If

If
Makan Siang Bersama



Binar bahagia nampak jelas tergambar di raut wajah Vea. Siapa pun yang berpapasan dengannya bisa menebak , bahwa suasana hati wanita itu sedang sangat baik. Langkah ringan Vea memasuki area kantor. Setiap berpapasan dengan para karyawan yang menyapanya,Vea menampilkan senyum ramah.


" Pagi Mas Diaz !, Pak Dave datang belum ?" tanya Vea saat melewati meja sang asisten.


" Pagi bu Vea, Pak Dave baru saja datang " sahut Diaz yang sudah standby di meja kerjanya.


" Saya keruangan Pak Dave dulu, hari ini jadwal saya full gak ?" tanya Vea sebelum beranjak dari hadapan sang asisten.


" Lumayan Bu,ada meeting dengan tiga klien, salah satunya pagi ini di kantor." terang Diaz,Vea melihat jam tangannya. Jam kerja baru saja di mulai.


" Oke,tolong Mas Diaz siapkan berkasnya, saya ada perlu sebentar dengan pak Dave " sambung Vea seraya berlalu dan memasuki ruangan Dave tanpa ia mengetuk pintu.


" Pagi Sayang !'' sapa Vea dengan senyum sehangat matahari. Dave yang sudah mulai berkutat dengan dokumen di hadapannya menoleh ke arah sang kekasih yang sedang melangkah mendekati dirinya yang duduk tenang di balik meja kerja.


" Pagi Honey, kayaknya happy banget " ucap Dave dengan tatapan tak lepas dari wajah kekasihnya yang tampak begitu sumringah. Vea berjalan mengitari meja dan berdiri di samping kursi yang diduduki Dave. Mata Dave masih mengikuti langkah Vea dengan tatapannya.


Sampai di samping sang kekasih,Vea menundukkan badan. Memberi kecupan ringan di bibir kekasihnya. Dave meraih pinggang Vea, membuat wanita itu merapat pada tubuh Dave saat tubuh Vea di apit dua kaki lelaki itu.


" Ada apa ?" tanya Dave seraya menengadah menatap wajah wanitanya. Dengan tangan masih melingkar di pinggang sang kekasih.


" Papa udah merestui kita, Papa mau ketemu kamu hari ini " jawab Vea dengan senyum yang tak luntur dari wajah ayunya. Dave terbelalak dengan senyum yang langsung terkembang sempurna .


" Really ?" tanya Dave dengan nada seakan tak percaya. Beberapa hari kemarin ia merasa down bahkan hubungannya dengan Vea terasa sedikit dingin meski setiap ada kesempatan mereka habiskan berdua.


Namun tak ada obrolan hangat tentang masa depan hubungan mereka saat restu itu terasa jauh. Namun kabar yang di bawa sang kekasih, memantik semangat untuk merancang kembali masa depannya.


" Iya Papa nunggu nanti makan siang di rumah "jawab Vea seraya menangkup pipi Dave yang menatapnya dengan binar penuh kebahagiaan.


" Akhirnya " ucap Dave yang kemudian menarik tubuh Vea merapat padanya. Di sandarkan kepala Dave di perut sang kekasih yang membelai rambut Dave dengan lembut.


Dave menarik tubuh sang kekasih,dan menariknya duduk di pangkuan. Menatap intens mata wanitanya yang juga memancarkan aura bahagia yang tak di sembunyikan.


" I love you Alivea, tetaplah di samping ku sampai Tuhan mengambil salah satu dari kita dan menunggu di kehidupan lain '' ucap Dave sungguh-sungguh dengan mata tak lepas dari nata bening sang kekasih.


'' I love you too, sekarang,esok dan selamanya '' sepasang mata itu saling menatap dalam. Dave meraih tengkuk sang kekasih dan menyatukan bibir mereka. Menyesap manisnya cinta dalam pertautan bibir yang saling melumaat mesra.


Sepasang kekasih itu semakin hanyut dalam decapan bibir yang semakin dalam dan mulai membakar tubuh yang mendamba sentuhan.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu sukses membuat sepasang kekasih itu melepas bibir mereka, menyatukan dahi dengan nafas yang memburu. Mencoba menetralkan rada yang menggebu. Rasa yang menginginkan penuntasan hasrat yang membara.


