If

If
Obsesi Daren



Daren semakin mendekat kearah Vea. Setelah berhasil menyudutkan wanita itu kini Daren mensejahterakan wajahnya pada wajah Vea.


" Gak usah macem-macem , kamu ya !'' sengit Vea ,Dave menyeringai lebar. Menelusuri wajah Vea dengan tatapan nakalnya.


'' Aku gak macem-macem,cuma minta satu macem aja . Tubuh kamu '' bisik Daren dengan bada menjijikkan.


'' Jaga mulut kamu ya !'' ucap Vea seraya memundurkan wajah karena wajah Daren yang semakin mendekat padanya.


'' Wuiiiiih galak juga kamu bikin aku tambah penasaran,seberapa hot kamu di ranjang '' ucap Daren benar-benar membuat Vea muak. Vea menepis tangan Daren yang hendak menyentuh wajahnya.


''Aku bisa laporin kamu atas tuduhan pelecehan !" ancam Vea yang justru membuat Daren tergelak.


'' Ada saksi ?,ada bukti ?,gak kan ?. '' tanya Daren dengan senyum miring. Daren semakin berani menyentuh permukaan kulit lengan Vea yang terbuka. Membuat Vea terus menepisnya dengan kasar.


'' Seharusnya aku yang ngerasain tubuh indah kamu pertama kali. Bukan si berengseek Dave itu '' ucap Daren dengan tatapan tajam.


Daren memegang dagu Vea, tangan Vea berusaha untuk menepis, namun justru kedua tangan Vea di pegang dengan satu tangan Dave yang memang memiliki telapak tangan yang cukup besar. Di taruhannya tangan Vea di belakang tubuh Vea tanpa Daren melepas cengkeramannya.


Vea memalingkan wajah saat Daren hendak mencium bibirnya. Namun dagu Vea yang berada dalam cengkeraman Daren membuatnya tak bisa berpaling. Daren melumaat bibir Vea dengan rakusnya. Sementara Vea memejamkan mata. Mengatupkan mulut agar lidah Daren tak merangsek masuk ke dalam mulut.


Brakk brakk brakk


Suara pintu di gebrak seseorang dari luar. Membuat Daren melepas bibir Vea. Mendengus kesal sembari menoleh kearah pintu. Genggaman tangan Dave sedikit mengendur. Dan kakinya sedikit mundur tak terlalu mepet dengan kaki Vea.


" Sayang !, Ve ! . Kok pintunya di kunci '' jelas suara Dave yang memanggil dirinya. Daren tampak semakin kesal. Membuat dirinya lengah. Hal itu di manfaatkan Vea untuk menendang ************ pria mesum itu.


" Brengseek !!!, sialaaan !!! " umpat Daren dengan nada tertahan sambil memegang ************ dengan wajah meringis menahan sakit.


" Mampus lo " umpat Vea seraya mendorong Daren yang sedang membungkuk menahan sakit yang tak terkira.


"Sayang !! "Suara Dave semakin keras. Vea berlari meninggalkan Daren yang kini berjongkok .


" Iya Yang "sahut Vea yang tergesa-gesa ke arah pintu.


Vea membuka pintu dengan cepat,dan saat mendapati Dave berdiri di depan pintu. Vea langsung menubruk lelaki itu. Air mata yang sedari tadi di tahannya langsung tumpah tanpa permisi.


Di dalam sana tadi Vea berusaha sekuat tenaga. Untuk tidak meneteskan air mata, hingga tak tampak lemah di hadapan Daren. Namun saat mendapati Dave semua luruh tak terkendali.


" Daren Yang " sahut Vea lirih di sela tangis yang membuatnya tergugu.


" Daren !, dia ngapain kamu Yang ?" tanya Dave sembari melepas pelukannya. Menatap wajah penuh air mata milik kekasihnya. Vea tak menyahut, ia justru menutupi wajahnya . Tangisnya semakin menjadi, terbayang seandainya Dave tak datang. Entah apa yang Daren lakukan padanya.


Dengan raut wajah mengeras,Dave melepas tubuh Vea. Ia masuk ke dalam kamar mandi. Tepat saat Dave masuk,Daren sedang berusaha berdiri.


" Anjiiing,lo apain cewek gue !!" bentak Dave yang telah berdiri di hadapan Daren. Dave langsung menarik krah baju Daren dan mendaratkan bogem mentah tepat di sudut bibir Daren.


Daren yang tak siap dengan serangan Dave langsung terhuyung dan jatuh. Daren meludah merasakan rasa asin di mulutnya.


" Bangkee lo ya ? " umpat Daren seraya berusaha berdiri. Namun belum sempat kakinya berpijak dengan tepat,kaki Dave sudah mendarat di perutnya.


" Sayang , cukup !" cegah Vea yang melihat Dave hendak menyerang Daren kembali. Vea memeluk tubuh kekasihnya. Mengusap dada Dave yang naik turun karena amarah yang menghantam hatinya.


" Udah Yang,dia itu gila. Nanti kamu yang bermasalah. Please udah " ucap Vea berusaha menenangkan. Daren melihat adegan romantis di depannya meludah dan tertawa sinis.


" Dasar jalaang !" sinis Dave dengan tatapan meremehkan pada Vea.


" Tutup mulut lo ya " gertak Dave.


" Udah Yang udah. kita pergi dari sini. Malu nanti kalau kelihatan orang. Aku gak mau jadi bahan omongan " lirih Vea membuat Dave menarik nafas panjang. Menenangkan hatinya yang bergejolak. Kemudian membalas pelukan sang kekasih.


" oke kita pergi " ucap Dave. Ia paham maksud wanitanya. Kalau sampai kejadian ini di ketahui orang ,jelas akan sangat memalukan. Vea yang baru saja bergabung dengan Dwilangga grup pasti akan tercemar namanya. Belum lagi jika publik tahu siapa yang hendak melecehkan Vea. Sang mantan calon suaminya yang ia tinggalkan saat hari pernikahan. Tak bisa di bayangkan apa penilaian publik tentang Vea.


Bisa saja orang menertawakan dia, dengan anggapan sebagai karma karena telah kabur di hari pernikahan. Apalagi publik tak ada yang tahu tentang latar belakang Vea kabur di hari pernikahannya.


Dave membawa Vea keluar dari pintu samping. Yang tidak terlihat dari ballroom tempat diadakannya acara. Dave menggenggam tangan Vea, membawa pergi sang kekasih dalam diam.


Sampai di mobil pun Dave masih bungkam. Raut wajahnya tampak keruh. Vea juga tak mengajak berbicara. Ia masih terperangkap dalam dunianya sendiri. Membayangkan kemungkinan jika Dave tak keburu datang. Tubuhnya terasa menggigil,rasa takut menyergap. Dan hanya air mata yang terjatuh sebagai bentuk rasa yang bergemuruh dalam dada.