
Wajah merah padam tersirat, jelas kemarahan di wajah lelaki yang mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Untung jalanan tak terlalu padat siang menjelang sore itu. Sehingga Dave bisa melajukan mobil sportnya dengan selamat. Sampai di sebuah gedung yang tak terlalu tinggi. Dave memarkir mobilnya namun tak langsung turun. Ia menjatuhkan kepala di sandaran kursi dengan mata terpejam.
Amarahnya belum luruh,kejadian di cafe tadi seakan menjatuhkan harga dirinya yang ia nilai terlalu tinggi. Sebenarnya ia tadi hampir saja meninggalkan cafe setelah makan siang dengan Ge,namun saat hendak pergi dari parkiran di lihatnya wanita yang menghantuinya beberapa hari ini. Namun tak di nyana , keputusannya menemui wanita itu berujung satu tamparan keras yang menjatuhkan dirinya hingga terjungkal jatuh ke jurang.
Pesona yang selalu memukau wanita dan kekayaan yang selalu di agungkan ternyata seakan tak berpengaruh pada wanita yang baru ia ketahui namanya,Vea. Mencengkeram erat stir mobil dengan kedua telapak tangannya. Wajahnya mengeras , kesombongan di dirinya seakan terinjak-injak.
Egonya berteriak,banyak wanita menginginkan kehangatannya,menginginkan hartanya. Vea hanya wanita sombong yang tak ada apa-apanya. Keluar dari dalam mobil dengan memanting keras pintu mobil. Berjalan angkuh melewati lobby menuju lift yang akan mengantarkannya naik ke lantai ruangannya.
Sesekali ia berpapasan dengan para karyawan dan saat berpapasan dengan karyawan wanita ia seakan ingin menunjukkan pesona playboy nya. Dan keangkuhannya terpancar nyata saat ia mendapati hampir setiap wanita yang melihatnya menatap kagum pada dirinya.
Ia semakin mengukuhkan diri bahwa ia memang mempesona. Dan menganggap Vea hanya wanita sombong yang sok jual mahal. Namun harga dirinya yang terluka oleh seorang wanita ternyata masih menyisahkan amarah di hatinya.
" Meisya ikut saya '' ucap Dave pada salah satu staf,yang terbilang cantik dan tentu seksi. Berpakaian cukup berani dengan atasan ketat dan rok span pendek sejengkal di atas lutut. Sepatu hak tinggi menunjang penampilan tubuh tinggi semampai.
Tanpa bertanya ia mengikuti atasannya,masuk kedalam ruangan Dave. Dave menghentikan langkah tepat setelah masuk ruangan , Meisya yang mengekor di belakangnya ikut berhenti. Dave membalikkan tubuh. Menutup pintu,kemudian menguncinya.
Meisya terpaku saat pandangan Dave berubah padanya. Pandangan selera yang membuatnya meneguk ludah. Dave mendekatinya dan mengungkung tubuhnya di daun pintu yang telah tertutup rapat.
Membius Meisya dengan tatapan matanya yang dalam. Dave semakin menunduk dan perlahan mencium bibir merona merah itu. Tak ada penolakan hingga ciuman itu berlangsung lama dan tangan Dave tak tinggal diam berkelana mencari mangsa. Sudut bibirnya terangkat,ia sedang mengembalikan ego diri. Bahwa ia memang layak di inginkan wanita.
Dan bodohnya saat pendakian itu hampir mencapai puncak sekelebat wajah penuh amarah menghampirinya.
" Arrrgh Vea brengsek" umpatnya dengan terengah saat pencapaian rasa itu membuncah. Meisya terbelalak kaget saat menyadari bahwa lelaki yang mengungkungnya bukanlah sedang menginginkan dirinya. Sakit pasti ,merasa terhina ia menjadi pelampiasan lelaki yang telah lama di impikannya. Namun ia tak berani bersuara,ia pun sadar tak ada hubungan diantara keduanya.
" Bersihkan dirimu,dan gunakan kartu ini sesukamu". ucap Dave dingin seraya meletakkan kartu kredit di hadapan Meisya. Meisya tersenyum kecut kemudian masuk kamar mandi yang ada di ruangan Dave membersihkan diri dan kembali memakai pakaiannya.
Saat keluar kamar mandi Dave telah kembali rapi. Berdiri di dekat jendela menatap langit yang tertutup awan. Dengan sebatang rokok terselip diantara jari tangannya.
" Saya permisi pak ". pamit Meisya.
" Hmm" hanya gumaman yang keluar dari mulut Dave,namun sudut matanya melirik Meisya yang mengambil kartu yang tadi di berikan olehnya. Ia tersenyum sinis tanpa menatap Meisya yang keluar ruangan.
Ya ,sudah seharusnya seperti itu wanita kepadanya. Bukan menolak dan menamparnya. Tapi kenapa wajah penuh amarah Vea saat ia menyodorkan cek tadi terus menghantui ?. Terlalu terlukakah harga dirinya? ,atau ada sedikit rasa bersalah yang tanpa sadar menyelinap masuk kedalam hati.
Berkali-kali ia menghembuskan nafas,namun tak mengurangi kerisauan hatinya. Baru kali ini dalam hidupnya ia tak bisa semudah itu melupakan wanita teman tidur semalamnya. Apakah karena ia yang mengambil mahkota wanita itu ?, atau ia merasa bersalah karena memanfaatkan keadaan orang tal sadar karena mabuk. Dave hanya bisa menjambak rambutnya sendiri karena kesal dengan otak yang tak sejalan dengan egonya.
" Wanita sialan" gerutu Dave sambil mematikan putung rokok saat ia telah kembali duduk di kursi meja kerjanya. Ada beberapa pekerjaan yang belum selesai. Tapi otaknya sedang tak bisa di ajak berpikir. Akhirnya ia memilih pulang. Mungkin di rumah ia bisa menjernihkan otaknya yang terkontaminasi wanita bernama Vea. Yang membuatnya selalu teringat wanita yang ia akui kecantikannya. Meski harga dirinya telah dilukai wanita itu.