If

If
Mulai Meragu



Seminggu bergelut dengan begitu banyak dokumen yang harus Vea pelajari. Ia di tuntut harus cepat dalam mempelajari semua dokumen. Proyek-proyek yang di serahkan Aksara padanya sudah menunggu. Ia benar-benar menjadi wanita karir. Sampai waktu untuk bertemu sang kekasih pun sangatlah sulit. Pagi itu,Dave menyempatkan diri menjemput Vea. Rasa rindunya tak lagi terbendung.


" Sayang !" panggilan Mama seraya mengetuk pintu kamar Vea.


" Ya mam " sahut Vea yang sedang mengaplikasikan bedak di wajahnya.


" Di tunggu Dave,sayang " ujar sang mama memberi tahu. Bibir Vea tersenyum samar. Ia memastikan kembali penampilannya. Ia pun sudah merindukan lelaki gagah itu .


" Sebentar lagi ,Vea turun mam " tak ada lagi sahutan dari sang mama,Vea memastikan penampilannya sudah sempurna. Kemudian menyambar tas yang tergeletak di atas meja.


Berjalan bergegas keluar kamar. Menuruni tangga dengan langkah tergesa. Suara obrolan terdengar dari ruang tamu. Sampai di lantai bawah matanya di suguhi wajah tampan yang ia rindukan. Tersenyum manis menyambutnya yang muncul dari pintu pembatas ruang tamu dengan ruang keluarga.


" Pagi Pa !" sapa Vea pada Papa yang menemani Dave dengan kopi dan kue yabg tergeletak di atas meja.


'' Pagi sayang '' sambut papa dengan seulas senyum.


'' Hay, jemput kok gak ngabarin ?'' ucap Vea seraya menghampiri Dave yang masih mengikuti langkah Vea dengan tatapan matanya.


'' Biar surprise dong " sahut Dave yang tak mengalihkan pandangan dari sang kekasih. Vea duduk di samping Dave. Seraya mencebik kan bibir.


'' Surprise ,kayak apa aja " gumam Vea yang hanya di balas senyum lebar Dave. Matanya masih intens menatap sang kekasih dengan tatapan penuh kerinduan. Kesibukan keduanya membuat mereka tak ada waktu bertemu.


" Mau langsung berangkat ?" tanya Dave.


" Eh jangan berangkat dulu,kita sarapan dulu . Kamu juga pasti belum sarapan kan Dave ?'' potong Papa yang hari ini masih tampil santai dengan celana pendek dan kaos polo nya .


" Wah jadi merepotkan om,saya bisa sarapan di jalan kok om " sahut Dave yang merasa tak enak pagi-pagi datang dan sarapan bersama keluarga Dwilangga.


" Ya gak repot,lebih repot lagi kalo sarapan di jalan. Masa sarapan di jalan, kasian yang mau lewat ". ucap Papa yang sambil melipat koran yang dipegangnya. Dave tampak mengernyit.


" Papa mah garing, loading dianya Pa " sela Vea yang membuat Papa terbahak kemudian beranjak berdiri. Dave tampak tersenyum kaku, sembari menggaruk tengkuknya. Kurang paham maksud candaan lelaki itu.


" Ayo kita sarapan,sudah jangan di pikirkan Dave " ucap Papa yang melihat Dave tampak bingung. Papa meninggalkan sepasang kekasih itu menuju ruang makan. Setelah Papa tak terlihat dari ruang tamu Dave merengkuh pinggang Vea. Merapatkan tubuh Vea pada dirinya.


" I miss you so much " bisik Dave di telinga Vea. Vea menoleh kearah sang kekasih seraya berucap .


" I miss you too ". keduanya saling berhadapan,saling menatap dalam kedua bola mata masing-masing. Menyalurkan rindu yang menggebu lewat tatapan dalam yang menghanyutkan.


Seperti tersihir oleh pancaran mata yang menghipnotis keduanya. Tanpa aba-aba, kepala mereka saling mendekat. Bibir keduanya bertaut,dengan lumaatan lembut yang mengantarkan percikan rasa mengurai simpul rindu yang mengikat dua hati itu .


" Ve,ajak nak Dave sarapan " suara Mama membuat mereka tersenyum dan saling menjauh memberi jarak.


