If

If
Tak Ada Keraguan



Malam telah larut,namun Vea masih terjaga. Ia duduk bersandar di ranjangnya, menatap benda persegi yang belum juga di bukanya. Ia tampak menghela nafas panjang. Tapi perlahan di bukanya benda tersebut. Sebuah kotak berwarna merah,tak asing melihat benda tersebut. Namun hatinya berkecamuk ada maksud apa Fardan memberikan ini padanya ?.


Selembar kertas terselip di kotak berisi cincin itu. Vea yang tadi memegang cincin kini meletakkan benda itu di atas tempat tidur. Membuka kertas yang terlipat kecil.


*Dear Alivea


Saat kamu membaca tulisan ini mungkin aku sudah pergi, pergi jauh dari kehidupan mu. Maaf aku yang terlalu pengecut untuk bisa melihat mu bahagia dengan pilihan hatimu. Nyatanya aku tak pernah sanggup,jika akhirnya bahagia mu bukanlah aku.


Aku tak pernah menyesal mencintaimu . Karena kamu telah memberi warna terindah di hidupku. Kamu adalah kenangan yang tak mungkin terlupakan,kamu adalah keindahan yang tak bisa ku lukiskan.


Kamu pasti bertanya- tanya tentang cincin ini . Ini adalah cincin yang ku beli saat kita lulus kuliah,saat itu aku berpikir untuk melamar mu,tapi ternyata aku tak seberani itu melewati batas persahabatan yang kita bangun. Dan ini ku berikan hanya sebagai kenangan.


Cukup kenang aku sebagai lelaki yang pernah memberi cinta untukmu. Tak perlu kau pakai cincin ini,karena aku pun tak mau ada dua cincin di jari manis mu. Cukup simpan dan jadikan kenangan.


Dan..... maaf untuk malam itu. Jika kau berpikir itu nafsu,kamu salah itu satu bentuk cintaku. Meski aku tahu ,tak seharusnya ku lakukan padamu. Sekali lagi maaf.


Ijinkan aku menyimpan semua kisah manis antara aku dan kamu. Sebagai kisah indah di hatiku.


Maaf jika kini aku menepi,mencoba mengikis rasa dalam hati. Agar suatu saat jika takdir membawaku bertemu dengan mu lagi. Aku bisa menengadah dan tak terluka atas bahagia yang kau rasa. Aku bisa menjadi laki-laki yang benar-benar bisa mencintai tanpa harus memiliki. Mengikhlaskan mu dengan lelaki yang kau pilih.


Maaf, aku pergi.


Sahabat yang mencintai mu


Fardan *


Vea melipat kembali kertas di tangannya. Tanpa terasa bulir bening air matanya telah mengalir di pipi. Ia menyeka dengan telapak tangannya. Mengambil kembali cincin yang tadi ia letakkan di atas tempat tidur. Menatapnya dengan sebuah senyum getir.


Sebuah cincin sederhana, berwarna putih. Bukan cincin berlian yang mahal. Wajar karena cincin itu Fardan beli saat ia belum bekerja.


Vea tak pernah sedikitpun menyangka bahwa lelaki yang selalu ada untuknya . Memiliki banyak rencana untuk hubungan mereka. Kini ia hanya bisa menatap nanar pada cincin di tangannya.


Hatinya gamang, meski ia yakin tentang cinta yang ia berikan pada siapa. Namun mendapati cinta yang ternyata begitu lama terpendam untuknya membuat hatinya merasa bersalah.


Suara dering ponsel membuat nya mengalihkan perhatian pada ponselnya yang tergeletak di atas meja. Ia bangkit berdiri,dan mengambil benda persegi panjang itu. Sebuah Bana tertera di sana membuat bibirnya mengembang sempurna.


My Honey


Nama yang tertulis di sana. Vea segera menggeser tombol hijau untuk mengangkat video call dari kekasihnya.


" Gak lagi ngapa-ngapain, tiduran aja " sahut Vea yang menang kini telah merebahkan diri di atas ranjang.


" Kangen " ucap Dave dengan nada manja. Membuat Vea tergelak.


" Baru juga tadi ketemu " tutur Vea,dengan tatapan mata yang mengarah pada kekasihnya yang juga tengah menatapnya dalam.


" Pengennya bareng terus " ucap Dave dengan mengulum senyum.


" Memang nya mau kapan ?" tanya Vea ambigu dengan seulas senyum. Membuat Dave mengernyit bingung.


" Apanya ?"


" Di sahkan nya " jawab Vea dengan mimik wajah menantang dengan senyum lebarnya.


" Yang udah gak sabar buat disahkan ,sabar dulu dong. Aku mau kenalin kamu dulu ke mama " kini Dave merubah raut wajahnya menjadi serius.


" Serius ?" tanya Vea seperti tak percaya. Bagaimana pun ia tak pernah mendengar cerita tentang keluarga sang kekasih. Ia hanya tahu jika Dave adalah korban broken home. Tanpa pernah ia menanyakan tentang keadaan keluarga nya sekarang. Bagi Vea itu privasi Dave. Biar lelaki itu yang memilih untuk bercerita atau mengubur dalam kisahnya.


" Serius,minggu depan rencananya aku pengen kenalin kamu ke mama. Oh ya yang besok lunch aku jemput ya. kita makan di luar. Habis itu kita ke butik. Lusa temenin aku buat dateng ke pertunangan sahabat aku " ucap Dave panjang.


" Iya,besok aku kosongin jadwal habis makan siang, biar gak terburu-buru". jawab Vea.


" Ya udah Yang, sekarang tidur. Besok pagi aku jemput aja ya ?" tawar Dave yang di angguki oleh Vea.


" Oke,good night "


" Night too, jangan lupa mimpiin aku " ucap Dave yang tak melepas tatapan matanya dari sang kekasih.


" Pasti ,love you "


" Love you more "


Sepasang kekasih itu mematikan sambungan telepon dengan senyum yang masih terkembang di bibir mereka. Vea menatap ponsel yang telah padam layarnya.


Tak ada keraguan yang terselip di hati tentang siapa yang memiliki hatinya. Ia yakin,sangat yakin dengan cinta yang ia persembahkan untuk seorang Dave Mahendra. Vea mengambil cincin yang sedari tadi ia letakkan di atas meja. Dimasukkan kembali dalam kotak. Ia membuka laci meja dan mengambil satu kotak lain. Berisi kalung yang Fardan berikan untuknya.


" Thanks Dan, kamu pernah memberi warna di hidupku. Maaf jika aku melukaimu tanpa sengaja. Tapi aku sudah tak bisa lagi berpaling." monolog Vea seraya menyimpan dua benda pemberian sahabatnya. Yah, Fardan akan tetap jadi sahabatnya sampai kapanpun.