
Vea kembali sibuk dengan pekerjaannya setelah diantar Dave kembali ke tempat di gelarnya acara nanti malam. Setelah di rasa semua sesuai dengan keinginan. Vea mengistirahatkan diri di ruangan yang tidak terlalu ramai dengan hilir mudik pekerja.
Duduk bersandar, menikmati rasa letih yang menjalar di tubuhnya. Perlahan matanya terpejam saat rasa kantuk menyerang. Sesaat kemudian kesadarannya hilang bersambut ketenangan dalam lelap.
Tanpa ia sadari seseorang mendekat,duduk disampingnya. Menikmati wajah cantik itu dalam diam. Perlahan tampak tangan kokoh itu menyelipkan helai rambut Vea yang sedikit berantakan ke belakang telinga. Vea masih nyaman dalam tidurnya. Tampak seringai tipis di bibir lelaki yang terus menatap lekat pada wajah damai itu.
Dibelainya pipi Vea dengan punggung tangannya. Vea mengerjapkan mata,merasa tidurnya terganggu. Matanya terbelalak kaget mendapati wajah yang tak asing baginya.
" Daren ! '' kaget Vea. Membuatnya langsung duduk tegap menatap wajah yang menampilkan senyum menyebalkan di bibirnya.
'' Hai calon istri !, akhirnya ketemu juga. Kamu tau gak,aku nyariin kamu lho'' ucap Daren dengan raut wajah yang begitu menyebalkan. Vea menanggapi dengan senyum sinis.
'' Sayangnya aku gak pernah pengen ketemu kamu, mantan calon suami'' sahut Vea dingin.
'' Kamu tau , berapa banyak kerugian perusahaan keluarga kamu, gara-gara kamu kabur di hari pernikahan kita ?"
" Gak tau,dan gak mau tau juga. Karena aku bakal lebih banyak rugi lagi kalo nikah sama kamu" jawab Vea santai.
Daren tersenyum sinis, tangannya hendak membelai pipi Vea lagi namun Vea menepisnya terlebih dahulu.
" Jaga tangan anda tuan Daren " sungut Vea dengan tatapan menusuk. Daren terkekeh, mendapati penolakan wanita cantik itu.
" Ini yang bikin aku penasaran sama kamu,galak " bisik Daren di telinga Vea sembari tangannya memainkan ujung rambut Vea. Vea berdiri cepat, memberi jarak pada lelaki yang menatapnya dengan sorot mata menjijikkan.
" Mau kemana ?" tanya Daren yang ikut bangkit berdiri,dan menangkap pergelangan tangan Vea.
" Bukan urusan anda,dan saya sudah tidak punya urusan lagi dengan anda . Permisi !" ucap Vea ketus sambil melepaskan tangan dari cekalan Daren.
Lelaki tampan nan gagah itu tak lagi mengejar Vea yang melangkah menjauh. Senyum sumir di bibir seksi itu terlukis samar. Tak di pungkiri Daren menang menawan. Dengan wajah tampan yang memiliki sejuta pesona. Namun kelakuannya sebelas dua belas dengan Dave, sama-sama pemain wanita.
" Honey,aku cariin dari tadi ternyata di sini " Zee menghampiri Daren dan bergelayut manja di lengan lelaki itu. Daren memasang wajah tersenyum lebar, mendaratkan kecupan di pipi Zee.
" Sorry sayang,aku cuma pengen keliling aja. Gimana kerjaan kamu udah beres ?" tanya Daren.
" Tentu sayang,ayo " sahut Daren seraya meraih pinggang sang wanita. Dengan mesranya mereka keluar dari ruangan itu,namun belum sampai meja resepsionis untuk check in, mereka berpapasan dengan Vea yang tampak mengernyit melihat sahabatnya dalam dekapan sang mantan calon suami.
" Ah Ve, ketemu juga. " ucap Zee girang saat menjumpai sahabatnya.
" Kenapa Zee ?" tanya Vea sambil melirik tajam lelaki yang tampak acuh tetap memeluk pinggang wanitanya.
" Gini kayaknya malem ini gue gak bisa ikut ngawasin di sini,gue serahin semua ke Lo. Gak apa-apa kan ?" Zee menanyakan kesediaan Vea.
" It's oke gak masalah" singkat Vea berusaha masa bodo dengan pemandangan di hadapannya. Ia cukup paham kehidupan bebas sahabatnya. Namun Kenapa harus dengan Daren ?,dan ia merasa terjebak di sebuah lingkaran setan. Dimana ia susah untuk mengelak dan tetap terperangkap pada lingkaran pergaulan yang berhubungan dengan lelaki itu.
" Oh ya Ve, kenalin temenku Daren. Daren ini sahabat aku Vea " ucap Zee yang belum tahu ada cerita diantara mereka berdua. Dengan sok polosnya Daren mengulurkan tangan seolah tak mengenal Vea. Vea memandang sinis,namun tak urung menerima uluran tangan Daren.
" Daren " ucap Daren seraya menatap wajah Vea dengan tatapan menggoda.
" Vea " jawab Vea jengah. Tanpa permisi lelaki yang itu mengecup punggung tangan Vea. Membuat Vea mendengus dan menarik cepat tangannya.
" Hahaha,honey dia itu masih polos,belum terbiasa dengan sentuhan lelaki " ucap Zee yang melihat raut tak suka di wajah sang sahabat. Vea hanya tersenyum kecut.
" Sepertinya dia perlu banyak belajar darimu sayang"ujar Daren sambil menatap Zee dengan tatapan nakalnya. Dan semakin menempelkannya tubuh Zee dalam rengkuhannya.
" Jangan dong honey,dia terlalu baik. Ve kita cabut dulu. Titip anak-anak, pastiin kerjaan mereka beres ".
" Siap,tenang aja" singkat Vea.
" See you next time, cantik " ucap Daren sebelum berlalu,Vea melengos tanpa menanggapi.
Sakit hatikah ia pada lelaki itu ?, jawabannya tidak. Ia tak sakit hati melihat lelaki itu menggandeng wanita lain. Karena pada lelaki itu ia belum pernah menjatuhkan hatinya. Dulu ia menerima pinangan keluarga Daren atas dasar bakti pada orang tuanya.
Dulu ia berpikir,bukan hal susah untuk menjatuhkan hati pada Daren. Lelaki tampan,mapan dan penuh pesona. Tapi setelah tahu seperti apa Daren ia tak yakin. Dan kini ia pun menjalin hubungan dengan lelaki yang tak jauh beda dengan Daren. Benarkah lelakinya itu bisa setia pada satu hati ?, sedang ia tahu masa lalu Dave sama kelamnya.
" Kenapa aku harus terjebak pada lelaki yang bermasalah dengan wanita " gumam Vea seraya mengembuskan nafas berat.