If

If
Setiap Orang Punya Cerita



Dengan formasi lengkap keluarga Dwilangga sarapan pagi. Senyum bahagia terpancar di wajah cantik wanita berumur lebih dari setengah abad itu . Melihat kembali putrinya berada di antara mereka adalah sebuah kebahagiaan yang tak ternilai. Betapa selama ini ia begitu merindukan putrinya. Namun ego sebagai orang tua yang merasa di sepelekan oleh anaknya membuat ia menutupi semua rasa rindu itu.


''Kok sudah rapi sayang,masa baru pulang langsung ke kantor ?" protes sang Mama melihat Vea yang sudah rapi dengan stelan kerja.


'' Vea ada kerja yang harus di selesaikan hari ini Ma,jadi Vea tetep ngantor. Nanti Vea usahain pulang cepet. Vea juga belum sempet ngobrol sama Mbah.'' sahut Vea yang sedang mengambil beberapa lauk dan di pindahkan ke dalam piringnya.


'' Lho bukannya selama ini kamu gak ngantor,mau menyelesaikan apa ?" heran sang Mama yang menyangka sang anak hendak ke perusahaan keluarga.


'' Vea belum ke kantor Papa ma, Vea masih kerja di tempat temen. Gak mungkin juga Vea langsung keluar gitu aja. Vea mesti tanggung jawab sama kerjaan yang udah Vea pegang'' jelas Vea.


''Duh sayang Mama, Mama jadi merasa bersalah banget sama kamu. Kamu pasti jadi susah selama ini '' ucap Nana dengan mata berkaca-kaca.


''Mama gak usah ngerasa bersalah seperti itu,Vea baik-baik saja Ma'' ucap Vea meyakinkan dengan seulas senyum manis di bibir wanita cantik itu.


''Vea itu bukan perempuan cengeng Ma,dia itu perempuan mandiri. Dia sudah bisa membuktikan kalau dia mampu menghidupi diri sendiri. Dan Kakak bangga dek sama kamu" Aksara menimpali di sela sarapan paginya.


" Dan karena Vea sudah membuktikan kemampuannya bertahan tanpa embel-embel Dwilangga,papa akan menyerahkan kantor anak cabang perusahaan di bawah kepemimpinan kamu. Biar kakak kamu fokus mengurus kantor pusat . "


" Hah,gak bisa gitu dong Pa. Untuk perusahaan Vea belum mampu ".


" Ini perintah Vea bukan tawaran " tegas sang Papa.


" Ku pasti bisa Ve,nanti Kakak masih dampingin kamu gak usah khawatir " sambung Aksara yang menang menginginkan adiknya memegang salah satu kantor cabang.


" Iya nanti Vea pikirin. Tapi gak sekarang ini. Aku masih pengen kerja di tempat Zee. Aku selesain dulu tanggung jawab aku di sana. Nanti kalau pekerjaan yang aku handle udah selesai baru aku resign".


" Iya,tapi jangan lama-lama. Pagi bener- bener butuh bantuan kamu di perusahaan Ve " ucap Papa yang telah selesai dengan sarapannya.


" Iya Pa " jawab Vea yang juga telah selesai.


Sedang dua wanita lain Mama dan Claudia memilih diam menyimak. Mereka tak paham dengan perusahaan yang di kelola suami mereka. Karena mereka memilih membuka usaha lain. Keduanya membuka salon kecantikan yang sudah terkenal di kalangan mereka.


Setelah semua selesai dengan sarapannya,Papa pamit berangkat bersama sama dengan Aksara. Sementara Vea masih menunggu Dave yang baru mengabarinya sedang di jalan. Mama dan Claudia sudah kembali ke kamar hendak bersiap pergi ke salon mereka.


" Non, sudah di tunggu di luar " ucap salah satu asisten rumah tangga yang bekerja di sana.


" Oh iya mbak makasih " Ucap Vea ramah di bumbui sebuah senyum manis.


" Iya non, mari " pamit wanita yang mungkin hanya beda empat atau lima tahun dengannya. Vea hanya mengangguk kemudian beranjak dari ruang keluarga,dana ia duduk menunggu jemputan dari Dave.


