
'' Sayang,hei sayang. Kamu kenapa ?'' panik Vea seraya menepuk pelan pipi Dave. Ruangan yang berantakan, pecahan botol berhamburan. Meja yang terbalik serta sofa yang sudah bergeser tak pada tempatnya. Membuat Vea berpikir ada yang masuk unit sang kekasih dan menghajar lelaki itu.
" Euughh " lenguhan Dave terdengar saat matanya terbuka. Ia memegang kepalanya yang terasa pusing. Matanya tertuju pada wanita yang tertunduk di hadapannya. Melihat wajah cantik yang itu rasa kesal di hatinya kembali membuncah meski tak di pungkiri ada rindu yang di hatinya. Ia berpaling dengan wajah mengeras.
" Sayang , ini kenapa ?'' tanya Vea seraya memegang tangan Dave. Dave menarik tangannya dari genggaman Vea. Rasa cemburu masih menguasai hatinya. Melihat wanita yang sungguh masih sangat di cintanya itu justru menimbulkan rasa sakit yang menghantam jiwa.
" Ngapain kamu ke sini ?, sudah selesai bermain-main dengan SAHABAT kamu itu ?" sinis Dave tanpa menatap Vea dengan menekankan kata sahabat pada ucapnya.
" Maksudnya ?" tanya Vea dengan dahi mengernyitkan dahi. Pura-pura tidak tahu apa maksud sang kekasih sebagai juris terakhir untuk menutupi rasa bersalah di hatinya.
Dave tersenyum sinis, tanpa menatap Vea yang masih duduk di lantai menatap sendu wajah Dave yang tak mau melihat dirinya .
" Jangan pura-pura tidak tahu,kamu pikir aku sebodoh itu ?. " ketus Dave yang menghantam hati Vea. Ia sadar sangat sadar dengan kesalahannya.
" Kalau dari awal aku cuma tempat persinggahan dan bukan tempat mu pulang, jangan kasih aku harapan Ve ". lanjut Dave nanar. Rasa bersalah semakin membelenggu hati Vea. Ia menundukkan kepala, setetes air mata membasahi pipi.
" Maaf " lirih Vea dengan suara tercekat. Ternyata apa yang dilakukan kemarin melukai semuanya. Dirinya yang merasa di lecehkan sang sahabat, sahabatnya yang juga semakin tersiksa dengan perasaannya. Dan kini Dave terseret dalam kegilaan yang dilakukan dirinya. Dia telah menyakiti dua lelaki dalam waktu yang sama.
'' Semua tidak seperti yang kamu kira Dave '' lirih Vea berusaha hendak menjelaskan. Dave tertawa getir.
" Terus seperti apa ?, seperti apa seharusnya perkiraan ku ?. Apa aku tidak cukup buat kamu Ve ?" cerca Dave frustasi, membuat Vea semakin terisak dalam tangis.
" Aku bisa jelasin semuanya " tutur Vea,dengan mengangkat kepalanya, menatap sang kekasih yang masih tak mau melihat dirinya.
" Apa kurang jelas yang aku lihat ?'' lelaki itu masih enggan menatap Vea. Meski hatinya pun teriris mendengar isak tangis dari wanita itu.
Mendengar jawaban dari Dave membuat hati Vea mencelos,ia pikir hanya seseorang yang melihatnya bersama Fardan dan mengatakan pada Dave. Ternyata lelaki itu melihatnya sendiri.
" Lebih jago siapa aku atau dia saat berciuman ?" sarkas Dave membuat Vea membeku. Mata mereka saling beradu . Sama-sama ada luka di sorot mata itu.
" Aku pikir kamu berbeda ternyata sama saja. Murahan " ucap Dave seraya melengos.
" Yah,aku sama saja dengan wanita-wanita yang sudah kamu tiduri. Aku sama saja,tidak ada yang istimewa di diriku. Aku saja yang terlalu percaya diri merasa bahwa cintamu nyata adanya." sinis Vea dengan nada tegas. Menatap tajam lelaki yang kini sebenarnya sedang merutuki diri akibat ucapannya sendiri.
