
Vea kembali masuk ke dalam rumah. Mendapati kedua orang tuanya masih duduk di ruang keluarga.
" Sayang, sini duduk dulu " pinta Mama seraya menepuk sofa di sampingnya, menandakan meminta sang anak duduk di sebelahnya. Vea mengikuti titah Mama.
Mama membelai rambut anak gadisnya dengan lembut. Menyalurkan rasa sayang dalam hatinya. Betapa sang Mama merindukan putrinya.
" Maafkan keegoisan Mama dan Papa sayang,kamu pasti kesulitan hidup di luar selama ini. Mama dan Papa selama ini berpikir kamu terlalu egois,tidak memikirkan perasaan kami. Ternyata Kami yang salah. Kami yang terlalu mementingkan ego demi nama baik dan perusahaan." ucap Nana dengan suara seraknya. Vea berbaring di sofa dengan berbantal paha Mama Atika.
" Semua sudah berlalu Ma, biarkan semua jadi cerita saja. Vea juga salah, mengambil keputusan tanpa berbicara dulu pada kalian. Tapi apapun yang sudah terjadi di hidup Vea ini memang jalan yang sudah Tuhan gariskan untuk Vea" jawab Vea dengan mata berkaca-kaca.
" Iya sayang" sahut Mama singkat. Tangannya masih membelai rambut putrinya. Papa menyaksikan ibu dan anak itu dengan tatapan lega. Ia bukan tak tahu keberadaan anaknya selama ini. Namun rasa kecewa pada sang anak membuatnya tetap membiarkan anaknya berada jauh dari mereka.
Sebelum mereka tahu sebab Vea lari di hari pernikahan. Mereka merasa Vea terlalu menyepelekan mereka, menganggap sang anak mempermalukan keluarga. Tapi saat mereka tahu alasan di balik kaburnya Vea mereka paham. Meski nama baik dan perusahaan yang jadi taruhan setidaknya bukan kebahagiaan sang anak yang mereka korbankan.
" Bagaimana hubunganmu dengan Dave ?" tanya Papa setelah anak ibu itu terdiam beberapa saat.
" Belum lama kenal Pa,kita sedang dalam tahap menjalani untuk saling mengenal" sahut Vea tanpa beranjak dari pangkuan sang ibu.
" Papa setuju kamu sama dia, anaknya sopan. Dan cukup gigih Papa lihat" puji Papa,Vea tersenyum samar mendengar pujian Papanya, seandainya Papa tahu Dave telah merenggut kesuciannya sudah di pastikan lelaki itu tak akan keluar rumah ini dalam keadaan baik-baik saja.
Vea hanya berharap,semua yang Dave ucapkan bukan hanya sekedar lip servis saja. Semoga Dave benar- benar bisa menjadi lelaki setia. Yang menjadikan dirinya ratu yang bertahta dalam singgasana hati seorang Dave Mahendra.
"Papa lihat kalian sudah cukup umur untuk menjalani hubungan lebih dari sekedar pacaran" lanjut Papa. Kali ini Vea bangkit,duduk tegak menatap sang Papa.
" Pa,aku sama Dave belum lama kenal. Masih terlalu dini untuk berbicara serius untuk hubungan kami. Aku memang gak mau main-main,tapi aku juga gak mau tergesa-gesa. Kita belum terlalu saling mengenal.Tolong, Papa biarkan kami menjalani ini tanpa tekanan. Kalau memang aku dan Dave ditakdirkan bersama pasti kita juga bakal nikah. Tapi gak sekarang Pa" ucap Vea panjang lebar. Papa tampak menghela nafas.
" Iya Papa percayakan sama kamu. Maaf kalau Papa terkesan menekan kamu untuk segera menikah. Papa hanya merasa sudah tua,dan ingin melihat anak Papa bahagia dengan pasangannya" tutur Papa dengan tatapan datar. Vea mendekati Papanya dan meraih telapak tangan yang mulai keriput itu.
" Vea tahu, Papa hanya ingin yang terbaik untuk Vea. Nanti saat itu tiba,Vea juga ingin lelaki yang terbaik untuk Vea.Dan Vea juga berharap lelaki terbaik untuk Vea adalah Dave. Papa doakan saja semoga kami berjodoh"lembut ucapan Vea membuat Papa tersenyum. Meraih kepala Vea dan membawanya bersandar di bahu renta itu. Kecupan lembut sang Papa di sematkan di dahi sang putri.
" Anak Papa sudah dewasa ternyata" ucap Papa dengan tangan mengusap bahu anaknya. Vea tak menyahut hanya tersenyum sambil menikmati nyamannya dekapan Papa yang telah lama tak ia rasakan.
Malam yang kian larut,Papa dan Mama telah masuk dalam kamar. Vea juga masuk ke kamarnya. Tempat ternyaman yang ia tinggalkan beberapa bulan ke belakang. Namun entah kenapa matanya tak kunjung mengantuk. Suara denting notifikasi chat masuk membuat Vea yang telah merebahkan diri di kasur empuknya,bangkit meraih ponsel di atas meja.
" Kangen"
sebuah chat singkat dari Dave yang membuat Vea tersenyum.
" Belum juga sehari pisah,udah kangen aja " balas Vea yang langsung cek list dua dan berwarna biru.
Vea senyum-senyum sendiri membaca chat dari kekasihnya. Ternyata jatuh cinta tak memandang di umur berapa. Nyatanya meski mereka bukan ABG lagi, mendapat chat dari orang yang di cintai. Membuat rasa bahagia tersendiri.
" Ih apa sih kamu,kok belum tidur ?, kenapa ?" ketik Vea yang langsung di kirim untuk Dave.
"Kan udah aku bilang kangen. Pengen tidur meluk kamu lagi".
" Peluk aja guling"
" Beda dong Yang,gak ada yang bisa buat pegangan"
" Dasar omes !!!"
" Gak apa-apa dong Yang Ama pacar sendiri ini"
Tak ada balasan hanya sekedar di baca oleh Vea. Pembahasan berbau intim masih terlalu memalukan bagi Vea. Meski ia telah terlalu jauh berhubungan dengan Dave namun membahasnya terlalu tabu.
"Yang !!?"
Tak ada balasan namun masih di baca oleh Vea.
" Sayang ?, kenapa?. sorry kalo aku salah"
" Yang bales dong, sayang !"
" pliss jangan diem aja dong, sorry aku gak akan bahas gituan lagi"
"Yang !!!!!"
" Iya honey,aku ngantuk mau tidur. Besok kerja".
" Huuufh,kirain kamu marah. Ya udah good night, mimpiin aku".
"Too" balas Vea yang langsung meletakkan ponselnya dan terlelap. Membawa benih-benih cinta yang sedang tumbuh dalam tidurnya. Membuat tidurnya begitu dalam dan lelap.
Begitu juga dengan lelaki yang tersenyum dalam lelap nya tidur. Lelaki yang baru pertama merasakan indahnya sebuah rasa bernama cinta. Rasa yang ternyata begitu gila, hingga baru beberapa jam tak melihat wanita pujaannya membuat hati terbelenggu oleh sebuah rasa rindu yang menggebu. Dalam lelap tidurnya pun,wanita cantik penghuni hatinya hadir. Dengan sebuah senyum yang membuat wanita itu semakin cantik.