
Setelah makan mereka memutuskan untuk pergi nonton film di bioskop. Mereka dulu sering melakukan itu, namun dalam batas persahabatan. Kini Fardan ingin melakukannya sebagai kekasih seorang Vea.
'' Mau nonton film apa ?'' tanya Fardan yang merangkul pundak Vea seraya melihat daftar film yang akan tayang.
'' Apa ya ?, bingung''. ucap Vea dengan bibir mengerucut. Andai Fardan memiliki keberanian lebih. Ingin ia mengecup bibir merah merona itu. Namun ia tak seberani itu melewati batas untuk kekasih seharinya.
'' Horor ?'' tawar Fardan yang langsung di sambut gelengan cepat oleh Vea.
" Ini aja nih,lagi booming katanya " tunjuk Fardan pada poster yang tertempel di sana.
'' Oke,aku beli tiket,kamu beli makanan sama minuman " tutur Vea. Fardan menggeleng, kemudian membawa tubuh Vea duduk di sebuah bangku. Ada beberapa pasang lain di sana. Hampir semua adalah sepasang kekasih, Vea tersenyum getir.
Melihat kemesraan di sampingnya, membuat dia merasa seperti penghianat. Membohongi sang kekasih untuk berkencan dengan seorang lelaki yang ia tahu dengan pasti. Bahwa lelaki itu mencintai dirinya. Betapa jahat yang ia lakukan,hari ini ia menipu dia lelaki.
Tapi ia ingin setidaknya sekali saja, Fardan lelaki yang selalu ada untuknya. Merasakan kehadirannya bukan dalam hubungan persahabatan melainkan. Namun menjadi seorang Vea yang di cintai seorang Fardan. Sedikit tak masuk akal atau mungkin gila yang ia lakukan. Tapi ia hanya ingin memberi senyum untuk lelaki itu.
Lelaki yang kini sedang berjalan kearahnya dengan dua tangan di penuhi makanan dan minuman. Namun masih tersenyum begitu tulus. Vea hanya bisa membalas senyum Fardan yang kini telah duduk di sampingnya.
" Lama ya ?, agak ngantri tadi " ucap Fardan,seraya meletakkan bawaannya di sisi kursi.
" Gak kok,gak lama." sahut Vea. Kini keduanya duduk berdampingan sambil terus bercerita,menunggu jam bioskop yang sebentar lagi di buka.
Sesekali tampak Fardan menatap dalam Vea yang asyik bercerita tentang kisah mereka dulu. Terkadang tangan Fardan menyelipkan rambut Vea yang sedikit berantakan ke belakang daun telinga.
Mereka benar-benar seperti sepasang kekasih yang romantis. Sekilas mata mereka saling memandang. Vea tercekat, kenapa ada debar tak biasa ketika melihat bola mata itu. Membuat Vea diam, mengukur dalam perasaanya.
Bertanya-tanya pada diri,apa benar tak pernah ada rasa untuk lelaki ini ?. Namun ia sendiri seperti tersesat dalam rasa yang membingungkan. Tak mampu ia raba keberadaan rasa itu,namun tak asing dan sangat dekat. Ah, mungkinkah selama ini ia membutakan mata menutupi segala rasa di hatinya ?. Memakai topeng agar semua tak pernah terlihat nyata.
Sampai mereka di dalam bioskop. Fardan memperlakukan Vea seperti kekasih sebenarnya. Menyadarkan kepala Vea di bahu tegapnya. Belaian lembut sesekali ia lakukan di kepala Vea.
Buncahan rasa hadir mendobrak benteng kokoh yang selama ini Vea bangun. Membatasi rasa dengan dalih persahabatan diantara mereka. Kini ia sadar,ada rasa yang selama ini ia kungkung di hatinya, tanpa pernah ia coba untuk lepaskan. Jika boleh mengakuinya,yah dia menaruh hati pada sosok lembut penuh cinta yang selalu menyiapkan bahunya saat ia butuh sandaran. Lelaki yang selalu tersenyum padanya untuk mengatakan semua akan baik-baik saja.
