
Entah kebodohan darimana yang membuat Dave malam itu mengikuti wanita yang telah menjatuhkan harga dirinya. Ada rasa tak rela saat wanita itu tertawa dengan lelaki lain. Bahkan tanpa ada dasar untuk dirinya tak menyukai Vea dengan lelaki yang tak ia tahu siapa.
Seandainya lelaki itu kekasih Vea pun seharusnya ia merasa bersalah atas tindakannya. Tapi nyatanya justru rasa tak rela melihat Vea tertawa bahagia dengan lelaki lain. Dan kini Dave berada diantara mobil yang sedang berhenti di lampu merah,berada tepat di belakang mobil Vea. Mata tajamnya terus memperhatikan mobil yang di kemudikan Vea.
Sampai mobil Vea disebuah apartemen. Dave ikut berhenti sejenak, menatap dalam diam sampai mobil Vea menghilang masuk area basemen. Ia kembali melajukan mobil dengan kegamangan di hati. Benarkah hanya sekedar rasa kesal di hati karena merasa harga dirinya di jatuhkan ?. Lantas apa yang ia harap dengan menguntit seorang wanita yang telah ia jatuhkan juga harga dirinya.
Dave mencari nomor Gerald dan menelpon dengan di sambungkan lewat handset.
" Ge,Lo dimana ? " tanya Dave tanpa basa-basi saat sambungan telepon diangkat.
" Baru nyampe rumah,knp sih Lo nyariin gue mulu ?, lama-lama gue pacarin juga Lo". ketus Ge yang terganggu dengan sahabatnya itu.
" Najis banget Lo, jangan-jangan emang Lo demen terong lagi". ucap Dave dengan nada jijik.
" Kalau iya kenapa ?, mau Lo. hahaha". Ge tergelak sendiri dengan ucapannya.
" Astaga,sejak kapan Lo belok ?".
" Lurus punya gue,gila Lo" obrolan macam apa itu ?, entahlah mereka yang paham.
" Eh serius ini,Lo masih doyan apem kan bukan terong ?".
" Hahaha...gue normal Dave,normal gue". sahut Ge yang di sambut helaan nafas lega Dave.
" Bukan apa-apa man,cuma takut di gerayangin Lo aja gue. Gue ke tempat Lo " dan tuuuut secara sepihak Dave mematikan sambungan telepon.
Setelah perjalanan kurang lebih 40 menit,kini Dave sampa di sebuah perumahan. Bukan perumahan mewah . Hanya sebuah perumahan biasa dengan bangunan bergaya minimalis. Turun dari mobil Dave mengetuk pintu dan tak lama seorang wanita umur 40an membukakan pintu untuknya.
" Eh,mas Dave masuk mas." titah sang asisten rumah tangga Gerald. Wanita itu sudah sangat hafal dengan lelaki tampan yang sering berkunjung itu.
" Ge dimana mbak ?" tanya Dave basa-basi seraya mengekor di belakang wanita itu .
" Di kamar mas".
" Aku langsung ke kamar aja mbak kalo gitu"
pamit Dave yang langsung melenggang ke arah kamar Ge.
Dave merebahkan diri di kasur empuk milik Ge. Matanya nyalang menatap langit-langit kamar. Bayangan Vea sekelebat hadir. Hatinya selalu saja terusik oleh wanita itu. Ia meraup kasat wajahnya . Ingin melupakan wanita yang ia ambil virgin nya itu. Mungkinkah rasa yang menggelayut di hatinya adalah sebuah rasa bersalah ?. Jujur setelah melihat Vea dalam keadaan sadar ia bisa melihat. Wanita itu wanita baik-baik.
" Kenapa lagi Lo?" tanya Ge yang baru keluar kamar mandi dengan berbalut handuk sebatas pinggang . Dan sebuah handuk kecil ia gunakan untuk mengeringkan rambut.
" Pusing gue"
" Apa lagi ?"
" Gue udah ketemu tuh cewek namanya Vea".
" Terus ? " tanya Ge seraya membuka lemari dan mencari baju ganti .
" Dia nampar gue".
" Hahahaha..." Ge terbahak sambil memasukkan kaos oblong lewat kepala.
" Kok bisa ?" lanjut Ge yang masih sibuk dengan pakaiannya.
" Gue kasih dia cek buat ganti rugi,udah gue ambil virgin dia. Eh dia sobek tuh cek terus gue di tampar,anjingg banget gila. "
" Ya Lo main sodorin cek aja,gak semua cewek tuh kayak yang ada di otak Lo. berarti dia sebenernya cewek baik-baik, cuma sial aja malam itu dia ketemu Lo. Nyatanya tuh cewek juga masih virgin kan ?,"
Dave mangut-mangut setuju,karena tampang Vea yang terbilang cantik tak mungkin tak pernah pacaran. Tapi wanita itu masih virgin.
" Terus gue mesti gimana ?'' pertanyaan orang galau. Ge yang sudah rapi dengan pakaian santainya duduk di sofa. Tersenyum sinis menatap Dave .
" Ya udah Lo lupain aja,dia juga gak nuntut Lo. anggap aja dia kayak wanita "semalam " Lo yang lain". ucap Dave.
" Gak bisa,gue gak bisa lupa. Dia udah bikin malu gue,gue ngerasa tertolak. Padahal Lo tau pesona gue tak terbantahkan".
" Halah di tolak satu cewek bikin Lo galau. Noh yang ngantri mau sama Lo banyak. Kecuali kalo Lo jatuh cinta sama tuh cewek"
" Hahaha...jatuh cinta ?,gak". elak Dave.
Ge hanya menggeleng dengan sebuah senyum tipis di bibirnya. Biar Dave mencari tahu tentang rasanya sendiri. Karena Ge yakin,ada rasa lain yang mulai menghinggapi perasaan sahabatnya.