
Sampai di depan rumah Vea,Dave menghentikan laju mobilnya. Perasaannya masih belum tenang. Mendapati sang kekasih disentuh lelaki lain. Menimbulkan percik bara di hatinya. Ada amarah,cemburu dan juga terluka harga dirinya.
Perasaan gagal melindungi sang kekasih mendominasi hatinya. Saat Vea membuka sabuk pengaman,Dave langsung meraih tubuh sang kekasih. Membawanya dalam pelukan.
" Maaf " lirih Dave dengan memeluk erat tubuh Vea. Vea yang sedari tadi menahan tangis langsung terisak.
" Maaf aku udah gagal jagain kamu " ucap Dave dengan suara tercekat. Ia melepaskan pelukannya, menangkup pipi Vea. Menatap wajah kekasihnya yang masih berlinang air mata.
" Jangan nangis, Daren ngapain kamu ?" tanya Dave lembut sembari menghapus air mata di pipi Vea.
" Dia gak maksa kamu kan ?'' lembut Dave. Vea menggeleng pelan . Ada kelegaan yang masuk ke dalam hatinya. Setidaknya lelaki sialaaan itu tak memasuki wanitanya.
Dave merapikan anak rambut Vea yang berantakan. Menunggu wanitanya tenang. Perlahan Vea menguasai dirinya,tak lagi hanyut pada ketakutan yang menguasai hati.
Tangan Dave beralih menyentuh bibir kekasihnya dengan ujung jari.
'' Dia cium kamu ?'' tanya Dave dengan tatapan keduanya saling bertaut. Vea mengangguk pelan. Tak bisa di pungkiri ada sengatan yang menyambar di hati Dave. Namun ia pun tak bisa menyalahkan kekasihnya.
'' Maaf,aku...." ucapan Vea terpotong,Dave menutup bibir kekasihnya dengan jari telunjuk. Ia menggeleng pelan,tak ada yang perlu di maafkan dan meminta maaf. Vea tak bersalah. Ia hanya lah korban dari obsesi gila seorang Daren .
'' Kamu gak salah '' ucap Daren meyakinkan sang kekasih. Daren mendekatkan wajahnya pada Vea. Mendaratkan sebuah ciuman lembut di bibir sang kekasih. Vea membalas ciuman Dave dengan melumaat bibir lelaki itu. Beberapa saat keduanya hanyut dalam ciuman lembut tanpa hasrat. Sebuah ciuman penyampaian rasa cinta yang masih sama besarnya di hati mereka.
Dave melepas tautan bibir keduanya. Ia menghapus saliva yang menempel di bibir sang kekasih. Kemudian meraih tubuh Vea kembali masuk dalam dekapannya.
" I love you Alivea " bisik Dave seraya mengecup pundak Vea.
" I love you too " sahut Vea . Cukup lama keduanya saling berpelukan. Menenangkan hati masing-masing. Vea yang masih diliputi rasa was-was. Dan Dave yang masih menyisakan amarah, karena wanitanya di lecehkan rivalnya.
" Aku masuk ya " pamit Vea saat keduanya saling tatap . Dave tersenyum kemudian turun dari mobil. Membukakan pintu untuk kekasihnya.
" Makasih " ucap Vea,Dave tak menyahut hanya tersenyum lembut kemudian menyematkan kecupan manis di kening sang kekasih.
" Selamat malam juga,aku masuk ya " tutur Vea yang di angguki oleh Dave. Vea melangkah meninggalkan Dave yang masih menatap dirinya yang menjauh. Vea membalikkan badan saat ia telah berada di depan pintu masuk. Melambaikan tangan pada Dave yang masih berdiri bersandar di badan mobil. Dave membalas lambaian tangan wanitanya.
Vea tersenyum lebar kemudian masuk, menghilang di balik pintu rumahnya. Dave yang telah melihat kekasihnya masuk . Ia kemudian berlalu, masuk ke dalam mobil dan meninggalkan halaman rumah mewah itu.
Di balik jendela rumah mewah itu,Vea membuka tirai jendela. Tersenyum samar saat kekasihnya telah pergi. Rasa di hatinya kian membuncah, rasanya ia di buat jatuh cinta lagi pada lelaki yang selalu memperlakukan dirinya dengan istimewa.
✨✨✨
Geliat sang Surya mulai menampakkan diri di ufuk timur. Menandakan dunia menyapa pagi para manusia. Salah satunya Dave yang membuka mata. Menoleh kearah meja yang berada di sampingnya. Foto wanita yang sedang tersenyum, cukup membuat ia semangat memulai harinya.
Dave meraih ponsel yang terletak di samping bingkai berisi foto Vea.
" Pagi Honey " tulis Dave yang langsung ia kirim pada sang kekasih. Tak menunggu lama sebuah balasan masuk.
" Pagi sayang ku " balas Vea dengan emoticon kiss di belakang pesannya membuat Dave tersenyum senang.
Dan chat di pagi hari itu berlangsung cukup lama. Dave tampak berguling- guling sendiri di atas ranjang. Senyum terus merekah di bibirnya. Cinta telah membuatnya mengulang waktu yang seharusnya telah ia lewati saat remaja. Debaran jantung yang bertalu-talu,dan rasa yang seakan tumpah ruah. Membuatnya menggila dan seakan tak mampu lagi hidup tanpa sang kekasih.
Dave bersiul ringan setelah selesai berbalas pesan dengan kekasihnya. Ia mengambil handuk yang tersampir di gantungan handuk yang terletak di sudut kamar tidurnya. Mengguyur tubuh,sambil berdendang kecil.
Kejadian semalam sedikit terlupakan. Meski belum seutuhnya, kalau tidak di halangi sang kekasih. Daren pasti babak belur di tangannya.
Dave menyelesaikan ritual mandinya. Berjalan kearah walking closed . Mengambil kemeja,celana, jas serta dalaman. Selesai mengenakan pakaiannya,Dave mematut diri dalam cermin besar yang terletak di ruangan itu.
Saat sedang merapikan rambutnya,suara dering telepon membuat ia menghentikan kegiatan paginya. Mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja. Notifikasi chat masuk dari Marcell . Dave mengernyitkan dahi seraya membuka pesan dari anak buah kepercayaan dirinya.
Dave membeku di tempat,saat membaca chat yang di kirim Marcell. Chat itu memberitahu pada Dave jika ada beberapa klien penting yang tiba-tiba membatalkan kerjasama. Belum jelas apa alasan mereka batal menggunakan jasa dari perusahaan interior miliknya.
Marcell meminta Dave untuk datang pagi-pagi. Mereka hendak mengkonfirmasi apa alasan pembatalan kerjasama ini. Dave memijit pelipisnya. Seketika kepalanya berdenyut. Sudah bisa di bayangkan berapa banyak kerugian yang akan ia dapatkan. Jika klien benar-benar memutuskan kerja sama. Masalahnya hampir interior yang mereka pesan sudah dalam proses pengerjaan di workshop.