" Ita Ma " sahut Vea sembari mengusap bibirnya yang terasa basah karena lumaatan bibir Dave. Dave pun tampak mengusap bibirnya sendiri takut ada lipstik Vea yabg tertinggal di bibirnya.


" Yuk ikut sarapan !" ajak Vea seraya berdiri dan mengulurkan tangan pada lelakinya. Dave menyambut uluran tangan Vea,kedua ya melangkah memasuki ruang makan. Papa sudah duduk di kursi yang di peruntukkan sang Baginda raja , Mama duduk di sebelahnya. Vea membawa Dave duduk di sisi kiri. Duduk berdampingan dengan dirinya.


Tak berapa lama Aksara ikut bergabung dengan istrinya.


" Pagi semua !" sapanya membuat atensi orang-orang yang berada di ruang makan itu tertuju pada lelaki yang mendekap mesra pinggang istrinya.


" Pagi " sahut mereka hampir bersamaan. Mata Aksara tertuju pada lelaki yang menyambutnya dengan seulas senyum ramah.


"Wah ada tamu rupanya. Halo Dave apa kabar ?, maaf ya sementara waktu Vea nya susah ditemui. Ada banyak pekerjaan yang mesti saya transfer ke dia. " terang Aksara sebelum duduk di kursi tempat ia biasa digunakan berdampingan dengan sang istri.


" Tidak masalah,saya mengerti " sahut Dave dengan seulas senyum.


Sarapan pagi di mulai, para wanita sibuk mempersiapkan makan sang suami. Tampak nyonya rumah yang sedang mengambilkan basi untuk sang tuan. Claudia pun sama, ia menyiapkan sarapan Aksara. Pemandangan yang mungkin terlihat sepele itu ternyata tidak untuk Dave. Ada kehangatan yang menyapa hatinya. Melihat betapa suasana di rumah itu begitu mesra.


Ternyata Vea yang tak berstatus istri pun memperlakukan dirinya sama seperti dua wanita yang lain. Vea mengambil nasi untuk dirinya kemudian bertanya tentang lauk yang akan di gunakan untuk sarapan sang kekasih.


Keluarga itu rupanya terbiasa makan berat di pagi hari. Dave yang biasanya cukup dengan setangkup roti, pagi ini perutnya diisi nasi dengan lauk yang terasa nikmat di lidahnya.


Bukan hanya karena makanan yang memang enak ,tapi juga karena suasana yang terasa nyaman. Membuat sarapan pagi itu terasa istimewa untuk Dave. Sorot mata penuh kasih, perlakuan penuh cinta serta laku yang penuh rasa sayang menjadikan hati Dave terasa mencair.


Usai sarapan sepasang kekasih itu pamit untuk pergi ke kantor terlebih dahulu. Sepanjang jalan Dave menggenggam tangan kekasihnya,sesekali membawa tangan itu untuk di kecupnya. Vea hanya tersenyum menikmati tingkah lelakinya.


" kayak yang seneng banget kenapa ?'' tanya Vea yang merasa heran dengan senyum yang tak pudar dari bibir Dave.


" Hari ini aku seperti di tampar kenyataan " ungkap Dave dengan tatapan yang masih berpusat pada jalanan di depan.


" Kenapa ?" tanya Vea mengernyitkan dahi,dengan tatapan tertuju pada sang kekasih yang fokus menyetir mobil.


" Karena sesuatu yang aku yakini selama ini terpatahkan saat aku melihat betapa romantisnya keluarga kamu." ucap Dave,kini senyumnya berubah kecut. " Keluarga kamu gambaran sempurna sebuah hubungan, apa memang menikah seindah itu ?" pertanyaan Dave seakan meyakinkan hati yang meragu.


Vea menghela nafas, pandangan nya ikut tertuju ke depan. Ia menarik tangannya dari genggaman Dave. " Menikah itu mengikat hati dua manusia yang saling mencintai, seharusnya memang seindah itu. Tapi bukan berarti tak ada masalah. Masalah pasti ada,tapi bagaimana kita menyikapi setiap permasalahan hingga ikatan suci itu tak sampai terlepas." Dave tak menyahut, pikiran nya bertarung tentang pernikahan. Separuh akalnya telah menerima bahwa menikah adalah hal yang indah. Tapi di sisi lain akalnya menolak, pernikahan hanya akan membelenggunya.