
Sepanjang jalan menuju apartemen, senyum tipis terus mengembang dibibir Dave. Sebelah tangannya menggenggam erat telapak tangan sang kekasih. Hatinya serasa berbunga-bunga. Seharian kehilangan jejak pujaan hatinya membuat ia benar-benar gila.
" Kamu kok sampai berantakan banget gitu sih ?". tanya Vea yang melihat Dave tampak sangat berantakan. Tak pernah lelaki tampan itu berpenampilan seperti itu. Meski setelah seharian bekerja.
" Aku pusing nyari kamu seharian,ke kantor kamu gak ada,tanya Zee gak tau,tanya Nena malah lagi gak ada di sini. Akhirnya aku cuma muter-muter gak jelas. Aku mutusin buat dateng ke rumah kamu,tapi ternyata ...." Dave tak melanjutkan ucapannya. Terlihat senyum kecut di bibirnya. Vea meraih tangan Dave yang masih menggenggam tangannya. Ia mengusap lembut punggung tangan Dave .
'' Namanya Fardan,dia sahabatku dari SMA. kita jarang ketemu karena di kerja di luar kota. Tadi pagi gak tahu dia darimana, tiba-tiba aja dateng pas aku lagi sedih. Rasanya lihat ada perempuan dalam apartemen kamu tuh sakit banget dada aku. Udah gitu ngapain juga kamu tidur pelukan gitu sama temen kamu'' dengus Vea di akhir ceritanya. Ia melepaskan tangan dari genggaman Dave, memasang wajah cemberut dan langsung menatap keluar mobil.
''Hahaha..... ya maaf sayang,namanya juga lagi tidur gak sadar aja gitu meluk si Ge,tapi kamu kan udah buktiin aku normal sayang '' ucap Dave seraya meraih kembali tangan wanitanya. Di bawanya telapak tangan itu untuk di kecup. Vea tak menjawab,ia masih dalam mode ngambek manja.
''Sayang,maaf ya. Untuk masa lalu yang tidak bisa aku ubah. Untuk semua kisahku yang mungkin menyakiti kamu". lanjut Dave dan kembali membawa punggung telapak tangan Vea untuk di kecupnya. Vea tertegun sejenak,ia merasa bersalah pada lelaki yang duduk di sampingnya.
'' Sorry " lirih Vea dengan tatapan sendu menatap kekasihnya.
'' Buat ?'' tanya Dave lembut seraya menoleh sejenak.
'' karena aku bersikap kekanak-kanakan,dan untuk masa lalu kamu. Aku gak berhak untuk keberatan. Semua itu terjadi sebelum ada aku di samping kamu. Seharusnya aku beri kamu kenyamanan,agar kamu gak tertarik lagi dengan wanita lain. Aku malah bersikap kekanak-kanakan seperti ini.'' Ungkap Vea,tanpa terasa mereka sudah sampai parkiran apartemen Dave. Dave meletakkan telunjuk di bibir merah kekasihnya setelah menghentikan laju mobilnya.
'' Sssttt,kamu gak salah,aku nyaman bareng kamu. Dan aku gak akan tertarik dengan wanita manapun setelah mengenal kamu. '' ucap Dave kemudian memeluk tubuh kekasihnya.
'' Aku cinta banget sama kamu Ve'' lirih Dave. Vea tersenyum,ia harus mengakui bahwa hatinya benar-benar telah terjatuh pada lelaki ini.
'' Aku juga cinta sama kamu'' balas Vea.
Setelah saling mengungkapkan rasa dalam hangatnya pelukan. Kini keduanya melangkah saking bergandeng tangan . Tak ada kata yang terucap dari bibir mereka sampai mereka masuk unit apartemen Dave.
'' Kamu mandi dulu,aku lihat lemari es kamu,ada bahan apa ?'' ucap Vea melepas tautan mereka.
'' Ya udah aku mandi, aku gak stok bahan makanan Yang,paling telur sama mie instan." terang Dave.
'' Ya udah aku order aja makanan nya,kamu mau makan apa ?''tanya Vea yang menghentikan langkah yang tadinya hendak kearah pantry.
" Terserah kamu aja.'' Dave melangkah mendekati sang kekasih dan menyematkan sebuah kecupan kecil di pipi Vea.
'' Aku mandi dulu'' pamit Dave masih dengan tangan memeluk pinggang kekasihnya,dan menyandarkan kepala di bahu Vea.
