If

If
Kecewa



Malam dimana Dave mengundang keluarga Vea akhirnya datang juga. Ia merencanakan pertemuan di sebuah ruang VVIP restoran terkenal untuk menjamu keluarga sang kekasih. Dave telah berada di sana dengan sang mama yang tampil anggun malam itu.


Dave melihat jam tangannya,duduk gelisah karena kekasihnya dan keluarga belum datang.


'' Tenang Dave mungkin mereka masih di jalan '' ucap sang Mama menenangkan. Dave berusaha tersenyum,meski ia sedikit khawatir pasalnya Vea dan keluarganya sudah telat 15 menit.


Sesungguhnya bukan hanya Dave yang khawatir,karena wanita yang duduk di sampingnya pun merasakan hal yang sama. Bukan karena keterlambatan keluarga kekasih putranya, namun rasa khawatir akan penolakan dari keluarga Vea. Ia takut kehadiran dirinya di sana menjadi penghambat cinta anaknya. Ia sadar selama ini hidupnya tidaklah baik.


Menjadi simpanan seorang pengusaha , membuat dirinya dilabeli orang ketiga. Dan yang pasti bukan wanita baik-baik. Ada ketakutan yang menyeruak di hatinya. Biar bagaimanapun ia tahu keluarga kekasih anaknya adalah pengusaha. Ia tahu jejak hitamnya sudah cukup di kenal di kalangan pengusaha. Karena ia berkali-kali berganti pasangan untuk di jadikan mereka penghangat ranjang. Yah,ia tak lebih dari wanita penghibur. Yang menjual dirinya untuk memudahkan hidup dengan menghamba pada mereka yang berdompet tebal.


Suara pintu ruang VVIP terbuka, Mama Vina dan Dave menoleh kearah yang sama. Seorang pelayan restoran mengantarkan keluarga Vea. Nampak berjalan paling depan, Hermawan yang berjalan dengan bergandeng tangan dengan istrinya. Lalu diikuti Vea yang membuat Dave terpesona dengan penampilannya yang selalu membuatnya tak bisa berpaling. Paling belakang Aksara dengan wanita cantik yang kini telah kembali langsing setelah melahirkan.


Dave berdiri menyambut kedatangan keluarga sang kekasih. Menyalami Papa Vea dengan senyum yang terkembang.


''Selamat malam Dave, maaf kami terlambat " ucap Papa sambil menepuk pundak Dave.


'' Malam om,tidak apa-apa '' sahut Dave, selesai menyalami sang calon menantu Papa beralih pada wanita yang kini berdiri menunduk dengan gelisah.


Pak Hermawan menyipitkan mata, memastikan penglihatannya. Bukan sosok asing yang berdiri di hadapannya kini. Ia mengenal wanita itu.


'' Selamat malam Pak, saya Vina Mamanya Dave '' dengan senyum di paksakan Vina menyalami Hermawan. Lelaki itu menerima uluran tangan Vina dengan tatapan tajam pada raut wajah canggung di hadapannya.


'' Hermawan ayah Vea '' sahut Pak Hermawan datar. Kemudian lelaki itu duduk di salah satu kursi.


Giliran Mama Atika menyalami calon besan, tak lupa saling cipika cipiki. Dan saling memperkenalkan diri. Berlanjut sampai Aksara dan Claudia. Hingga mereka menempati setiap kursi yang telah di sediakan.


'' Jadi jeng ini punya butik ?,wah kapan-kapan saya pasti mampir sama anak-anak. Jeng juga harus datang ke salon saya. Nanti sama-sama kita perawatan '' sambut antusias mama Atika setelah mereka saling bercerita tentang kegiatan harian mereka.


'' Pasti jeng,pasti saya mampir "


Dan obrolan para wanita berpusat pada fashion dan segala perawatan mempercantik diri. Sedang para lelaki tak jauh dari soal bisnis.


Obrolan santai seraya menunggu hidangan makan malam itu cukup mengakrabkan mereka. Tapi tidak dengan Hermawan yang sama sekali tak mau berbincang dengan Vina. Jelas kentara ada ketidaksukaan dari tatapan lelaki itu pada wanita yang menjabat sebagai ibu dari Dave Mahendra .


