
Jatuh cinta,sebuah rasa asing yang kini menyelinap dalam relung hati seorang Dave Mahendra. Membuatnya merasa sedikit gila dengan rasa yang kian hari kian membuncah. Selalu ingin tersenyum hanya karena mengingat wajah cantik Vea. Selalu berdebar hanya karena suara lembut wanita itu.
Beberapa hari ini terlalui oleh Dave dengan sebuah debaran indah di dadanya. Semenjak Vea meng iyakan untuk memulai sebuah hubungan. Dave yang dulu harinya dilalui dengan lenguh dan peluh dengan wanita-wanita seksi kini tak pernah lagi . Bukan tak ada dalam keinginannya untuk menikmati tubuh wanita. Namun kini ia bisa menekan sedikit rasa itu.
Biar bagaimanapun ia lelaki dewasa yang sudah mengecap nikmatnya surga dunia. Tak bisa di pungkiri terkadang hasratnya menuntut untuk di tuntaskan,tapi kini ia tak mau dengan sembarang wanita ada hati yang ingin ia jaga.
Iapun tak berani meminta itu pada Vea. Meski ia yang telah mengambil virgin wanita itu,tapi ia ingin menghargai wanitanya. Sampai saat mereka sama-sama mau untuk itu. Ia saat ini hanya ingin berusaha menjadi lelaki baik untuk benar-benar mendapatkan hati seorang Alivea Dwilangga.
"Cieee yang lagi jatuh cinta " ledek Gerald yang baru saja datang ke kediaman Dave. Ia yang sudah terbiasa ke sana,langsung nyelonong masuk tanpa permisi. Ia sudah hafal kode untuk membuka pintu apartemen Dave. Dave yang sedang membuka foto-foto Vea di laptopnya langsung menoleh.
" Ckk,datang tiba-tiba udah kek setan aja Lo. Coba kalo Lo masuk gue lagi enak-enak ,gak pengen lo ?"
" Tinggal ikutan dong " sahut Gerald santai seraya mendudukkan diri di sofa sebelah Dave.
" Halah kayak yang udah pernah aja. Umur udah segitu,belum ngerasain enaknya melenguh " ejek Dave diakhiri gelak tawa.
" Udah belumnya gak perlu ya gue koar-koar sama Lo".
" Cih...,paling pake sabun."
" Taaii Lo " umpat Gerald sambil mendorong tubuh Dave.
Kehidupan Gerald memang tak sebebas Dave,ia masih setia pada satu hati yang mungkin tak akan kembali.
"Gimana rasanya jatuh cinta ?" tanya Gerald yang tahu sahabatnya sedang tergila-gila pada seorang wanita.
" Rasanya gila " sahut Dave dengan senyum penuh arti,serta tatapan menerawang. Mengingat wajah wanita yang sedang membuatnya gila.
" Selamat datang di dunia percintaan. Siapkan hati,karena saat Lo terjatuh resikonya patah. Begitu juga hati Lo yang sedang jatuh cinta terkadang beresiko patah hati" ucap Gerald dengan tatapan yang terkesan begitu jauh.
Dave menepuk pundak sahabatnya,ia tahu hati Gerald masih menyimpan luka atas nama cinta.
" Lupakan cinta yang mematahkan hati. Cari cinta yang setulus hati" ucap Dave sok bijak. Gerald terbahak mendengar penuturan sahabatnya.
"Sok banget Lo,belum pernah aja Lo jatuh sampai gak tau gimana caranya buat berdiri lagi''
Dave tersenyum miring,terlalu percaya diri jika cintanya tak akan pernah meninggalkan luka. Sampai malam kian larut,dua bersahabat itu asyik berbincang. Ditemani berkaleng- kaleng minuman dan kacang kulit . Serta sebuah bidak catur untuk menghabiskan malam mereka.
🧸🧸🧸
Dave mengerjap, menyesuaikan penglihatan dari terangnya lampu yang masih menyala. Ia semalam terkapar di sofa ruang tamu setelah meminum beberapa kaleng minuman bir. Begitu juga dengan Gerald yang juga terkapar di lantai. Menghabiskan malam dengan minuman beralkohol berdua. Menemani Gerald yang meracau meratapi kisah cintanya.
Sudah cukup lama mereka tak menghabiskan malam bersama. Dengan berkaleng-kaleng bir yang akan membuat mereka mengungkapkan semua gundah saat kesadaran mulai menghilang. Semua orang punya cara dalam setiap liku hidupnya. Dan itu cara mereka untuk menikmati setiap liku hidup mereka dalam luka yang masih saja terasa. Gerald dengan kegagalan cintanya,Dave dengan kegersangan hidupnya tanpa sentuh kasih orang tua.
