If

If
Sama-sama Galau



Mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi,menembus jalanan yang masih sedikit padat. Meski tak semacet saat jam berangkat kerja. Pikiran Dave terus berkecamuk,ia segera ingin bertemu dengan Vea


Menjelaskan semua kesalahpahaman yang terjadi pagi tadi.


Ia yakin kekasihnya itu berpikir yang tidak-tidak tentang dirinya. Ia maklum,rekam jejaknya tidaklah baik. Tapi satu hal yang pasti,ia tak mau kehilangan sang kekasih. Dering ponsel mengganggu konsentrasi. Nama Disya sang sekertaris terpampang di sana. Dengan menggunakan headset ia mengangkat panggilan sang sekertaris.


" Ya, kenapa Dis ?" tanya Dave .


" Setengah jam lagi Bapak ada rapat dengan klien,semua bahan sudah saya siapkan di meja Bapak" terang Disya.


" shittt!! " umpat Dave lirih. Kepalanya terasa berdenyut, pengaruh mabuk semalam belum sepenuhnya hilang,di tambah permasalahan yang pasti membuat sang kekasih salah paham. Dan kini pekerjaan juga menunggunya.


''Marcell sudah datang Dis ?" tanya Dave .


" Sudah pak "


" Ya sudah biar nanti dia yang mewakili saya. Saya masih ada urusan belum bisa ke kantor " terang Dave.


" Baik Pak " sahutan Disya dan Dave langsung mengakhiri panggilan. Ia mencari kontak Marcell.


" Ya Pak " sahut di seberang sana setelah Dave berhasil menghubungi orang kepercayaannya itu.


" Kamu sudah di kantor Cell ?"tanya Dave setelah mendengar suara Marcell.


" Sudah Pak,ada apa ?"


" Kamu keruangan saya,ambil berkas di meja. Tanyakan saja pada Disya soal berkasnya. Kamu gantikan saya untuk meeting dengan klien. Saya belum bisa ke kantor. Tolong kamu handle pekerjaan saya hari ini. Saya ada perlu penting. " instruksi Dave pada Marcell yang mendengarkan dengan seksama.


" Baik Pak " setelah mendapat jawaban dari Marcell,Dave mematikan sambungan telepon.


Kembali fokus pada jalanan. Saat berada di lampu merah ia berusaha menghubungi Vea. Namun ternyata nomer kekasihnya tidak aktif.


" Shitt !!" umpat Dave seraya memukul setir mobil. Kemudian memijit pangkal hidungnya. Kepalanya terasa semakin pusing. Hatinya ketar-ketir, ia takut kehilangan sang kekasih karena kesalahpahaman ini.


Saat lampu kembali menyala hijau,Dave melajukan mobil ke arah kantor tempat kerja Vea. Bergegas turun dari dalam mobil. Langkah panjangnya menuju wanita cantik yang menatapnya dengan kagum.


" Permisi Mbak !" sapa Dave sopan yang di sambut senyum ramah wanita yang bekerja di bagian Front office.


" Iya Pak,ada yang bisa kami bantu ?" sambutnya masih dengan senyum dan tatapannya yang berbinar menatap wajah tampan di hadapannya.


" Saya mau ketemu Vea,bisa ?''


" Bu Vea ya Pak ?, aduh hari ini Bu Vea nya ijin pak. Tadi pagi ke kantor sebentar hanya mengantar berkas,setelah itu beliau pergi " hati Dave mencelos mendapati kekasihnya tak ada di kantor. Menghindarkan Vea darinya ?.


" Mbak nya tau ,Bu Vea pergi kemana ?" selidik Dave.


" Waduh gak tau pak,Bapak bisa hubungi saja nomernya,kalau penting ".


" Kalau begitu saya permisi,terima kasih. '' ucap Dave lesu.


" Iya pak sama-sama'' sahut sang wanita yang menatap iba pada lelaki gagah yang tampak muram. Berjalan lunglai sampai ke tempat mobil dimana Dave parkir.


Dave masuk ke dalam mobil,duduk terdiam. Kemudian menelungkup kan kepala di atas kemudi.


'' Ve,kamu dimana ? , kenapa kamu gak mau denger dulu penjelasan aku'' runtuh lirih Dave. Lalu ia duduk tegak, mengguyar rambutnya dan memijit keningnya yang seperti hendak meledak saja.


