If

If
Luluh



Semakin intim Dave dan Fara di sofa ruang tamu. Pangutan liar disertai des*ahan dari dua manusia yang terbuai hasrat. Dave menjatuhkan tubuh Fara di bawah kungkungan nya,namun saat kecapan bibirnya sampai di dada wanita itu,seketika ia berhenti. Menegakkan badannya dengan tatapan nanar menatap wanita yang pasrah di bawahnya.


" Sorry,i can't do it'' ucap Dave yang langsung turun dari sofa dan pergi meninggalkan Fara yang berekspresi kaget. Masih belum mencerna apa yang terjadi,saat hasratnya melambung dan dengan mudahnya lelaki tampan itu pergi.


''Shittt!!!,,,kamu pikir kamu siapa Dave !'' teriak Fara yang merasa tertolak. Dave masih mendengar teriakkan itu sebelum akhirnya melaju dengan mobil dan meninggalkan kediaman Fara.


Pikirannya tidak sinkron dengan hasratnya yang menggebu. Tiba-tiba saja bayangan Vea hadir di sela hasrat yang kian naik. Dave mengemudi dengan cepat di jalanan yang sudah lumayan lengang. Ada yang berdenyut di bawah sana, membutuhkan pelampiasan. Namun otaknya tak bisa sebentar saja mengenyahkan sebuah nama Alivea.


" Ternyata kamu sudah benar-benar meracuni pikiranku Vea " gumam Dave dengan sebelah bibirnya terangkat. Dia tahu akan ada dampak dari yang ia lakukan sekarang.


Bisa di pastikan Fara akan membatalkan kerjasama dengan perusahaan nya. Tapi entah mengapa ia lega. Lega mampu menahan hasrat yang sudah membuncah,meski nyatanya kelelakiannya masih saja berdenyut. Terlalu lama menganggur sepertinya membutuhkan pelampiasan.


Sampai di apartemen nya Dave , menghela nafas berat seraya memijit keningnya yang terasa pusing. Menatap kebawa merasakan denyut yang masih saja terasa.


" Fiiuh, sejarah tergila seorang Dave. Bersolo karir" gumam Dave seraya menyeret langkahnya ke dalam kamar mandi.


Beberapa saat kemudian, setelah terdengar geraman tertahan berakhir dengan suara guyuran shower. Dave keluar dengan handuk sebatas pinggang. Memperlihatkan dada bidang dan perut rata Dave,air masih tampak mengalir dari rambut basahnya.


Tak bisa di pungkiri bahwa lelaki itu memang tampan dan seksi. Wajar banyak wanita di buat bertekuk lutut padanya. Rela berada di dalam kungkungan seorang Dave demi sebuah kehangatan sementara.


Tapi semenjak bersama Vea, Dave bukan lagi lelaki yang bisa dengan mudah menunjuk satu wanita untuk berbagi peluh dengan dirinya. Vea seperti alarm yang terpasang otomatis di otak Dave. Mengingatkan dirinya ketika hasrat menggebu dan ingin tertuntaskan. Wajah Vea selalu hadir menelusup kan rasa bersalah ketika ia menuntaskan hasrat bersama wanita lain.


Dave menjatuhkan tubuhnya di ranjang setelah memakai pakaian dan mengeringkan rambut dengan handuk. Menatap sejenak wajah ayu yang terpampang di foto . Membuat Dave tersenyum tipis dan kemudian terlelap tidur .


🧸🧸🧸


Dering handphone Dave membangunkan lelaki yang terlelap dalam tidur nyenyaknya. Dave memicingkan mata melihat sebuah nama yang tertera di layar hp. MY ALIVEA, kesadarannya langsung pulih. Dengan cepat ia duduk dan menekan tanda hijau di layar ponsel.


" Ya sayang,kenapa ?'' tanya Dave sebelum Vea bersuara. Ia khawatir,jarang sekali Vea menghubungi dirinya terlebih dahulu,apalagi di tengah malam begini.


" Sorry ganggu tidur kamu,mobil aku mogok" suara Vea di seberang sana terdengar panik.


" Kamu dimana ?, aku susulin " ucap Dave sembari berdiri. Meraih jaket yang tergantung di dekat pintu kamar mandi. Vea menyebut alamat tempat di mana mobil nya mogok.


" Kamu jangan kemana-mana, masuk mobil. Sebentar lagi aku dateng. '' titah Dave sembari berjalan cepat dan membuka pintu apartemennya.


'' Iya aku tunggu,aku takut sendirian. Sepi lagi "sahut Vea yang sepertinya ketakutan.


" oke sayang, secepatnya aku kesitu. Aku matiin dulu. Mau ambil mobil " jawab Dave kemudian mematikan sambungan telepon setelah mendapat persetujuan sang pujaan.


