If

If
Makan Siang



Hilir mudik para pegawai yang bekerja di EO milik Zee tampak masih sibuk dengan segala persiapan mereka. Termasuk Vea yang masih mengecek ke segala penjuru ruangan yang akan di gunakan untuk acara ulang tahun seorang nona muda dari kalangan terpandang.


Vea tak ingin mengecewakan klien ,ia bekerja keras untuk membuat dekorasi se perfect mungkin. Ia seorang profesional yang akan serius dengan setiap pekerjaan nya.


Meski ia terlahir sebagai nona muda Dwilangga yang tak pernah kekurangan. Tapi ia terlatih untuk menjadi mandiri. Itu yang membuatnya mampu bertahan meski tanpa semua fasilitas mudah yang ia dapat sebagai nona muda .


"Mbak Ve !" panggil salah satu pekerja pada Vea yang sedang mengecek meja prasmanan.


" Ya,kenapa mas ?" tanya Vea yang selalu ramah.


" Ada yang nyari tuh " ucap pemuda sambil menunjuk dengan jarinya. Vea mengikuti arah yang di tunjukkan lelaki muda di hadapannya.


Dave berdiri menatap dirinya di pintu masuk ruang yang sedang di dekor. Seulas senyum saat tatapan mereka bertemu.


" Aku tinggal dulu, kalau gitu. Ini juga udah waktunya makan siang, istirahat aja sekalian " ucap Vea seraya melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


" Iya mbak" pemuda itupun berlalu,begitu juga Vea berjalan anggun menghampiri sang kekasih.


Kaki jenjang Vea melangkah semakin dekat pada Dave yang hari itu tampil dengan jas hitam dengan dalaman kaos putih polos,celana chinos berwarna senada dengan jasnya serta sepatu leaofer tanpa kaos kaki . Tak di pungkiri lelaki yang kini berdiri di hadapannya memang mempesona dengan kadar ketampanan yang tak di ragukan.


" Ada apa ?,kok nyusulin kesini ?" tanya Vea setelah keduanya saling berhadapan.


" Gak ada apa-apa, kangen aja"sahut Dave dengan senyum yang tak luntur dari bibirnya. Dave mengulurkan tangan yang tadi di simpannya di balik punggung. Buket bunga cantik ia berikan untuk wanitanya.


" Buat kamu " Vea tersipu seraya menerimanya.


"Makasih " lirih Vea yang tak bisa menyembunyikan rona di wajahnya.


" Suka ?"


"'He'em " jawab Vea seraya mencium harum bunga segar itu. Dave mengulurkan tangan,tanpa ragu Vea menerima uluran tangannya.


" Makan siang dulu yuk !, nanti malem kan gak bisa pergi. Seenggaknya hari ini kita bisa lunch bareng" ucap Dave yang diangguki Vea.


Mereka makan siang di restoran yang berada dalam hotel tempat Vea bekerja hari itu. Memilih duduk di area dekat dinding yang sebagian besar terbuat dari kaca. Duduk berhadapan dengan buku menu di tangan mereka,setelah waiters datang menanyakan pesanan mereka. Keduanya memilih menu masing-masing,setelah mencatat sang waiters beranjak pergi. Meninggalkan dua manusia berlawanan jenis yang masih duduk dalam diam.


Dave tak melepas tatapan dari wajah ayu wanita di hadapannya. Sedang Vea merasa kikuk menyadari tatapan Dave yang mengarah padanya. Ia berpura-pura sibuk dengan bunga yang ia letakkan di pangkuan.


'' Duh, jangan liatin gitu terus dong '' rengek Vea yang terdengar manja di telinga Dave. Dave terkekeh. Sedang Vea mengerucutkan bibir menatap Dave.


'' Aku tuh lagi nyimpen memori banyak-banyak di otak aku. Biar nanti kalau aku kangen tinggal buka memori di otak aku buat inget wajah kamu" ucap Dave tanpa mengedipkan mata menatap wanita yang kini memenuhi seluruh hati dan pikirannya.


Vea yang mencebik seraya melengos, menyembunyikan rona wajahnya yang memerah.