'' Ya udah sana mandi'' tutur Vea seraya membelai lembut kepala sang kekasih.
'' Yang '' Vea menoleh dengan mata mendelik,membuat Dave terkekeh. Kemudian memencet hidung mancung Vea. Setelahnya berjalan cepat meninggalkan Vea yang hendak membalasnya.
Vea tersenyum melihat tingkah lelaki dewasa itu. Ia mengambil ponsel dalam tas dan memesan beberapa makanan. Kemudian meneruskan langkah ke pantry. Mengambil dua bungkus cokelat sachet dan menyeduhnya dengan air panas dari dispenser. Kemudian membawa dua cangkir cokelat ke ruang tamu. Menunggu Dave yang sedang mandi.
Tak berapa lama,suara pintu kamar Dave terbuka. Sesosok wajah tampan dengan rambut yang masih basah. Tubuh atletisnya terbalut dengan kaos oblong pendek serta celana pendek selutut. Sungguh pesona seorang Dave tak bisa di pungkiri. Sesaat Vea terkesima dengan tampilan santai kekasihnya.
Kecupan di pipi lagi-lagi Dave berikan untuk wanitanya.
'' Minum coklat hangat dulu, sebelum makanan nya datang'' ujar Vea seraya menunjuk cangkir berisi coklat hangat.
'' Makasih sayangku ''
" Sama-sama honey" balas Vea,Dave duduk di samping Vea ,kemudian meminum coklat yang sudah Vea siapkan untuk dirinya.
Setelahnya membawa kekasihnya ke dalam dekapan. Di sandarkan nya kepala sang kekasih di dada bidangnya. Rasanya nyaman,tak perlu puji rayu,ia hanya ingin pujaannya itu selalu di sisi nya. Baru di tinggal sehari tanpa kabar,Dave sudah seperti orang gila.
Naif kah ia?, bila kini rasanya tak mampu hidup tanpa wanita yang kini sedang menikmati dekapan hangat nya. Tak ada sepatah kata yang terucap dari bibir dua manusia yang sedang di landa cinta itu. Lewat belaian dan kecupan- kecupan-kecupan kecil Dave mencurahkan segala buncahan rasa di dadanya. Hingga tanpa sadar wanitanya telah terlelap.
Dave tersenyum menyadari Vea telah jatuh tertidur. Perlahan Dave mengangkat tubuh kekasihnya dan membawanya ke dalam kamar. Dave memandangi wajah damai wanitanya. Meski dengan make up yang sudah memudar dan di pastikan Vea belum mandi namun tetap wanita itu tampak cantik bagi dirinya.
Bel pintu terdengar ,ia segera bangkit dan keluar kamar. Membuka pintu dan seorang pengantar makanan mengantarkan makanan yang di pesan Vea. Dave beranjak kearah meja makan setelah membayar pesanannya.
Memakan sendiri makanan yang di pesan sang kekasih,ia tak tega membangunkan Vea yang baru saja terlelap. Ia hanya menyisakan untuk kekasihnya. Siapa tahu nanti wanitanya terbangun dan merasa lapar.
Usai menghabiskan makanannya,Dave masuk kembali ke dalam kamar. Duduk di tepi ranjang, menikmati wajah tenang sang kekasih. Saat menatap wajah itu,ada kegamangan yang menelusup relung hatinya.
Ternyata mencintai seseorang bukan hanya tentang memiliki raga dan hatinya. Tapi ia harus memikirkan sebuah hubungan yang selama ini selalu ia hindari. Pernikahan,hal yang tak pernah terbersit dalam benaknya selama ini. Dan kini ia harus memikirkan nya.
Mampukah ia meyakinkan hati untuk mengikat cinta dalam sakral nya hubungan pernikahan ?. Bisakah ia berdamai dengan hati yang terluka oleh perpisahan orang tuanya ?.
Dave menghela nafas,membuka laci meja,dan mengambil sebungkus rokok di sana. Langkahnya membawa ia ke balkon . Menikmati pekat malam dengan sebatang rokok yang terselip di antara dua jari.
Berdiri,menatap langit yang bahkan tak menampakkan cahaya bintang. Pekat,sepekat hatinya yang gamang akan hubungan yang ia jalani. Ia tahu kekasihnya ingin hubungan yang pasti. Namun ia ragu.