
Berkencan di Mall dengan mengantri tiket bioskop adalah hal yang tak pernah terpikirkan oleh seorang Dave. Sebelum mengenal Vea, berkencan baginya adalah membawa wanita ke apartemennya menghabiskan hari dengan lenguh dan peluh. Berakhir dengan lemas namun puas.
Tapi kini ia berdiri diantara antrian beberapa orang yang hendak membeli tiket bioskop untuk menonton. Dave lupa kapan terakhir ia merelakan diri untuk mengantri seperti saat ini. Bahkan seingatnya terakhir kali ia menonton bioskop sudah cukup lama. Saat dirinya masih berseragam SMA bersama beberapa temannya.
Dan kini bersama seorang Alivea Dwilangga,ia seakan kembali menjadi seorang remaja yang tengah jatuh cinta. Menuruti kemauan sang pujaan hati. Setelah mengantri tiket Dave menghampiri Vea yang menunggunya dengan popcorn dan minuman di tangan.
" Udah ?" tanya Vea antusias. Ia sudah lama tak pernah nonton film di bioskop,mungkin sudah ada setahun lebih. Membuatnya sedikit lebih bersemangat. Dave mengangguk kemudian mengambil makanan dan minuman di tangan Vea. Menggiring wanita itu masuk ke dalam bioskop. Duduk di ujung barisan.
Dave menyodorkan popcorn dan minuman untuk Vea yang sudah duduk tenang. Lampu bioskop mulai di matikan dan film mulai di tayangkan. Film romantis pilihan Vea mulai tayang adegan per adegan.
Suasana romantis tak hanya tercipta di layar besar di depan sana. Namun pasangan yang sedang di landa cinta itupun ikut terbawa suasana. Vea sudah bersandar manja di pundak Dave. Dave tak menyia-nyiakan kesempatan,ia merengkuh pundak Vea dan sesekali membelai rambut sang kekasih. Kecupan-kecupan kecil ia berikan di puncak kepala kekasihnya. Hingga saat adegan kissing pun mereka terhanyut.
Entah siapa yang memulai namun bibir sepasang sejoli itu kini telah saling bertaut. Menikmati moment yang membawa sebuah debar indah di dada. Keduanya terhanyut dalam romantisme rasa yang membara.
Sampai lampu dalam bioskop menyala dan sepasang kekasih itu keluar dengan tangan saling bertaut. Senyum terukir indah di wajah cantik Vea. Dan pancaran bahagia terlihat jelas di raut tampan Dave.
" Mau kemana lagi ?" tanya Dave yang hari itu mengenakan kaos putih panjang dengan kerah berbentuk v,yang tampak pas di tubuh tegapnya. Celana jeans panjang berwarna hitam dengan sobekan di lutut serta sneaker hitam sebagai alas kaki. Tampilan santai yang begitu memukau dengan tatanan rambut berantakan tak kelimis seperti saat ia ke kantor. Tak ada yang menyangka lelaki itu sudah berumur 32 tahun karena tampilannya yang membuat dirinya tampak lebih muda .
" Makan dulu kali ya" sahut Vea yang kali ini mengimbangi Dave dengan atasan berwarna pink berlengan pendek,celana jeans yang juga panjang dengan warna yang sama dengan celana Dave. Ia pun menggunakan sepatu sneaker namun dengan warna pink . Tas punggung kecil tampak bertengger manis di punggungnya. Rambutnya diikat ekor kuda. Wajahnya tampak natural dengan make-up tipis namun tak menghilangkan kecantikan yang dimiliki wanita itu.
" Mau makan dimana ?" lanjut Dave masih dengan kaki melangkah pelan sembari menggenggam tangan Vea.
" Restoran seafood,aku lagi pingin makan seafood. Eh kamu gak ada alergi seafood kan ?" tanya Vea seraya menatap ke samping dengan langkah terhenti. Memastikan pada kekasihnya sebelum masuk restoran seafood.
" Gak,aku gak ada alergi kok " jawab Dave sembari mengelus lembut kepala Vea yang hanya sebatas bahu dengannya karena Vea yang tak memakai hak tinggi.
" Sayang " panggil Dave lembut setelah mereka berada di dalam mobil hendak kembali ke apartemen karena hati yang mulai sore.
" Apa ?" tanya Vea dengan tatapan mata mengarah pada lelaki tampan yang sedang menatap lurus ke depan.
" Makasih ya " ucap Dave dengan menoleh sekilas pada Vea yang masih menatapnya.
" Buat ?" lanjut Vea dengan dahi mengernyit.
Dave tersenyum tipis, kemudian meraih telapak tangan Vea dan menggenggamnya.
" Buat kebahagiaan yang udah kamu kasih ke aku,buat hari indah yang aku rasain sama kamu. Buat setiap detik yang berharga yang aku lewati bersama kamu" ujar Dave tanpa menatap wajah kekasihnya yang kini sedang tersipu.
" Apa sih ah,lebay " tanggap Vea seolah tak perduli. Menutupi gejolak jiwanya yang seakan terbang mendengar ungkapan hati seorang Dave. Dave tak menyahut ia hanya tersenyum tipis sambil menarik tangan Vea dan dikecupnya perlahan . Lalu ia membawa tangan sang kekasih dalam dekapan di dada. Membuat Vea bisa merasakan detak jantung Dave yang berpacu dengan lebih cepat.
" Kamu bisa ngerasain debar jantungku saat bersama kamu. Dan kamu harus tahu,debaran ini hanya aku rasain saat sama kamu".tutur Dave yang pasti langsung membuat Vea merona.
Vea tak pernah berpikir akan melabuhkan hati pada lelaki yang telah merenggut mahkotanya saat tak sepenuhnya sadar. Namun ternyata pesona lelaki itu mampu meruntuhkan benteng yang ia gunakan untuk membentengi hati. Hingga pada akhirnya kini ia pun terbuai cinta seorang Dave Mahendra.
Dave yang dulu tak percaya cinta,kini luluh lantak di hadapan seorang gadis cantik yang ia ambil ke virginan nya. Ia bukan gadis satu-satunya yang direnggut keperawanannya oleh Dave. Tapi entah magnet apa yang terus menariknya untuk selalu ingin berada di dekat wanita itu. Kini ia harus mengaku pada hati,bahwa cinta memang ada dan layak untuk ada.
Karena bagi seorang Dave,Vea adalah keindahan yang memang harus ia dapatkan dengan hati yang tulus. Dengan cinta yang nyata. Kini ia merelakan diri bertekuk lutut pada wanita yang menguasai seluruh hati dan jiwanya.