
Keadaan di ruang tamu kini terasa mencekam. Dave mematung, dadanya bergemuruh. Apalagi ini ?,batin Dave . Ia tak akan mundur apa pun yang terjadi. Vea adalah tujuan hidupnya saat ini.
'' Maaf , maksud om ?''
'' Buktikan kalau kamu layak bersanding dengan putri saya '' ucap Hermawan tegas. Ucapan yang sejujurnya melukai harga diri Dave. Begitu tidak layakkah dirinya di mata keluarga Dwilangga ?, atau lelaki di hadapannya telah tahu latar belakang dirinya ?. Tentu bukan hal sulit untuk orang sekelas Hermawan Dwilangga ,mencari tahu tentang latar belakang dirinya.
Hermawan tampak tersenyum samar, melihat Dave yang tampak mengeras rahangnya. Ia tahu harga diri lelaki di hadapannya sedang terluka. Tapi ia adalah seorang ayah, yang hanya akan menyerahkan sang putri pada lelaki yang tepat.
"Saya tahu ,saya tidak sekelas dengan keluarga anda. Tapi akan saya buktikan kalau saya mampu membahagiakan putri om. Om tenang saja,saya tidak akan mungkin membiarkan putri yang anda besarkan penuh dengan cinta dan hidup dalam limpahan kebahagiaan , membuatnya sengsara hidup dengan saya.''
" Apa jaminannya ?" tanya Hermawan yang masih mempertahankan wajah dinginnya.
" Nyawa saya " tegas Dave.
" Saya pegang omongan kamu " tatapan mereka bertemu,ada sorot penuh keyakinan yang terpancar di bola mata Dave. Hermawan tersenyum tipis,lantas berdiri dan menepuk pundak Dave.
" Saya restui hubungan kalian,ayo masuk kita makan malam " tutur Hermawan dengan santai. Membuat Dave terpaku sejenak. Melihat lelaki itu melangkah meninggalkan ruang tamu.
Saat Dave masih terpaku dan diam di tempat, Hermawan menghentikan langkahnya. Menoleh kearah Dave yang masih duduk.
" Dave ayo !, Mama sudah siapkan makan malam " ucap Hermawan yang membuat Dave segera bangkit dan menyusul langkah lelaki di hadapannya.
Hermawan tertawa lirih kemudian menepuk pundak lelaki yang lebih tinggi darinya, menyamakan langkah mereka. Hingga keduanya berjalan bersisian.
" Gimana kantor ?, lancar ?" tanya Hermawan mencoba mencairkan ketegangan yang sudah ia buat
'' Lancar om " singkat Dave yang masih sedikit shock mendapati lelaki itu sudah kembali hangat seperti biasa.
Apa yang di lakukan Hermawan tak lebih dari sebuah penguji atas kesungguhan Dave. Ia hanya ingin melihat seberapa kuat mental lelaki yang ingin meminang anaknya. Karena ia tak mungkin menyerahkan putri semata wayangnya pada lelaki yang tak berpendirian.
Suasana kini telah mencair, makan malam di sertai obrolan ringan tampak hangat di meja makan malam itu.
" Jadi gimana Ve, kerjaan kamu ?" tanya Papa, memantau perkembangan anaknya.
" Banyak proyek baru,bikin aku gak punya waktu buat me time." sungut Vea membuat Papanya tertawa. Beliau cukup tahu,bahwa anak perempuannya ini terbebani dengan tanggung jawab yang di berikan padanya.
" Buat pacaran juga jadi gak punya waktu ya ?" ledek sang ayah.
" Nah itu Papa tau " bukan mengelak, justru sang putri kesayangan mengiyakan. Papa tertawa begitu pula dengan Mama dan Dave yang tersenyum tertahan.
" Kak Aksara jauh lebih banyak Ma kerjaannya ketimbang Vea. Cuma Vea belum biasa aja sama ritme kerja Vea yang sekarang." jelas Vea. Vea memang pernah bergabung dengan perusahaan keluarga, namun sebelumnya ia hanya menjabat sebagai manajer.
" Dave,om bisa minta tolong ?" tanya Papa membuat Dave mengalihkan pandangan dari makanan yang sedang disantapnya. Kemudian menatap lelaki yang kini tengah mengarahkan pandangan padanya.
