
" Thanks banget ya Dan udah nemenin gue seharian ini'' ucap Vea setelah turun dari mobil Fardan yang mengantar Vea sampai depan gerbang rumah megah tersebut. Fardan yang ikut turun berdiri berhadapan dengan wanita cantik yang masih menjadi pujaannya.
'' Buat apa ?'' tanya Fardan yang berdiri bersandar kap mobil.
" Buat waktu yang udah Lo sempetin buat gue,buat telinga yang udah Lo gunain buat dengerin curhatan gue. Buat perhatian yang Lo selalu kasih buat gue. Buat semua hal yang udah Lo kasih ke gue'' ucap Vea dengan senyum mengembang. Fardan tertawa lirih. Tatapan matanya masih tertuju pada Vea.
''Apapun buat Lo Ve,asal bikin Lo seneng'' ucap Fardan dengan tatapan mata yang memancarkan cinta.
Vea bukan tak melihat pancaran indah itu,namun hati tak pernah memilihnya. Dia justru terjatuh pada lelaki dengan masa lalu yang kelam. Tapi cinta tak bisa mengingkari rasa.
'' Ya udah,gue masuk. Eh Lo masih lama di sini ?'' tanya Vea pada sang sahabat.
'' Dua tiga hari lagi gue balik,gak bisa lama-lama gue ninggalin kerja. ''
'' Oke,besok ketemu lagi ya,masih kangen '' ujar Vea dengan raut manjanya.
'' Iya,kabarin aja kapan Lo senggang gue dateng. Ya udah masuk udah malem,gue balik'' pamit Fardan seraya sebelah tangannya terangkat dan menegang bahu Vea.
'' Ehmmm'' suara deheman seseorang yang berdiri tak jauh dari mereka membuat keduanya menoleh serentak. Vea membulatkan mata melihat siapa yang berdiri di sana.
Meski belum pernah bertemu kekasih sahabatnya,Fardan cukup paham siapa lelaki yang menatapnya tajam. Ia melepaskan tangannya yang memegang bahu Vea.
'' Ya udah,gue balik. Inget, bicarain baik-baik,jangan sampai Lo nyesel'' ujar Fardan seraya membalik tubuh.
" Thanks'' lirih Vea,Fardan menoleh sejenak dengan senyum mengembang di bibirnya. Sejurus kemudian Fardan menoleh kearah Dave yang menatapnya dengan tatapan elang. Ia hanya melambaikan tangan lalu mengangguk. Kemudian masuk ke dalam mobil dan memutar balik mobilnya.
'' Dave'' ucap Vea yang masih mematung di tempat setelah Fardan pergi. Dave mendekati sang kekasih dengan gemuruh hebat di hatinya. Rahangnya masih tampak mengeras. Tubuhnya seperti menegang, menandakan lelaki itu mencoba menahan amarah yang menyelimuti jiwanya.
Keduanya kini saling berhadapan,saling bertatap mata. Masih belum ada kata yang terucap dari bibir lelaki yang tampak kacau. Tiba-tiba saja ia meraih pergelangan tangan Vea,dan menariknya dalam pelukan.
'' Dave''
'' Sssstt,gini aja dulu'' ucap Dave. Ia memejamkan mata. Mencoba menetralkan segala amarah yang merasuki jiwanya. Mencari kenyamanan dalam peluk hangat sang kekasih. Vea yang merasakan pelukan itu begitu erat,mulai membalas pelukan lelaki nya. Mengelus lembut punggung kokoh itu. Menyalurkan rasa tenang untuk sang kekasih.
Di ujung jalan sana,Fardan melirik kaca spion. Penasaran apa ya g terjadi pada sepasang kekasih itu. Senyum tipis mengembang di bibir Fardan.
'' Udah saatnya gue mundur teratur Ve,Lo udah nemuin orang yang Lo cinta. Semoga Lo selalu bahagia'' lirihnya. Ia sempat khawatir pada Vea,melihat tatapan elang lelaki tadi. Namun apa yang di lihatnya dari spion mobil nya membuat ia lega. Lelaki itu mampu mengendalikan emosinya dengan baik.
Dan dua sejoli itu masih berpelukan. Amarah dalam diri Dave mulai meredah.
''Kamu darimana ?,aku takut,aku takut banget kamu ninggalin aku'' bisik Dave di telinga kekasihnya. Vea menenangkan keresahan hati sang kekasih dengan usapan lembut di punggung.
