobil. Menggenggam lembut tangan kokoh itu.
" Kenapa ?" lembut Vea dengan tatapan teduhnya. Dave memejamkan mata.
" Apa salahnya kalau aku hanya kekasih kamu ?, apa hanya dengan pernikahan kebahagiaan itu bisa di berikan ?." ucap Dave tanpa memandang kekasihnya.
Vea membelai lembut pipi Dave, kemudian mengecupnya sekilas. Mencoba memberikan ketenangan pada lelaki yang tengah merasa gundah. Dave berbalik menatap wanitanya, kemudian menarik wanita itu dalam pelukannya.
" Aku cinta sama Yang,apa cinta ini aja gak cukup " lirih Dave. Sungguh Vea pun bimbang. Ia ingin menenangkan sang kekasih. Namun ia pun ingin kekasihnya tak lagi merasa takut akan pernikahan. Terlalu sulit berbicara masalah ini dengan kekasihnya.