" Tolong apa ya om ?" Dave membalikkan pertanyaan . Karena tak mengerti kemana arah pertanyaan tersebut.
Hermawan yang telah menyelesaikan makan , meletakkan garpu dan sendok di piring, meminum air putih uang telah di sediakan sang istri. Baru kemudian menatap pada Dave yang kini juga telah menyelesaikan makan malamnya.
" Om ingin minta tolong kamu,untuk membantu Vea di kantor. Bisa ?" perkataan yang meluncur dari lelaki itu membuat Dave tercengang.
" Maaf om, apa itu tidak terlalu berlebihan. Saya pikir Vea masih mampu menghandle nya ". sahut Dave yang merasa sungkan. Ia tak mau jika hubungannya dengan Vea di kira memanfaatkan kekayaan keluarga Dwilangga.
Hermawan tampak tersenyum, ia bisa mengerti keengganan kekasih putrinya. Ia bisa melihat bahwa lelaki pilihan putrinya itu tak mengambil keuntungan dari hubungannya. Namun Hermawan justru melihat sebuah potensi yang tidak boleh di sia-siakan dari Dave. Terbukti Dave sudah cukup sukses di usia yang tergolong muda, padahal tanpa background yang mendukung secara finansial.
" Om mengerti keengganan kamu,kamu takut di sangka aji mumpung dengan hubungan kamu sama Vea kan ?. Om percaya kamu tidak ada motif apapun untuk mendekati Vea. Tapi ini om beneran minta tolong. Bukan karena Papa gak percaya sama kamu ya Ve " ucap Hermawan yang kini mengalihkan tatapan pada anak perempuannya. Vea mengangguk mengerti.
" Vea masih belum terlalu paham dengan dunia bisnis. Memang membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk mempelajarinya. Tapi Papa kadang merasa kasihan melihat Vea yang sampai larut untuk mempelajari proyek baru. Belum lagi masalah dengan klien. Tapi untuk Papa kembali ke kantor dan terjun langsung mendampingi Vea , Papa sudah terlalu capek. " tutur Papa panjang lebar. Dave sesungguhnya mengerti,tapi bagaimana dengan perusahaannya ,jika ia bekerja di perusahaan calon mertuanya itu ?.
" Kamu tidak harus full time,kamu masih bisa tetap bekerja di perusahaan kamu. Anggap saja ini syarat dari om untuk kamu mendapat restu untuk meminang putri om ". pungkas Hermawan yang membuat Vea membelalakkan mata.
" Papa kok gitu " protes Vea. Dave yang berada di samping Vea langsung menggenggam tangan kekasihnya. Mengangguk perlahan sebagai tanda ia akan memenuhi permintaan calon mertuanya itu.
" Baik om, berapa lama saya harus membantu Vea ?"tanya Dave dengan tatapan lurus kepada lelaki yang duduk berhadapan dengan dirinya.
" Om tidak mematok waktu,tapi kalau kamu bersedia berarti restu om sudah di tangan kamu" katakanlah Hermawan sedang memanfaatkan calon menantunya itu. Tapi ia benar-benar membutuhkan kepiawaian Dave dalam memimpin perusahaan untuk membantu putrinya.
" Baik om saya terima persyaratan dari om. Dengan begitu saya sudah mendapatkan restu dari om kan ?" tanya Dave yang di angguki oleh Hermawan.
" Kalau begitu saya mengundang om dan tante untuk makan malam dengan keluarga saya minggu depan. Saya ingin membahas lamaran saya secara resmi dan mungkin membahas pernikahan sekalian " ucap Dave yang di sambut pelototan sang kekasih. Mana tersenyum lebar sedang Pak Hermawan tertawa menanggapinya.
" Gerak cepat dia " ucap Pak Hermawan seraya menyuapkan potongan buah yang disediakan sang istri.
" Kalau gak gerak cepat takut kinerja saya buruk dan restu om di tarik kembali " sahut Dave yang mengundang gelak tawa.
" Ya ya,om dan tante pasti datang." sambung Papa.
Dan makan malam itu berakhir namun mereka tampak melanjutkan obrolan di ruang tamu. Cukup larut malam saat Dave meninggalkan kediaman keluarga Dwilangga. Yang pasti dengan perasaan lega karena telah mengantongi restu meski dengan syarat yang harus ia lakukan.