
Setengah tergesah ,dua manusia keluar dari dalam mobil. Berjalan dengan bergandengan tangan. Melewati lobby tanpa menoleh kanan kiri. Cepat sampai kamar,mungkin itu yang ada di benak kedua manusia yang terbakar hasrat.
Sampai di lift tak ada orang di dalam,mereka langsung bergegas masuk. Setelah lift tertutup tubuh mereka saling mendekat. Rasa yang semakin berkobar,membuat mereka lupa berada dimana. Bibir mereka saling bertaut,saling menyesap dengan lidah saling membelit. Tangan Dave yang berada di belakang tubuh Renata turun kebawah. Meremas sebongkah daging empuk yang membuat kelelakiannya semakin membara.
Suara denting lift seakan tak terdengar di telinga mereka yang terlanjur mabuk kepayang.
" Astaga " pekikan lirih yang menyadarkan dua manusia mesum itu. Dave yang membelakangi pintu sontak menoleh.
Sosok wanita yang baru saja bersuara itu kini berdiri membelakangi pintu lift. Kepalang malu karena ketahuan mesum di tempat umum. Dave meraih tangan Renata membawanya keluar dari lift tanpa menegur wanita itu,ia melewati begitu saja.
Sedang wanita yang tak lain adalah Vea hanya bisa menggelengkan kepala saat menyadari lelaki yang baru saja di lihatnya. Vea tak perduli ketika dua manusia mesum itu melewatinya begitu saja. Ia segera masuk kedalam lift.
Sekilas Dave melihat wajah wanita yang di lewatinya,ia tertegun sejenak. Kemudian ia berbalik dan melihat dengan jelas sosok yang kini berada di dalam lift.
Hatinya menciut,entah kenapa ia merasa bersalah pada wanita yang sepersekian detik lalu bertemu tatapan mata dengannya sebelum lift tertutup dan berjalan turun. Ada gelisah yang tak ia tahu kenapa. Ada rasa ingin menyusul wanita yang bukan siapa-siapanya itu.
Perjalanan dalam hening menuju unit apartemen Renata, menyurutkan hasrat yang tadi telah membara. Pikirannya terus tertuju pada paras ayu yang baru saja turun dengan lift.
" Dave " panggil Renata yang menyadari perubahan raut wajah lelaki tampan itu.
" Ya " sahut Dave mengambang, pikirannya belum utuh berada dalam dirinya.
" Kenapa ?":tanya Renata. Kini mereka telah berada di depan unit apartemen milik Renata.
" Kayaknya aku gak bisa mampir deh Re,aku lupa ada janji malam ini. Gak apa-apa kan ?, nanti kalo aku ada waktu aku telpon kamu ". ucap Dave. Renata menghela nafas berat.
" Ya udahlah, gak apa-apa." sahut Renata tak bersemangat.
" Aku pamit dulu ya ". ucap Dave,tanpa menunggu jawaban Renata,Dave berjalan cepat kearah lift. Renata hanya bisa memandang kepergian Dave dengan tatapan kosong.
Dengan perasaan ketar-ketir Dave menekan tombol turun. Entah atas dasar apa ia ingin menemui Vea. Tatapan tajam dari Vea yang ia lihat tak ada sedetik itu seperti sebuah penghakiman untuk dirinya. Lift terasa sangat lamban ketika rasa khawatir mendominasi diri.
Dave seakan tidak sadar saat ini ia sedang melakukan kebodohan. Atas dasar apa ia ingin menemui Vea ?,dan bahkan di benaknya sudah merancang segala alasan untuk pembenaran atas kelakuannya tadi.
Sampai di lobby ia melihat kanan kiri,tak ada . Vea tak ada di sana,hatinya semakin bergemuruh. Sampai ia berjalan ke arah luar dan wanita berpakaian santai itu muncul dengan sebuah kresek di tangan. Ada kelegaan yang menjalar di hatinya.
" Ada apa ?, Kenapa di sini ?".
" Aku " suara Dave tercekat,otaknya bleng seketika. Semua alasan yang tadi sudah ia rencanakan buyar.