'' Aku khawatir banget,aku bisa jelaskan masalah tadi pagi. Sumpah aku gak ngapa-ngapain sama perempuan itu. '' ucap Dave seraya melepas pelukan dan menatap dalam mata wanitanya. '' Aku tahu bukan hal yang mudah buat kamu percaya sama aku. Karena memang masa lalu aku yang memang terlalu buruk. Tapi aku berani sumpah,aku gak ngapa-ngapain sama perempuan itu.'' Vea melihat kejujuran di mata Dave saat tatapan mereka saling mengunci.
Vea mengangkat tangannya, menyentuh pipi Dave, membelainya perlahan.
'' Maaf bikin kamu khawatir,maaf aku yang sudah bersikap kekanak-kanakan. Aku gak dengerin dulu penjelasan kamu,maaf aku yang udah egois'' ucap Vea,Dave menggeleng dengan seulas senyum tipis.
''Kamu gak salah,aku yang seharusnya minta maaf,karena aku kesalahpahaman itu terjadi. Perempuan tadi pagi menolongku semalam. Aku mabuk berat, karena....'' Dave menghirup nafas dalam sebelum melanjutkan ucapannya.'' Karena aku,aku takut banget kehilangan kamu. Tapi untuk saat ini aku,aku ingin kita begini dulu'' lanjut Dave dengan mata yang kini tak mampu melihat wajah kekasihnya. Ia merasa menjadi pecundang. Namun ia belum bisa meyakinkan hatinya untuk mengikat cinta dalam sebuah pernikahan.
'' It's oke,kita bicarakan lain kali'' ucap Vea,ia menyadari ada hal yang membuat kekasihnya belum siap melangkah ke jenjang yang lebih serius. Dave kembali membawa tubuh sang kekasih masuk dalam pelukan.
'' Makasih kamu udah ngerti aku. Jangan pernah berpikir aku gak serius sama hubungan ini. Aku serius,aku sayang banget sama kamu,aku cinta sama kamu.'' ucapnya sambil memeluk erat Vea. Vea mengangguk dalam dekapan kekasihnya.
'' I love you " lirih Dave kemudian mengecup lembut kepala Vea.
'' I love you too'' sahut Vea. Dave melepas pelukannya,sesaat keduanya saling tatap dalam diam. Dan keduanya terbius dalam pancaran cinta satu sama kain lewat sorot mata. Membius keduanya hingga menjadi magnet yang saling menarik untuk menyatu dalam sebuah ciuman hangat dari bibir mereka.
Keduanya meleburkan segala rasa dalam tautan bibir. Menetralkan segala rasa yang berkecamuk lewat sesaapan dan pertautan lidah mereka. Vea melepas kan diri saat mulai kehabisan nafas. Dave tersenyum,mengusap bibir Vea yang basah akibat pertarungan bibir dan lidah mereka.
'' Masuk aja yuk !" ajak Vea yang merasa mulai tak nyaman. keintiman mereka berdua busa saja kepergok orang. Karena mereka masih berdiri di luar pagar. Dave melihat pergelangan tangannya.
'' Udah malem,aku balik aja.''
" Gak mau masuk ?''
'' Besok aku jemput kamu,kamu juga masih punya hutang penjelasan sama aku'' ucap Dave dengan nada lembut namun menyiratkan kecemburuan di raut wajahnya.
Vea tertawa kecil, kemudian mengangguk. Ia tahu lelakinya sedang menahan rasa cemburu.
" Iya besok aku jelasin. Kenapa kamu berantakan banget gini sih ?'' tanya Vea seraya memindai penampilan Dave yang memang tampak berantakan.
'' Aku strees nyari kamu gak ketemu''
'' Jangan bilang kamu belum makan'' ucap Vea yang menyadari wajah Dave sedikit pucat.
'' Gak pingin makan,aku pusing banget seharian''.
'' Astaga,kamu bisa sakit kalau gini. Sekarang ayo ke apartemen,kamu harus makan'' ujar Vea sambil menyeret lengan kekasihnya menuju mobil Dave. Ada kehangatan yang menelusup hati lelaki itu saat mendapati perhatian wanitanya.
Kebahagiaannya bertambah,ternyata kekasihnya ikut dia ke apartemen untuk memastikan dirinya benar-benar makan. Dia tak akan membiarkan sang kekasih keluar apartemen nya makam ini. Ia ingin mendekap wanitanya sepanjang malam. Menghapus segala rasa yang menyiksa seharian ini.