
" Sayang kamu dimana ?'' sebuah pesan masuk di handphone Vea. Nama Dave tertera di sana. Vea masih bersama sang sahabat,kini mereka berdua duduk di sebuah taman. Mereka duduk di ayunan yang terletak tak jauh dari danau buatan yang berada di taman tersebut.
" Huffhh" terdengar Vea menghela nafas, membuat Fardan menoleh menatap Vea yang sedang memegang ponsel.
" Why ?" tanya Fardan seraya mengangkat alis.
" Dave " sahut Vea dengan mata yang tak mengalihkan pandangan dari layar ponsel. Sembari mengetik balasan.
''Aku lagi sama Fardan Yang''Vea mengirimkan balasan yang tak menunggu lama langsung di di balas lagi oleh Dave.
" Share loc'' Vea tersenyum mendapati balasan kekasihnya. Ia langsung mengirim lokasi dimana ia sedang bersama Fardan.
''Kenapa cowok lo ?''
'' Biasa nyariin,gue bilang lagi sama lo. Tunggu aja sebentar lagi pasti kesini'' sahut Vea santai seraya memasukan ponsel ke dalam tas.
" Awas aja kalo cowok lo langsung nonjok gue '' ucap Fardan yang di sambut tawa sang sahabat.
''Pengen liat lo berdua tonjok-tonjokkan gue'' sahut Vea di sela tawanya yang di balas toyoran di kepalanya oleh Fardan.
Dave yang tengah mengemudi di jalan langsung melajukan mobilnya lebih cepat. Mengetahui sang kekasih dengan lelaki yang katanya sahabat itu membuat resah hatinya. Tak butuh waktu waktu lama,Dave memarkirkan mobil di tempat dimana Vea memberikan alamat.
Dave langsung menekan nomor ponsel Vea.
'' Halo sayang,kamu di sebelah mana ?'' tanya Dave setelah sambungan telepon di angkat Vea seraya tergesah turun dari mobil dan melangkah memasuki area taman. Vea memberi tahu dimana ia berada,dengan langkah panjangnya Dave menuju arah yang di tunjukkan sang kekasih. Kemudian ia mematikan sambungan telepon dan mencari dengan langkah cepat.
Namun saat matanya melihat dua orang yang duduk berdampingan di sebuah ayunan,dengan tawa yang menghiasi bibir wanitanya. Ada rasa sesak yang membuat langkahnya seakan berat. Senyum dan tatapan lelaki di samping sang kekasih menyiratkan sebuah rasa yang mendalam. Hawa panas menyelimuti seluruh ruang jiwanya. Tanpa di sadari tangannya mengepal. Menahan amarah yang bisa saja tiba-tiba meledak.
Kenapa melihat wanitanya tertawa dengan lelaki lain semenyakitkan itu ? . Dan rasanya ia benar-benar tak rela ada lelaki yang menatap penuh puja pada wanita miliknya. Ia memejamkan mata, mencoba mengendalikan gejolak emosi dalam jiwanya.
Melangkah pelan,menata hati yang untuk tak memperlihatkan dengan jelas kecemburuan yang merasuk tanpa permisi di lubuk hatinya.
" Sayang " sapa lembut Dave seraya meraih pundak sang kekasih yang masih duduk di ayunan.
" Hay '' sambut Vea seraya menggenggam tangan Dave yang berada di pundak Vea. Tersenyum manis menatap lelaki tampan itu. Dave menundukkan kepala,mencium kening kekasihnya. Fardan hanya bisa tersenyum kecut mendapati kemesraan sepasang kekasih di sampingnya.
'' Honey, kenalin sahabat aku,Fardan '' ucap Vea seraya berdiri. Dave menatap lelaki yang berusaha tersenyum ramah padanya. Dave pun berusaha untuk tersenyum meski tak bisa di katakan sebuah senyum yang ramah.
" Fardan " ucap Fardan sambil mengulurkan tangan. Yang di sambut oleh Dave.
" Dave " sahut Dave, tatapan keduanya saling menghunus. Seakan mengukur kekuatan satu sama lain. Vea merasakan ketegangan diantara dua lelaki yang menyayangi dirinya.