Vea mengernyit,bertanya lewat tatapan mata. Sebab apa lelaki itu kini di hadapannya. Dave di buat salah tingkah. Dan di detik itu ia menyadari satu kebodohannya. Siapa Vea di hidupnya ?, sampai ia harus menjelaskan sesuatu yang tak perlu.
Dave memegang tengkuknya sendiri,merasa canggung. Bingung memulai darimana berbicara pada wanita di hadapannya.
" Tadi " ucap Dave terputus, bingung memberi alasan.
" Anggap aku gak liat apa-apa,itu privasi kamu dan aku gak ada hak buat ikut campur. Jadi kamu gak usah khawatir kalo seandainya yang kamu takutkan adalah aku bakal nyebar kelakuan kamu ini ke orang lain. Aku gak se picik itu ". ucap Vea tegas. Membuat Dave ,menelan ludah. Bahkan ia tak berpikir itu sama sekali.
Ia merasa semakin bodoh ketika merasa perlu menyelamatkan harga diri di hadapan Vea. Ia tak ingin terlihat terlalu buruk di mata wanita ini. Kenapa ?,atas dasar apa ?. Ia hanya bisa bungkam.
Vea melangkah meninggalkan Dave yang terpaku. Hingga beberapa langkah, tiba-tiba Dave menangkap pergelangan tangannya. Vea tersentak,menatap tajam pada Dave dan mengibaskan tangan berharap di lepaskan. Tapi Dave bertahan.
" Aku,aku mau minta maaf " ucap Dave terbata. Diluar nalarnya tiba-tiba kata itu yang terucap.
" Maaf ?, maaf untuk apa ?,untuk kamu yang mengambil hal paling berharga dalam hidupku disaat aku tidak sadar ?, atau untuk harga diriku yang kau beli dengan cekmu itu ?" . Sinis Vea ,jelas ada kobar kemarahan di sorot mata Vea. Dan Dave seakan terbakar oleh tatap itu. Perih hatinya melihat kemarahan yang ia buat pada wanita yang menantangnya lewat tatapan.
" Untuk keduanya,aku minta maaf untuk itu. Maaf,aku hanya bisa bilang itu,aku gak bisa mengembalikan apa yang sudah ku ambil tanpa ijin darimu. Aku minta maaf atas kelancanganku yang tidak memikirkan perasaan mu." Entah kata bijak darimana yang tiba-tiba meluncur dengan mulus dari mulut seorang Dave. Vea tersenyum miring, menarik tangannya yang sudah tidak terlalu kencang dalam genggaman Dave.
" Lupakan, lupakan yang sudah pernah terjadi diantara kita. Anggap saja kita orang asing yang kebetulan dalam tempat duduk yang sama di satu perjalanan. Saat kamu sampai pada tujuan kamu tak perlu mengajakku untuk ikut turun di tempat tujuanmu. Biarkan kita tetap pada jalan masing-masing. Dan kita tidak perlu lagi saling bersinggungan saat kita tanpa sengaja berpapasan di persimpangan. " ucap Vea panjang lebar. Dave semakin tertegun.
Bibirnya keluh untuk berucap. Ia hanya bisa menatap kosong wanita yang semakin jauh melangkah meninggalkan dirinya dan menghilangkan di balik pintu lift. Hampa, perasaan itu seketika merayap di dalam hatinya.
Wanita itu,ada apa dengan wanita itu ?. Wanita yang tak pernah memandangnya dengan tatapan memuja. Wanita yang selalu menampakkan kemarahan di sorot matanya. Tapi bisa membuatnya tak bisa berkutik.
Seharusnya dia yang mengatakan untuk melupakan semuanya. Tetapi kenapa harus wanita itu yang berbicara dengan lantangnya. Hatinya tercubit,ia semakin merasa tertolak . Namun entah mengapa bukan benci yang menghinggapi hatinya.
Ada rasa sesak yang tak ia pahami . Ia merasa gila dengan rasa yang kian menggelayut dalam hati.