Salah,mungkin yang mereka lakukan salah. Karena saat kesadaran mereka kembali,tak ada yang berubah. Hidup mereka masih saja terbelenggu luka yang sama. Namun biarkan salah dan benar itu jadi penilaian akhir dari Tuhan. Cukup nikmati setiap jengkal hidup yang harus di jalani. Biarkan kesalahan menjadi sebuah bagian hidup kita untuk mencari sebuah kebenaran.
Dengan langkah terhuyung,akibat pusing yang masih terasa Dave melangkah masuk kamar. Matanya tertuju pada bingkai foto yang ia letakkan di atas meja. Sebuah foto wanita cantik dengan senyum manis yang selalu menggetarkan jiwanya. Vea,foto wanita itu yang baru dua hari lalu ia cetak.
Dengan senyum mengembang Dave meraih bingkai foto itu. Mengusap wajah ayu dalam potret . Entah cinta seperti apa yang ia rasakan pada wanita itu. Baginya itu terlalu gila.
'Morning honey,i miss you ' sebuah kalimat yang membuatnya tersenyum sendiri. Merasa geli dengan tingkah nya yang seperti remaja saja.
Tak berapa lama sebuah denting notifikasi di handphone nya berbunyi. Dengan cepat ia membuka nya. Balasan dari sang kekasih yang benar ia rindui.
' Morning ?, baru bangun ?, gak lihat matahari udah tinggi ?' balasan yang membuat Dave tersenyum lebar. Benar-benar tak ada romantis-romantisnya wanita itu. Dave juga sadar hari tak lagi pagi. Jam di layar hpnya sudah menunjukan pukul sembilan.
' iya sayang baru bgun. Semalem tidur kemaleman. Kamu lagi apa ?'
Dave akhirnya menjatuhkan diri di atas kasur. Menunggu balasan dari wanitanya.
' habis ngapain tidur sampai malem ?, ke club' sama cewek ?' bukan marah mendapati tuduhan Vea,tapi ada rasa yang mengembang di dadanya. Merasa Vea mencemburuinya dan itu membuatnya senang.
Dave tak membalas pesan Vea,ia langsung menghubungi via video call. Tak menunggu lama Vea mengangkatnya,tampak wajah cantik yang terpampang di layar ponsel Dave.
" Apa ?" ketus Vea,sedang Dave tersenyum seraya menikmati wajah cantik itu .
" Kangen " Vea mencebik.
" Ih kok gitu,beneran kangen lho "
" Semalam darimana ? masa baru bangun ?, beneran ke club' ya ?" cecar Vea dengan tatapan menuduh. Dave tergelak.
" Gak sayang,aku tuh di rumah aja,sama si Gerald" jawab Dave yang kini tidur tengkurap sembari menatap wajah Vea.
" Kamu kok udah rapi aja mau kemana ?" sambung Dave yang melihat penampilan wanitanya sudah rapi dan tentu cantik.
" Mau ngecek ke hotel,nanti malem ada acara yang make jasa kita "
" Ini kan week end sayang,masa gak libur?,padahal aku pengen ngajak jalan " ucap Dave dengan nada sedikit kecewa.
" Ya gimana lagi, acaranya nanti malem. Besok aja kalo mau jalan. Besok aku free" jawab Vea yang kini menatap wajah tampan yang dari tadi tak lepas menatap dirinya.
" Nanti malem gak bisa ?"
" Acaranya nanti malem,aku juga kan mesti di sana ".
" Ya udah besok,aku jemput ke apartemen kamu " pungkas Dave,yang diangguki Vea .
" Eh Yang,kamu acaranya di hotel mana ?" Vea menyebutkan salah satu hotel bintang lima di kota tersebut.
" Aku matiin ya,udah siang nih mau berangkat. Kamu mandi gih,masa jam segini masih awut-awutan gitu" ucap Vea yang melihat Dave dengan rambut acak-acakan.
" Tapi masih ganteng kan ?" goda Dave membuat Vea melengos. Tak di pungkiri,meski dalam keadaan bangun tidur,pesona seorang Dave tetap terpancar.
"Aku tutup daaaah...." sebelum layar mati Dave buru-buru menyela.
" Mmmmmuuuah " dan klik Vea langsung mematikan sambungan saat ciuman virtual Dave tertuju padanya. Sedang Dave tertawa senang melihat sekilas rona wajah kekasih yang masih enggan memanggil sayang padanya.