If

If
Makan Malam



Dave dengan menggenggam tangan kekasihnya, mengikuti langkah sang Mama. Kecanggungan jelas nampak di wajah mereka. Pun di wajah Mama yang nampak tegang. Bercampur aduk perasaan yang menghampiri wanita itu.


Ada rasa hangat yang menjalar di hatinya saat sang putra mau menganggap dirinya setelah sekian lama anak lelakinya itu seakan tak pernah menganggap dirinya ada. Namun juga ada rasa khawatir ketika ia merasa tak mampu menjadi ibu yang baik.


Bisa saja ia tak bisa memenuhi ekspektasi anaknya tentang seorang ibu. Ia tak pernah tau tentang keinginan sang anak. Hidup terpisah puluhan tahun, membuat mereka tak mengenal karakter satu sana lain. Terlalu asing di mata keduanya. Namun hati mencoba untuk saling menerima. Membuka sebuah lembar baru jalan hidup mereka.


'' Ayo duduk dulu,Mama siapin dulu makan malamnya.'' ucap Mama saat mereka sampai di ruang tamu.


''Oh iya Dave,kamu belum kenalin calon kamu lho sama Mama '' sambung Mama dengan senyum lembutnya. Vea melepas genggaman tangan Dave sambil balas tersenyum, kemudian mengulurkan tangan yang langsung di sambut wanita itu.


'' Vea Tante '' ujar Vea canggung.


'' Vina,kamu tunggu di sini ya nak. Mama siapin dulu makan malamnya '' sambung Mama Vina.


'' Mmm, boleh Vea bantu Tan ?'' tanya Vea ragu. Mama tersenyum hangat seraya mengusap lengan wanita muda itu.


'' Boleh,Dave gak apa-apa,Vea ke belakang sama Mama ?'' tanya Mama dengan tatapan beralih pada Dave yang kini telah duduk di sofa.


'' Gak apa-apa Ma '' singkat Dave seraya menatap dua wanita itu bergantian. Vea tersenyum tipis pada Dave.


'' Ya sudah ayo !'' keduanya melangkah meninggalkan ruang tamu beserta Dave yang kini sibuk dengan ponselnya.


Dya wanita beda generasi itu menata makanan di meja makan.


'' Gak sendiri,tadi di bantuin sama bibi ,tapi orangnya sudah pulang'' sahut lembut Mama Vina. Vea hanya mangut-mangut seraya mengikuti Mama Vina memindahkan makanan dari area dapur ke meja makan.


'' Sudah lama nak Vea kenal Dave ?''tanya Mama Vina tanpa menghentikan kegiatannya.


'' Baru beberapa bulan Tan '' jawab Vea.


Mama berhenti sejenak, menatap wajah ayu wanita muda di hadapannya. Tiba-tiba wanita itu berkaca-kaca menatap Vea. Membuat Vea bingung di buatnya. Namun tiba-tiba tangan wanita itu terulur dan meraih pipi mulus Vea. Menyentuh dengan lembut dengan tatapan sendu .


'' Kamu pasti sudah tau bagaimana kehidupan Dave ?, karena kamu wanita istimewa anak Mama. Maaf karena Mama sudah gagal menjadi ibu, membuat hidup Dave berantakan. Mama harap kamu bisa menerima anak Mama dengan segala kekurangannya. Mama sudah banyak menciptakan luka di hidupnya,tolong sembuh kan luka-luka itu dengan cintamu. Mama....'' ucapan wanita itu tercekat,air matanya banjir.


'' Mama terlalu egois, melupakan dia selama ini. Sampai Mama akhirnya merasa Mama sendirian di dunia ini. Mungkin itu bentuk karma Tuhan atas ketidak becusanku menjadi seorang ibu. Tapi dia tiba-tiba hadir bagai malaikat di hidup Mama. Mama bahagia sekali dia mau memanggil ku Mama. Terima kasih kamu sudah hadir di hidupnya dan perlahan mengobati luka di hatinya. Terima kasih'' Mama sesenggukan , mengungkapkan isi hatinya. Vea tak tahan, akhirnya menarik wanita itu dalam dekapan dan air mata ikut lolos dari kedua matanya.


Cukup lama dua wanita itu terlarut dalam pelukan berurai air mata . Sampai keduanya saling melepas pelukan dan menghapus air mata masing-masing.


'' Terima kasih karena Tante sudah melahirkan Dave di dunia ini. Berkat Tante Vea bisa merasakan cinta yang luar biasa''. ucap Vea berusaha tersenyum menatap Mama Vina yang masih saja berkaca-kaca. Wanita itu hanya mengangguk dengan senyum samar, kemudian menengadah menahan air mata yang masih saja hendak tumpah.


Kemudian dua wanita itu menyelesaikan menata makanan di meja makan. Setelah nya Vea memanggil Dave untuk bergabung. Obrolan ringan menemani makan malam mereka. Kecanggungan sedikit demi sedikit mencair. Kehangatan mulai nampak, wajah mereka kini terlihat lebih santai.


Makan malam berjalan lancar. Vea merasa bahagia melihat kekasihnya tak lagi menyimpan amarah pada sang Mama. Meski banyak luka yang telah di torehkan wanita itu,namun tak ada yang bisa memungkiri bahwa dalam darahnya tetap saja mengalir darah wanita yang melahirkan dirinya. Berdamai dengan masa lalu,menjadi pilihan tepat untuk melepaskan segala dendam dan luka yang tertinggal di dada.