Makan malam telah tersaji dengan berbagai menu. Seperti biasa Dave memperlakukan wanitanya dengan romantis. Memotongkan steak milik Vea dan segala hal kecil seperti menuangkan air putih di gelas dan mengambilkan apa yang hendak Vea makan. Semua itu tak luput dari perhatian orang tua mereka.


'' Maaf om,tante,jadi gini rencananya Dave ingin melamar Vea secara resmi . Secara pribadi saya sudah melamar Vea,dan dia sudah menerima '' ucap Dave yang kemudian menatap penuh cinta pada wanita di sampingnya. Dengan senyum tak luntur dari bibir lelaki itu. Menandakan bahagia hatinya yang membuncah.


'' Untuk itu,saya berencana melamar putri Om dan Tante dua minggu lagi secara kekeluargaan.'' lanjut Dave.


Hening sesaat, semua mata tertuju pada Hermawan yang tampak bimbang.


'' Dua minggu lagi ?,apa itu tidak terlalu cepat ?'' tanya Hermawan yang mengagetkan mereka semua. Hati Dave mencelos, restu yang kemarin telah di genggamannya ternyata tak mempermudah keinginannya. Atau justru restu itu hendak di cabut kembali ?.


Rasa cemas menguasai hati Dave. Begitupun Vea yang tampak kecewa dengan pertanyaan sang Papa.


'' Bukannya lebih cepat lebih baik Pa ?'' Aksara bersuara, mengurai ketegangan yang terlihat jelas di meja makan itu.


'' Mungkin sebaiknya tidak usah terburu-buru,saya mau Dave selesaikan dulu tender yang baru di dapatkan Dave. Saya mau semuanya berjalan lancar tanpa di ganggu urusan pribadi dulu. Kalau lamaran di adakan dalam waktu dekat ini bisa di pastikan fokus kalian akan terbagi. '' tegas Papa yang langsung membuat Vea menatap nanar sang Ayah. Dan Dave serasa kehilangan separuh semangat hidupnya.


'' Pa,Aksa pikir gak akan jadi masalah kalau cuma untuk acara lamaran. Toh semua bisa di handle EO . Mereka tetap bisa bekerja seperti biasa. '' Aksara merasa keberatan dengan keputusan Papa.


'' Pokoknya itu keputusan Papa, selesaikan dulu pekerjaan yang baru kalian mulai. ''


'' Tapi Pa...'' Vea hendak bersuara namun Papa langsung menyahut.


'' Tidak ada tapi-tapian, Papa mau lihat kinerja kalian dulu '' pungkas Papa yang jelas membuat kecewa merek semua.


Bahkan Mama hanya mampu menggelengkan kepala. Tak habis pikir dengan keputusan suaminya. Semua terdengar mengada-ada. Tapi ia sudah cukup memahami karakter sang suami yang tak mungkin bisa di bantah. Entah apa yang ada di pikiran lelaki itu.


Mama Vina tertunduk lesu. Haruskah karma masa lalunya di terima sang anak ?. Yang bahkan tak tahu apa-apa. Ia merasa penguluran waktu yang di lakukan Hermawan karena dirinya. Kini lagi ia menorehkan luka pada putra semata wayangnya.


Vea tahu kekasihnya sedang tak baik-baik saja. Ia menggenggam tangan Dave , saling menguatkan dalam diam. Meyakinkan hati bahwa semua akan mereka lalui bersama.


Tak ada lagi yang bersuara sampai Hermawan pamit untuk pulang diikuti Aksara dan istrinya.


'' Kak , kalian pulang dulu,nanti Vea nyusul. Bilang sama Papa dan Mama '' ucap Vea saat Aksara berpamitan. Aksara mengangguk seraya mengusap kepala adiknya, saat berpamitan dengan Dave Aksara menepuk pundak lelaki itu sebagai bentuk dukungan.


Terakhir Mama Vina berpamitan meninggalkan sepasang kekasih yang masih terduduk dalam diam. Tangan mereka masih saling menggenggam. Dengan segala gundah yang menggelayut di hati keduanya.