If

If
Dave Vs Daren



Langkah panjang Dave,membawa lelaki itu menyusuri lobby perusahaannya. Beberapa kali berpapasan dengan karyawan yang menyapanya dengan ramah. Dave hanya mengangguk dan tersenyum tipis sebagai balasan. Lelaki itu hanya ingin segera masuk ke dalam ruangannya dan berdiskusi dengan Marcell.


Derap langkah Dave terdengar nyaring di lorong menuju ruangannya, setelah lelaki itu keluar dari lift. Langkah tegap dengan wajah serius melukiskan suasana hati pemilik rupa tampan itu.


" Pagi Pak !" Disya menyambut dengan membungkukkan badan.


" Pagi " sahut Dave sambil lalu . Kemudian menarik handle pintu ruangannya. Dan lelaki itu menghilang dari pandangan Sang sekertaris.


Tak berapa lama,daun pintu kembali terbuka. Dave tampak menyembulkan kepala. Menatap Disya yang sudah di sibukkan dengan pekerjaan.


" Dis !'' panggil Dave dari ambang pintu. Membuat wanita yang memakai kacamata saat bekerja, menoleh padanya.


" Ya pak ?" tanggap Disya dengan tatapan tertuju pada sang atasan.


" Tolong panggilkan Marcell,saya tunggu di ruangan " titah Dave dengan nada datar. Disya segera mengangguk seraya menyahut.


" Baik Pak " jawaban yang keluar bersamaan pintu ruang kerja Dave kembali tertutup.


Dave kembali duduk di kursi kebesarannya. Duduk dengan gelisah sembari membuka dokumen di tangannya.


Sebuah ketukan pintu, menyadarkan Dave yang terpaku. Menatap lembaran kertas dengan tatapan kosong.


" Masuk !" seru Dave,membuat sang pengetuk pintu menyembulkan wajahnya dari balik pintu.


" Pagi Pak !" sapa Marcell seraya melangkah masuk. Dave berdiri dari kursinya.


" Pagi Cell " sambut Dave sambil mengarahkan tangannya ke arah sofa. Meminta lelaki muda itu untuk duduk di sofa.


Kedua lelaki itu kini duduk berseberangan. Dave tampak duduk bersandar, melihat Marcell yang mengeluarkan beberapa kembar kertas dan juga foto.


" Ini bukti kecurangan dari DAJ desaign corp pak. Setelah di selidiki mereka menawarkan harga tidak masuk akal untuk desain dan rupa yang sama seperti yang kita tawarkan. Ini foto barangnya,dan ini harga yang mereka tawarkan " Marcell menyodorkan foto dan lembaran keras ke hadapan Dave. Tak menunggu lama,Dave mengambilnya dan meneliti dengan seksama.


" Gila,dengan spek yang sama bisa ngasih penawaran segini ?. Ini sih udah gak waras '' keluh Dave saat melihat gambar yang sama persis dengan barang yang di produksi oleh workshopnya. Namun dengan penawaran harga setengah dari yang ia patokan untuk barang yang sama.


Dave hanya bisa geleng-geleng kepala,merasa semua tak masuk akal. Tak mungkin orang yang berasal dari dunia bisnis sekelas Daren mau rugi hanya karena dendam pribadi. Ini pasti ada yang tidak beres,pikir Dave .


'' Siap Pak, nanti saya urus. Oh ya,jam makan siang nanti ada pertemuan dengan salah satu klien yang hendak membatalkan kerjasama. Jadwalnya sudah saya berikan pada Disya " ucap Marcell sembari membereskan kertas dan memasukkan ke dalam map.


'' Oke, nanti kamu temani saya. Oh ya,yang mengerjakan desain restoran Pak Wandi siapa ?'' tanya Dave pada Marcell yang sudah selesai dengan berkas-berkasnya yang kini telah tersusun rapi di dalam map biru itu .


" Shandy Pak '' singkat Marcell sambil berdiri dari duduknya.


'' Tolong sampaikan pada Disya,hubungi Shandy dan suruh dia ke sini ''titah sang atasan yang kini juga beranjak dari sofa.


'' Baik Pak'' Marcel mengangguk mengiyakan.


'' Kalau begitu saya pamit " lanjut Marcell yang hanya di jawab '' ya'' saja oleh atasannya.


Marcell menghilang di balik pintu ruangannya. Kini Dave duduk dengan kepala ia sandarkan di kursi. Menengadah menatap langit-langit ruang kerjanya. Sebuah senyum smirk muncul di wajah rupawan tersebut.


'' Lo bener-bener mau bikin kacau usaha gue Daren. Lihat apa yang bisa gue lakuin sama lo'' ucap Dave seorang diri. Dengan senyum penuh balas dendam .


✨✨✨


Di lain tempat, Daren tersenyum smirk. Menatap terik sang mentari dari balik kaca ruang kerjanya. Dengan tangan ia masukkan ke dalam saku celananya. Lelaki itu berdiri menghadap keluar ruangan.


Menghancurkan Dave Mahendra menjadi tujuannya saat ini. Lelaki itu menyentuh sudut bibirnya yang masih membiru akibat pukulan dari Dave malam itu .


'' Lo bakal bayar mahal ini semua Dave Mahendra '' ucapnya dengan sebuah tatapan tajam penuh kebencian.


Daren terlahir dari keluarga kaya raya dengan backing an yang tidak main-main. Seakan segala hal bisa ia dapat hanya dengan menjentikkan jarinya. Membuat ia tumbuh menjadi lelaki arogan,keras kepala dan tak mengenal penolakan. Semua yang ia inginkan harus ia dapatkan. Apapun itu.


Penolakan Alivea yang kabur di hari pernikahannya menjadi pukulan telak seorang Daren Atmajaya,dan kini Dave Mahendra berani menyentuhnya. Ia akan memastikan Dave menyesal dengan apa yang sudah di perbuat padanya.


Daren beranjak dari tempatnya berdiri. Kembali duduk di kursi kerjanya. Menatap file yang tergeletak di atas mejanya. Senyum mengembang sempurna. Data para klien penting perusahaan Dave sudah ia dapatkan. Tinggal ia melobi satu persatu dari mereka. Dan menawarkan kerjasama. Habislah Dave jika Daren mampu mengambil alih semua klien penting miliknya.


" Gue bakal jadi orang yang paling keras bersorak atas kehancuran lo Dave." tutur Daren bermonolog. Tatapan bengisnya, memperlihatkan betapa lelaki itu sungguh angkuh. Dengan semua harta yang ia miliki ia merasa mampu dengan mudah meruntuhkan perusahaan Dave. Tunggu kabar perusahaan itu collapse dan dia akan menyaksikan dengan senyum kemenangan.