If

If
Prasangka



" Jadi Lo ngeliat cewek di apartemen cowok Lo ?" tanya Fardan setelah Vea akhirnya bercerita kegalauan hatinya. Vea mengangguk,dengan tatapan mata melihat gulungan ombak di hadapannya. Ya,kini mereka berdua telah duduk di tepi pantai ,menikmati gulungan ombak dan semilirnya angin.


'' Lo yakin itu cewek habis tidur sama cowok Lo ?'' kembali Fardan bertanya. Vea mengangkat bahu. Ia sendiri tak melihat langsung.


" Gue gak liat juga sih,tapi gini deh, ngeliat dalam satu apartemen ada cewek cantik seksi lagi. Udah gitu di kamar cowok gue tidur cuma pake daleman doang. Pelukan lagi sama temen cowok nya,jijik banget. ya pikiran gue mereka habis threesome lah" celetuk Vea.


" Itu kan dugaan Lo doang,coba Lo dengerin dulu penjelasan dia. Siapa tau sebenernya terkaan Lo itu salah. Bisa aja itu cewek tidur di kamar lain. Terus cowok Lo sama temennya tidur dalam satu kamar. Bisa aja kan pelukan mereka gak sadar karena lagi tidur aja " Fardan memberi pengertian. Vea membenarkan ucapan Fardan,bisa saja ia salah kira. Atau justru cewek itu saudara Dave. Dia kan belum mengenal keluarga sang kekasih.


" Terkadang rasa cemburu, membutakan kita. Menutupi akal sehat,yang membuat kita kadang jadi egois. Tapi sebuah hubungan gak akan berjalan seimbang saat kita mengedepankan ego. " tutur Fardan yang duduk di samping Vea beralaskan pasir pantai. Vea tersenyum seraya menoleh menatap wajah rupawan yang sedang menoleh kearahnya.


" Thanks ya Dan,Lo selalu bisa nenangin hati gue." ucap Vea dengan senyum yang selalu menawan di mata Fardan.


" Sayangnya gak bisa menangin hati Lo ya " ucap Fardan terdengar santai. Namun begitulah faktanya.


" Karena gak ada perlombaan di hati gue" ucap Vea yabg di sambut gelak tawa Fardan.


" Jadi gimana ?, mau pulang atau mau nginep sini ?" tanya Fardan setelah keduanya terdiam sesaat. Hari mulai sore, matahari mulai menyingsing kearah barat.


" Pulang lah,ntar nyokap gue khawatir lagi " sahut Vea membuat Fardan mengernyit.


" Lo udah balik ke rumah ?" tanya Fardan yang belum tahu tentang kepulangan sang sahabat. Vea mengangguk sebagai jawaban.


" Baru semalam gue balik" jawab Vea,Fardan adalah sahabat yang tahu tentang latar belakang Vea. Dan dua juga tahu tentang Vea yang kabur di hari pernikahannya. Karena saat itu dialah yang membantu Vea.


" Terus gimana ?,Lo gak apa-apa kan ?, keluarga Lo gak ngapa-ngapain Lo kan ?" rentetan pertanyaan meluncur bebas dari bibir Fardan. Ada nada khawatir tersirat dari ucapannya. Vea tersenyum mendapati betapa care nya lelaki yang duduk di sampingnya ini.


" Gak ada masalah. Gue udah jelasin semuanya kok. Dan mereka nerima alasan gue " jawaban Vea membuat Fardan lega. Biar bagaimanapun ia juga ambil andil dari kaburnya Vea di hari pernikahan.


" Syukurlah,gue juga yakin orang tua Lo gak akan permasalahkan semuanya kalau tahu alasan Lo pergi. Gak mungkin mereka merelakan anaknya jatuh kepada orang yang salah." tutur Fardan


Keduanya terus berbincang seraya menikmati semilir angin laut. Serta rona jingga yang mulai menyapa. Menambah keindahan sore yang cerah itu. Kini mereka melangkah beriringan di tepi pantai. Masih dengan cerita yang mengaku. dari bibir mereka. Tawa terkadang pecah dari keduanya.


Vea tak lagi terlalu memikirkan tentang kejadian pagi tadi. Ia sudah memantapkan hati untuk mencoba berbicara pada Dave, nanti. Saat hatinya tak lagi di kuasai emosi. Benar yang Fardan bilang,belum tentu apa yang di lihatnya sesuai dengan kenyataan yang ada.


