
Pekerjaan Vea bisa di bilang sangat lancar tanpa kendala setelah kehadiran Dave di kantor. Papanya benar-benar bisa memanfaatkan kecerdasan sang calon menantu untuk di manfaatkan di perusahaan. Dave sangatlah lihai dalam melobi klien. Tutur katanya yang tegas dan wibawa yang di miliki lelaki itu saat bekerja membuat orang begitu mudah untuk percaya.
Hampir seminggu Dave di sana, namun memiliki perkembangan yang cukup signifikan. Semua pekerjaan ter handle dengan sempurna. Karena ternyata lelaki itu bisa bekerja dengan profesional meski dengan sang kekasih.
'' Mas Diaz tolong berkas yang tadi di berikan Pak Dave dari PT.Asri Indonesia,segera bawa keruangan saya. " titah Vea lewat sambungan telepon.
Tak berselang lama suara ketukan pintu terdengar ." Masuk !" Titah Vea tanpa mengalihkan pandangan dari berkas yang sedang diperiksanya. Tampak Dave tersenyum melihat Vea yang sedang serius dengan kacamata bertengger di hidungnya.
Di mata Dave wanitanya terlihat begitu cantik dan cerdas dalam keadaan serius. Dave melangkah mendekati meja Vea tanpa bersuara.
" Taruh di meja berkasnya Mas " ucap Vea tanpa memandang siapa yang datang. Ia hanya menunjuk arah meja.
Dave dengan senyum tipisnya melangkah maju. Ia yakin kekasihnya itu menyangka Diaz lah yang datang. Saat Dave melangkah melewati meja baru Vea menengadah.
" Lho kamu Yang,aku pikir Diaz " ucap Vea. Dave membungkukkan badan dan mengecup singkat bibir sang kekasih.
" Udah jam makan siang Honey, kerjanya di terusin nanti " ucap Dave, ia meletakkan berkas yang di minta kekasihnya.
''Ah sudah waktu makan siang ternyata " ujar Vea seraya melihat jam tangannya. Dave mengacak rambut sang kekasih.
" Serius banget sih calon istriku ini kalau kerja. Makan di luar dulu yuk !" tutur Dave membuat Vea tersipu. Kemudian ia membuka kacamatanya, membereskan beberapa berkas di meja.
Saat hendak keluar dari kursi,tubuh Vea di kungkung sang kekasih. Membuat wanita itu bersandar pada meja kerjanya.
" Aku kangen banget Yang " bisik Dave di telinga Vea, seraya menciumnya dengan lembut. Gelenyar rasa menggetarkan seakan menyengat tubuh Vea. Hanya dengan sebuah sentuhan kecil membangunkan hasrat yang telah tertidur hampir seminggu.
Begitu banyaknya pekerjaan yang harus mereka selesaikan. Membuat mereka tak memiliki waktu bermesraan. Vea pun tak bisa membuat alasan untuk pulang ke apartemen. Karena lebih sering pulang pergi diantar Dave. Akan sangat mencurigakan jika ia menginap di apartemen.
Bekerja satu kantor malah justru membuat keduanya tak memiliki waktu untuk saling melepas hasrat yang sesungguhnya telah menguasai keduanya.
Dave melancarkan aksinya, mencium leher Vea membuat wanita itu mendesaah manja. Sadar sedang dimana Dave menghentikan aksinya menatap sekeliling ruangan.
'' Kenapa ?'' tanya Vea menatap bingung kekasihnya yang seperti mencari sesuatu.
'' Ada cctv-nya gak di ruangan kamu ?'' tanya Dave. Ia sudah kepalang ingin mencumbu wanitanya. Tapi tak mau juga ia menjadi tontonan gratis operator cctv .
'' Tuh '' tunjuk Vea kerah atas. Dave mengikuti arah yang ditunjuk Vea.
'' Tapi lampunya mati '' ucap Dave yang menyadari kamera cctv itu tak menyala.
'' Rusak,belum di benerin '' sahut Vea santai. Senyum smirk Dave muncul. Dan langsung di lumaat nya bibir sang kekasih. Tangannya sigap meremaas dada sang wanita.
