
Masih dalam diam, namun dengan tangan yang saling menggenggam. Pikiran dua anak manusia itu melayang tak tentu arah. Kini keduanya telah berada di dalam mobil. Menyusuri jalan yang sudah lumayan lengang.
Dave masih setia dalam diamnya, ingin rasanya ia berteriak. Mengumandangkan kebodohan yang mendasar di hati. Ia pikir semua akan berjalan lancar. Tapi apa yang ia dapatkan ?, penolakan secara halus dari lelaki yang baru beberapa hari yang lalu memberinya sebuah kata restu .
" Apa segitu gak layaknya buat aku bahagia ?" pertanyaan yang meluncur dalam heningnya perjalanan malam itu. Tak terasa mengundang tetes bening mengalir dari pelupuk mata Vea. Rasa bersalah menelusup di rongga dadanya.
'' Maaf '' lirih Vea sembari berusaha menghapus air mata yang tak mau berhenti mengalir. Dave tercekat ia sama sekali tak berniat menyinggung sang kekasih. Dave memelankan laju mobilnya dan memilih menepi dan berhenti di pinggir jalan.
" Sayang !'' panggil Dave lembut seraya membawa wajah Vea untuk menatap dirinya. Ditangkupnya pipi sang kekasih. Dengan dua ibu jarinya ia menghapus air mata di pipi Vea.
" Sayang maaf, jangan nangis. Apapun yang terjadi aku gak akan pernah menyerah untuk memperjuangkan hubungan kita." ucap Dave dengan tatapan yang begitu dalam.
Vea menghambur dalam pelukan Dave. Rada sesak di dadanya luruh menjadi tangis yang tak lagi terbendung.
" Maafin aku Yang,aku gak tau kenapa Papa jadi gitu " rintih Vea dalam isak tangisnya di dada bidang lelaki yang merengkuhnya.
" Ssstt udah Yang, kamu gak salah. Aku bakal yakinin Papa kamu, kalau aku bisa bahagiain kamu. Aku bakal jadi orang yang layak untuk bersanding sama kamu Yang ". semakin erat pelukan Dave pada tubuh wanitanya. Apapun yang terjadi ia tak mungkin melepas wanita itu. Vea adalah hidupnya, tujuan masa depannya , kebahagiaan dan nafas dalam setiap sendi kehidupannya.
" Kamu gak akan ninggalin aku kan ?" tanya Vea seraya menengadah menatap wajah kekasihnya, masih dengan tubuh yang di peluk erat oleh Dave. Dave menggeleng pasti dan mengecup kening Vea.
'' Gak akan Yang ,apapun yang terjadi aku akan terus memperjuangkan kamu Yang ''ucap Dave, keduanya saling tatap dalam diam. Sampai Vea mengangkat sedikit tubuhnya dan mengecup sekilas bibir sang kekasih.
'' I love you " ucap Vea .
'' I love you more and more '' balas Dave, keduanya kembali berpelukan. Merekatkan tubuh satu sama lain. Menikmati debar jantung yang berdetak seirama rasa yang menghinggapi dada.
" Ya udah ,aku anterin kamu pulang yuk, udah malem '' ucap Dave memutus pelukan hangat keduanya. Vea yang kini telah kembali duduk tegak bersandar di kursi menyahut .'' Anterin aku ke apartemen aja. Aku males pulang ke rumah ''.
Mendengar perkataan sang kekasih,ia menggenggam tangan itu. Mengecup punggung tangan Vea dan membelai lembut rambut wanitanya.
'' Ya udah anterin aku pulang '' sahut Vea ,Dave tersenyum tipis. Kemudian kembali duduk tegak di kursi kemudi. Kalau ia mengikuti ego dirinya jelas yang ingin ia lakukan adalah membawa sang kekasih masuk apartemennya. Menemani keresahan hati yang menyiksa. Tapi ia tak boleh bertindak semaunya. Ia harus berjalan sesuai alur.