" Aku mengaku salah dengan apa yang aku lakukan kemarin. Mungkin konyol memang,tapi aku hanya ingin sekedar sehari saja memberi kenangan untuk sahabat yang tidak pernah bisa aku balas cintanya. Dan soal ciuman itu, hanya sekedar kecupan yang bahkan masih ku sesalkan sampai sekarang." Vea menghirup nafas panjang. Menahan air mata yang hendak tumpah,sakit rasanya ketika orang yang dicintainya mengatakan hal yang begitu merendahkan.
" Kalau seandainya aku sama dengan wanita-wanita mu, tentu aku akan lebih dulu menyerahkan keperawanan ku pada Fardan yang jelas lebih dulu hadir di hidupku. Bukan padamu yang akhirnya menjebakku pada cinta semu yang ku pikir nyata." lanjut Vea sembari mengusap air matanya yang mengalir tanpa permisi.
Dave menggigit bibirnya,ia sadar telah menorehkan luka di hati wanita terkasihnya. Tapi amarah masih membungkam mulutnya untuk sekedar mengucap maaf.
" Terima kasih untuk semua yang sudah kamu berikan padaku ." sambung Vea seraya menatap jari manisnya,dan meloloskan cincin pemberian Dave. Dengan hati yang gemetar,Vea meraih tangan Dave dan meletakkan cincin itu di telapak tangan Dave.
" Aku pergi " pungkas Vea, melangkah tanpa lagi menoleh dengan air mata yang membanjir.
Dave menatap nanar cincin di tangannya. Nafasnya memburu, sakitnya melebihi saat ia melihat Vea di cium oleh Fardan semalam. Rasanya seperti tercekik,saat melihat cincin yang ia berikan pada Vea sebagai pengikat cinta. Saat wanita itu melepaskan cincin,itu berarti Vea memilih pergi dari hidupnya.
Dave menggeleng cepat,terlalu menyakitkan rasa itu. Ia tak bisa melepaskan Vea, tidak akan pernah bisa. Ia bangkit dari sofa, masih dengan penampilan acak-acakan dan kepala yang sedikit berdenyut. Ia berlari mengejar Vea , namun tak ia jumpai wanita itu. Dave menekan berkali-kali tombol lift. Tak perduli jika apa yang dilakukannya bisa saja membuat lift macet.
Sampai akhirnya lift terbuka dengan beberapa orang di dalam,menatap aneh pada dirinya yang berpenampilan awut-awutan.
Di sisi lain, Vea telah meninggalkan apartemen dengan segala luka dan sakit di hatinya. Ia merasa begitu rendah. Dave yang jelas-jelas merenggut mahkota miliknya namun mengatakan hal yang sangat menyakitkan. Sedangkan Dave sendiri tak lebih dari player yang bahkan entah berapa banyak wanita yang telah berhasil digagahinya.
Sambil menyetir mobilnya,Vea tak henti-hentinya menangis. Terlalu bodohkah ia yang begitu saja percaya pada cinta yang di tawarkan seorang Dave Mahendra ?. Terkadang cinta benar- benar membutakan matanya.
" Murahan ?, seberapa murah aku di matamu Dave ?" lirih Vea dengan senyum getir ,ia akhirnya memilih menepikan mobil. Karena ia yang tak bisa lagi konsentrasi dalam menyetir. Ia butuh menenangkan jiwanya yang terasa hancur akibat ucapan lelaki yang telah berhasil memiliki seluruh hatinya.
" Sakit banget Dave,sakit " Vea tergugu seraya memukul dadanya yang terasa begitu sesak. Di parkiran sebuah toserba itu,Vea menghentikan mobilnya. Menelungkupkan kepala di atas setir mobil. Terisak menangisi hatinya yang terasa hancur.
Ia yang awalnya membawa sesal karena membohongi Dave,saat seharian kemarin menghabiskan waktu bersama Fardan. Kini yang ada ia membawa luka karena orang yang dicintainya.
Ia berkali-kali menarik nafas dalam,mencoba mengurangi sesak di dadanya. Namun masih tetap sama,sesakit itu ketika ucapan dari orang yang dicintainya merendahkan harga dirinya.