🧸🧸🧸


Berantakan,itulah satu kata yang menggambarkan seorang Dave saat ini. Wajah tampannya terlihat kacau. Rambutnya acak-acakan, pakaiannya pun tak lagi terlihat rapi. Ujung kemeja yang di pakainya keluar dari celana panjangnya. Jas tersampir begitu saja di bahu. Sorot matanya menyiratkan kekhawatiran juga kekesalan yang bercampur menjadi satu.


Hari ini moodnya benar-benar hancur lebur. Setelah dari kantor Vea ia mencari informasi tentang kekasihnya lewat Zee, nyatanya sahabat Vea pun tak tahu keberadaan Vea. Saat Zee menyarankan untuk mencoba bertanya pada Nena ia pun langsung menghubungi wanita itu. Nyatanya nihil,tak ada yang tau keberadaan wanitanya.


'' Aaaarrrgggghh '' teriak Dave seraya kakinya menendang meja di hadapannya. Gemuruh hatinya tak karuan. Ia tak pernah merasakan rasa seperti ini. Ada kesal berbalut rasa khawatir dan juga rasa takut. Rasa takut kehilangan mendominasi hatinya.


" Vea,kamu dimana sayang ?'' lirih Dave dengan mata memerah menatap foto Vea yang terpampang di layar ponselnya. Ada sesak di dadanya yang membuat ia ingin menangis. Namun ia yang tak pernah mengeluarkan air mata semenjak remaja. Hanya bisa berkaca-kaca.


'' Gak bisa gini,aku harus ketemu kamu sayang'' lanjut Dave berbicara pada foto di ponselnya. Mengusap lembut layar ponsel seakan membelai wajah sang kekasih. Ia sudah rindu,sangat rindu dengan kekasihnya itu.


Dave bangkit, memasukkan ponsel kedalam saku celana. Melempar jas di sofa, masih dengan penampilan yang kacau Dave keluar dari unit apartemen miliknya.


Kembali mengeluarkan mobil dari garasi dan pergi meninggalkan apartemennya. Hari mulai menggelap,segelap hati Dave yabg kehilangan cahaya cintanya. Dengan kecepatan sedang Dave melaju di jalanan. Ia menuju tempat terakhir di mana ia mungkin bisa menemukan sang kekasih. Rumah keluarga Vea. Semoga wanitanya sudah pulang ke rumah.


Sampai di depan gerbang yang menjulang tinggi. Dave menghentikan laju mobilnya. Turun dari mobil dan memanggil satpam yang berjaga di rumah Vea


''Ada apa mas ?" tanya sang satpam yang di panggil Dave saat mendekat padanya.


'' Eh,ini mas yang semalem sama non Vea kan ?" lanjut Satpam yang menyadari wajah tak asing di hadapannya.


'' Iya pak,mau nanya. Vea nya udah pulang ?'' tanya Dave sopan.


'' Wah belum den,Aden masuk saja tunggu di dalam'' ucap satpam yang masih berdiri di ambang pintu gerbang.


'' Saya ijin tunggu di sini saja ya pak '' pinta Dave yang merasa tak enak masuk ke dalam rumah. Sedang ia datang membawa masalah yang belum terselesaikan dengan Vea.


'' Gak di dalam aja den ?''


'' Gaklah pak di sini saja, sebentar lagi mungkin Vea nya juga pulang'' ucap Dave.


'' Ya sudah, kalau Aden maunya begitu. Saya pamit kembali ke pos den''


''Iya pak, makasih ya pak''


''Sama-sama den''


Setelah satpam kembali ke pos penjagaan,Dave naduk ke dalam mobilnya. Hari semakin malam,namun ia tetap bertahan di sana. Sampai sebuah mobil berhenti tak jauh dari dirinya. Dan seketika rahangnya mengeras,desiran darahnya terasa panas. Melihat siapa yang turun dari dalam mobil itu.


Gemeretak giginya menandakan betapa murkanya lelaki itu. Tapi ia masih bertahan tak turun dari mobilnya. Meski ia ingin sekali menerjang lelaki yang sedang berdiri berhadapan dengan sang kekasih.