Suara ketukan pintu kembali terdengar,Vea berdiri merapikan pakaiannya dan mengirup nafas panjang. Mencoba menetralkan rasa hasrat yang terpancing ke permukaan karena ciuman panas mereka.


'' Masuk !" titah Dave, muncul sosok Diaz dengan berkas di tangan .


'' Maaf Pak ,Bu sepuluh menit lagi rapat di mulai. Saya tunggu di ruang rapat " ucap Diaz dari ambang pintu. Kemudian menunduk sekilas sebelum kembali menutup pintu tanpa menunggu sahutan sang pemilik ruangan.


Sepasang kekasih itu saling pandang,dan akhirnya terkikik geli. Pagi-pagi bermesraan di kantor berakibat meeting yang hampir terlambat.


'' Yuk ke ruang meeting nanti kelamaan merek menunggu '' ajak Dave seraya berdiri dari duduknya dan mengulurkan tangan yang langsung di sambut oleh sang kekasih.


✨✨✨


Seperti yang sudah direncanakan tadi pagi,saat waktu istirahat makan siang . Dave keluar kantor bersama dengan Vea. Mereka hendak menemui Papa Hermawan yang secara khusus mengundang Dave untuk makan siang di rumah.


Sepanjang perjalanan tangan mereka saling bertaut. Detak jantung Dave tak bisa berdetak dengan santai. Ia sudah berkali-kali bertemu lelaki berusia hampir 64 tahun itu. Tapi kali ini hatinya benar-benar tidak bisa santai.


Sesungguhnya ada ketakutan jika pertemuan ini bukanlah untuk membahas lamaran. Ia takut jika nanti Papa Hermawan memintanya untuk meninggalkan Vea. Ia tak akan pernah bisa. Tak akan mungkin ia sanggup jauh dari bidadari hatinya.


'' Kenapa ?'' tanya Vea yang melihat raut khawatir di wajah sang kekasih.


'' Nervous Yang'' sahut Dave seraya menggenggam tangan kekasihnya semakin erat. Vea menepuk punggung tangan Dave, mencoba memberi ketenangan.


''Semua bakal baik-baik saja Yang '' ucap Vea meyakinkan. Dave membawa tangan Vea dan mengecupnya cukup lama. Menenangkan hatinya yang diluputi rasa gelisah.


Dan sisa perjalanan mereka habiskan dalam diam. Dave yang masih merasa was-was membuat pikirannya nyalang. Hatinya masih diliputi gelisah yang melanda. Ketakutan di pisahkan dengan sang kekasih menghantui sisa perjalanan siang itu .


Sampai mereka di kediaman keluarga Dwilangga. Dave menghirup nafas dalam. Menenangkan dirinya sendiri yang diliputi gelisah tak bertepi.


'' Masih nervous Yang ?'' tanya Vea yang diangguki Dave.


'' Give me hug beib '' ucap Dave seraya merentangkan tangan meminta pelukan dari wanitanya.


Dengan senang hati Vea memeluk lelakinya,memberi ketenangan dengan menepuk lembut punggung Dave.


" It's oke semua bakal baik-baik aja". ucap Vea meyakinkan. Dave menghembuskan nafas berat sebelum akhirnya melepaskan pelukan sang kekasih dan turun dari mobil.


Tangan sepasang kekasih itu saling bertaut dengan erat. Saat langkah kaki mereka memasuki rumah bak istana itu. Rumah yang biasanya sepi itu terdengar ramai. Suara yang di dominasi wanita itu terdengar dari ruang tengah. Dave dan Vea saling pandang.


" Kok ramai ?'' tanya Dave yang merasa heran. Pasalnya jarang sekali rumah megah itu kedatangan tamu. Vea hanya bisa menggeleng,ia pun tak tahu apa yang terjadi di dalam sana. Dengan langkah perlahan dan tangan yang masih saling menggenggam keduanya masuk ruang keluarga.


" Nah ini,yang di tunggu-tunggu akhirnya sampai juga " seru Mama Atika dengan riang. Dave dan Vea di buat terpaku melihat wajah-wajah yang tersenyum menyambutnya.