
Mendekap erat tubuh sang kekasih yang bersandar nyaman di dada bidangnya. Menghirup aroma wangi yang menyeruak dari rambut yang kini tampak acak-acakan karena ulah dirinya. Di balik selimut itu dua sejoli saling memberi kehangatan dalam dekapan tanpa penghalang kain yang melekat di tubuh mereka.
Menetralkan degub jantung yang berpacu cepat selepas lenguhan panjang setelah mendapat pelepasan dari sebuah belenggu kenikmatan dunia.
" Jangan pulang ya, nginep sini aja " pinta Dave yang berhasil membawa sang kekasih masuk apartemen miliknya. Sepulang kerja ia menjemput kekasihnya dan membawanya ke apartemen dengan alasan mobil Vea diantar orang bengkel ke apartemen miliknya. Tapi nyatanya mobil milik Vea tak ada di sana. Dan pihak bengkel mengatakan mobil milik Vea belum selesai pengerjaan nya.
" Mama nungguin, kasihan. Baru juga aku pulang ke rumah" sahut Vea yang masih mendusel di dada lelakinya. Di dada bidang itu kini ia merasakan sebuah kenyamanan.
Dave mengangkat dagu wanita cantik itu. Memberi sebuah kecupan singkat di bibir yang selalu merona merah meski lipstik sudah pudar karena ulah Dave.
" Ya udah,nanti aku anterin, tapi...." ucap Dave diikuti sebuah senyum menggoda dengan tangan yang sudah berkeliaran di balik selimut.
" Sekali lagi'' bisik Dave di telinga Vea seraya mengigit kecil daun telinga Vea yang membuat wanita itu merinding. Vea menunduk dengan rona merah di wajahnya. Baginya hal intim yang ia lakukan dengan Dave masih membuatnya malu. Meski ia tak memungkiri bahwa ia menikmati setiap sentuhan lelaki itu.
Dave mengangkat wajah Vea dengan ujung jari yang ia tempelkan di dagu Vea. Senyum terukir di bibirnya saat melihat wajah malu-malu dari sang kekasih. Baginya itu terlalu menggemaskan.
Dan tanpa lagi permisi Dave mencium bibir yang selalu menggoda dirinya. Meluumat lembut penuh perasaan hingga akhirnya menjadi panguutan dan sesapan penuh gelora. Mengantar dua jiwa yang menyatu dalam hasrat yang membara. Menepikan segala norma menganggap itu hal lumrah atas dalih bernama cinta.
Setelah pergulatan panas mereka sesi dua, akhirnya mereka meninggalkan apartemen Dave setelah membersihkan diri. Dave mengantar pujaan hatinya untuk kembali ke rumah.
Sepanjang perjalanan Dave menggenggam tangan Vea dengan senyum yang terus tercetak di bibirnya. Dahaga kelelakiannya tersalurkan dengan kepuasan yang ia rasa luar biasa. Berbeda saat ia melakukan dengan wanita-wanita yang selama ini menjadi penghangatnya. Cinta menjadikan hubungan itu terasa istimewa. Bukan hanya sebuah buncahan rasa surga dunia namun juga hati yang seakan berbunga-bunga.
Dave yang merasa begitu bahagia atas cinta yang ia rasa. Berbeda dengan Vea yang duduk termenung dengan tatapan menerawang. Hatinya merasa gamang. Hubungan yang ia jalani dengan Dave baginya terlalu jauh.
" Sayang, kenapa ?" tanya Dave saat menyadari Vea termenung. Vea menghela nafas berat.
" Sampai kapan hubungan kita begini ?" lirih Vea tanpa menatap Dave, tatapan matanya melihat jalanan yang masih padat meski hari telah menggelap.
" Maksud kamu ?" tanya Dave seraya mengernyit.
" Hubungan kita gak sehat Dave. Kita terlalu jauh melampaui batas." ucap Vea dengan nada berat. Ia merasa telah mengecewakan kedua orang tuanya. Juga merasa gagal untuk menjaga diri.
Keperawanan mungkin memang bukan tolak ukur untuk menilai seseorang. Namun dengan ia tak mampu menjaganya sampai pada ikatan sakral pernikahan. Berarti dia gagal menjaga diri,karena ia telah menyerahkan tanda kehormatan nya sebagai wanita pada lelaki yang belum memiliki hak atas dirinya.
" Apa yang salah dengan hubungan kita ?, kita melakukan atas dasar cinta. Tidak ada yang kita khianati disini". ucap Dave yang tak sepemikiran dengan sang kekasih.