" Gombal " celetuk Vea meski tak di pungkiri ada debaran rasa yang membuncah saat kalimat bernada gombal itu meluncur dari bibir Dave.


" Tapi sayangnya aku tuh selalu kangen wajah ini. Boleh aku kantongin gak ?, biar kalau aku kangen bisa aku ambil terus aku liatin" goda Dave. Vea semakin merona,ia memukul pelan lengan Dave.


" Apa sih ?" sungut Vea merajuk membuat Dave terkekeh.


Tak lama pesanan mereka datang. Keduanya makan dengan tenang. Meski Dave masih saja sesekali menatap wajah Vea. Entah karena apa,pada wanita ini ia merasa benar-benar telah jatuh. Hingga rasanya ia tak bisa lagi untuk berdiri tanpa Vea menjadi salah satu penopangnya. Anggaplah ia gila.


" Besok malem kamu ada acara gak ?" tanya Vea setelah selesai dengan makanannya. Ia teringat kemarin Aksara memintanya untuk menemui kedua orangtuanya.


" Gak ada, kenapa ?" tanya Dave balik.


" Temenin aku ketemu orang tua ku yuk !" . Dave mengernyit mendengar permintaan wanitanya. Pasalnya ia belum tahu tentang Vea yang pergi dari rumah.


" Ada acara apa ?" selidik Dave.


" Gak ada acara sih,cuma udah lama gak ketemu. Kak Aksa kemarin minta aku buat pulang "sahut Vea.


" Oh,karena kamu tinggal di apartemen ya ?, jadi jarang pulang. " ucap Dave santai. Vea menghela nafas.


" Aku tuh sebenernya kabur dari rumah" lirih Vea,mungkin sudah saatnya ia membagi kisahnya pada lelaki di hadapannya kini. Dave sebenarnya cukup kaget,namun berusaha biasa saja.


" Ada masalah ?" tanya Dave lembut seraya meraih tangan Vea yang berada di atas meja. Tatapan mereka bertemu.


" Kamu pernah denger tentang isu pernikahan yang batal dari keluarga Dwilangga ?" tanya Vea,Dave sedikit mengerti sekarang. Meski belum paham seutuhnya. Ia mengangguk,karena pada saat itu ia salah satu tamu undangan.


" Aku yang bikin semuanya berantakan,aku punya alasan kenapa aku kabur hari itu. Tapi terkadang alasan tidak bisa semua orang menerima nya. Tapi buat aku itu yang terbaik, meski aku tahu banyak yang sudah aku korban kan. Tapi aku tidak menyesal". tutur Vea. Dave menangkup telapak tangan Vea dengan dua tangannya. Tersenyum manis pada wanita cantik itu .


'' Aku bakal temenin kamu ketemu orang tua kamu. Aku yakin kamu punya alasan yang tepat atas tindakan kamu. Dan yang pasti, pernikahan itu tidak terjadi karena kamu bukan tertakdir untuk lelaki itu melainkan kamu tertakdir untukku".ujar Dave membuat Vea mengulum senyum di bibirnya.


Bagaimana bisa ia bertahan untuk tak menjatuhkan hati pada lelaki ini ?. Meski ia tahu Dave memiliki kisah kelam di masa lalu. Tapi ia tak bisa memungkiri hati yang terpanah pada lelaki gagah berwajah rupawan ini.


" Makasih ya" ucap Vea.


" Untuk ?"


" Kesediaan kamu menemaniku bertemu kedua orang tuaku"


" Tak perlu berterima kasih, karena itu memang sudah seharusnya". sahut Dave.


Menghabiskan waktu makan siang, mereka berbincang ringan. Vea mulai membuka diri pada Dave. Mencoba bercerita tentang dirinya saat lelaki itu bertanya.


Sudah saatnya ia membuka lebar pintu hatinya pada lelaki itu. Membiarkan cinta tumbuh subur di hatinya. Semua orang punya masa lalu,sudah saatnya ia berdamai dengan masa lalu Dave. Melihat seberapa serius lelaki itu pada hubungan yang mereka jalani. Dan seberapa setia Dave padanya.