Secepat yang Dave bisa ia melaju membelah jalanan yang pekat karena malam yang larut. Setengah jam Dave menjumpai mobil milik kekasihnya yang berhenti di tepi jalan. Sorot lampu mobil Dave mengarah pada kaca depan mobil Vea. Tampak kekasihnya duduk diam di balik kemudi.


Tak menunggu lama Dave turun dari mobil menghampiri Vea. Diketuknya pintu mobil,setelah Vea memastikan yang datang Dave ia membuka pintu dan turun dari mobil.


Dave menarik tubuh Vea dalam pelukan saat melihat wajah tegang Vea.


Sedari tadi Vea takut sendiri saat mobilnya mogok di tempat yang sepi. Dan beberapa saat sebelum Dave datang,Vea sempat melihat segerombol orang berjalan dengan langkah linglung. Kemungkinan besar mereka dalam keadaan mabuk. Untung saja mobilnya Vea berhenti di tempat yang tak terlalu mencolok. Sehingga segerombol orang itu tak terlalu memperhatikan keberadaan nya.


" Makasih ya,udah dateng. Aku takut banget " ucap Vea setelah melepas pelukan Dave. Dalam renang cahaya malam,keduanya saling terpaku menatap bola mata masing-masing.


" Gak perlu makasih,emang udah seharusnya aku datang" jawab Dave lembut masih dengan mata yang saling mengunci. Vea tersenyum lembut,ada desir yang menelusup hatinya.


" Sekarang kita pulang,aku anter kamu,nanti biar aku telpon derek buat ambil mobil kamu"


Vea mengangguk,ia kembali membuka pintu mobilnya untuk mengambil tas yang masih berada di dalam.


'' Capek ?'' tanya Dave lembut setelah keduanya duduk bersebelahan di dalam mobil yang telah Dave kemudikan menjauh dari tempat mobil Vea mogok.


'' Iya,mana Zee gak ikut ngawasin malah ngedate'' adu Vea yang sebenarnya sedikit kesal dengan sang sahabat setelah melihat sahabatnya ternyata check in di hotel tersebut.


Dave tersenyum hangat,meraih kepala Vea disandarkannya pada bahu Dave.


'' Tidur aja dulu kalo capek'' ucap Dave dengan tangan membelai lembut rambut Vea. Vea tak menjawab,ia hanya mendusel di bahu kekar sang kekasih. Setelah sebelah tangan Dave kembali meraih setir mobil,Vea menggelayut di lengan kokoh itu.


Bahagia,jelas tergambar di wajah Dave. Vea yang masih sangat jarang melakukan kontak fisik, akhirnya dengan suka rela bergelayut padanya.


''Ternyata gelendotan kayak gini sama kamu bikin tenang'' ucap Vea dengan mata terpejam.


''Dan aku seneng banget,kamu mau gelendotan kayak gini ke aku'' sahut Dave.


''Maaf ya,kalau selama ini aku dingin ke kamu. Aku tuh kayak yang ngerasa masih asing aja sama kamu,kita kenal belum lama tiba-tiba deket dan itu berawal dari insiden yang aku rasa terlalu memalukan '' lirih Vea,Dave kembali membelai wanitanya.


" Gak apa-apa,kita butuh waktu untuk saling mengenal,semua butuh proses'' jawab Dave,Vea tersenyum dan entah dorongan dari mana. Ia menengadah menatap Dave dan mencium pipi pria tersebut. Dave seakan membeku,mereka pernah menghabiskan malam bersama namun ternyata sebuah kecupan yang dilakukan Vea dalam keadaan sadar mampu membuat seorang Dave merona.


''Makasih ya '' ucap Vea yang masih menatap wajah pria di sampingnya.


'' Buat ?''


'' Buat kamu yang gak nyerah meskipun aku cuekin'' Dave tersenyum lebar. Rasa hatinya seakan melayang.


'' Aku gak akan nyerah,kamu tahu kenapa ?''


'' Kenapa ?''


'' Karena kamu cinta pertama aku'' ungkap Dave yang membuat Vea terbelalak kaget sampai badannya tegak sempurna.


'' Becanda kamu '' ucap Vea yang tak percaya. Namun Dave tersenyum menanggapi ketidakpercayaan wanitanya. Ia meraih telapak tangan Vea dan menggenggam nya.


'' Sayang nya gak,percaya gak percaya. Kamu memang bukan wanita pertamaku,tapi kamu wanita pertama yang membuatku melanggar ucapanku yang gak percaya soal cinta. Kamu wanita yang mampu mendobrak pertahanan hatiku yang selalu mengingkari soal cinta'' ucap Dave panjang. Entah mengapa hati Vea menghangat. Dan ia akui ia telah luluh pada lelaki tampan di sampingnya.