
Vea berjalan cepat di lobby apartemen tempat kekasihnya tinggal. Hari ini ia ya g sebenarnya malas untuk bertemu sang kekasih,mau tak mau harus datang ke apartemennya karena berkas yang kemarin ia bawa dari kantor tertinggal di apartemen lelaki itu.
Sedari tadi saat bangun tidur ia menghubungi kekasihnya,tak ada jawaban. Ada rasa kesal menggelayut di hatinya. Dengan langkah cepat dan wajah tertekuk sempurna Vea menaiki lift menuju unit apartemen Dave.
Langkah panjang Vea membawanya sampai di depan pintu unit apartemen Dave. Ia yang belum tahu kode apartemen mengetuk pintu agar di buka kan dari dalam.
Tok tok tok
Tak ada sahutan,pintu pun masih tertutup sempurna. Lagi,Vea mengetuk pintu lebih keras. Dan akhirnya pintu terbuka. Sosok wanita seksi membuka pintu. Keduanya sama-sama terkejut.
''Kok ?,gue gak salah unit kan ?'' tanya Vea berupa gumaman. Kemudian sedikit memundurkan badan. Melihat nomer yang tertera di sana. Nai tampak diam dengan kening berkerut melihat Vea.
" Permisi !, " ucap Vea yang menerobos masuk dengan raut wajah kesalnya. Merasa tak ada urusan dengan wanita yang baru masuk apartemen itu,Nai tampak acuh dan kembali masuk ke kamar tamu.
Vea yang sudah di kuasai prasangka buruknya hanya bisa menangis dalam diam. Air matanya meleleh di pipi. Menerobos masuk ke dalam kamar Dave. Dan terperangah melihat pemandangan di hadapannya.
Dave dengan tubuh setengah telanjang hanya dengan celana pendek tidur memeluk Gerald yang juga hanya memakai celana,meski celana Gerald celana panjang.
Dalam satu unit apartemen ada satu wanita dua lelaki dewasa. Otak Vea berkelana dengan liar. Sebrengsek itukah lelaki yang menyandang status sebagai kekasihnya itu. Berbagi kehangatan satu wanita dengan sahabatnya.
Hanya membayangkan saja sudah membuat Vea mual. Ia menghapus air matanya dengan kasar. Menatap nanar pada dua lelaki yang masih terlelap dengan posisi begitu menjijikkan. Ia ingin segera pergi dari sana. Kalau perlu menghilang,dan tak lagi bertemu lelaki yang diam-diam telah mengisi hatinya.
Tapi rasa kesal yang membumbung sampai ubun-ubun,membuat Vea mengambil map berisi berkas miliknya yang tertinggal di atas meja.
Mendekati Dave yang masih terlelap tanpa terusik sedikitpun dengan kehadirannya.
Plak plak plak
Dengan emosi sepenuh jiwa,Vea mengeplak kepala Dave dengan map. Dave terbangun dari tidurnya. Saking kagetnya Dave langsung membuka mata
" Aduh, kepala gue " sungut Dave yang belum menyadari siapa yang telah memukulinya.
" Rasain " geram Vea dengan bibir mengerucut kesal. Mendengar suara Vea,Dave menoleh dan terperangah melihat siapa yang datang.
" Apa sih ?, berisik " kesal Gerald yang belum sepenuhnya sadar.
" Lho kok, Gerald !" teriak Dave yang menyadari tangannya masih melingkar di tubuh Gerald.
" Anjingg !!" meski Dave seraya mendorong tubuh sahabatnya hingga hampir terjatuh.
" Bamgkeee !!" umpat Gerald yang gelagapan karena di dorong kasar oleh Dave.
Vea melengos dan berjalan meninggalkan kamar. Malas menyaksikan drama dua lelaki itu.
" Sayang tunggu!,aku jelasin " ucap Dave yang menyadari Vea sudah di pintu. Dave melompat dari ranjang hanya dengan celana pendek tanpa baju. Vea tak lagi menggubris. Terus melangkah meninggalkan Dave yang jalan sempoyongan karena sisa rasa pusing gara-gara mabuk semalam.