Vea menikmati sentuhan sang kekasih yang membangkitkan gairahnya siang itu. Dan jam makan siang di siang bolong itu diisi dengan desahaan sepasang kekasih yang sedang melepas rindu. Hingga berakhir dengan sebuah erangan nikmat menandai akhir pergumulan mereka.
Dengan terengah-engah ,Dave memeluk Vea yang menelungkup di meja kerjanya dengan posisi membelakangi Dave.
Peluh membanjiri sepasang kekasih itu menambah panasnya siang hari yang terik.
'' Sayang kamu bersih-bersih dulu,aku pesenin makan siang '' ucap Dave seraya memakai kembali celananya. Dan mengancingkan kemeja yang hanya terlepas kancingnya saja .
Vea membenahi dirinya, mencari dalaman yang entah di lemparkan ke mana oleh Dave. menurunkan rok span yang hanya disingkap sebatas pinggang. Dan merapikan baju yang sudah tergulung hingga dibawah leher.
'' Yang dalamanku mana ?'' tanya Vea yang belum berhasil menemukannya.
Rasanya akan sangat memalukan,jika pakaian pribadi nya itu di temukan office boy yang membersihkan ruangannya.
'' Duh mana ya ?'' Dave yang baru saja memesan makan siang mereka ikut bingung mencari. Sampai matanya menemukan benda itu tergeletak di sofa. Ia mengambilnya dan menyerahkan pada kekasihnya.
Vea membersihkan diri lebih dahulu di toilet yang terdapat di ruangan wanita itu. Setelah Vea selesai kemudian bergantian dengan Dave. Saat lelaki itu selesai dari toilet makanan yang di pesannya telah siap di atas meja.
'' Udah dateng ya .'' ucap Dave seraya duduk di samping Vea.
'' Heem ,baru aja '' sahut Vea yang sedang membuka box lunch untuk sang kekasih. Ia memberikan pada Dave yang di sambut senyum lebar lelaki itu .
Keduanya makan dengan lahap, setelah energinya terkuras dalam pertempuran panas mereka. Seprofesional-profesionalnya sepasang kekasih yang kerja dalam satu atap. Akan selalu ada kesempatan untuk memadu kasih.
'' Jam tiga nanti ada meeting di kantor rekan. Mau bahas tender baru. Kalau kita bisa gol. Lumayan gede benefit nya '' ungkap Vea yang telah menghabiskan makan siangnya.
'' Sama aku ?.'' tanya Dave yang kini sedang memasukkan bungkus bekas makan mereka ke dalam keresek dan membuangnya ketempat sampah yang tersedia di pojok ruangan itu .
'' Ya iyalah, berkasnya itu ada meja aku.'' jawab Vea setelah menenggak minuman yang telah ia sediakan untuk berdua. Dave berjalan ke meja kerja Vea yang baru saja menjadi saksi bisu pergulatan mereka.
Dave mengambil satu map yang di maksud kekasihnya. Membuka sesaat dan kemudian menutupnya lagi.
'' Aku bawa ke ruangan ku, aku baca dulu biar ngerti gimananya ''. ucap Dave. Vea hanya mengangguk tanpa beranjak dari sofa.
Dave melihat jam di tangannya, ternyata jam makan siang sudah lewat sepuluh menit yang lalu.
'' Aku keruanganku dulu " pamit Dave, sembari melangkah mendekati Vea dan menyematkan kecupan lembut di kening kekasihnya.
'' Iya, nanti kalau mau berangkat aku kabarin ''. jawab Vea dengan wajah menengadah menatap Dave yang berdiri di hadapannya.
Dave menunduk dan mengecup bibir merona merah yang selalu ingin dilumaatnya.
'' Thanks buat mood booster nya '' ucap Dave yang sedang mengusap bibir Vea dengan ibu jarinya. Vea tersenyum malu,meski mereka sering melakukan hubungan itu tapi membicarakan nya tetap rasanya tabu.
Dave meninggalkan ruangan sang kekasih dengan raut wajah bahagianya. Segala beban seakan terangkat karena pergumulan panas yang baru saja ia lakukan dengan wanita tercintanya. Pekerjaan dari dua perusahaan yang menumpuk seakan tak lagi jadi beban.