If

If
Di Pertunangan Gerald



Vea berdiri di depan cermin besar di kamarnya. Memutar tubuh indahnya yang berbalut gaun cantik.Memperindah tubuh molek itu. Vea membuka laci meja, mengambil perhiasan untuk menambah anggun penampilannya. Sesat matanya terhenti menatap kotak perhiasan yang Fardan berikan padanya.


Ia mengambil kotak perhiasan itu. Menatap sendu, karena sang sahabat yang menghilang setelah memberikan cincin padanya. Fardan tak bisa lagi di hubungi. Nomernya tidak pernah aktif lagi. Entah seberapa dalam luka yang telah ia torehkan untuk sahabatnya.


Vea hanya mampu menghela nafas, menelan rasa bersalah pada sahabatnya. Tapi mau bagaimana ?, cinta telah menemukan rumahnya. Dan Fardan tak pernah jadi tujuan bahkan untuk sekedar persinggahan. Vea mengembalikan perhiasan itu,ia tak bermaksud untuk memakainya.


Ia mengeluarkan satu set perhiasan yang tampak begitu cantik. Di pakainya kalung dan anting untuk menyempurnakan penampilan malam ini yang begitu memukau.


Gaun selutut berwarna biru muda tampak begitu elegan. Dengan tatanan rambut yang di gerai dengan bagian pinggir yang diikat kebelakang, benar-benar membuat seorang Alivea tampak anggun mempesona.


Heels 10 cm sebagai alas kaki,menunjang tubuh tinggi semampai nya. Tas tangan sebagai pelengkap tampilannya malam ini. Ia ingin tampil memukau,agar ia bisa berjalan penuh percaya diri di samping seorang Dave Mahendra. Lelaki sejuta pesona yang ia tahu banyak di kagumi wanita.


Langkah anggun Vea menuruni anak tangga, membuat Dave yang sudah menunggunya menatap takjub. Untuk sesaat bahkan lelaki itu tak berkedip. Polesan make up natural di wajah Vea justru menonjolkan kecantikan wanita itu.


" Ehmm " suara deheman dari Papa Vea menyadarkan Dave. Membuatnya tersenyum malu karena kepergok menatap anaknya tanpa berkedip. Papa tertawa ringan melihat Dave yang menggaruk tengkuknya karena malu.


" Papa ih, iseng aja. " Mama memukul lengan suaminya yang sedang menertawakan Dave yang wajahnya tampak memerah karena malu.


" Ada apa sih Pa, kayak yang happy banget ketawanya ? " tanya Vea yang kini telah berdiri di dekat mereka.


" Itu pacar kamu sampai gak ngedip lihat kamu " ucap Papa masih dengan tawanya.


" Soalnya anak om cantik banget " ungkap Dave, dengan tatapan tertuju pada wanitanya yang benar-benar tampil sempurna di matanya. Vea tersipu mendengar pujian sang kekasih.


" Aduh kenapa Mama yang deg-degan ya Pa ?" Mama ikut bersuara melihat anaknya yang tersipu.


" Ih Mama mah lebay " ucap Vea sembari mengontrol wajahnya yang mungkin saja memerah gara-gara ucapan Dave.


" Udah yuk, berangkat aja. Nanti telat lagi " sambung Vea mengajak Dave yang masih duduk di sofa untuk segera berangkat. Dave tersenyum, kemudian berdiri.


" Ya udah berangkat sekarang" tutur lelaki yang memakai jas dan celana dengan warna senada dengan yang Vea kenakan. Malam itupun Dave tampak lebih rapi dan wangi.


Tampil gagah untuk menggandeng wanitanya yang cantik mempesona. Keduanya berpamitan pada Mama dan Papa sebelum akhirnya pergi meninggalkan kediaman Dwilangga.


" Abis kamu cantik banget Yang, pasti nanti bakal jadi pusat perhatian " ucap Dave yang berakhir dengan nada keluhan.


" Berarti kamu harus bersyukur dong kalo aku jadi pusat perhatian karena cantik. Itu berarti aku layak berdiri di samping kamu ". ucap Vea seraya mengulum bibir. Merasa terlalu percaya diri dengan ucapannya.


" Jami tuh lebih dari layak buat ada di samping aku sayang ". sahut Dave yang jelas membuat wanitanya tambah berbunga- bunga.


Perjalanan menuju hotel tempat dimana Gerald melangsungkan pertunangan membutuhkan waktu hampir satu jam. Suasana ballroom tempat diadakannya acara sudah cukup ramai dengan para tamu undangan.


Dave dengan langkah tegap menggandeng pinggang kekasihnya. Pasangan serasi dengan tampilan sempurna. Paras cantik dan tampan sungguh membuat mata enggan berpaling.


Kehadiran keduanya cukup menyita atensi dari tamu undangan. Sebelum akhirnya acara pertunangan di langsungkan. Vea dan Dave duduk tenang di kursi dengan tangan Dave tak melepaskan genggaman pada telapak tangan kekasihnya.


Orang yang duduk di dekat mereka jelas dibuat baper pasangan romantis tersebut. Belum lagi melihat Dave yang meng treat sang kekasih layaknya tuan putri.


Acara inti di depan sana telah usai. Terlihat para tamu antri untuk mengucapkan selamat pada pasangan yang berdiri dengan senyum terkembang lebar di bibir keduanya.


" Sayang,aku ambilin minum dulu. Nanti aja kita ngasih selamatnya. Masih ngantri " tutur Dave sambil berdiri dari kursinya. Vea mengangguk sambil tersenyum. Mengiyakan ucapan sang kekasih. Dave beranjak meninggalkan Vea yang duduk sambil menatap pasangan yang tampak serasi. Jelas terlihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah keduanya.


'' Ehm '' suara deheman seseorang membuat Vea menoleh pada kursi yang berada di sampingnya.


'' Daren '' lirih Vea yang terkejut melihat mantan calon suaminya yang kini duduk di kursi yang tadi di duduki okeh Dave. Menatap Vea dengan senyum menyeringai.


'' Apa kabar Ve ?, aku cari-cari kamu di tempat kerja Zee. Ternyata tuan putri sudah kembali ke istananya.'' Vea berusaha tak memperdulikan lelaki itu. Ia hanya tersenyum sinis menanggapinya.


'' Kamu lari di hari pernikahan kita, ternyata jatuhnya di tangan Dave ?,kamu tahu seberapa bajingaan dia ?'' tanya Daren menatap lekat wajah wanita cantik itu.


'' Apa urusanmu soal hidupku,Daren ?'' sinis Vea balas menatap pada lelaki yang memasang wajah mengesalkan di mata Vea. Daren tergeletak mendapati tatapan sinis mantan calon mempelainya.


'' Kamu bakal nyesel kalau tahu siapa Dave'' bisik Daren seraya berdiri dari kursinya, karena melihat Dave yang melangkah mendekati mereka.


Lelaki itu berlalu , meninggalkan Vea yang tampak tak perduli dengan ucapan Daren. Dia merasa sudah cukup tahu tentang masa lalu kekasihnya. Jadi apa yang harus ia khawatirkan ?. Semua orang punya masa lalu, namun bukan hal yang salah kan jika ingin berubah ?.