🧸🧸🧸


Sedang wanita yang di pikirkan Dave pun sama saja. Terhanyut dalam pikirannya sendiri. Ia ingin tak mempercayai apa yang di lihatnya tadi pagi di apartemen sang kekasih. Namun tetap hatinya tak bisa mengelak. Ada rasa perih mengingat ada wanita dalam unit apartemen kekasihnya.


Dan kini Vea berada di sebuah rumah ya g terletak tak begitu jauh dari pantai. Suara debur ombak terdengar jelas dari sana. Kini Vea berdiri di balkon rumah bertingkat dua itu. Menatap jauh kearah pantai yang terlihat dari lantai atas. Namun tetap saja,ia tak bisa menikmati keindahan di hadapannya. Hatinya terluka,ia kecewa pada lelaki yang masih berstatus kekasih itu.


Di belakang Vea,di pintu pembatas antara ruangan dan balkon. Fardan berdiri dengan dua cangkir di tangannya. Ia menghentikan langkah untuk sejenak menikmati wajah ayu dengan rambut yang berkibar karena tiupan angin. Rasa itu masih sama,meski Vea sudah menolaknya. Tapi cintanya cukup ia rasa meski tak akan pernah ia miliki.


" Ve,minum dulu " Fardan mendekat setelah beberapa saat menatap Vea dalam diam. Ia mengulurkan secangkir cokelat yang masih mengepulkan asap. Vea tersadar dari lamunan, menoleh pada sahabatnya kemudian tersenyum tipis dan mengambil cangkir yang di sodorkan Fardan.


" Thanks " ucap Vea.


" Sama-sama. Kamu apa kabar ?" tanya Fardan yang kini ikut berdiri dengan bersandar di pembatas balkon bersebelahan dengan Vea.


" Gak baik ,hati gue lagi gak baik- baik aja Dan " sahut Vea tanpa menoleh lelaki di sampingnya. Tatapan matanya jauh melihat hamparan biru air laut.


" Kenapa ?"


" Cowok gue udah mengkhianati kepercayaan yang udah gue kasih " ada rasa ngilu mendapati kata " cowok gue" terselip dalam kalimat ya g terucap di bibir wanita yang masih didambanya . Tapi Fardan mencoba untuk menguasai diri. Ia berdiri di sini sebagai sahabat yang siap menyediakan pundak untuk bersandar bagi sahabatnya.


'' Ada masalah apa ?, udah coba lo omongin baik ?'' tanya Fardan dengan bahasa Lo,gue lagi. Karena ia sadar posisinya di hati sang sahabat. Seistimewa apapun dia memperlakukan Vea ia hanya sahabat tak lebih.


Vea menggelengkan kepala mendengar pertanyaan Fardan.


'' Udah cukup jelas yang gue liat Dan '' jawabnya seolah ia yakin kekasihnya telah mengkhianati dirinya. Fardan melangkah sedikit menjauh, meletakkan cangkir di meja yang terdapat di balkon. Kembali mendekat pada Vea. Menarik bahu wanita itu. Keduanya saling berhadapan dengan dua telapak tangan Fardan memegangi bahu Vea.


'' Ve,Lo bukan anak kecil lagi,Lo harus bicarain masalah Lo. Gak semua yang Lo liat itu pasti bener. Lo denger dulu penjelasan dia. Jangan sampai Lo nyesel karena kesalahpahaman Ve '' tutur Fardan. Ia memang mencintai wanita itu,tapi tak mau memperkeruh masalah.


'' Lo gak tau aja Dan '' ucap Vea seraya menunduk,menatap cokelat yang tak lagi mengepulkan asap.


'' Gue gak akan tau kalo Lo gak ngasih tau'' ujar Fardan sambil melepas tangan dari bahu Vea. Tatapannya beralih pada hamparan laut diujung sana.


'' Gue gak ngerti Dan, kenapa gue mesti jatuh cinta sama player, kenapa gue gak jatuh cinta aja sama Lo ya ?'' ungkap Vea tanpa sedikitpun menatap wajah sahabatnya yang kini menatap dirinya dari samping. Menatap Vea yang tersenyum kecut.


'' Sayangnya gue gak bisa bikin Lo cinta sama gue''


'' Iya,karena sayangnya gue terlalu sayang sama Lo sebagai sahabat gue'' lanjut Vea . Dan keduanya saling pandang dan terkekeh bersama.