If

If
Mood Booster



Senyum mengembang saat matanya menatap wajah cantik yang terlelap dengan tenang tepat berada di depannya. Wanita yang meringkuk dalam pelukan erat tangan kekar yang melingkar di pinggangnya. Dave menyentuh pipi kekasihnya dengan lembut. Desir rasa hatinya begitu tenang menentramkan.


Perlahan Dave menarik tangannya, jangan sampai wanitanya terbangun. Beranjak dari tempat tidur dengan senyum yang tak luntur dari wajah tampan itu. Semalam memeluk kekasihnya seperti sebuah mimpi yang menjadi kenyataan ,terlalu indah. Bahkan semalam ia benar-benar hanya memeluk wanitanya. Tanpa melakukan hal lebih,tapi membuat pagi ini segalanya terasa ringan.


Beban pikiran yang kemarin menghimpit kini terasa longgar. Mungkin dengan bersama wanita itu setengah dari beban hidupnya bisa terlewati dengan muda. Membuatnya semakin yakin untuk menjadikan Vea pendamping hidup.


Dave beranjak ke dapur, membuka kulkas untuk melihat persediaan makanan di sana. Hanya ada beberapa bahan, mungkin karena kini Vea jarang tidur di apartemen. Membuatnya tidak menyetok bahan makanan.


Dave mengambil beberapa butir telur dan serta beberapa bahan yang ia busa jadikan omelette. Dave pun bukanlah lelaki dengan kelihaian memasak. Bahkan sangat jarang lelaki itu turun ke dapur untuk menyiapkan makan. Tapi pagi ini istimewa. Ia ingin sedikit memperhatikan wanita cantiknya.


Dengan memakai apron yang tergantung di sudut dapur . Dave beraksi layaknya chef. Saking fokusnya pada masakan di hadapannya. Dave tak menyadari kekasihnya telah berdiri di belakang dirinya . Tersenyum menatap sang kekasih yang tampak cekatan dengan peralatan dapur.


" Morning honey ! " sapa Vea dengan lengan melingkar di pinggang Dave. Dave meraih tangan Vea di satukan dua tangan itu dalam satu genggaman. Membuat Vea semakin menempel erat di punggung sang lelaki .


" Morning Baby, gimana tidurnya ?" tanya Dave tanpa menoleh. Ia sedang berusaha membalik omelette nya dengan satu tangan. Agar dekapan kekasihnya tak terlepas. Ia terlalu menikmati adegan intim ini.


" Nyaman " sahut Vea dengan mata terpejam.


Degub jantungnya selalu saja menggila saat tubuh mereka bersua. Menyalurkan hangat dalam pelukan penuh cinta. Mengurai segala nestapa dan lelahnya jiwa . Raganya seperti menemukan rumah tempat ia kembali. Dan hanya pada kekasihnya semua rasa itu membuncah.


Dave menyelesaikan masakannya, mematikan kompor. Mengurai pelukan sang kekasih. Dengan lembut Dave menggenggam dua tangan itu. Memutar tubuhnya untuk saling berhadapan dengan wanitanya.


Tanpa bicara,Dave menundukkan kepala. Mendaratkan sebuah kecupan mesra di bibir wanitanya.


" Morning kiss " ucapnya yang disambut senyum oleh Vea. Kembali ia menempelkan bibirnya, kali ini bukan hanya sekedar kecupan. Tapi lumaatan lembut,membuat Vea memejamkan mata. Menikmati tarian bibir keduanya.


Dave melingkarkan tangan sang kekasih di lehernya. Sedangkan tangannya meraih tengkuk Vea. Membuat ciuman itu semakin dalam dan intens. Suara kecapan dari bibir keduanya mengisi sunyi dapur kecil itu.


Lidah keduanya sudah menari dengan lihainya,saling sesap, menyusuri rongga mulut itu dengan penuh gairah. Ciuman selamat pagi itu sudah memanas. Ada hasrat yang yang terpantik. Hingga akhirnya gairah berkobar dan menyambar.


Rasa tak lagi menjejak di bumi ketika satu pelepasan seakan meloloskan tulangnya. Hanya karena mulut dan lidah yang mempermainkannya. Dave, selalu bisa membuatnya untuk tunduk di bawah kendali dalam sentuhan penuh cinta yang mendamba.


Dan pagi itu diawali sepasang kekasih,yang mendaki puncak hasrat yang meninggi.


Mengayuh cepat hingga desahaan lolos dari bibir keduanya. Melenakan syaraf yang menegang. Hingga akhirnya terkapar dalam kenikmatan yang memuaskan.


Sepasang kekasih itu melewati pagi dengan semangat yang berbeda. Berpeluh nikmat yang membuat mereka mandi bersama. Hingga akhirnya sarapan istimewa yang tersaji dengan masakan yang di olah penuh cinta. Membuat pagi itu terasa lebih indah dan berwarna.


Dave menyematkan sebuah kecupan lembut di kening sang kekasih setelah seluruh ritual pagi di lalui. Dengan hati yang sebenarnya berat. Dave meninggalkan apartemen wanitanya untuk kembali bergelut dengan segala permasalahan yang menimpa perusahaannya.


Vea yang hari ini berangkat sedikit lebih siang hanya mengantar kekasihnya sampai pintu apartemen saja. Menghadiahi lelakinya dengan sebuah kecupan mesra. Sebagai bekal semangat untuk lelakinya melalui hari ini.


Vea menatap punggung lebar yang kian menjauh dari hadapannya. Menyisakan tanya tentang apa yang sedang di hadapi lelaki itu. Namun ia berusaha menghargai sang kekasih yang memilih diam. Mungkin ada ego yang sedang di pertahankan. Ia hanya bisa menghela nafas, mencoba mengerti bahwa tak semua hal harus ia ketahui.


Dan benar, lelaki itu sedang mempertahankan egonya. Ia tak ingin lemah di hadapan wanita yang dicintainya. Ia harus bisa melewati semua ini. Hingga ia bisa menengadahkan kepala. Melangkah dengan bangga. Ia harus bisa menjadi tumpuan wanitanya.


Alivea Dwilangga, wanita yang terlahir dengan gelimang harta. Membuat Dave bertekad untuk memantaskan diri agar sejajar dengan wanita itu. Ia tak mungkin menawarkan kesusahan saat kekasihnya saja terlahir penuh kebahagiaan.


Ia bertekad menyelesaikan segala permasalahannya. Suntikan booster dari sang kekasih cukup untuk bekal bertempurnya hari ini. Moodnya meningkat pesat. Ia siap melibas orang-orang yang hendak meruntuhkan usahanya.


" Cell bagaimana ?" tanya Dave lewat sambungan telepon saat ia masih dalam perjalanan menuju kantor.


"Ada beberapa bukti yang sudah saya kantongi tentang DAJ desaign corp. Ternyata mereka sering bertindak curang pada klien". terang Marcell.


" Oke,kita bahas nanti " putus Dave , tatapan matanya begitu tajam. Tersenyum menyeringai,siap berhadapan dengan Daren Atmajaya. Lihat siapa yang akan terjatuh ?.