" Kepercayaan yang sudah aku khianati. Kepercayaan kedua orang tua ku yang percaya bahwa aku bisa menjaga diri. Tapi nyatanya ?" Vea tak melanjutkan ucapannya, tenggorokannya tercekat. Hanya mampu menghela nafas berat.
" Kita udah sama-sama dewasa Ve,kita berhak untuk hidup kita sendiri. Bukan lagi urusan orang tua kita " ujar Dave membuat Vea menatap tajam lelaki yang kini tak lagi menggenggam tangannya.
Istri ?. Bahkan tak pernah sedikitpun Dave berpikir tentang pernikahan untuk hubungan mereka. Melihat Dave yang terdiam membuat Vea merasa kesal .
" Dave !" sentak Vea yang merasa di abaikan.
" Kenapa harus mempermasalahkan sesuatu yang gak bermasalah si Ve. Jalani saja hubungan kita,semua baik-baik saja".
" Kita harus bicara serius tentang hubungan ini Dave. Kita udah terlalu jauh" tuntut Vea,dengan tatapan mengarah pada lelaki yang kini menatap lurus ke depan. Hilang sudah aura bahagia yang tadi menyelimuti wajah tampan Dave.
" Terlalu cepet Ve,kita baru kenal" jawab Dave.
" Seperti yang kamu bilang,kita sudah sama-sama dewasa Dave,apa yang kita tunggu ?" tanya Vea,Dave bungkam. Wajahnya mengeras, baginya pernikahan seperti momok yang begitu menakutkan untuk dirinya.
" Atau jangan-jangan kamu memang gak pernah berniat serius sama aku ?" lanjut Vea
" Please Ve, jangan sekarang kita bicarakan ini. Untuk saat ini aku nyaman dengan hubungan kita seperti ini" jawab Dave dengan nada melembut. Ia sadar wanitanya sedang kesal.
" Kayaknya kita mesti pikir ulang hubungan kita " pungkas Vea yang langsung membuat Dave menoleh kearah Vea.
" Jangan ngaco Ve,aku cinta sama kamu. Gak usah macem-macem " nada bicara Dave sedikit meninggi.
" Aku cuma butuh satu macem Dave, keseriusan kamu tentang hubungan ini,aku gak mau jadi wanita begoo yang cuma kamu jadiin partner sexx kamu".
" Jangan tuntut aku itu Ve,saat ini aku gak kepikiran buat nikah,belum kepikiran lebih tepatnya. Aku cinta sama kamu,kamu bukan sekedar partner sexx buat aku. Kamu segalanya Ve". tutur Dave dengan gemuruh dalam dadanya. Vea tersenyum sinis mendengar kata cinta dari seorang Dave.
" Cinta ?, kamu bilang cinta ?. Tapi kamu gak bisa kasih kepastian buat aku !"
" Ve,cinta gak harus di ikat dalam pernikahan kan ?, kamu lihat di luar sana banyak pasangan hidup bersama tanpa menikah dan mereka bahagia". kekeh Dave yang tetap tak mau memberi sebuah kepastian untuk kekasihnya. Sambil ia mengerem mobilnya yang telah memasuki sebuah pelataran luas di depan istana Dwilangga.
" Dave,kita tinggal di negara yang masih menjunjung adat ketimuran. Bukan negara bebas seperti yang kamu katakan. Aku gak bisa harus hidup bersama lelaki tanpa ikatan pernikahan,termasuk dengan kamu." ucap Vea yang sedang membuka seat belt. Dave meraih tangan Vea setelah wanita itu selesai membuka sabuk pengaman. Membawa punggung tangan itu pada bibirnya dan sebuah kecupan manis Dave berikan di punggung tangan wanitanya.
" Jangan berpikir buat ninggalin aku Ve,aku gak bisa hidup tanpa kamu. Kasih aku waktu Ve " tutur Dave. Kini mata mereka saling bertaut. Vea melihat cinta yang besar di sorot mata itu. Ia hanya bisa menghela nafas kemudian mengangguk pasrah. Dave menarik Vea masuk dalam pelukan.
" I love you" bisik Dave sebelum melepaskan pelukan. Vea tak membalas,ada kecewa yang masih menyelinap di hatinya. Bagaimana bisa seseorang yang mengatakan cinta ?dan mengaku tak mampu hidup tanpanya. Tapi tak berani menjanjikan pernikahan untuknya.
" Aku turun,kami hati-hati " ucap Vea sambil membuka pintu mobil Dave tanpa menawari lelaki itu untuk sekedar mampir .
Dave hanya bisa menatap dalam diam. Saat kekasihnya berlalu meninggalkan dirinya yang masih terpaku.