Dia menyadari sekarang, persahabatan mereka telah ternoda lama. Namun Vea tak ingin mengakui dan Fardan yang selalu menyimpan rapi. Tapi kini jelas rasa itu memang ada. Debar di dada Vea tak bisa mengingkari semua rasa. Saat belaian dan dekapan Fardan bukan sebagai bentuk perlindungan, namun bentuk cinta yang begitu dalam.
Vea memejamkan mata, bertanya pada hati yang kini seakan terbagi. Namun jelas masih ada nama Dave terpatri di sana. Ia yakin akan perasaan cintanya untuk kekasihnya. Mungkin rada yang tiba-tiba mengambang di permukaan ini bukanlah rasa cinta yang nyata. Hanya sebuah kepingan rasa yang dulu pernah ke ada. Untuk saat ini tetaplah Dave pemilik seluruh hati dan jiwanya.
Lampu dalam gedung bioskop telah menyala terang. Tanda film yang di putar belum usai. Fardan menggenggam tangan Vea saat keluar gedung bioskop. Senyum tak luntur di bibir Fardan. Membuat Vea yang melirik sekilas ikut tersenyum.
" Hari ini harinya kamu jadi aku dong yang ngikut " sahut Vea yang juga menatap wajah tampan itu.
" Oke, aku yang nentuin kita kemana " ucap Fardan antusias. Vea tersenyum samar,melihat betapa semangatnya Fardan menjalani hati ini.
Akhirnya sampai mereka di sebuah wahana bermain. Membuat Vea melongo di buatnya.
" Kita ngapain kesini ?" tanya Vea yang masih kaget, kenapa Fardan membawanya ke wahana bermain. Kencan macam apa ini ?,pikir Vea .
" Aku dulu selalu berkhayal bisa kencan sama kamu di wahana bermain. Kita seru-seruan berdua. " ucap Fardan seraya menatap berbagai wahana yang tersedia di sana. Vea hanya bisa menelan ludah. Bukan apa,ia tak ditap mental untuk bermain di wahana yang memacu adrenalin.
Tapi akhirnya ia hanya bisa pasrah. Ketika Fardan mengajaknya naik berbagai wahana. Dan wahana terakhir yang mereka naiki adalah roller coaster.
Turun dari wahana tersebut Vea merasa kepalanya berputar-putar. Pusing bukan main.
" Ve,kamu kenapa ?" tanya Fardan yang melihat Vea jalan sempoyongan.
" Pusing Dan " sahut Vea yang langsung terduduk di kursi yang tersedia di sana.
" Aduh, bentar aku beli minum" panik Fardan yang langsung bergegas menuju stand minuman.
" Ini kamu minum dulu " ucap Fardan lemut seraya berjongkok di hadapan Vea. Setelah kembali dari stand minuman dengan sebotol air mineral. Vea meneguk air mineral itu dengan perlahan.
" Kok kamu gak bilang sih kalau kamu gak bisa naik wahana itu. Seharusnya kamu bilang dong Ve " ucap Fardan prihatin seraya menyelipkan helaian rambut Vea di belakang telinga.
Vea berusaha tersenyum,seraya mengacungkan jempol sambil menekan air melewati kerongkongannya yang kering karena kerasnya ia berteriak tadi.
" It's oke,i'm fine don't worry " ucap Vea setelah menguasai dirinya.
" Kamu di sini dulu,aku beliin es krim kesukaan kamu " tutur Fardan yang masih tampak khawatir.
" iya " jawab Vea di bumbui senyum manis. Vea menatap lelaki berpunggung lebar itu dengan sendu. Betapa ia telah melewatkan seseorang yang begitu dalam mencintai dirinya. Tapi bukan berarti kehadiran cinta yang begitu besar saat ini mampu menggoyahkan cintanya pada seorang Dave.
Rasa yang sempat mengambang ke permukaan , hanyalah sekeping rasa di masa lalu. Yang nyata kini hanyalah seorang Dave Mahendra lah pemilik seluruh hatinya. Ah, tiba-tiba ia begitu merindukan lelaki itu.