Sisa perjalanan mereka, lagi-lagi keduanya saking terdiam. Hanya genggaman tangan yang saling menguatkan hati masing-masing. Terlalu banyak liku yang harus mereka lewati untuk menikmati indahnya cinta yang terikat dalam satu janji suci.
Penolakan secara halus dari Papa Vea membuat Dave mengukir banyak tanya di hati. Salah satu yang mengganjal adalah tentang perjalanan kelam masa lalunya. Mungkinkah lelaki itu telah menelusuri latar belakang dirinya yang terjebak dalam lembah nista berbalut kesenangan dunia.
Mengingat betapa dalam sudah ia tercebur dalam lembah hitam kehidupan. Rasanya terlalu tak tahu diri jika ia mengharapkan seorang Alivea Dwilangga yang tak memiliki catatan hitam di hidupnya. Tapi jika cinta yang sudah menyerukan tentang keberadaannya ia bisa apa. Selain memperjuangkan dan memantaskan diri untuk menjadi orang yang pantas untuk berada di sisi wanita cantiknya.
Dave menghentikan laju mobilnya di depan kediaman Dwilangga. Sesaat setelah mesin mobil di matikan dua sejoli itu masih duduk saking diam. Vea tampak enggan turun dari mobil, padahal hari kian malam. Sudah lebih dari pukul sepuluh dan keadaan rumah telah sepi.
'' Aku masuk dulu ya !" pamit Vea,Dave tak menjawab ia menarik tubuh sang kekasih dan memeluknya erat. Menghirup wangi vanilla yang menguar dari rambut hitam panjang milik Vea.
'' Yang, apapun yang terjadi . Tolong jangan menyerah, ijinkan aku terus berada di samping kamu. Aku akan berjuang agar aku pantas bersanding dengan kamu. '' ucap Dave sambil memeluk erat Vea. Nampak wanita itu mengangguk dalam pelukan. Dave mengurai pelukannya. Menangkup wajah wanitanya dan melumaat bibir merah itu dengan lembut. Vea memegang lengan Dave, membalas lumaatan mesra sang kekasih.
Beberapa saat sepasang kekasih itu terlarut dalam ciuman panjang yang memabukkan. Seakan tak ada yang mau lepas satu sama lain. Kemudian keduanya saling beradu kening, menetralkan nafas yang memburu karena ciuman panjang yang mereka lakukan. Saling menguatkan dalam diam, meyakinkan hati jika cinta mereka tak akan semudah itu di pisahkan.
'' Aku turun ya '' ucap Vea masih dengan kening merek saling beradu. Dave menghela nafas, wajahnya kemudian mundur perlahan. Menyelipkan helai rambut Vea yang terurai di wajahnya.
'' Tidur yang nyenyak,gak usah kamu pikirin semuanya. Percaya sama aku semuanya bakal baik-baik saja '' ucap Dave membuat Vea tersenyum dan mengangguk.
'' Kamu juga , hati-hati di jalan. Jangan ngebut, jangan ke club aku gak mau kamu mabuk. Kita pasti bisa,ayo berjuang bersama.'' ujar Vea membuat Dave tak bisa menyembunyikan senyum di bibirnya. Ia mengangguk pasti. Yah mereka harus berjuang bersama untuk cinta mereka.
Dave menyematkan sebuah kecupan lembut di kening sang kekasih sebelum wanita itu turun dari mobilnya dan menghilang di balik pintu rumah megah itu. Entah berapa banyak lagi liku yang harus di hadapi. Namun satu yang terus ia yakini. Bahwa cintanya bukanlah hal yang salah. Ia akan berjuang untuk mendapatkan restu dari Papa Vea sesulit apapun itu.
Setelah Vea masuk ke dalam rumah. Dave melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah itu. Menembus jalanan yang kian sepi saat malam semakin merayap. Sesepi hatinya yang menyisakan ruang kosong saat kesendirian menyapa.