
Senyum menawan menghiasi bibir Vea pagi itu. Setiap sapaan para karyawan di sambutnya dengan senyum lebar. Turun dari lift, seperti biasa, sebelum masuk ruangannya ia melewati ruangan sang asisten.
" Pagi Bu Vea !'' sapa Diaz yang selalu menyambutnya dengan senyum.
" Pagi Mas Diaz,oh ya Mas,tolong panggilkan dua office boy ke ruangan saya ya !'' titah Vea sebelum memutar handle pintu dan membukanya.
" Baik bu " sahut Diaz yang kemudian meraih gagang telepon. Hendak menghubungi bagian office boy untuk memintanya datang ke ruangan sang atasan. Vea berlalu masuk ke dalam ruangan.
Sepertinya mood Vea pagi itu benar-benar sedang bagus. Terdengar dari suaranya yang berdendang meski tak jelas namun cukup menggambarkan situasi hati yang sedang bahagia. Vea menyalakan laptop di hadapannya, memakai kacamata dan mulai memeriksa beberapa berkas sebelum akhirnya sebuah ketukan membuyarkan konsentrasinya.
" Masuk !" titah Vea , kemudian muncul Diaz dari balik pintu.
" Maaf bu, office boy yang ibu minta sudah datang. " terang Diaz yang berdiri di ambang pintu.
" Tolong untuk mereka membersihkan ruang sebelah, karena mulai hari ini akan ada yang menempati." Ujar Vea yang lumayan membuat Diaz terkejut pasalnya tak ada konfirmasi apapun pada dirinya tentang adanya penambahan karyawan di lantai itu.
" Maaf bu,ada karyawan baru ?" tanya Diaz yang penasaran.
" Mmm,mungkin tepatnya pembimbing saya Mas, karena beliau di minta khusus oleh Papa untuk membantu saya belajar jadi pimpinan,agar kinerja saya lebih maksimal ". terang Vea. Diaz hanya mengangguk meski sebenarnya ia tak sepenuhnya paham.
" Ya sudah kalau begitu saya arahkan merek dulu Bu " pamit Diaz yang langsung diiyakan oleh Vea. Membayangkan hari ini Dave resmi bergabung di perusahaannya ada gejolak bahagia yang meletup-meletup di dada. Rasanya pasti sangat menyenangkan bila bekerja dengan orang yang di cintai.
Baru akan memulai pekerjaannya kembali,suara ketukan di pintu kembali terdengar.
" Ya, kenapa mas Diaz ?" tanya Vea yang mengira bahwa Diaz lah yang mengetuk pintu. Tapi saat daun pintu itu terbuka justru wajah yang sedang di tunggu lah yang tampak.
" Sayang !" seru Vea yang kemudian bangkit dari kursi kebesarannya. " Aku pikir Mas Diaz " sambung Vea seraya berjalan menyambut kedatangan sang kekasih. Dave yang telah melangkah masuk lantas meraih pinggang Vea dan memeluknya.
" Ah ternyata calon istri ku malah memikirkan lelaki lain. Sakit Yang " ucap Dave mendramatisir keadaan dengan memukul pelan dadanya sendiri. Membuat Vea tertawa dalam dekapan kekasihnya.
" Uluh-uluh sayangnya aku tuh ceritanya cemburu ." ucap Vea yang kini menengadah menatap wajah Dave yang ia tangkup dengan dua telapak tangannya. Tangan Dave masih melingkar di pinggang Vea membuat tubuh bagian bawah mereka saling menempel.
" Nakal ya " ucap Dave gemas dengan tingkah manja sang kekasih.
" Biar jadi skandal Yang " ujar Vea seraya terkikik geli sendiri dengan ucapannya.
" Iya, judulnya "Scandal with my sexy bos" bisik Dave di telinga Vea, membuat gelak tawa Vea pecah .
Vea melepaskan tangan Dave yang melingkar di pinggang. Menggandeng tangan itu dan membawanya untuk duduk di sofa.
" Aku kerjanya di ruangan ini juga kan Yang ?'' tanya Dave yang kini duduk di sofa bersebelahan dengan sang kekasih .
" Gak dong Yang, ruangan kamu di sebelah.Ada ruang kosong yang rencananya bakal di isi wakil direktur . Tapi karena,ini juga akunya masih belajar dan atasan sebenarnya juga masih kak Aksa jadi sementara wakil direktur kosong. " jelas Vea yang kini melepaskan kacamata yang sedari tadi bertengger manis di hidung mancungnya.
" Yah, padahal di bayangan aku tuh kita bakal kerja seruangan terus duduk pangku-pangkuan. Bakal mesra-mesraan seharian " ungkap Dave dengan wajah yang tampak berimajinasi dengan liar. Vea menutup wajah Dave dengan sebelah tangannya, seraya berucap " Dasar mesum !" .
Dave tertawa keras,sedang Vea mencebikkan bibir. Kemudian beranjak menuju kulkas mini di ruangannya dan mengambil sebotol minuman untuk di berikan kepada sang kekasih.
" Terus kerjaan kamu di kantor gimana Yang, kalau kamu di sini ?" tanya Vea yang kembali duduk dan menyodorkan sebotol minuman pada Dave.
" Gampang lah,di sana udah ada Marcell yang bisa aku percaya. Dari sini aku juga masih bisa ngontrol kerjaan. Kalau ada yang gak bisa di wakilkan baru aku terjun langsung ". sahut Dave yang kemudian meminum teh kemasan yang di berikan oleh wanitanya.
" Maaf ya, Papa ngeberatin kamu. Pake syarat-syaratan segala cuma ngasih restu doang ". sungut Vea,Dave tersenyum lembut lalu membelai pipi kekasihnya yang tampak cemberut itu.
" Gak apa-apa, jangankan cuma buat bantu kamu kerja di sini. Buat turun langsung panas-panasan di proyek aku juga mau kalau itu demi kamu" tutur Dave serius. Yah untuk mendapatkan restu calon mertuanya akan dia lakukan apa saja. Baginya Vea kini adalah hidupnya. Tujuan yang akan ia perjuangkan semampu yang ia bisa.
Vea menatap haru kekasihnya dan memeluk tubuh tegap itu.
" I love you " ucap Vea dengan binar mata penuh cinta.
" I love you more and more " sahut Dave dengan menyematkan kecupan manis di kening Vea. Sejenak keduanya larut dalam romansa pelukan mesra. Melupakan tumpukan berkas yang harus segera Vea periksa.