If

If
Karma kah ?



Hermawan dan Atika meninggalkan restoran setelah Aksara mengatakan bahwa Vea memilih untuk tinggal. Wajah Hermawan masih tampak keruh. Sesekali Atika melirik wajah tegang suaminya. Perlahan wanita yang masih cantik di usia yang tak lagi muda itu menggenggam tangan suaminya.


" Ada apa ? " tanya Atika lembut,ia menyadari ada yang tidak beres pada suaminya. Saat tadi mereka berangkat dari rumah lelaki itu nampak bersemangat. Tapi kenapa semua berbanding terbalik saat mereka bertemu. Bahkan Hermawan dengan mudahnya membuat keputusan yang mengecewakan untuk putri semata wayang mereka.


"Aku kurang setuju mereka menikah Ma ". jawab Hermawan tanpa menoleh pada istrinya.


" Lho bukannya Papa sudah kasih restu buat mereka. Apa yang membuat Papa berubah pikiran ?, bukannya Papa ingin mereka segera menikah ?'' cecar Atika yang merasa heran dengan suaminya. Tampak Hermawan menghela nafas panjang.


" Latar belakang keluarga Dave terlalu semrawut Ma " sahut Hermawan membuat istrinya mengernyitkan dahi.


" Maksud Papa ?"


"Vani, Mamanya Dave, dia itu wanita dengan segudang skandal. Inget mas Arif temen Papa yang sempat gonjang-ganjing keluarganya ?'' tanya Hermawan seraya menatap sekilas pada sang istri. Tampak Atika mengangguk pelan.


" Dia wanita simpanan Arif Ma,dan dikalangan pengusaha yang suka bermain wanita nama Vira tidak asing . Bagaimana bisa kita punya besan seperti dia ?, saya jadi penasaran latar belakang Dave. Apa dia juga anak salah satu lelaki yang memakainya." jelas Hermawan yang membuat Atika terpaku. Semua penjelasan dari suaminya membuatnya kaget.


" Bagaimana dengan Vea Pa ?" satu pertanyaan yang mengganjal di hati wanita itu. Apa demi sebuah nama baik ia harus mengorbankan kebahagiaan sang putri ?.


" Papa juga masih bingung Ma, melihat bagaimana Dave memperlakukan Vea Papa juga tidak tega memisahkan mereka. Papa bisa melihat ketulusan dari caranya memperlakukan Vea. Tapi mengingat masa lalu ibunya rasanya berat Ma " ucap Hermawan. Sesaat hening melingkupi sepasang suami istri itu.


Atika mengerti kecemasan sang suami, namun ia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengan anaknya jika harus di pisahkan dengan Dave. Ia bisa melihat betapa besar cinta mereka.


" Kita harus bicarakan dengan Aksara Pa,kita dengar pendapat anak-anak. Jangan karena ego kita. Kita kehilangan anak, sudah cukup Vea pernah pergi dari rumah karena keegoisan kita. Kita sebagai orang tua harus bisa menekan ego demi kebahagiaan anak Pa " ucap Atika lembut masih dengan menggenggam tangan suaminya.


Hermawan terdiam, egonya untuk menjunjung nama baiknya masih menguasai hati. Tapi kehilangan sang putri pun tak pernah terlintas dalam benaknya. Ia sangat menyayangi putrinya itu. Jelas ia menginginkan kebahagiaan untuk anaknya. Tapi kenapa harus dengan seorang Dave kebahagiaan putrinya ?.


Di sisi lain Vina termangu menatap langit malam di balkon rumahnya. Wanita itu telah sampai di rumah. Air matanya tak dapat lagi ia tahan. Inikah istilah tabur tuai itu ?, pertanyaan mendobrak hatinya yang di selimuti oleh rasa bersalah. Namun ia yang telah menabur keburukan di masa lalu, kenapa harus sang putra yang menuai karmanya ?.


Jelas ia melihat perubahan sikap Hermawan setelah menyadari keberadaan dirinya. Ia tahu siapa Hermawan saat ia menjalin hubungan gelap dengan Arif,salah satu pengusaha sukses sahabat Hermawan. Saat ada dinas keluar Vina di bawa oleh lelaki itu dan sering bertemu dengan Hermawan yang notabene adalah rekan kerja Arif.


Kini semua jadi Boomerang untuk dirinya. Di saat ia bahagia mendapat pengakuan dari sang anak. Namun justru keberadaan dirinya adalah batu sandungan untuk putra semata wayangnya. Haruskah ia pergi lagi dari kehidupan sang anak ?. Akankah kepergiannya merubah keadaan ?.


Segala resah berbalut tanya tanpa jawaban. Membuat hatinya risau tak berkesudahan. Ia jelas ingin berada di samping putranya untuk menghabiskan sisa hidupnya. Namun jika keberadaan dirinya menghalangi kebahagiaan sang anak ia pun tak boleh egois hanya untuk memikirkan kebahagiaannya saja.


Ia yang dulu sudah menyia-nyiakan sang anak,ia yang dulu meninggalkan . Bahkan membiarkan anaknya hidup dalam keterbatasan. Merangkak untuk menggapai semua mimpi-mimpinya. Hingga akhirnya bisa berdiri dengan kedua kakinya tanpa penopang,tanpa ada yang menggenggam tangannya.


Banyak luka yang telah ia torehkan, banyak kesakitan yang telah ia tinggalkan di hati sang putra. Masih pantaskah ia berpikir egois untuk berada di samping anaknya sedang ia tahu ialah penghambat kebahagiaan yang kini sedang di perjuangkan sang anak.


" Andai waktu bisa ku putar kembali " lirih Vina, menyesali segala yang telah ia lakukan di masa lalu. Demi kemudahan dan kemewahan ia telah mengadaikan harga diri. Dan kini ia sadari,bahwa ia tak akan mampu menebus harga diri yang telah ia gadaikan.


Banyak kata " jika " terselip di benaknya. Jika ia dulu mampu bertahan dalam keterbatasan,jika ia mampu menekan segera keegoisan,jika ia bisa menjadi ibu yang memperjuangkan kebahagiaan sang anak. Dan semua tinggal lah jika. Tak ada yang bisa merubah masa lalu yang terlanjur terjadi.


Mungkin bisa untuk memperbaiki diri, tapi tak mungkin merubah kenyataan yang telah terjadi.


" Aku harus berbicara dengan Hermawan. Demi Dave,aku tidak mau dia terluka lagi. Sudah terlalu banyak luka yang ku berikan. Dia harus bahagia dengan pilihannya." monolog Vina.


Apapun yang terjadi ia harus berjuang untuk kebahagiaan anaknya. Ia tak bisa mengubah apa yang sudah terjadi. Tapi ia masih bisa berjuang untuk kebahagiaan Dave. Meski ia harus pergi lagi dari kehidupan sang anak. Ia harus rela, jangan karena egonya Dave kembali terluka.