" Sayang,tunggu dulu,aku bisa jelasin " pinta Dave yang tak di gubris Vea. Dan justru pintu kamar tamu yang terbuka membuat Dave kaget bukan main ,melihat wanita yang tak di kenalnya keluar dari sana.
" Lo ?, Lo siapa ?" tanya Dave dengan tampang kaget. Ia menatap kekasihnya yang menatapnya sejenak dengan tatapan tajam tak bersahabat. Dan wanita yang ia tanya bukan menjawab. Ia terpesona dengan pahatan dada bidang dan perut rata yang membuatnya menelan air liur. Terlalu seksi untuk di abaikan.
Dave yang menyadari kekesalan di sorot mata sang kekasih,mengejar Vea yang sudah di dekat pintu.
" Ini gak seperti yang kamu pikirin Yang,tunggu dulu" pinta Dave frustasi dengan langkah cepat hendak menyusul Vea. Namun suara dentaman pintu yang di banting membuat Dave terperangah.
Blammm
Suara pintu yang juga menyadarkan wanita yang sedang terpesona melihat badan Dave.
" Eh Lo siapa ?" tanya Dave, kembali pada wanita asing yang tiba-tiba ada di apartemennya. Ia tak mungkin mengejar kekasihnya dengan keadaan tubuhnya yang setengah telanjang.
" Gue Nai,yang semalem udah bantu Lo pulang dari club'" jawab Nai seraya melangkah santai kearah sofa.
" Kok Lo gak balik,kacau kan jadinya " ucap Dave sambil duduk dan mengguyar rambutnya ke belakang.
" Gue yang nyuruh dia buat nginep. Udah malam banget,mobil dia juga masih di club" bukan Nai yang menyahut melainkan Gerald yang baru keluar kamar masih dengan bertelanjang dada. Berjalan kearah dispenser dan mengambil air dingin untuk di minumannya.
" Aargh,kalau gini Vea pasti salah paham" geram Dave seraya menjatuhkan kepalanya di sandaran sofa.
" Ya tinggal Lo jelasin lah,apa susahnya. " santai Gerald yang kini duduk di samping Nai dan langsung mendapat tatapan mematikan dari Dave.
" Gue lagi ada masalah sama dia,sekarang di tambah kayak gini. Lo juga,ngapain pakai tidur di kamar gue"
" Ya kan kamar tamu di pakai Nai,masa gue tidur sama dia "sangkal Gerald. Karena pada akhirnya semalam Gerald tak tega melihat sahabatnya meringkuk di sofa. Di papahnya masuk ke kamar. Dan sialnya Dave muntah mengenai kemeja Gerald. Akhirnya mereka tidur hanya dengan celana saja.
" Itu lebih baik " sungut Dave.
" Emang gue Lo ?"
Nai hanya menikmati dua lelaki tampan dengan tubuh yang membuatnya terkesima . Tak memperdulikan dus lelaki yang sedang berdebat. Pemandangan indah di hadapannya,terlalu berharga untuk di lewatkan. Paras tampan dengan tubuh atletis. Benar-benar pahatan yang sempurna.
" Lo anterin nih cewek,gue mesti kelarin masalah gue sama Vea'' titah Dave sambil beranjak. Baru melangkah beberapa jengkal,Dave berbalik menatap Nai.
''Dan buat Lo, thanks udah bantuin gue semalem'' ucap Dave yang hanya di angguki oleh Nai dengan tatapan mupeng nya.
Pagi yang benar-benar memusingkan untuk Dave. Sudah pusing karena sisa mabuk tadi malam. Sekarang di tambah kekasihnya yang pasti marah dan kecewa padanya.
Tapi semua kesalahpahaman ini juga berawal dari dirinya. Andai dia semalam tak mabuk parah tentu tak akan di bantu pulang oleh Nai. Dan berakhir satu ranjang dengan Gerald.
Ah,entah apa yang kini di pikirkan sang kekasih tentang dirinya. Yang pasti dia menambah lagi nilai negatif di dirinya. Hah, benar-benar pagi yang menyebalkan.