" Ehm,sayang !" panggil Vea mencoba mencairkan ketegangan yang terjadi.
Dave melepas tangan Fardan dan menoleh dengan senyum termanisnya untuk Vea.
'' Gak kekantor Yang ?'' tanya Vea sembari menatap wajah Dave.
'' Gak,lagi gak ada kerjaan yang urgent kok, bisa di handle anak-anak. '' sahut Dave yabg telah membawa tubuh Vea merapat padanya. Tangannya melingkar erat di pinggang sang kekasih.
'' Kamu sendiri gak ke kantor ?'' tanya Dave yang dengan sengaja memperlihatkan kemesraan dengan berkali-kali mendaratkan kecupan di kepala Vea. Vea berusaha melepas dekapan Dave namun lelaki itu semakin erat menarik pinggang Vea.
'' Aku mau resign, semua kerjaan yang jadi tanggung jawabku udah aku kerjain.'' jelas Vea.
Dave benar-benar menganggap Fardan makhluk astral. Membuat Fardan merasa jengah.
'' Dan,lo balik kapan ?'' Vea berusaha mengajak Fardan berkomunikasi.
'' Besok,gue balik. Kenapa ?, masih butuh di temenin ?'' tanya Fardan seraya melirik sinis pada Dave.
'' Mas nya santai saja gak usah khawatir. 24 jam saya siap menemani pacar saya ini'' sela Dave,Fardan tersenyum miring.
'' Baguslah,saya harap tidak akan menemukan pacar anda menangis sendirian di pinggir jalan'' ucap Fardan ketus, membuat Vea menghela nafas. Hawa perselisihan sangat kentara diantara dua lelaki itu.
" Maksud anda spa ?" tanya Dave ketus,Fardan menyeringai.
" Dan..." panggil Vea membuat Fardan menoleh pada Vea yang sudah memasang wajah memelas. Fardan tersenyum menatap sang sahabat.
" Ya udah,gue balik dulu. See you, mungkin bulan depan gue balik lagi. Lo baik-baik di sini" .ucap Fardan lembut, tangannya hendak mengusap kepala Vea, namun dengan cepat di tangkap Dave .
" Dia pasti baik-baik saja , anda tidak usah khawatir " ucap Dave seraya melepas tangan Fardan dan tersenyum sinis.
" Saya pegang ucapan anda, kalau sampai terjadi hal yang menyakiti Vea,saya pastikan anda menyesal". sorot mata Fardan mengintimidasi,membuat Dave tersulut emosi.
" Anda mengancam saya ?" tanya Dave sedikit mengeras kan suara. Dan melepas tangan dari pinggang Vea. Vea langsung meraih dan menggenggam tangan Dave
" Sayang, please " ucap Vea dengan tatapan mengiba. Vea cukup sadar kini sedang berada di antara dua kobaran api yang siap membakar.
Dave menekan emosi yang hendak meledak. Fardan sadar tidak pada posisi yang tepat. Ia memilih pamit.
'' Gue balik Ve'' ucap Fardan tanpa menggubris Dave.
'' Iya, hati-hati. Kalo udah nyampe besok kabarin '' ucap Vea dengan senyum tulus.
'' Oke '' sahut Fardan yang kemudian melangkah pergi meninggalkan Vea dan Dave.
Dave membuang nafas kasar. Ia sangat sadar lelaki yang berkedok sahabat kekasihnya itu menaruh hati pada sang kekasih.
'' Sayang, aku sama Fardan cuma....'' belum selesai Vea berucap. Dave menaruh jari telunjuknya di bibir Vea .
'' Ssssttt,aku percaya sama kamu, kamu gak perlu menjelaskan apapun. Aku hanya sedang cemburu '' ungkap Dave yang kemudian menarik tubuh langsing sang kekasih dalam pelukan. Dave memejamkan mata. Menikmati pelukan yang menenangkan gejolak hatinya. Vea tersenyum, lalu membalas pelukan sang kekasih.
Beberapa saat mereka hanyut dalam pelukan. Tanpa mereka sadari ada senyum getir dari bibir lelaki yang terluka karena cinta yang hanya sebelah.
'' Kamu harus bahagia Ve'' lirih Fardan setelahnya kembali melangkah meninggalkan area taman.