If

If
Cerita Dua Lelaki



Derap langkah sepatu Dave terdengar nyaring di lobby kantor miliknya. Hampir semua yang mendengar menoleh ke asal suara. Sapaan serta senyum ramah menyambut bos di tempat itu.


" Maaf Pak,ada yang menunggu bapak di ruangan " suara lembut dari salah satu wanita yang bertugas menjadi salah satu FO di sana. Dave sedikit melambat kan langkah, kemudian menoleh pada wanita cantik berbalut pakaian pres body menampilkan seluet tubuh seksi. Pemandangan yang selalu menggugah selera seorang Dave. Tapi tidak untuk sekarang. Karena pikirannya sudah terbelenggu oleh satu nama. Siapa lagi kalau bukan Alivea Dwilangga.


" Siapa yang menunggu saya ?" tanya Dave yang kini telah berhenti di hadapan wanita berbibir merah itu.


" Katanya teman anda pak "


" Laki-laki atau perempuan ?" jelas Dave sedikit penasaran. Sepagi ini telah ada yang berkunjung ke kantornya.


" Laki-laki Pak "sahut sang wanita. Ada sedikit rasa lega di hati Dave. Ia sempat berpikir mungkin Faradina yang menghampiri nya ke kantor karena kejadian kemarin.


" Oke, terima kasih" ucap Dave tanpa menunggu sahutan sang karyawan. Ia melangkah masuk ke dalam lift,menuju ruangannya.


" Pagi Pak Dave,di dalam Pak Gerald sudah menunggu " sang sekretaris yang menyapa saat Dave melewatinya. " Hmm" hanya gumaman dan anggukan saja sebagai jawaban. Tak ada lagi kata rayuan atau senyum menggoda untuk menjerat sekertarisnya agar rela di bawah kungkungannya.


Melihat perubahan atasannya akhir-akhir ini membuat sang sekretaris sedikit kesal. Ia tak pernah lagi mendapat uang tambahan dan juga tak pernah lagi berbagi kenikmatan bersama bos tampannya itu.


Dave melenggang santai membuka pintu ruangannya, mendapati Gerald yang berbaring di sofa dengan mata terpejam.


" Lo pikir kantor gue hotel ?" celetuk Dave sembari melempar tas yang dipegangnya. Gerald yang sedang mengistirahatkan tubuhnya mendengus kesal saat tas Dave mendarat di perutnya.


" Rese Lo ah,lagi bete gue " gerutu Gerald seraya melempar tas kembali pada pemiliknya. Dengan gesit Dave menangkap tas miliknya.


" Kenapa Lo, pagi-pagi butek gitu muka ?" tanya Dave setelah meletakkan tas di meja kerjanya, kemudian melangkah mendekati Gerald yang duduk dengan wajah kusut.


" Nyokap gue datang. Pusing gue di tagih nikah mulu. Pacar aja gak ada " curhat sang sahabat. Dave tersenyum sinis sembari menjatuhkan badan di samping Gerald.


" Makanya move on Lo "


" Halah kayak yang sendiri nya siap nikah aja" celetuk Dave yang tanpa sadar membuat raut wajah sang sahabat sedikit berubah.


" Apa hubungan laki-laki dan perempuan harus berakhir dengan sebuah pernikahan?" pertanyaan konyol yang keluar dari bibir Dave. Sebuah pertanyaan yang lebih untuk dirinya sendiri. Yang sampai detik ini belum terpikir untuk mengikat diri pada sebuah ikatan bernama pernikahan.


" Terus menurut Lo,cukup berakhir di ranjang tanpa ikatan ?, sadar woy Lo hidup di mana ?, it's oke kalo Lo hidup di negara bebas. Tapi di sini,Lo gak bisa gitu. Norma masih jadi hal penting di sini ".


" Norma ?, mengikuti norma tapi pada akhirnya berpisah dan meninggalkan banyak luka." ucap Dave dengan tatapan menerawang.


" Emang Lo pikir dengan sebuah hubungan tanpa pernikahan gak akan pernah jadi luka ?, sama Dave sama ". Dave menghela nafas panjang,dan menjatuhkan diri di sandaran sofa.