Dengan langkah anggunnya Vea keluar rumah. Mendapati sang kekasih bersandar di badan mobil dengan dua tangan berada di saku celana chinos berwarna biru gelap. Jas warna senada membalut tubuh atletisnya. Kemeja putih sebagai dalaman jas tanpa dasi mengalung di leher. Tersenyum manis menyambut sang pujaan hati.


Dave menyusul naduk ke dalam mobil. Meraih seat belt yang sedang Vea pegang untuk ia pasangkan. Namun dengan cepat diambil alih oleh Dave. Dan diakhiri dengan sebuah kecupan lembut di bibir yang merekah merah itu. Vea tersipu saat Dave melepas kecupan singkatnya dan menatap dalam mata Vea.


" I miss you , honey " lirih Dave seraya membelai pipi Vea. Romantis,satu kata yang pas untuk dua sejoli yang sedang dilanda cinta.


" I miss you too " sahut Vea. Senyum Dave mengembang,lagi sebuah kecupan di bibir Vea sebelum Dave duduk tegak di belakang kemudi.


" Sayang, rencana kamu ke depan gimana ?, tinggal di rumah kamu atau balik ke apartemen ?" tanya Dave setelah melajukan mobil di jalanan yang masih macet karena masih jam sibuk orang berangkat ke tempat aktivitas.


" Kayaknya bakal tinggal di rumah deh,kasian Mama. Apalagi kalo Kak Aksa udah pindah ke rumah baru mereka. Paling ke apartemen kadang-kadang aja . Emang kenapa ?" tanya Vea sambil menoleh,menatap wajah tampan yang sedang fokus menyetir.


" Ya gak apa-apa sih,gak bisa nginep aja lagi di apartemen kamu " jawab Dave yang membuat Vea melengos dengan bibir mencebik.


" Bilang aja,gak bisa bebas lagi " ucap Vea sambil menyandarkan punggung di sandaran kursi mobil. Dave terbahak kemudian meraih tangan sang pacar untuk di genggamannya.


" Tahu aja kamu Yang ".


" Emang setiap kamu pacaran harus selalu gituan ?" selidik Vea yang sebenarnya terkadang masih merasa ragu dengan lelaki di sampingnya.


" Aku gak pernah pacaran,baru sama kamu. Kan aku udah bilang kamu cinta pertama aku. Meski ya aku akui kamu bukan yang pertama buat aku" jujur Dave.


Tak bisa di pungkiri ada rasa ngilu saat mendengar kejujuran itu. Tapi bukankah dari awal Vea pun tahu seperti apa lelaki yang kini menyandang status kekasih untuknya ?. Vea hanya bisa menghela nafas,menata hati . Mencoba mengerti bahwa setiap manusia memiliki cerita untuk masa lalunya.


" Maaf " ujar Dave seraya membawa tangan Vea dan mengecupnya. Vea menoleh dengan dahi mengernyit.


" Maaf untuk apa ?" lembut Vea yang tak mengerti maksud kekasihnya.


" Untuk masa lalu yang sudah tidak bisa aku ubah". sahut Dave.


" It's oke,semua orang punya cerita. Dan aku hanya sedang beradaptasi dengan kamu." Sejenak Dave menoleh wanitanya yang sedang tersungging manis untuknya.


Dave kembali menatap jalanan yang masih saja padat merayap. Vea mengangkat tangannya,menyentuh pipi lelakinya.


" Maaf kalau terkadang aku masih sulit untuk menerima masa lalu kamu. Katakanlah aku cemburu pada semua wanita yang pernah hadir di hidup kamu." Dave meraih tangan yang membelai lembut pipinya. Membawa tangan itu di dadanya,tanpa menoleh sang kekasih yang menatap dalam padanya.


" Kamu rasakan detak jantungku. Hanya karena kamu bilang cemburu,jantungku saja sudah berdebar sebegini kerasnya. Aku seneng kamu bisa nerima aku. Aku paham kalau bukan hal mudah untuk menerima masa laluku. Tapi akan aku buktikan,kamu akan jadi wanita satu-satunya untukku." tutur Dave percaya diri.


Vea tersenyum merasakan detak jantung sang kekasih yang begitu cepat. Semoga ia tak salah memilih lelaki ini sebagai kekasih. Meski pertemuan mereka oleh sebab yang salah. Tapi ia berharap cinta yang hadir bukanlah rada yang salah .