" Ya maka dari itu,gue gak pingin terikat,gue gak pingin jatuh cinta. Tapi kenapa hati gue malah ingkar. Kenapa gue mesti jatuh cinta dan kenapa gue ingin memilikinya ?. Ingin menjadikan dia satu-satunya. Kenapa hati gue berkhianat Ge ?".ucap Dave yang merasa gundah tiba-tiba hadir di hatinya.


" Lo dari rumah sakit ?, kucel banget Lo " ucap Dave melihat penampilan sahabatnya yang tak ada klimis-klimisnya.


" Iya,gue ada piket tadi malem baru balik. Mau pulang males direcokin nyokap. Mana hari ini katanya gue mau di kenalin sama anak temennya lagi. Males banget,kayak yang udah gak laku aja gue".


" Karena nyokap Lo tau,anaknya gak bakal laku kalo terus menutup diri. Udah saatnya Lo mencoba membuka hati buat orang lain Ge." saran Dave yang melihat sahabatnya terlalu lama menutup hati. Bagi seorang Gerald" first love never die".


" Gue tanya sama Lo, seandainya Vea pergi dari hidup Lo. Apa semudah itu Lo gantiin dia dengan orang lain di hati Lo ?"


" Kok jadi gitu pertanyaannya ?"


" Karena sama, Vea cinta pertama Lo begitu juga Radisti dia cinta pertama gue. "


" Kalau sampai Vea pergi dari hidup gue,gue gak bakal bisa jatuh cinta lagi kayaknya " lirih Dave. Dia tak bisa membayangkan kehilangan wanita yang telah memiliki seluruh hatinya.


" Kalau gitu sama,gak muda Dave buat gantiin seseorang yang udah milikin hati kita seutuhnya".


Hening, dua lelaki itu kini sama-sana menengadah. Menatap langit-langit ruang kerja Dave. Entah apa yang di pikirkan dua lelaki dewasa itu . Namun sampai beberapa saat mereka masih setia dalam diamnya.


Tok...tok...tok..


Sampai suara ketukan pintu membuyarkan lamunan mereka.


" Ya masuk !" titah Dave yang kini bangkit dan berjalan kearah meja kerjanya. Gerald tak perduli dengan seseorang yang masuk kedalam ruangan sang sahabat. Ia masih setia berbaring di sofa.


" Pagi Pak !" sapa Shandy salah satu desainer interior yang bekerja padanya.


" Pagi Shan,duduk !, ada apa ?" Dave mempersilahkan karyawannya duduk di kursi yang berhadapan dengannya.


" Ini pak,tadi pagi saya mendapat telpon dari ibu Fara, beliau bilang saya yang harus menghandle untuk interior di kantor baru beliau. Padahal kemarin beliau bilang ingin bapak yang menghandle nya langsung" jelas Shandy yang sedikit membuat kaget Dave. Tak menyangka wanita itu masih mau menggunakan jasa di perusahaannya.


" Karena kemarin ada sedikit kendala,saya juga masih mengerjakan beberapa pekerjaan yang mengharuskan saya turun langsung. Jadi untuk Bu Fara ,kamu yang tangani" Jawab Dave seakan dia yang memiliki pengaturan untuk itu. Shandy tampak mangut-mangut mendengar penuturan sang bos.


" Beliau hari ini minta bertemu,jadi saya pergi sendiri ?" tanya Shandy memastikan.


" Iya kamu pergi sendiri,karena setengah jam saya ada rapat dengan klien". pungkas Dave. Shandy setelahnya pamit meninggalkan ruangan Dave. Dave berdiri, menghampiri kembali sahabatnya yang di sofa. Ia tersenyum miring mendapati sang sahabat terpejam dengan nafas teratur. Sepertinya Gerald benar-benar tertidur.


Dave melangkah mendekati jendela kaca yang menampilkan pemandangan di luar sana dari dalam ruangan. Tangannya berada dalam saku celana, tatapannya jauh menerawang. Pembicaraan tentang pernikahan,seperti momok yang menghantui dirinya. Ia kini mulai ragu pada hubungan yang ia jalani. Akan ia bawa kemana hubungan yang ia jalani ?. Ia masih tidak mempercayai hubungan bernama pernikahan.